Tower Of God

Tower Of God
Badai Petir Dari Eden


__ADS_3

Namun, Osasa dan yang lainnya bingung, ke mana perginya Prajurit Lemurian yang melawan mereka tadi. Apakah mereka berhasil mengusir Prajurit Lemurian itu? Kalau iya, maka ini adalah pencapaian hebat yang tak akan pernah lupakan selamanya.


“Clarence... gadis kecil ini masih hidup!” kata Rohit melihat gadis berusia Sepuluh tahun depan kakinya patah, dua lengan tangannya juga tak bisa digerakkan, tapi ajaibnya mulutnya tampak berdarah seperti telah meminum darah Lemurian.


Gadis kecil itu meringis kesakitan dan Clarence segera menyeka air matanya, kemudian bergegas ke arah gadis kecil itu.


“Aisyah!”


Clarice segera merapal mantera Sihir penyembuhan—sehingga luka-luka pada Aisyah segera pulih seperti tak pernah terluka saja.


“Kamu kenal dia, Clarice?” tanya Li Jian penasaran sembari memapah gadis kecil itu agar segera berdiri.


“Ya, dia Aisyah dari Malaysia dan seharusnya ia bersama ibunya ....” Clarice berhenti berbicara karena semua orang sudah tahu apa yang baru saja mereka alami. Itu adalah bencana paling mengerikan sepanjang masa. “Jangan takut Aisyah, kita akan meninggalkan Peternakan ini bersama-sama karena Lemurian terkutuk itu telah melarikan diri!” katanya lagi.


“Kamu salah Clarice!” sela Eden—Pria tampan bertubuh kekar dari Paris, Prancis—sembari menatap ke arah tembok Peternakan.


Mereka terkejut karena Jenderal Sirte menyeringai menatap mereka dan mengatakan sesuatu pada Prajurit Lemurian di sebelahnya. Kemudian Tiga Prajurit Lemurian segera melompat dari atas tembok Peternakan dan berjalan dengan santai ke arah mereka.


“Sepertinya mereka sangat kuat dan berpengalaman!” seru Osasa.


“Lemurian di tengah itu adalah Lemurian yang menghancurkan tentara Pembebasan Rakyat di Kota Nanking seorang diri saja, dia mematahkan Tank dengan mudah serta melempar Tank itu ke langit yang langsung menghancurkan Pesawat tempur!” sahut Li Jian—yang langsung merinding mengingat kejadian di hari pertama invasi Bangsa Lemurian ke Bumi tersebut.


“Sungguh merepotkan, sepertinya kita akan melawan musuh terkuat! Yang tadi itu hanya pemanasan saja, tapi sudah membuat kita kesulitan—apalagi ini ....” Rohit kehabisan kata-kata mengungkapkan kecemasannya.


“Aisyah akan berjuang sampai akhir!” selanya yang membuat Manusia yang tersisa di kandang ternak itu tertawa—walaupun mereka tahu ini adalah akhir dari perjuangan mereka.


Aisyah tak main-main, Seratus Robot Humanoid muncul di depan mereka—yang membuat Osasa dan yang lainnya tercengang.

__ADS_1


Mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin Aisyah yang hanya Gadis kecil bisa berevolusi mendapatkan Sihir Over Power seperti Cheat dalam permainan game saja.


Seratus Robot Humanoid itu menggunakan senjata Pedang dan akan bergerak sesuai pikiran yang mengendalikan mereka. Namun, masalahnya Aisyah cuma gadis kecil dan ia tak memahami cara bertarung, apalagi tehnik berpedang.


“Baiklah... ayo kita kalahkan ketiga Lemurian terkutuk itu!” seru Eden segera merapal mantera Sihir Petir—sehingga tubuhnya dipenuhi aliran listrik tegangan tinggi dan ini membuatnya bisa bergerak sangat cepat serta menembakkan Sihir Petir ke arah musuh.


Aisyah juga langsung mengendalikan Seratus Robot Humanoid yang langsung melompat-lompat seperti film Vampir China tahun ‘90-an.


Clarice menepuk jidatnya karena tak menyangka Aisyah tak bisa mengendalikan Sihir hebat seperti ini, bahkan Clarice berandai-andai mereka bertukar Sihir saja.


“Kamu tiru saja gerakan Om Li Jian ya,” bisik Clarice ke telinga Aisyah yang langsung mengangguk pelan. “Dari mana kamu mendapatkan darah Lemurian, ya?” Dia malah penasaran—karena orang dewasa saja harus bergulat melawan Lemurian agar mendapatkan darah mereka.


“Lemurian itu mengatakan agar aku menggigit lehernya—karena ia bosan menggunakan Sihirnya!” sahut Aisyah dengan ekspresi wajah polos.


“Semudah itu?” Osasa terkejut mendengarnya, karena ia sendiri harus menimbun tubuhnya diantara potongan tubuh Manusia agar para Prajurit Lemurian tidak melihatnya.


“Betul juga, kenapa juga boneka-boneka jelek itu melompat-lompat tak jelas!” sahut Bones segera merapal mantera Sihir. “Hanguskan semuanya!”


Kobaran Api hitam setinggi Pohon kelapa tiba-tiba menerjang ke arah Seratus Robot Humanoid.


Api hitam langsung melelehkan Seratus Robot Humanoid, sehingga Osasa dan yang lainnya terkejut. Bagaimana mungkin Prajurit Lemurian itu melakukannya, kekuatannya terlalu besar—sangat kontras dengan Sihir mereka yang malah kelihatan hanya akan menggelitiknya saja.


“Rohit... bisakah kamu membawa mereka ke tembok bagian Selatan dan menyeberangkan mereka, aku akan menahan mereka sementara waktu. Gunakan kesempatan yang kuberikan ini dengan baik!” seru Eden segera melesat ke arah Bones.


“Kami tak akan pergi dan akan membantu... eh? Lepaskan aku Rohit!” Tiba-tiba saja Rohit membawa Clarice dan Aisyah ke arah tembok Selatan Peternakan.


Osasa tahu Rohit pasti akan kembali lagi, tetapi satu orang tak akan sanggup menahan Prajurit Lemurian yang telah berpuluh-puluh tahun terjun menghancurkan berbagai Planet di alam semesta. Dia segera menyusul Eden dan berkata, “Selamatkan para Wanita lebih dulu, Rohit!” Walaupun kata-kata itu sebenarnya adalah sebuah kata perpisahan saja.

__ADS_1


“Jangan bawa aku, Rohit!” bentak Maria yang langsung dibawa pergi oleh Rohit. Namun, ia tak berhasil membawa Laila yang justru terbang ke udara—sehingga Rohit tak bisa membawanya.


Li Jian segera mengikuti Osasa, begitu juga Manusia lainnya yang telah berevolusi.


Osasa menyerang Bones dengan Sabit Angin Tornado—karena menurutnya Angin mampu menghembuskan Api sehingga Eden dengan mudah mengeksekusinya.


Namun, ekspektasinya malah meleset, Sabit Angin Tornado ternyata sangat lemah—karena badai Api dari Sihir Bones jauh lebih besar.


Osasa mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah lain, Li Jian telah dihempaskan oleh Mad dan tangan kiri Mad mencengkeram leher Pria Korea yang kelihatan sudah tak bernyawa lagi.


Osasa menoleh ke arah Prajurit Lemurian satu lagi, dia ternyata bisa terbang seperti Laila dan Prajurit Lemurian itu hanya perlu sekali serang saja untuk membuat Laila terhempas sangat jauh dan tidak bergerak lagi dari tempatnya mendarat.


“Sial! Lemurian terkutuk ini sangat kuat sekali!” guman Osasa. “Semoga saja Rohit jangan kemari lagi dan membawa orang-orang yang ia selamatkan pergi sejauh mungkin!”


“Osasa, larilah!” teriak Eden segera merapal mantera. “Badai Petir!” teriaknya menggunakan pengorbanan darah agar Petir-Petir yang muncul dari Sihirnya bertahan sangat lama hingga darahnya terkuras habis.


“Eden... jangan lakukan itu!” teriak Osasa menitikkan air mata dan segera menuju ke arah Li Jian dan memapah tubuhnya—karena Li Jian tak bisa bergerak lagi, tubuhnya dipenuhi luka-luka.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”


Eden berteriak histeris, tubuhnya tiba-tiba menyusut. Tubuh yang awalnya sangat atletis itu telah berubah menjadi kurus dan menghitam.


Bones dan Dua Prajurit Lemurian lainnya terkejut Sihir Petir Eden mampu menyakiti mereka dan mereka segera mundur agar tidak dihantam sambaran Petir yang muncul di mana-mana di area Peternakan tersebut.


“Ahhhh! Tolong!” teriak Mad terkena sambaran Petir yang membuatnya tersungkur ke tanah, kemudian sambaran Petir kedua muncul lagi dan tubuh Mad langsung hancur berkeping-keping.


Bones mengerutkan keningnya, sedangkan Jenderal Sirte yang menonton dari atas tembok langsung menggelengkan kepala—karena tak menyangka bawahannya akan dikalahkan oleh Pemula.

__ADS_1


“Kalian bunuh ternak yang pergi ke selatan!” seru Jenderal Sirte pada Prajurit Lemurian di sebelahnya, dan Puluhan Nie langsung terbang ke sana—mengejar Rohit dan yang lainnya.


__ADS_2