
Akhmad mengulurkan ujung ranting kayu pada Deli.
"Aku bersedia menjadi rekanmu untuk berjuang dalam sampan itu, jika engkau setuju mari kita turun gunung mencari orang yang tepat untuk mengikat kita." Akhmad menunggu jawaban Deli.
Deli tidak bisa berpikir panjang. Pikirannya hanya terfokus bagaimana menyelamatkan para gadis desa. Deli langsung menerima ujung ranting yang Akhmad berikan padanya.
"Cepat kalian turun gunung, tapi lewat hutan, aku tahu jalan pintas," usul Ayan.
Deli, Ayan dan Akhmad segera turun gunung melintasi hutan dengan motor trail milik warga. Akhmad harus ikhlas membonceng Deli, karena Ayan tidak mau membonceng Deli. Jalan terjal ini mereka pilih. Demi menghindari pengawasan anak buah Alet. Perjuagan begitu exta, menyusuri jalur hutan yang tidak mudah.
***
Di halaman rumah kepala adat. Semua orang berkumpul mengadu pada abah Ramu.
Abah Ramu memandangi wajah-wajah warganya yang nampak memilukan. "Puluhan tahun aku diam! Aku berharap ada keberanian dari salah satu dari kalian. Saat yang berani itu muncul dengan bangga aku akan mendukungnya, ternyata? Dulu dan sekarang kalian masih saja pengecut!!!" Bentak Ramu.
"Anak buah Elet berbadan besar, kami kalah tanding," sahut salah satu warga.
Abah Ramu geram dengan jawaban dari warganya. "Berbadan besar! tapi anggota mereka sedikit, kalian?" Ramu mengedrkan pandangannya memandangi warga nya. "Jumlah kalian banyak!Ayo bersatu! Apa kalian rela anak gadis kalian mati sia-sia!" Teriak Ramu.
"Tidak akan aku biarkan kekasihku dan adikku mati sia-sia!" Surya langsung mengambil bambu yang ada di halaman rumah Ramu.
"Aku juga, berdiam diri kematian akan tetap mendatangiku, hanya sebabnya saja yang berbeda. Aku rela mati! Untuk memeperjuangkan anak gadisku!" Umia juga mengambil bambu.
"Runcingkan bambu itu, yang punya senjata bawa juga, kita perlihatkan perlawanan kita, sudah cukup kita di permainkan oleh Alet dan antek-anteknya!!!" Teriak Ramu.
Setelah mempersenjatai diri mereka. Mereka segera menuju tempat persembahan Alet dan sekutunya. Sesampai di sana, mereka semua berpencar, mengikuti arahan Ramu.
***
Desa Pariang.
Akhirnya, perjalanan Deli, Ayan dan Akhmad sampai di desa Pariang. Mereka berhenti di sebuah mushalla.
"Deli, telepon ayahmu, minya izin padanya. Setelah mendapat izin darinya, minta ayahmu mewakilkan pernikahan ini pada ustadz yang ada di sini," pinta Akhmad
"Aku … aku tidak tahu, apakah papa akan mengizinkan aku untuk menikah. Aku sudah berjanji pada papa kalau aku akan menikah dengan laki-laki pilihan papa." Perasaan Deli berkecamuk. Dia teringat janjinya pada Aan, tapi warga desa ini juga butuh pertolongannya.
Akhmad menarik napasnya begitu dalam. Akmad memandang sayu kearah bangunan mushalla yang berdiri tegak di depan matanya. "Aku juga sudah berjanji pada ayahku kalau aku akan menikahi gadis pilihan ayah. Tapi sekarang kita dalam keadaan darurat, ceritakan padanya," pinta Akhmad.
"Kamu orang baik Lia, aku yakin kebaikan dari dirimu mengalir dari orang tuamu, cerita pada orang tuamu, ceritakan semuanya. Aku yakin kedua orang tuamu akan memberi kamu izin." Ayan menyemangati Deli.
Dengan berat hati Deli meraih ponselnya, dia langsung menelpon Aan, menceritakan yang terjadi di desa Kayu Alam. Dengan penuh penyesalan Deli meminta agar perjodohannya di batalkan. Karena dia harus menikah saat ini juga, untuk menjalankan Syarat yang di maksud 'ikatan darah,' sampan dan tebing batu. Yaitu melakukan hubungan bersama pasangan sah dalam sampan yang ada di tebing batu, karena air terjun itu sudah tidak ada lagi.
Deli tidak mendengar jawaban dari Aan. Hanya helaan napas yang terdengar begitu berat di ujung telepon sana. Deli faham akan dilema yang papanya rasa.
"Papa … aku tidak mengarang, mungkin lebih 10 nyawa gadis desa terancam jika aku tidak memenuhi persyaratan itu sekarang. Papa ... izinkan aku mengingkari janjiku pada papa, izinkan aku menikah dengan seorang pemuda yang juga pendatang di desa Kayu Alam ini." Deli berusaha menyakinkan Aan.
Di ujung telepin sana, Aan teringat bagaimana perjuangan dia dan Aruna. Aan memahami masalah Deli.
"Berikan teleponnya pada calon suami kamu dan pada ustadz yang akan menikahkan kalian," pinta Aan.
Deli memberikan ponselnya pada Akhmad. "Papa ingin bicara padamu."
__ADS_1
Akhmad langsung menerima ponsel Deli, dan menempatkannya di samping daun telinganya "Assalamu alaikum Pak, saya Akhmad."
"Wa alaikum salam, aku Aan, papanya Deli, aku … aku tidak bisa bicara banyak, waktu kalian pasti sanga singkat bukan? Aku titip anakku, jadikan dia perempuan Sholehah," pinta Aan.
"Insya Allah."
"Bisakah aku bicara pada yang akan menikahkan kalian?"
"Kami akan telepon lagi, beliau belum siap," jawab Akhmad.
Telepon di putus Aan. Aan tidak sanggup lagi berkata. Hatinya sangat sakit, akad nikah putrinya tidak bisa dia saksikan.
Tidak berselang lama, telepon berdering lagi, setelah Aan mengangkatnya Aan langsung meyerahkan pada ustadz tersebut yang akan bertindak menikahkan Deli.
Setelah semua persiapan dan para saksi lengkap, satu sentakan tangan dengan Lantang Akhmad mengucap akad nikah. "Sah!!!" Seru kedua saksi. Ustadz langsung memimpin do'a, karena Deli dan Akhmad harus kembali ke desa Kayu Alam. Perjalanan hutan yang terjal kembali mereka lalui.
***
Di rumah Aan.
Aan menangis memandangi foto keluarganya yang ber ukuran besar. Sentuhan tangan mendarat di bahu Aan.
"Ada apa?" Tanya Aruna lembut karena melihat wajah Aan penuh kesedihan.
"Deli menikah," ringis Aan.
"Kenapa?" Aruna khawatir.
"Semoga suaminya adalah laki-laki yang baik," ringis Aruna.
"Anak-anak kita," ringis Aan.
"Iya, anak-anak kita bukan anak kecil lagi, sebentar lagi Dena juga akan menikah."
"Kita sudah tua ternyata." Aan menarik Aruna kedalam pelukannya, mereka berdua terus memandangi foto keluarga mereka yang masih lengkap, yang terpasang di dinding rumah itu.
*****
Di desa Kayu Alam.
"Kenapa desa mendadak sepi?" Ayan mengedarkan pandangannya.
"Aku takut ...." ringis Deli.
"Jangan takut, kamu sekaranf adalah tanggung jawabku, semampuku aku akan melindungi kamu." Akhmad menggenggam tangan Deli.
Ayan merasa ada yang tidak beres. "Kalian langsung ke air terjun, aku akan mencari tahu kemana para warga," pinta Ayan.
Mereka langsung berpisah. Ayan langsung mencari warga sedang Deli dan Akhmad langsung menuju air terjun yang di maksud dalam mimpinya. Mereka berdua memasuki hutan. Jalurnya tidaklah mudah, namun dengan sabar Akhmad membantu Deli.
******
Di tempat Alet.
__ADS_1
"Bagaimana urusan nanti malam?" Tanya Alet.
"Sepertinya tidak malam bos, soalnya hellycopter yang akan mengangkut gadis desa sebentar lagi mendarat dekat tempat persembahan."
"Kamu bodoh! Kalau warga melihat helly itu bagaimana!!!" Alet geram mendengar rencana anak buahnya. Yang mengubah jadwal tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
"Tenang bos, pengangkutan tetap malam hari, tapi tidak semua, hanya enam atau delapan gadis itu saja yang bisa di angkut, tapi persembahan kita lakukan sore hari," lapor anak buah Alet.
"Ngomong-ngomong, kemana para gadis desa itu di bawa?"
"Nggak tau mbah, yang pasti keluar negri, aku juga tidak mau tahu, yang jelas aku dapat banyak uang menjual gadis-gadis desa itu, soalnya orderan organ sudah tidak ada lagi," jawab Alet.
"Cepat persiapkan semuanya, kita akan mulai sandiwara tumbal ini." Alet memerintah semua anak buahnya, untuk langsung bertindak.
Melihat anak buah Alet mulai ber aksi, para warga masih bersembunyi di semak, perhatian mereka fokus pada kegiatan anak buah Alet.
"Bos, Surya mana?" Tanya anak buahnya.
"Bodoh! Surya aku tugaskan di lain tempat, kalau di sini sama saja gobl*k! Kamu lihat itu!" Alet menujuk salah satu gadis tawanannya. "Itu adik Surya," terang Alet.
Di semak belukar.
Surya nampak geram mendengar perkataan Alet. Ramu mencoba menenangkan Surya. Karena takut rencana yang telah mereka susun, kacau. Surya berusaha kuat menahan kemarahannya, demi mengikuti arahan Ramu.
****
Di tebing batu.
Deli dan Akhmad memandangi keadaan sekitar mereka. Deli takjub dengan keadaan yang dia lihat. Semua ini persis dengan yang dia lihat dalam mimpinya. Perjuangan perjalanan menanjak akhirnya terbayar dengan pemandangan yang tersuguh.
"Akhirnya kita sampai!" Akhmad mengedarkan pandangan matanya. mencari sampan yang dimaksud Deli. Pandangan mata Akhmad terhenti saat dia melihat sampan yang tergeletak diatas batu.
"Apakah itu sampan yang dimaksud?" Kini pandangan mata Akhmad tertuju pada Deli.
Tubuh Deli langsung menggidik mendengar sampan, terbayang apa yang harus dilakukan dalam sampan yang berada di atas batu tersebut.
Akhmad mengerti akan kekhawatiran Deli. "Siap?" Akhmad mengulurkan tangannya. Mengajak Deli menuju sampan itu.
Deli menarik napasnya begitu dalam, menghembuskannya perlahan. Tanpa menjawab pertanyaan Akhmad, dia menyambut uluran tangan Akhmad. Kedua tangan itu saling bertaut.
"Demi membebaskan penderitaan semua warga, aku siap menerima semua tanggung jawab ini, termasuk menua bersamamu di desa ini" Deli mengukir senyuman indah di wajahnya.
Seketika terdengar gemuruh angin yang hebat, membuat Deli langsung bersembunyi di belakang Akhmad.
"Semoga itu restu sang Ilahi," bisik Akhmad.
Deli dan Akhmad berjalan sambil berpegangan tangan menuju sampan tersebut.
"Akhhh!!!" Pekik Deli. Seketika langkah kakinya terhenti. Deli mengangkat kakinya. Terlihat kakinya berdarah menginjak bebatuan yang runcing.
Melihat kaki Deli yang berdarah Akmad langsung menggendong Deli menuju sampan. Untuk menunaikan syarat tersebut. Darah yang keluar dari kaki Deli, menetes dan jatuh ke genangan air. Darah Deli menyatu dengan air yang dangkal itu, tiba-tiba dari dalam tanah itu keluar gelembung-gelembung kecil. Namun Deli dan Akhmad tidak menyadarinya.
Akhmad perlahan menurunkan Deli, mendudukkan Deli dalam sampan. Akmad juga memposisikan dirinya duduk dalam Sampan, duduk menghadap Deli. Tapi keduanya saling diam. Bingung harus memulai dari mana.
__ADS_1