Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 130 Extra Part Sibki


__ADS_3

Mereka bertiga singgah terlebih dahulu ditempat ustadz Ali sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka. Setelah turun dari mobil Wahyu langsung berjalan menuju rumah Sibki untuk berpamitan pada Suminten. Sedan Aan dan Jojo langsung berjalan menuju kantor Ali yang ada dibelakang mushalla.


"Assalamu alaikum ustadz," seru Aan dan Jojo.


"Wa alaikum salam," jawab Ali.


"Pak ustadz, kami mohon do'a nya, kami yang akan melakukan perjalanan ke desa pengkeh," ucap Aan lirih.


"Kalian ingat, saat dukun itu bertanya langsung kalian jawab 'kami ingin menebus semuanya' kuharap kalian bawa banyak mahar, aku yakin pasti mahar untuk membuat Manda seperti ini tidak sedikit,"


"Yang itu insya Allah kami sudah siap, aku membawa semua tabunganku," ucap Jojo.


"Saya juga sudah menarik uang tunai," jawab Aan.


"Selamat berjuang, aku hanya bisa bantu do'a, oh ya simpan uang kalian di tempat yang terpisah dan pastikan aman, satu lagi jangan pakai mobil kamu An, terlalu mewah, yang ada kalian bakal di rampok orang," seru Ali.


"Mobil saya mewah? Jangan bercanda ustadz,"


"Di desa mobil kamu itu tergolong mewah, sudah bawa saja mobil butut majelis biar aman, ku pastikan mesinnya kuat, hanya saja kamu pasti pegel kaki karena bukan metic,"


"Tidak mengapa pak ustadz, demi keselamatan kaka ipar dan kebahagiaan Sibki, aku sudah merasakan bagaimana pahitnya ditinggal seseorang karena korban santet, jangan sampai orang lain mengalami kepahitan yang sama," ucap A'an.


"Aku bangga padamu An, kamu semakin dewasa dan bijaksana," seru Ali.


"Pengalaman yang menguatkan saya ustadz, kehilangan Maya dan satu kali kehilangan Aruna, pelajaran yang sangat berharga bagi saya."


"Assalamu alaikum," seru Wahyu.


"Wa alaikum salam," jawab semuanya.


"Sudah pamitan bah?" Tanya Aan.


"Sudah,"


"Kalau begitu kami mulai perjalanan pak ustadz," seru Jojo.


"Kita berdo'a bersama dulu," seru Ali.


Mereka semua duduk lesehan dan menadahkan kedua tangan untuk berdo'a. Ali memimpin do'a. Selesai berdo'a bersama mereka memindahkan barang ke mobil yang disediakan Ali.


"Bismillahi muj'raha wamursaha," lirih Aan sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Kami pamit, Assalamu alaikum," seru mereka bertiga.


"Wa alaikum salam," jawab Ali.


Aan, Wahyu dan Jojo memulai perjalanan mereka. Ali meniup ke arah mobil mereka, berharap perlindungan dari sang pencipta menyertai mereka semua.


Ponsel Ali berdering, terlihat dari sipir penjara yang memanggil. Ali mengangkat panggilang telepon.


"Assalamu alaikum,"


"Wa alaikum salam ustadz,"


"Pak Darnawan?"


"Iya ini saya, saya minta tolong pak sipir buat menelpon pak ustadz,"


"Ada apa pak?"


"Saya baru dapat info, kalau dukun yang hebat itu masih ada satu orang, dia tinggal di desa Pengkeh, namanya Keleng,"


"Alhamdulillah, kami juga baru tahu pak, itu Aan, pak Wahyu dan pak Jojo sedang perjalanan kesana,"


"Itu desa yang jauh ustadz, apa mereka tahu?"


"Alhamdulillah, pak Wahyu asli penduduk desa Sebuku Naju, insya Allah mereka tahu,"


"Bagaimana Manda pak ustadz?"


"Manda semakin parah, apalagi kejiwaannya, yang melakukan ini pada Manda sangat kejam, sudah merusak organ inti Manda, membuat Manda kena penyakit kulit dan sekarang … Manda mengalami gangguan jiwa."


"Ya Allah … lidungi anakku, tolong anakku,"


"Insya Allah Manda tertolong, do'a nya ya pak,"


"Selalu pak ustadz, tapi jika terlambat maka nyawa Manda taruhannya,"


"Saya tahu pak, maafkan kelemahan saya, andai mertua saya masih hidup, beliau mampu menolong Manda, saya hanya pemula pak,"


"Terimakasih pak ustadz atas semua bantuan anda,"


"Sama-sama pak,"


"Semoga mereka berhasil, saya tutup dulu pak ustadz,"


"Iya pak,"


"Assalamu alaikum,"


"Wa alaikum salam pak Darnawan."


Ali kembali menyimpan ponselnya kedalam saku.


"Lindungi mereka semua Ya Allah, permudah perjalanan mereka ya Rabb," lirih Ali.


****


Di rumah Sibki.


"Bagaimana ini nak, Manda semakin parah," ringis Suminten.


Sibki terpaksa mengikat tangan dan kaki Manda.


"Kak Sibki … oiii Sibki sayang …," seru Manda.


"Semoga Manda bertahan mak," ringis Sibki.


"Kita harus kuat nak, umak tahu bagaimana perasaan kamu," ringis Suminten.


"Ya Allah, tolong istriku," ringis Sibki.


"Semoga secepatnya mereka menemukan dukun itu, hati umak sakit nak ... melihat Manda seperti ini," Suminten terisak.


"Assalamu alaikum!" Seruan salam terdengar dari arah luar.


"Biar umak yang buka pintu," ucap Suminten sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Sibki duduk di sisi Manda. Pandangan Manda lurus keatas, mulutnya selalu menyebut nama Sibki dan terkadang bersenandung asal-asalan.


Di bagian luar kamar.


"Wa alaikum salam," Suminten membukakan pintu rumah.


"Nak Sofyan? Ayo masuk,"


"Umak, kenalkan ini ibu," seru Sofyan.


"Suminten," ucapnya lirih sambil mengulurkan tangan.


"Tiar," jawab ibu Sofyan menyambut uluran tangan Suminten.


"Ayo masuk," seru Suminten.


Mereka semua masuk kedalam rumah.


"Manda," ringis Tiar melihat keadaan Manda.


Air mata pun tidak mampu lagi bersembunyi melihat keadaan Manda.


"Maafkan aku bu, aku tidak bisa menolong Manda lebih jauh lagi," isak Sibki.


"Bukan salah kamu nak, ini ulah manusia bejat!!!" Ringis Tiar.


"Aan, abah dan bapak sedang menempuh perjalanan menuju rumah dukun sakti itu, untuk menebus pembebasan Manda, mohon do'a nya bu, Sof," ucap Sibki lirih.


"Kembalikan kiriman ini," gerutu Sofyan yang geram melihat keadaan adik yang paling dia sayangi.


"Tidak, hilangkan saja, jika Manda sembuh, aku ingin kehidupan yang tenang," jawab Sibki.


"Siapapun orang itu, aku akan kasih pelajaran yang perih," ucap Sofyan sambil mengeratkan gigi-giginya menahan kebenciannya.


"Kalian menginaplah, kita sama-sama merawat Manda," pinta Suminten.


"Terimakasih selama ini merawat anak kami," ucap Tiar lirih.


"Manda anak kami juga, selama ini Aruna yang membantu Sibki, aku baru saja di sini," ucap Suminten.


"Terimakasih," ringis Tiar memeluk Suminten Erat.


Hanya air mata yang menetes jika melihat keadaan Manda, tidak ada yang mampu mereka perbuat, hanya do'a agar sang pencipta membukakan jalan ikhtiar untuk menyembuhkan Manda.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi Aruna sudah rapi, salah satu mobil kantor Aan sudah siap menunggu Aruna didepan rumah.


"Bu, aku berangkat," seru Aruna.


"Sudah makan sayang?" Tanya Tiar.


"Sudah bu,"


"Hati-hati sayang,"


"Iya bu,


"Iya bu," jawab pengasuh bersamaan.


"Sayang … yang pinter ya, jangan susahin embaknya, mama pergi sebentar saja,"


Sikembar mengangguk bersamaan.


Aruna meninggalkan rumah Mastia berjalan cepat menuju mobil yang sedari tadi menunggunya.


"Si kembar sekarang semakin pengertian, aku bangga," seru salah satu pengasuh.


"Berkat didikan kalian juga, terimakasih sudah menjaga ketiga cucuku selama ini," ucap Mastia.


***


Di kantor Aan.


"Assalamu alaikum, ibu kenal saya?" Sapa pegawai Aan.


"Wa alaikum salam,


Alhamdulillah masih ingat, kamu Fitria dan kamu Nesya, kalian sekeretaris suamiku dulu," jawab Aruna.


"Alhamdulillah ibu masih kenal, mari bu ikut kami, pak Aan kemaren menelpon kita agar empat hari kedepan menemani ibu di kantor ini," seru Nesya.


"Alhamdulillah, aku kira bakal di keroyok berondong di lantai atas sana," ucap Aruna sambil terkekeh.


"Bapak tidak bakalan rela bu," ucap Nesya.


Mereka bertiga memasuki lift khusus untuk pemimpin perusahaan.


"Tadi pagi ada dua orang laki-laki datang, tapi kami bilang pak Aan akan kembali lagi empat hari kedepan," ucap Tria.


"Owh, itu pasti orang dari pesanten ustadz Hasan, terimakasih atas bantuan kalian selama ini, maaf ya, gara-gara masalah kami dulu kalian alih tugas," ucap Aruna.


"Gak apa-apa bu, lagian tugas yang sekarang lebih santai, tapi lebih besar gajihnya," bisik Tria.


"Kalian bisa saja, tapi aku jadi malu, hanya karena jera dekat-dekat wanita suamiku mengalihkan semua pekerja perempuan ke lantai bawah, beneran aku malu banget, dikira orang aku pencemburu," ringis Aruna.


"Santai bu, kami semua justru bangga dan iri sama ibu, demi ibu pak Aan seperti ini, mudahan ada stok yang masih lajang di luar sana," seru Tria.


"Hush!!! Kamu kan sudah nikah," seru Aruna.


"Buat calon mantu bu," jawab Tria.


Mereka bertiga tertawa di dalam lift.


Akhirnya mereka sampai di lantai tempat ruangan Aan.


"Assalamualaikum," seorang laki-laki berlari ke arah Aruna.


"Wa alaikum salam," jawab mereka bertiga.


"Bu ini Daniel sekretaris pak Aan," seru Tria.


"Ada apa?" Tanya Aruna.


"Maaf sebelumnya, saya tidak bisa mencegah seorang wanita masuk kedalam ruangan bapak, saya mengalah karena peraturan dari bapak tidak boleh kasar pada siapapun yang datang," ucap Daniel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Daniel, ayo kita temui tamu kita yang begitu semangat itu," seru Aruna.


Mereka semua berjalan bersamaan menuju ruangan Aan.


"Assalamu alaikum," seru Aruna yang datang bersama tiga pegawai lainnya.


"Wa alaikum salam," jawab yang ada dalam ruangan itu.


Aruna, Tria, Nesya dan Daniel menutup hidung mereka.


"Aruna? Kau?" Wanita itu terkejut.


"Iya aku pagi Elna, maaf suamiku sedang dinas keluar kota, jadi sementara aku yang menggantikan tugasnya," jawab Aruna.


"Kepalaku pusing," bisik Tria.


"Daniel, apa ac di ruangan ini sudah menyala?" bisik Aruna


"Belum bu," jawab Daniel, Daniel segera menghidupkan ac yang ada diruangan Aan.


"Ada apa kamu mencari suamiku?" Tanya Aruna.


"Aku hanya ingin berterimakasih karena menerimaku bekerja disini," jawab Elna.


"Oh, baiklah terimakasihmu akan aku sampaikan," lirih Aruna.


"Rasanya kurang Afdhol kalau tidak berterimakasih langsung." Elna kekeh.


"Silahkan datang lagi tiga atau empat hari kedepan, aku tidak bohong, Aan sedang keluar kota, makanya aku yang di pinta dia kekantor," seru Aruna.


Elna terdiam, merasa kesal usahanya sia-sia.


"Elna, minyak wangi apa yang kamu pakai? Baunya seperti minyak pelet," seru Aruna.


Wajah Elna langsung berubah menahan kemarahan.


"Iya benar, ini bau minyak nyong-nyong," seru Tria.


"Elna, kamu hidup di tahun berapa sih," ledek Daniel.


"Hati-hati Daniel, kamu laki-laki, bisa-bisa kamu yang tergoda sama Elna," goda Nesya.


"Iya aku mabok sama Elna, tapi mabok karena mual, bukan mabok karena cinta," Daniel berlari menuju westafel yang biasa di pakai untuk cuci tangan, lalu menumpahkan isi perutnya di sana.


Elna langsung pergi dari ruangan itu tanpa pamit kepada siapapun. Dia berjalan cepat menuju toilet umum setelah keluar dari lift.


"Ya ampun Daniel, mampet itu selang sama nasi uduk kamu," seru Aruna.


"Maaf bu, aku tidak tahan lagi," "uwekkk" Daniel menguras isi perutnya.


Aruna, Tria dan Nesya masih tertawa mengakak melihat Daniel yang mabok karena minyak wangi Elna.


"Astaghfirullah hal adziim," lirih Aruna, Tria dan Nesya. Mengingat kelakuan Elna. Sedang Daniel masih sibuk mengeluarkan isi perutnya.


"Ku harap hanya kita yang tahu masalah ini, jangan ungkit di luar kantor, kasihan Elna," lirih Aruna.


"Baik bu," jawab mereka bertiga.


Setelah Daniel merasa lebih baik mereka semua memulai pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa Aan.


Elna bingung, dia masih mengurung diri di salah satu toilet kantor tersebut.


"Eh, cium bau aneh gak sih?" Lirih karyawati yang berada ruangan itu.


"Iya ya, bau-bau minyak wangi nenek-nenek gitu," seru yang lain.


"Kalo aku sih cium nya ini aroma minyak wangi melati yang biasa di pakai orang untuk oles pada jenadzah gitu," ucap yang lain.


"Merinding …," ucap yang lain lagi.


Setelah cuci tangan mereka semua lari meninggalkan toilet kantor tersebut.


"Bapak …!!! Kenapa sih aku mau nurut, bagaimana aku bisa keluar, aku malu …!" Ringis Elna.


Elna membasahi seluruh tubuhnya dengan air membilas bagian yang kena minyak wangi, setelah cukup basah dan aromanya memudar, dia merusak kran air yang ada dalam toilet itu.


"Lebih baik malu basah kuyup dari pada malu keciuman minyak wangi ini," gerutu Elna.


Elna berjalan keluar dengan santainya, lalu menuju staff penanggung jawabnya. Semua mata memandang ke arah Elna yang basah kuyup.


"Bu, boleh izin pulang, kran kamar kecil tadi rusak, lihat saya basah kuyup," lirih Elna.


"Maaf ya, sepertinya teknisi kami tidak mengecek itu, karena kesalahan kantor, silahkan anda pulang," seru pemimpin Elna.


Dengan perasaan lega Elna pulang, walau harus menanggung malu di pandangi semua karyawan karena dia basah kuyup.


Petugas kebersihan jengkel dengan Pegawai baru itu, karena mereka harus mengepel tetesan air yang berasal dari pegawai baru yang basah kuyup barusan.


Setelah di luar kantor Elna memesan ojek online. Malu Elna bertambah karena pandangan orang-orang padanya. Tidak lama ojek datang.


"Dengan Elna?"


"Iya saya," jawab Elna sambil menadahkan tangan meminta helm.


"Kok basah mba?"


"Jangan tanya, ayuk jalan aku malu banget ini," gerutu Elna.


Tukang ojek langsung tancap gas mengantar Elna ke tujuannya.


Setelah membayar jasa ojek, sesampai rumah Elna masuk kedalam rumah mencari bapak nya dengan wajah penuh kemarahan.


"Bapak!!! Berhenti menyuruhku memakai yang aneh-aneh, aku malu pak!!!" Teriak Elna sambil melempar botol kecil yang berisi minyak pelet yang dia pakai sebelumnya.


"Apanya yang aneh? Minyak pelet itu kamu pakai sedikit di rumah, efeknya bakal langsung kena pada orang yang kamu pikirkan, selama ini kamu aja yang bodoh!!" Bentak bapaknya balik.


"Dimana kamu makai minyak itu?"


"Di kantor …," jawab Elna.


"Dasar bodoh!!! Kamu budeg apa!!! Pantas laki-laki tajir melintir lepas terus karena kamu nya yan o'on!!!"


Elna menahan segala semprotan kemarahan bapak nya karena keliru saat memahami penyampaian yang bapaknya tuturkan. Elna pasrah di semprot bapak nya habis-habisan juga menanggung malu yang sangat besar saat di kantor tadi.


"Biar bapak yang turun tangan, kamu memang tidak becus!!!" Bentak bapaknya.


Elna hanya menunduk menyadari kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2