
Setelah mereka berdua siap, mereka pamit pada Suminten dan Tiar untuk pergi ke Rumah Sakit. Manda dan Sibki langsung pergi menuju Rumah Sakit, berdua.
Di perjalanan.
"Astaghfirullah, aku lupa menelepon kakakmu, tolong telepon dia," pinta Sibki.
Manda tersenyum dan meraih ponselnya untuk menelepon Sofyan.
"Assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam, kakak di mana?"
"Kakak mau ketempat bapak, mau kasih tau bapak kalau kamu sudah sembuh."
"Oh, titip salam sama bapak ya kak, oh ya ibu mau minta antar pulang."
"Iya nanti kakak antar ibu pulang, kamu bagaimana?"
"Alhamdulillah aku baik kak, ini aku sedang dalam perjanalan menuju Rumah Sakit, Elna jadi korban kekerasan kak, ini kami sekalian jenguk juga cari tahu apa yang terjadi pada Elna."
"Oh, kalau begitu aku akan ke Rumah Sakit saja nanti, ikut menjenguk Elna, baru nanti kita ketempat bapak bagaimana?"
"Aku setuju kak, tapi kakak bicara nanti sama kak Sibki ya pas ketemu."
"Okey beres, kirim alamat Rumah Sakitnya."
"Iya kak, assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam,"
Panggilan telepon Manda dan Sofyan berakhir.
"Ada apa?" tanya Sibki.
"Kak Sofyan mau ke Rumah Sakit, apa nama Rumah Sakitnya?"
"Ini kamu baca pesan dari Aan," Sibki memberikan ponselnya pada Manda.
Manda segera mengirim pesan pada Sofyan memberi tahu Rumah Sakit di mana Elna dirawat.
Sofyan langsung menuju Rumah Sakit setelah membaca pesan dari Manda.
***
Di Rumah Sakit.
Elna sudah berada di ruang perawatannya. Elna tidak bisa menahan air mata yang terus menetes, mengingat penyiksan kedua orang tuanya sendiri.
"Kami permisi, jika perlu kami, silahkan pencet bel ini," ucap seorang perawat.
Elna menganguk pelan. Perawat pergi meninggalkan Elna sendiri di ruang perawatannya.
Di area parkiran Rumah Sakit.
Sibki menghembuskan bapasnya begitu kasar, saat melihat ustasz Ali dab Aan baru keluar dari mobil mereka masing-masing. "Apakah bumi ini sangat kecil? Setiap sudut aku bertemu kalian."
"Waw ada pengantin di sini," goda Aan.
"Kak ini Rumah Sakit, kumohon jangan bercanda," pinta Aruna lembut.
Aruna, Nurul dan Manda langsung berpelukan.
"Aku sangat senang kamu bisa sembuh Manda." Aruna menepuk lembut bahu Manda.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu sangat-sangat berjasa dalam hidupku, saat aku terbaring tidak berdaya kamu--"
"Sudah, kitakan keluarga," Aruna memotong ucapan Manda.
"Aku sebenarnya ingin memanggilmu kakak, tapi aku istri kakak mu, aku harus ihklas memanggilmu adik," rengek Manda.
"Assalamu alaikum," sapaan Sofyan menyita perhatian mereka.
"Wa alaikuk salam," jawab semua orang.
"Kalian baru sampai juga?" tanya Sofyan.
"Iya, kami baru sampai Sof, tapi emak-emak ini gosip melulu, makanya kita gak masuk-masuk juga," oceh Sibki.
"An, pas kamu menebus kiriman pada Manda, pasti dukun itu memberi tahu tanda-tanda orang yang mengirim hal itu pada Manda, apa tandanya An? Secara Manda sudah sembuh," tanya Sofyan.
"Kaki kiri orang itu apa ya? Aku lupa, intinya pincang atau cedera lah dan dia akan kena penyakit kulit yang sama seperti Manda derita, namun dia akan sembuh jika mengakui perbuatannya dan meminta maaf," terang Aan.
"Itu tanda yang sangat jelas," seru Sofyan.
"Kena penyakit kulit waktu itu sangat tidak nyaman, gatal, panas dan, ah ... pokoknya sangat tersiksa," ringis Manda.
"Tapi sekarang kamu sudah sembuh," Aruna menggandeng lengan Manda.
"Berapa mahar yang kamu keluarkan An untuk penebusan kiriman yang menimpa Manda?" tanya Ali.
Aan menatap Sibki dan Manda bergantian. "Harus di jawab ya pak ustadz? Aku merasa tidak nyaman jika menjawabnya jujur," ucap Aan.
"Jangan buat kami penasaran," rengek Sibki.
"Satu miliar," jawab Aan. Dia membuang wajahnya kearah lain, tidak perduli dengan tatapan mata semua orang yang tertuju padanya.
"Apa?" Semua orang terkejut, kecuali Ali.
"Semahal itu?" rengek Manda.
"Aku akan ganti," seru Sibki.
"Tidak boleh!" Seru Aan dan Ali bersamaan.
"Ada alasan tersendiri, mahar tidak boleh di ganti," terang Ali.
"Hutang kita lunas," Aan menepuk bahu Sibki.
"Terima kasih An," Sibki memeluk Aan.
"Sama-sama, 'sudah main ***-***?" Goda Aan berbisik.
Sibki terdiam.
"Pas pertama hati-hati dan pelan-pelan, kalau perlu sana beli minyak atau baby oil, sebagai pelumas," bisik Aan. Aan melepaskan pelukannya dengan Sibki.
"Harus?" Sibki tidak percaya.
Aan tidak menjawab pertanyaan Sibki, dia menarik Aruna ke sampingnya dan berjalan menuju Rumah Sakit lebih dulu.
"Ayo kita masuk, pasti Elna sangat butuh dukungan kita semua di saat dia terpuruk seperti saat ini," ajak Nurul.
Mereka semua berjalan ber iringan memasuki Rumah Sakit mengikuti Aan dan Aruna yang berjalan lebih dulu.
Manda berjalan disamping Sibki. Dia masih penasaran dengan pertanyaan Sibki pada Aan sebelumnya. "Harus apa, kak?" tanya Manda.
"Ah … urusan laki-laki," jawab Sibki.
__ADS_1
Ali berbalik. "Kalau Aan dan Sibki bicara, pembicaraan mereka tidak jauh dari ***-*** 21 dot com, secara mereka sama-sama otak mesum, eh salah otak kotor," goda Ali. Ali berbalik lagi berjalan disamping istrinya.
Manda melotot pada Sibki.
"Ini Rumah Sakit, tolong jangan menggodaku," ucap Sibki,"
"Ih … geer," Manda berjalan lebih cepat hingga dia berjalan sejajar dengan Nurul, sedang Sibki sendirian di belakang mereka.
Setelah tahu di mana ruangan Elna mereka dengan semangat menuju ruangan tersebut.
"Assalamu alaikum," ucap Nurul.
"Wa alaikum salam," jawab Elna.
Elna dalam posisi membelakangi arah pintu, pelan-pelan dia mengubah arahnya menghadap kearah pintu. "Kalian?" Elna tidak percaya melihat siapa yang datang.
Manda langsung berlari kearah Elna. "Elna … apa yang terjadi padamu, ya Allah, Elna …." ringis Manda.
"Siapa yang setega ini padamu El?" tanya Nurul.
"Bapak dan ibu, mereka marah besar ketika malam itu melihat sekujur tubuhku di tumbuhi cecar aneh ini, hingga mereka memukuli diriku tanpa ampun, lihat wajahku lebam, beberapa bagian tubuh lain juga, untung ada tetangga yang melapor pada pihak berwajib hingga aku tertolong," rengek Elna.
Semua orang saling pandang karena melihat keadaan Elna, Sofyan menatap tajam ke arah Elna.
"Hanya karena cecar mereka menyiksa kakak, ya Allah," ringis Manda.
"Pasti ada alasan lain kenapa kedua orang tuamu menyiksa kamu," seru Sofyan.
"Kedua orang tua kak Elna memang aneh, aku pernah bertemu beberapa kali," ucap Manda.
"Kamu sudah sembuh Manda?" tanya Elna.
"Dari mana kakak tahu kalau aku sakit lagi?" Manda balik bertanya.
"Iya setelah Manda sembuh setelah kita tengok waktu itu kami tidak mengabari siapapun lagi kalau Manda sakit," ucap Sibki.
Semua orang menatap Elna.
"Iya, kami tidak pernah bercerita kalau Manda sakit lagi setelah sembuh, dari mana kamu tahu?" tanya Aan.
"Aku ingin ke kemar kecil." Elna mengalihkan pembicaraan.
Elna bangkit di bantu Manda dan Nurul.
"Terima kasih ustadzah, Manda. Tapi aku bisa kok," ucap Elna.
Elna berdiri sendiri. "Awhhh!" Elna hampir tersungkur ke lantai, beruntung sempat di tahan Manda dan Nurul.
"Ya Allah, kenapa kaki kiriku?" rengek Elna.
Manda mematung langsung melepaskan pegangannya pada badan Elna. Hanya Nurul sendirian yang membantu Elna berjalan menuju kamar mandi.
Aruna mendekat pada Manda dan memeluknya. "Sabar ya ...." Aruna memberi semangat pada kakak iparnya. Dia menggandeng Manda menuju tempat duduk, Manda mematung duduk di kursi itu sambil meyandarkan dirinya kepelukan Aruna. Aruna mengusap punggung Manda.
"Ku harap ini hanya kekeliruan kita saja, secara Elna mengalami penyiksaan dari kedua orang tuanya. Elna gadis yang baik selama ini, dia teman istriku dan juga sahabat Manda," ucap Ali.
"Elna di siksa karena penyakit kulitnya," ucap Sofyan lirih.
"Aku bukan kompor ustdadz, ingat Salha?" tanya Aruna.
Air mata Manda tidak bisa di tahan.
"Keluarkan saja jika itu membuat kamu tenang." Aruna terus menyemangati Manda, yang pastinya sangat syok menyadari keadaan ini.
__ADS_1
Manda teringat kenangannya dengan Elna dulu.
Flash back ....