
Suminten memandangi cucu-cucunya yang ada dalam bok bayi yang berdekatan. Air mata bahagianya selalu menetes.
"Tiga bah..." lirih Suminten.
Wahyu mengangguk dan tersenyum, dia juga sangat bahagia memiliki cucu tiga sekaligus.
"Selamat nak Aan..." Wahyu memeluk menantunya.
"Assalamu alaikum," sapa dari luar.
Aan segera membuka pintu kamar perawatan Aruna.
"Ibu? Bapak? ayo masuk..." ajak Aan. Aan tersenyum bahagia melihat Mastia dan Jojo datang.
"Tadi Sibki yang memberi kabar, makanya kami langsung kemari," seru Suminten.
"Maaf ya bu... kami tegang lupa kasih kabar, aku cuma ingat kasih kabar ke ustadz Ali saja," lirih Aan.
"Iya nggak apa-apa yang penting sudah selamat, ibu sempat takut, kan baru tujuh bulan," lirih Mastia.
"Ayo kemari Wila, lihat cucu kita," ucap Suminten.
"Masya Allah... Ti...ga? Cucu kita tiga?" Mastia melotot.
"Boleh di gendong?" Tanya Jojo.
"Iya boleh lah pak... masa enggak," jawab Aan.
Jojo menggendong bayi laki-laki, sedang Mastia dan Suminten menggendong yang perempuan.
"Nama mereka kalian sudah siapkan?" Tanya Mastia.
"Insya Allah sudah bu... yang laki-laki Arrayan Tama Shiddiq, yang sama ibu Adena Tama Shidqia dan yang sama umak Adelia Tama Shidqia," seru Aan.
"Wah nama mereka indah... siapa aja nih manggilnya," lirih Suminten.
"Rayan, Dena dan Deli," jawab Aan.
"Cucuku masya Allah cantik-cantik, yang cowo guateng(ganteng\=tampan) seperti papanya," seru Mastia.
"Serasa menggendong Mira waktu bayi..." ringis Mastia.
"Iya mereka berdua mirip sekali Aruna," seru Suminten.
"Assalamu alaikum," seru seseorang yang baru datang.
"Ustadzah... umi... ustadz Ali..." lirih Suminten.
"Masya Allah... tiga ya An..." seru Ali.
"Alhamdulillah ustadz... minta satu dapat tiga ini," seru Aan.
__ADS_1
"Boleh gendong..." lirih Nurul.
"Tentu ustadzah... ustadzah mau yang mana ini?" Tanya Suminten.
"Aku mau ketiganya..." rengek Nurul.
"Satu-satu dulu ustadzah... emang bisa tiga sekalian?" Goda Suminten.
Ali memandangi bayi Aan bergantian, Dia menangkap hal aneh dari salah satu bayi itu.
***
"*Kenapa kalian mengganggu Aruna..." suara batin Ali yang berkumunikasi dengan mahkluk gaib.
"Kami tidak mengganggu, kami menitipkan bayi manusia yang tersesat di alam kami, agar dia lahir dan tumbuh menjadi manusia bukan menjadi siluman seperti kami, benih bayi itu dari orang yang sangat berarti," jawab mahkluk gaib.
"Kami mohon... jangan buka rahasia yang mana bayi kami yang mana bayi mereka, biarkan bayi itu tumbuh menjadi manusia, jika dia tumbuh di alam kami, maka dia terancam," lirih mahkluk gaib itu*.
Ali memandangi lagi ketiga bayi Aan itu untuk mengenali yang mana bayi Aan dan Aruna dan yang mana bayi titipan yang di titipkan mahluk gaib ke rahim Aruna.
"*Kenalilah... namun cukup sekedar tahu, jika anda memberi tahu Aruna yang mana bayi titipan kami, kami pastikan bayi anda yang akan kami hilangkan atau istri anda?"
"Aku tidak memberi tahu Aruna atau Aan yang mana bayi mereka dan yang mana yang bukan bayi mereka, bukanya aku takut, tapi bayi ini juga berhak hidup jika dia lahir di alam kamu, maka dia akan mati karena banyak yang memperebutkan dia, ada yang istimewa dari dalam diri bayi ini," jawab Ali*.
***
"Aa...(panggilan lembut dari kata kaka)" Nurul mengagetkan Ali dari komunikasinya.
"Enggak apa-apa... heran saja lihat Aa melamun," lirih Nurul.
"Aa terpesona sama mereka," seru Ali.
"Ustadz... kalian ini lucu, kadang umi-abi sekaran Aa," seru Aan.
"Yang mana yang enak aja Aan..." lirih Ali.
"Nama mereka siapa kak Aan?" Tanya Nurul.
"Rayan, Dena dan Deli, yang sama kamu Dena, yang sama umi Rayan dan yang sama pak ustadz Deli," jawab Aan.
Ali, Nurul dan umi Fatma sangat bahagia bisa menggendong bayi Aan. Semua orang sangat bahagia dengan kelahiran bayi kembar tiga Aruna dan Andika.
***
"Sial!!! Kenapa kalian gagal menculik Aruna!" Seseorang marah-marah karena usahanya menculik Aruna gagal.
"Maaf bos... wanita itu seperti di kawal ratusan mungkin ribuan ular,"
"Aki!!! kenapa akik tidak bantu... aku bayar mahal aki agar memuluskan rencana ini."
"Ilmu ku tidak sebanding dengan mahkluk yang mengirim banyak ular, melawan mereka sama saja bunuh diri," jawab orang yang di panggil aki.
__ADS_1
"Kita susun ulang rencana, aku hanya ingin Aruna, tapi... melihat dia berbalut selimut waktu itu semakin membuatku menginginkan dia," seru orang itu.
"Kenapa tidak eksekusi hari itu bos?"
"Kalian gila? Dia hamil! Jika dia melawan nyawanya dan bayinya terancam! Sedang aku inginkan mereka semua," seru orang itu.
***
Semenjak kejadian perampokan itu Aan sibuk mengirim mata-mata orang yang dia curigai, dia berusaha mengingat wajah orang yang membacoknya hari itu.
"Apa yang terjadi padaku... padahal pagi itu aku sangat jelas melihat wajah orang itu tapi kenapa aku tidak ingat," gerutu Aan.
"Nak Aan... nak Aan kenapa?" Tanya Wahyu. Dia heran melihat Aan sejak ustadz Ali dan Nurul pergi hanya melamun.
"Tidak apa-apa abah... saya hanya berusaha mengingat wajah orang yang membacok saya kemaren," jawab Aan.
"Sekarang... bagaimana luka tusukan kemaren?" Tanya Suminten.
"Sudah lebih baik mak," jawab Aan.
***
Sejak Aruna melahirkan Aan sudah mencari pengasuh untuk bayi kembarnya yang ada tiga itu, tapi sampai sekarang belum ketemu yang tepat, Karena Aan sangat selektif memilih calon pengasuh bayi mereka. Akhirnya Aan menmukan pengasuh yang dia rasa tepat, Jumia, Laily dan Asna, mereka bertiga orang yang paling di rekomendasikan oleh jasa penyedia. Tidak lama pengasuh bayi mereka datang dan mulai bertugas.
Suasana rumah Aan sangat ramai, dua pembantu rumah tangga di tambah tiga pengasuh untuk si kembar. Suminten sangat bahagia dia tidak lagi kesepian karena banyak teman bicara, sebelumnya dia merasa kesepian jika kedua pembantu bertugas, sedang Aruna selalu di kurung Aan di dalam kamar jika Aan ada di rumah.
Sekarang tidak lagi, dengan siapapun dia bisa bercengkrama kapanpun dia mau. Di tambah lagi kehadiran si kembar tiga yang semakin membuat rumah semakin ramai. Namun Suminten merasa aneh dengan pengasuh Aan yang bernama Laily. Dia sangat mirip dengan alamarhumah Maya istri Aan yang meninggal.
Namun Suminten diam, dia tidak mau membuat Aruna sedih. Wahyu juga merasa demikian. Suminten dan Wahyu merenung di kamarnya.
"Bah... gimana ya... si Laily itu mirip banget Maya, umak jadi was-was"
"Iya... abah juga, kenapa Aan menerima Laily apa karena..."
"Kita lihat nanti abah..."
***
10 hari sudah tiga pengasuh itu bekerja, tetapi Aan tidak pernah bertatap muka dengan mereka, karena sibuk, Aan terkejut melihat pergantian pengasuh tanpa izinnya dia langsung menelpon kantor dia mengambil para pengasuh tersebut.
"Kenapa anda tidak beri tahu saya kalau satu dari mereka bukan yang saya setujui waktu itu?" Aan.
"Maaf pak Aan, tapi kami jamin dia juga pengasuh yang terbaik,"
"Bukan baik atau tidak!!! Tapi aku mau seleksi dulu," bentak Aan.
"Data-data pengganti sudah kami kirim, kalau pak Aan keberatan bisa di batalkan atau di tukar, tapi... pak Aan bisa lihat, selama 10 hari apakah ada yang buat masalah?"
"Baiklah aku cek bio pengganti itu," jawab Aan lemas. Dia langsung memutuskan panggilan teleponnya. Dia juga merasa kalau pengasuh bayi nya terbaik, sedikitpun tidak ada masalah.
Aan meraih map yang berisikan data-data wanita itu. Mata Aan mebulat melihat wanita yang bernama Laily Hasmia tersebut. Bagaikan pinang di belah dua dengan Almarhumah Maya. Aan masih tegang melihat Maya seolah hidup kembali.
__ADS_1
"Astaghfirullah... bagaimana perkiraan umak sama abah, mereka berdua tahu rupa Maya," Aan menelungkupkan wajahnya ke meja kerjanya. Bingung bagaimana berbicara dengan kedua mertuanya tentang Laily yang sangat mirip dengan Maya.