
“Piquet de terre!”
Tanah tempat Bonar berdiri tiba-tiba menjorok ke atas seperti Tombak—sehingga Bonar harus terbang tinggi ke atas menggunakan Sayap Teofani-nya.
Namun, Bas dan Prajurit Lemurian lainnya segera menyerang Bonar—karena konsentrasinya sedang tidak fokus akibat mengelak dari Sihir tanah Prajurit Lemurian.
“Jump!”
Bonar merapalkan mantera Sihir menghindari serangan Prajurit Lemurian dan merasa rekan-rekannya sudah kabur cukup jauh, apalagi debu-debu beterbangan mengurangi jarak pandang mereka—akibat benturan hujan meteoroid dengan Golem Pasirnya.
Bonar berpindah tempat sejauh Lima Puluh Meter dan terus berpindah lagi menggunakan Sihir yang sama, tetapi untuk menyibukkan Jenderal Sirte dan bawahannya, Bonar menggunakan Sihir Seth lagi; badai pasir melahap mereka. Namun, Sihir Angin dari salah satu Prajurit Lemurian dapat menahan badai pasir tersebut.
Aluaso bernafas lega melihat Alien yang akan mereka jemput ternyata berhasil melarikan diri dari sergapan Prajurit Lemurian.
__ADS_1
“Kita ikuti mereka ke utara!” seru Aluaso langsung masuk ke lubang cacing.
“Aku merasa Alien tadi seperti Penyihir pemula, padahal ia memiliki Sihir yang mengerikan,” kata wanita Bunian berkacamata yang berjalan di belakang Jenderal Aluaso—sementara di belakangnya adalah Sili.
“Ya, aku juga berpikiran sama denganmu, tapi aku tetap mengakui dia sangat hebat berhasil kabur dari Lemurian terkutuk itu!” Sili menyahut ucapan Wanita Bunian berkacamata—padahal wanita bunian itu berkata pada Aluaso yang fokus memimpin jalan, mengejar Bonar agar menuntun mereka menuju markas utama Pasukan Revolusioner.
Lubang cacing tiba-tiba bergetar hebat, beberapa bongkahan batu kecil berjatuhan—sehingga Sili dan yang lainnya menjadi panik dan berpikir mungkin Bonar berhasil disusul oleh Prajurit Lemurian, sehingga terjadi pertarungan lagi di atas permukaan tanah.
Valana tertimpa batu, komandan!” teriak Bunian laki-laki dari belakang.
“Valana!”
Sili berusaha mendorong batu yang menimpa kaki Valana yang kesadarannya telah hilang dan Sili buru-buru menekan denyut nadinya.
__ADS_1
“Bagaimana kondisinya?” tanya Aluaso yang juga panik—apalagi getaran di lubang cacing belum menghilang dan batu-batu kecil berjatuhan, pasir serta debu telah menempel di rambut dan wajah mereka, sebagian Bunian batuk-batuk dan merasa dada mereka sesak.
“Mungkin ia tak akan selamat, Komandan!” sahut Sili sedih. “Apa yang akan kita lakukan? Kalau kita terus di sini—mungkin lubang cacing ini akan rubuh!” tanyanya lagi.
“Kita harus meninggalkannya, karena bila kita berlama-lama di sini maka kita semua yang akan mati dan misi kita gagal untuk membawa tamu dari Ras asing untuk berjumpa dengan Ratu Lamura!” sahut Bunian yang lain.
Aluaso menarik nafas dalam-dalam, ia merasa usulan bawahannya itu adalah pilihan satu-satunya yang harus ia buat dan ia pun menepuk pundak Sili.
“Kalian pergilah lebih dulu, aku akan menyusul kalian!” seru Aluaso dengan ekspresi wajah sedih.
Semua Bunian menatap Valana dan mereka menundukkan wajah untuk penghormatan terakhir padanya, kemudian kembali menyusuri lubang cacing.
Kini tinggal Aluaso dan Sili saja di sana. Sili seperti sangat berat untuk meninggalkan sahabatnya itu, tapi itu kepentingan Bangsa Bunian ia harus membuat keputusan lebih diprioritaskan lebih dulu.
__ADS_1
“Komandan... aku saja yang melakukannya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya!” kata Sili yang tahu Aluaso akan membunuh Valana agar ia tidak menderita ditinggal sendirian di lubang cacing tersebut.
Aluaso menganggukkan kepala dan menepuk pundak Sili. “Jangan berlama-lama di sini, sebentar lagi lubang cacing ini akan runtuh!”