
“Sudah saatnya kita tampil juga, nanti Dewan tua sialan itu mengutuk kita!” seru Jenderal Randall bangkit dari tempat duduknya.
Jenderal Sirte menyeringai senang, karena akan melakukan pertarungan tahap Ketiga dengan Bonar setelah Dua kali mereka berhasil kabur darinya.
...***...
Bonar dan Pasukan Revolusioner mendongak menatap langit yang mengeluarkan suara gemuruh keras dan mereka langsung mengerutkan kening—karena hujan meteoroid tiba-tiba muncul dan jumlahnya sangat banyak sekali. Itu pasti akan menghancurkan sebuah Kota dan seisinya.
“Seth!”
Bonar merapalkan mantera Sihir yang membuat pasir-pasir serta debu melayang ke udara. Untung saja negara milik Ratu Lamura itu adalah Padang Pasir luas dan hanya ada satu-satu Pohon Elair saja, itupun kebanyakan tumbuh di lembah rendah atau bekas aliran sungai yang muncul saat hujan tiba.
Golem Pasir sebesar gunung tiba-tiba muncul yang langsung mengayunkan Tameng besi besar yang terbuat dari puluhan ribu tombak serta logam-logam yang berasal dari sekitar markas militer bangsa Lemurian.
“Dia benar-benar mampu menghadang Sihirmu!” kata Jenderal Randall dengan nada mengejek Jenderal Sirte yang langsung menggertak kan giginya—karena gara-gara Bonarlah ia gagal mengeksekusi seluruh ternak Manusia di Peternakan.
__ADS_1
“Aku akan menggangunya, sehingga ia gagal menahan Sihir Jenderal Sirte,” kata Lori.
“Ya, lakukanlah dan hati-hati, manusia itu memiliki kekuatan Sihir Rataka Yang Agung!” sahut Jenderal Randall tak ingin tangan kanannya itu mati sia-sia karena terlalu ceroboh.
Tubuh Lori tiba-tiba bertransformasi, dari punggungnya muncul Sayap berwarna hitam dan tubuhnya juga sepuluh kali lebih besar dari bentuk normalnya, kuku tangan serta kakinya seperti belati saja.
Dia menghentakkan kakinya dan ia langsung menghilang.
Bonar masih melayang di atas permukaan tanah sembari mengendalikan lebih banyak Pasir untuk memperkuat Golem Pasirnya. Namun, tiba-tiba Lori muncul di depannya.
Lori membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian Api berwarna hitam menyembur dari sana. Bonar terkejut, sudah terlambat untuk menghindar—karena jarak mereka terlalu dekat.
“Lucifer Yang Agung, pinjamkan aku Sihirmu; Api Lucifer!”
Tiba-tiba Sonia muncul di depan Bonar, merapalkan mantera Sihir yang memunculkan Api Merah yang langsung bertubrukan dengan Api hitam milik Lori.
__ADS_1
“Terimakasih, Sonia!”
Bonar akhirnya bernafas lega, ia harus membentuk Golem Pasir lebih besar lagi dan menghisap lebih banyak Pasir serta debu dari sekitar mereka—untuk menahan hujan meteoroid yang tak henti-hentinya dari Jenderal Sirte.
“Serahkan saja makhluk jelek ini padaku, Bos Bonar!” sahut Sonia.
Lori mengerutkan kening saat dirinya dikatakan jelek. Dia berhenti menyemburkan api dan terbang ke arah Sonia. “Dasar lacur Iblis sialan, kamu hanyalah makhluk terkutuk. Beraninya kamu meledekku!” gerutunya.
Sonia menggigit jarinya—sehingga mengeluarkan darah dan ia merapalkan mantera Sihir untuk membuat Tombak Darah, senjata Sihir yang biasa digunakan oleh Ras Succubus.
Sonia menusukkan Tombaknya ke depan, tetapi dua cakar tangan Lori yang seperti belati tersebut memblokir ujung bilah Tombak tersebut, yang hampir mengenai dadanya.
Lori menyeringai dan berkata, “Iblis lemah sepertimu tak akan berhasil melukaiku. Patuhlah pada kami dan aku akan menjadikanmu lacur yang melayani Pria-Pria Lemurian. Bukankah Succubus itu sangat ahli dan lihai di atas ranjang!”
Ekspresi wajah Sonia memerah dan tak bisa membalas ejekan Lori tersebut.
__ADS_1