Tower Of God

Tower Of God
Jenderal Sirte Mendekati Balaine


__ADS_3

“Kita sekarang berada di luar atmosfer dan kalian tak akan bisa bertarung secara langsung dengan mereka, makhluk Bumi seperti kalian kan membutuhkan oksigen untuk bernafas,” kata Lerenia setelah memberitahu ada Skiif musuh yang mendekati Balaine.


“Apakah kita masih memiliki Rudal Nuklir?” tanya Bonar. “Oh, ya... bukankah Lemurian juga membutuhkan oksigen?”


Bonar malah penasaran apakah sistem pernafasan Lemurian sama dengan Manusia, karena bentuk tubuh mereka sangat mirip dengan Manusia—hanya beda pada telinga serta warna kulit saja.


“Ya... kami memang membutuhkan oksigen, tetapi kami tak akan mati walaupun tak bernafas selama enam jam,” sahut Lerenia bangga. “Oh, ya... hanya ada Lima Rudal Nuklir lagi di ruang senjata, karena sisanya dihabiskan oleh Rohit ketika kita di Peternakan!”


Lerenia menatap Rohit yang langsung mengangkat bahunya dan berkata, “Bukankah itu perintah nona Heroin?” candanya, tapi Lerenia menatap tajam padanya—sehingga Rohit langsung kabur dari ruang kontrol dengan Sihir The Flash-nya.

__ADS_1


Bonar menahan tawa karena tak ingin Lerenia merajuk sehingga mereka tak bisa melarikan diri dari kejaran Skiif yang mengikuti mereka. “Kita gunakan senapan mesin saja untuk menghambat laju Skiif mereka, sekalian aku penasaran siapa yang mengejar kita. Jangan-jangan dia Lemurian Meteor tadi ha-ha-ha ....” Bonar teringat pada Jenderal Sirte yang menurutnya adalah lawan yang sangat kuat—berbeda dengan Polisi Lemurian yang dilawannya sebelumnya yang cukup lemah, sehingga ia dengan mudah mengalahkan mereka.


Namun, sebelum Bonar dan Alex memegang senapan simulasi pertempuran yang terhubung ke Layar Virtual dan secara otomatis akan menembakkan peluru senapan mesin yang ada di beberapa titik Balaine, tiba-tiba radar di Layar Virtual menunjukkan tanda bahaya; Sepuluh Rudal Nuklir meluncur ke arah Balaine.


“Gawat! Balaine ini akan meledak!” teriak Osasa ketakutan—karena mereka berada di luar angkasa dan bila Balaine meledak maka mereka juga akan mati, padahal baru saja mereka meninggalkan neraka di Peternakan dan mencoba menghirup udara segar untuk sesaat setelah dikurung di tempat terkutuk itu.


“Jangan panik, Osasa. Pilih satu Senapan Simulasi-mu untuk membantu kami, masalah Rudal-Rudal itu serahkan saja pada Bos!” Asep langsung melirik Bonar yang telah memasang kaca mata Virtual Reality.


“Aku bukan tangker Kang Asep, tapi Assassins!” Bonar bercanda.

__ADS_1


Osasa hanya tersenyum masam, kemudian Li Jian datang bersama Hinata dan langsung menggunakan Senapan Simulasi juga—karena mereka ingin menembak Skiif yang mengikuti Balaine.


“Jiwa mudaku malah bergejolak melihat semangat kalian, kita malah terlihat seperti gamer profesional saja,” kata Osasa mengambil Senapan Simulasi dan memasang kacamata Virtual Reality.


Dia terkejut melihat Rudal Nuklir yang hanya berjarak Lima Puluh Meter dari Balaine berhenti melesat, seperti kehabisan daya saja. Namun, tiba-tiba Rudal-Rudal itu berbalik arah, meluncur ke arah Skiif.


“Apakah ini Sihir yang digunakan oleh Bos Bonar? Hebat sekali, bisa mengendalikan benda-benda lain,” gumam Osasa segera menekan pelatuk Senapan Simulasi dan rentetan peluru meluncur ke arah Skiif.


“Nuklir itu malah berbalik ke arah kita, cepat tekan tombol on untuk meledakkan sebelum mencapai Balaine,” kata Jenderal Sirte menggertakkan giginya—karena kesal kecepatan Skiif terlalu lambat walaupun dalam mode kecepatan tinggi, tetapi mereka belum juga bisa mendekat ke arah Balaine para Manusia yang kabur dari Peternakan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2