
Jenderal Randall tertawa saat rekan-rekannya telah meninggalkan dirinya sendirian di negeri Bangsa Bunian tersebut. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima hukuman mati dari mereka.
Robot Humanoid yang dikendalikan oleh Ratu Lamura mendekati Jenderal Randall dan mengayunkan Pedangnya memotong leher Jenderal Randall.
“Kita harus menuju Menara Kutukan sebelum Prajurit Lemurian menghancurkannya!” seru Lerenia karena hany itu portal teleportasi menuju berbagai Planet yang dikuasai oleh Bangsa Lemurian.
“Benar... kita harus memasuki Menara Harapan untuk kembali ke Bumi!” sahut Bonar. “Maaf Yang Mulia Ratu... kami tidak bisa ikut merayakan kemenangan Bangsa Bunian!” Bonar tersenyum dan segera terbang ke arah Menara Kutukan.
“Terimakasih tuan Bonar dan juga kalian semua ras Manusia!” sahut Ratu Lamura melambaikan tangan Robot Humanoid.
Para Pasukan Revolusioner juga ikut mengucapkan terimakasih pada Ras Manusia yang telah membantu mereka membebaskan negeri mereka dari caplokan Bangsa Lemurian tersebut.
Menara Kutukan yang menjulang tinggi ke langit tersebut perlahan-lahan terkikis seperti dimakan rayap, akan tetapi Bonar dan rekan-rekannya berhasil mencapai Menara Kutukan sebelum menghilang.
Jenderal Sirte terkejut ada yang masuk ke Menara Harapan dan itu berada di jantung Menara Harapan yang merupakan tempat paling sakral dan tidak sembarang Lemurian boleh memasukinya, kecuali ada izin khusus atau akan bepergian ke Menara Kutukan Planet lain.
“Mereka di sini! Bersiap bertarung!” Jenderal Randall panik, bala bantuan dari Pangkalan Militer terdekat masih membutuhkan waktu beberapa menit lagi, sementara Menara Harapan tidak boleh dihancurkan karena itu akan berakibat mereka tidak bisa lagi menjelajahi alam semesta dan menguras sumberdaya di Planet yang mereka jajah.
“Kita berjumpa lagi Jenderal Sirte!” Seringai jahat terpancar dari sudut bibir Bonar. Kali ini ia tidak peduli lagi akan keselamatan para Lemurian yang tampak panik. “Kalian akan merasakan apa yang kurasakan saat di Bumi dulu!”
Bangunan Menara Harapan bergetar hebat dan mulai hancur, karena Bonar menggunakan Sihir Wangun untuk mengubah tembok Menara Harapan menjadi Golem.
Jenderal Sirte tak mungkin menggunakan Sihir yang mengeluarkan Meteoroid di sini, karena itu akan menghancurkan bangunan Menara Harapan.
“Serang mereka dengan Sihir ringan dan tangan kosong!” teriak Jenderal Sirte.
Namun, hal itu justru membuat Bonar dengan mudah membunuh para Prajurit Lemurian. Bukan pertarungan yang terlihat, tetapi yang terlihat justru pembantaian yang dilakukan oleh Bonar.
Lerenia menarik napas dalam-dalam, ia merasa kasihan melihat Ras Lemurian dibunuh seperti membunuh nyamuk saja.
Dia segera mencari Portal menuju Bumi agar pembantaian yang dilakukan oleh Bonar segera berhenti dan itu butuh waktu yang cukup lama karena ada Ratusan Portal ke berbagai Planet di Menara Harapan.
Puluhan Balaine atau Pesawat induk raksasa terbang mendekati Menara Harapan. Mereka berasal dari berbagai Pangkalan militer Bangsa Lemurian.
Anggota Dewan Lemurian dan Pemimpin Suci langsung dievakuasi ke Balaine agar mereka tidak terkena serangan Sihir dari Bonar.
“Menara Harapan akan hancur, kita harus menggunakan Sihir melawan para Manusia itu. Kalau tidak, akan makin banyak Prajurit yang berguguran!” Salah satu Jenderal mengeluh pada Pemimpin Suci yang masih bersikukuh agar tidak menggunakan Sihir supaya Menara Harapan tidak hancur.
“Tidak bisa! Kita harus mempertahankan Menara Harapan!” sahut Pemimpin Suci. “Apakah Lemurian dari Laboratorium Militer belum datang? Kabarnya mereka telah menyempurnakan Vaksin Zero!”
Vaksin Zero adalah Vaksin yang dapat merendam Sihir Manusia selama 24 Jam seperti yang pernah diuji pada Hinata sebelum ia diselamatkan oleh Bonar.
__ADS_1
Tiba-tiba Balaine lain terbang mendekat ke arah Menara dan Seratus Prajurit Lemurian dengan Senapan yang terbuat dari bahan Plastik turun dari sana, mereka langsung memasuki Menara Harapan.
Senapan itu sengaja dibuat dari bahan Plastik, karena bila terbuat dari logam maka Bonar akan mengambil alihnya dengan Sihir Controller-nya yang dapat mengendalikan logam.
“Maaf terlambat Pemimpin Suci, Kami telah selesai membuat senjata khusus yang dapat menembakkan Vaksin Zero ke para Manusia terkutuk itu!” Ilmuwan Lemurian yang bertanggungjawab atas proyek Vaksin Zero itu melapor pada Pemimpin Suci.
“Cih, kalian tak berguna sekali!”
“Menara Harapan akan runtuh dan hancur barulah kalian muncul!”
“Jangan-jangan kalian tidak ingin Bangsa Lemurian menguasai alam semesta dan kalian adalah penganut paham pembaharuan yang menginginkan kesetaraan Ras!”
Para Dewan Lemurian memarahi Ilmuwan tersebut yang langsung mengerutkan keningnya dan ingin meludah wajah mereka, karena mereka hanya tahu memerintah saja dan tidak melakukan apa-apa selain makan gaji buta.
“Sudah jangan ribut dulu, kita harus mengatasi para Manusia itu sesegera mungkin!” sela Pemimpin Suci yang tidak suka mendengar keributan itu.
...***...
Dengan senyum lebar Alex menembakkan Sihir Laser Api ke Prajurit Lemurian dan merasa seperti bermain game melawan zombie saja, di mana tak ada serangan jarak jauh dari pihak lawan.
“Aku menemukan Portal ke Bumi!” Lerenia berteriak, sehingga Hinata dan yang lainnya tersenyum bahagia.
“Apalagi yang kalian tunggu cepat masuk!” teriak Bonar yang yakin Lemurian akan menggunakan serangan Sihir bila kehancuran Menara Harapan telah mencapai kerusakan 75%.
“Tenang saja, Bos selalu yang terakhir meninggalkan pertempuran karena Aku yang paling kuat ha-ha-ha ....” Bonar tertawa terkekeh-kekeh.
Namun, tiba-tiba Alex kehilangan Sihir Laser Api-nya dan Rohit tak bisa lagi bergerak seperti Kilat.
“Apa yang terjadi?”
Mereka kebingungan dan Hinata segera menyadari kalau ada jarum yang menempel di punggung Rohit.
“Itu Vaksin Zero! Hati-hati Bos Bonar!” teriak Hinata.
“Sepertinya aku harus memulai penghancuran Menara Harapan ini!” gumam Bonar segera memerintahkan Golem-nya meninju bangunan Menara Harapan dan Tanaman Merambat menjalar membawa Rohit serta yang lainnya memasuki Portal menuju Bumi.
“Tembak yang itu!” Jenderal Sirte berkata pada Prajurit yang memegang Senapan berisi peluru Vaksin Zero dan ia menunjuk ke arah Bonar.
Namun, tubuh Bonar diselimuti Logam karena ia menggunakan Sihir Terminator, sehingga jarum Vaksin itu langsung terpental.
Bonar menatap Jenderal Sirte dan berkata, “Urusan kita belum selesai. Mari kita selesaikan di sini!”
__ADS_1
Tanaman merambat menjalar ke arah Jenderal Sirte yang langsung panik dan tidak ingin mati seperti Jenderal Randall.
Dari Langit tiba-tiba berjatuhan Meteoroid, Jenderal Sirte mengabaikan perintah dari Pemimpin Suci yang melarang penggunaan Sihir dalam menghadapi para Manusia.
Para Prajurit yang melihat Sihir Jenderal Sirte telah muncul, mereka juga menggunakan Sihir mereka—sehingga Menahan Harapan benar-benar hancur akibat pertarungan yang mengerikan itu.
Gabungan berbagai jenis Sihir berkumpul pada titik yang sama, yaitu menuju Bonar—sehingga terjadi ledakan yang mengerikan; Planet Lemurian berguncang karena hampir semua Jenderal Lemurian berkumpul di Menara Harapan.
...***...
Pasukan Revolusioner juga muncul di Bumi, mereka terdiri dari Manusia berbagai Negara yang bersatu melawan Lemurian secara bergerilya.
“Kabar gembira! Menara Kutukan telah hancur di mana-mana dan muncul Manusia dengan kekuatan Super seperti di film-film mengalahkan Prajurit Lemurian. Ayo kita bergabung dengan mereka menumpas sisa-sisa Prajurit Lemurian, kita akan menunjukkan pada mereka bagaimana rasanya diburu seperti tikus!”
“Wah, benarkah? Hebat sekali! Harapan yang kita tunggu-tunggu akhirnya muncul!”
Di segala penjuru Bumi, Pasukan Revolusioner melakukan serangan kilat ke markas-markas Prajurit Lemurian, sehingga banyak Prajurit Lemurian yang kabur dari Bumi menggunakan Balaine.
Hinata menengadah menatap bintang-bintang di langit dari puncak gunung Fuji dan menghela napas dalam-dalam. “Bos Bonar, di manakah kamu sekarang?“
Li Jian juga duduk termenung di tembok besar China, Osasa berbaring di gurun Pasir Afrika setelah membunuh Prajurit Lemurian terakhir yang ia temui.
Asep juga menghela napas panjang setelah ia berhasil berkumpul bersama istri dan anaknya, ternyata mereka berhasil bersembunyi di pegunungan.
Alex yang merupakan yang kedua direkrut Bonar juga duduk termenung di sebelah Menara Eiffel, ia tidak menyangka Bonar akan mendorong mereka ke Portal agar berhasil kembali ke Bumi.
...***...
“Hei, Lerenia jangan lembut-lembut dong mengoles salepnya!” Bonar berteriak histeris.
Dia berhasil selamat dari pertarungan melawan Jenderal-Jenderal Lemurian selama Dua Hari Dua Malam yang mengakibatkan setengah Planet Lemurian menjadi dataran tandus dan tak bisa dihuni lagi, karena tercemar Sihir yang bercampur aduk di sana.
Lerenia yang berpura-pura menjadi Prajurit Lemurian melarikannya bersama Sonia keluar dari Planet Lemurian dengan Balaine yang digunakan salah satu anggota Dewan Lemurian.
Sonia yang merupakan Ras Succubus itu membunuh anggota Dewan Lemurian itu dan melarikan Balaine-nya, secara kebetulan ia bertemu dengan Lerenia yang sedang terbang membawa Bonar.
“Umm, aku kini hanya Manusia biasa saja, mungkin kita harus ke Planet Ratu Lamura saja agar beliau membuatku Robot Humanoid, karena bisa saja kita bertemu musuh kuat suatu hari nanti!” Bonar berkata dengan ekspresi wajah sedih, karena Sihirnya telah menghilang.
“Jangan khawatir, Bos!” Sonia tiba-tiba menanggalkan pakaiannya, sehingga luka pada hidungnya kembali kambuh dan keluar darah dari sana.
“Aku bisa mati konyol bila memiliki haremm Alien!” Bonar jatuh pingsan, karena Lerenia dan Sonia bukan Manusia.
__ADS_1
...****Tamat****...
“Terimakasih telah mengikuti perjalanan Bonar hingga tamat. Mungkin banyak kekurangannya, semoga kedepannya karya babang tampan makin bagus.”😁😁😁😁