
Sili tak menjawab seruan Aluaso dan hanya menatap punggung komandannya itu yang menghilang di persimpangan lubang cacing dan kini hanya Sili dan Valana yang tak sadarkan diri saja yang ada di sana.
“Aku tak akan meninggalkanmu Valana... bertahanlah!” teriak Sili segera mendorong batu yang menghimpit kaki Valana, tetapi tubuh mungilnya tak bisa menggeser batu tersebut.
Sili tertawa terkekeh-kekeh, tetapi air mata membasahi wajahnya. Dia terus mendorong batu itu sembari meneriakkan nama sahabatnya itu.
Batu-batu mulai berjatuhan menutupi lubang cacing dan Valana membuka matanya—terkejut melihat Sili berusaha menolongnya. Tangannya yang lemah menggapai pergelangan kaki Sili dan mengedipkan mata agar Sili berhenti berusaha menolongnya.
“Pergilah Sili!”
Suara lirih dari Valana membuat Sili berhenti mendorong batu besar, dan ia menangis tersedu-sedu karena tak ingin meninggalkan sahabatnya itu.
“Sili... tolong lakukan sekarang, aku tak tahan lagi!” Valana berkata dengan suara yang hampir tak terdengar di telinga Sili.
“Valanaaaaaaaaaa!”
__ADS_1
Sili berteriak histeris sehingga Aluaso yang telah pergi cukup jauh berhenti melangkah dan menggelengkan kepala—karena Sili masih bertahan di sana, sementara lubang cacing mulai runtuh.
Valana tersenyum menatap Sili dan dengan terpaksa Sili menutup saluran pernapasan Valana yang membuat tubuhnya kejang-kejang, sesaat kemudian sahabatnya itu berhenti bernafas dengan mata terbelalak dan air mata tampak jatuh dari sudut matanya.
Sili terdiam sejenak dan menundukkan wajahnya, kemudian lubang cacing pun rubuh. Sili tak bergerak, ia hanya pasrah saja dan memeluk Valana.
...***...
“Sial! Jenderal Lemurian itu ingin menghancurkan seluruh lembah!” gerutu Bonar—karena hujan meteoroid kembali muncul dari langit dan itu menjangkau radius puluhan kilometer, bukit-bukit kecil di dekat lembah Raspur telah hancur berkeping-keping dihantam hujan meteoroid.
Namun, tiba-tiba Bonar terperosok akibat tanah yang dipijaknya untuk berhenti sesaat—karena mengamati sekelilingnya, akibat bingung menentukan arah ke mana ia harus pergi.
“Astaga... aku tidak membawa kompas, ke mana aku akan pergi!” gerutu Bonar sembari menepuk debu yang menutupi wajahnya dan menghilangkan sayap Teofani dari punggungnya, karena ia terperosok ke lubang sempit.
Namun, tiba-tiba Bonar melihat anak kecil berusia Lima atau enam tahun sedang menangis meneriaki kata Valana, akan tetapi suaranya itu terdengar sangat dewasa bukan suara anak-anak.
__ADS_1
Bonar kemudian teringat kalau Ras Bunian itu kata Lerenia bertubuh mungil, tetapi mereka ahli dalam membuat senjata, teknologi robot dan otomotif.
Meteoroid tiba-tiba melesat ke arah Sili yang menengadah menatap langit yang terang, padahal saat ini sedang malam hari.
“Valana... aku datang menemani tidur panjangmu!” kata Sili memejamkan matanya. Namun, setelah satu menit berlalu—ia tidak merasakan apa-apa dan membuka matanya. “Eh, Alien?” Sili terkejut.
“Halo... Hai... Ni Hao... Ah, harus pakai bahasa apa, ya. Batak ngerti nggak dia?” Bonar ingin menyapa Sili, tetapi ia tak bisa bahasa Bunian.
“Aku Sili, senang bertemu denganmu!” sahut Pria Bunian itu membuat Bonar tercengang.
“Kau mengerti bahasa Inggris?” Bonar berhenti terbang dan tidak memperhatikan lagi hujan meteoroid yang bisa saja sewaktu-waktu menghantam mereka.
“Inggris?” Sili bingung. “Justru aku heran, Alien bisa menggunakan bahasa Bunian!”
“Eh?” Bonar berpikir sejenak dan teringat kalau Lerenia telah menyuntikkan cairan aneh padanya—sehingga ia mengerti bahasa apapun yang digunakan Ras lain—mereka seperti sedang berbahasa Inggris saja. “Lupakan tentang bahasa, ke mana kita akan pergi—karena Lemurian terkutuk itu ingin menjadikan tempat ini sebagai kubangan meteoroid!”
__ADS_1
“Ke sana!” Sili menunjuk ke arah reruntuhan kota. “Komandan Aluaso mengatakan kalau teman-teman Anda ke sana juga dan kami adalah tim yang ditunjuk oleh Ratu Lamura untuk menjemput kalian di lembah Raspur!”