Tower Of God

Tower Of God
Aluaso


__ADS_3

Elang hitam hinggap di Pohon Elair—Pohon yang mirip dengan Pohon Kurma bila di bumi, tetapi berbuah Pomelo—Jeruk sebesar buah kelapa. Dan buah ini adalah buah favorit Ras Bunian yang tinggal di tempat gersang serta berbatu-batu tersebut.


Sili, bawahan Aluaso yang sedang bersembunyi di balik puing-puing bangunan melihat ada kertas yang diikat pada Elang hitam, kemudian ia mengisi peluru bius pada senapannya dan menembak Elang hitam tersebut.


Sili membaca tulisan pada kertas itu dan keningnya langsung mengkerut—karena Komandannya, Aluaso diperintahkan oleh Ratu Lamura untuk menjemput Alien ke lembah Raspur yang jaraknya 30 Km dari bekas Kota kecil tempat persembunyian mereka.


“Perintah apa itu Sili... kenapa keningmu mengkerut seperti kakek tua saja!” canda Valana, rekan Sili yang bertugas melakukan pengintaian terhadap patroli Prajurit Lemurian.


Sili menghela nafas panjang dan berkata, “Sepertinya kita akan melakukan tugas berat... aku akan menyerahkan kertas ini pada Komandan Aluaso. Tidak apa-apa kan, aku tinggal sebentar?” Dia berkata seolah-olah Valana itu penakut.


“Kau kira aku takut dengan Lemurian yang bisanya main keroyokan itu? Pergi saja sana, bila mereka berani muncul di hadapanku—maka Peluru Kaliber 7,5 mm ini akan menembus otak mereka ha-ha-ha ....” Valana tertawa bangga sembari mengangkat senapan serbunya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Sili menggeleng pelan. “Sombong sekali, nanti mereka beneran datang barulah kamu kencing di celana saking takutnya!” sindir Sili yang membuat senyum Valana menghilang dan mengarahkan moncong senapannya ke arah Sili.


Sili segera berlari ke arah tumpukan puing-puing bangunan dan menggesernya—kemudian masuk ke dalam lubang yang berdiameter 45 Cm saja dan mengacungkan jari tengah pada Valana.


Namun, sebuah tembakan nyaris mengenai telinga Sili—sehingga membuatnya sangat marah dan mengumpat pada Valana yang tertawa terkekeh-kekeh karena senang melihat wajah pucat rekannya itu.


Sili menyusuri lubang cacing yang berada di bawah reruntuhan Kota tersebut. Ada banyak jalur-jalur yang mengarah ke berbagai tempat, tetapi Sili sudah hapal semua ke mana arah jalur lubang menuju tempat Aluaso.


“Sili... kenapa kamu pulang, apakah kalian ketahuan oleh Patroli Prajurit Lemurian?” tanya wanita mungil berkacamata sembari membawa tumpukan dokumen di tangannya.


Sili tersipu malu dan merasa gugup, karena ia diam-diam menyukai wanita Bunian di hadapannya itu. Namun, ia tidak berani menyatakan cintanya—karena ia takut wanita yang selalu ramah pada siapapun itu telah menyukai Pria Bunian lain.

__ADS_1


“Hmmm... ada Komandan Aluaso? Ada pesan dari Ratu Lamura untuknya!” sahut Sili.


Semua Bunian yang tinggal di dalam gunung batu yang dirombak menjadi markas tersebut langsung menatap Sili dengan tatapan terkejut, karena Divisi mereka adalah Divisi terkecil dalam Pasukan Revolusioner—sehingga mereka tidak pernah menerima tugas khusus dari Ratu Lamura, bahkan mereka hanya memiliki Dua Robot Humanoid saja dan itu pun tipe lawas yang tidak cocok melawan Skiif Prajurit Lemurian yang dilengkapi teknologi militer yang sangat canggih.


Aluaso keluar dari bawah Robot Humanoid dengan wajah berlumuran oli, karena Robot Humanoid tua itu mengalami kerusakan—sehingga ia harus turun tangan secara langsung, karena hanya dirinya mekanik yang ada di Divisi Pasukan Revolusioner-nya.


“Apa yang dikatakan oleh Ratu Lamura?” Aluaso sangat penasaran dan berpikir mungkin sang Ratu akan mengirim beberapa Robot Humanoid yang telah dimodifikasi untuk memperkuat Divisi-nya.


“Ratu Lamura meminta Komandan menjemput Ras Alien ke lembah Raspur dan membawa mereka dengan aman menuju markas pusat Pasukan Revolusioner!” sahut Sili.


Semua Bunian terkejut mendengarnya dan tak mengerti kenapa Pasukan Revolusioner akan bekerjasama dengan Ras asing—apalagi yang akan mengawal mereka adalah Divisi Pasukan Revolusioner terlemah.

__ADS_1


__ADS_2