
"itu karena bokap gue kepala sekolah di sekolah ini.
"Oh gitu. Wajar sih, kalau anak-anak di sekolah ini pada tunduk sama lu." Ucap sandi.
"Tapi, kenapa lu nggak mau berteman sama mereka-mereka, padahal kayaknya mereka berharap banget loh bisa deket sama lu."
"Mereka temenan sama gua nggak tulus, ga, cara deketinnya aja caper dulu sama gua. Baru sama kalian aja gua mau berteman, soalnya, menurut gua kalian itu cari temen nggak memandang status dan derajat. Apalagi pas kemarin gua lihat kalian itu bantuin Tia yang dibully. Itu yang bikin gua respect sama kalian, dan mau berteman sama kalian.
"Oh jadi itu alasan lu.. ya sih gua paham banget berada di posisi itu soalnya dulu juga gua kayak gitu pas SMP. Dari murid sampai guru di SMP gua semuanya pada deketin gua, karena bokap gua donatur terbesar di situ.
"Eh udah sampai nih, ayo masuk." Ajak sandi.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar dan di kamar itu sudah ada Revan dan farel.
"Eh, ga, San, anak siapa nih yang lu bawa?
"Kenalin ini Rifky, dia teman sekelas gua sama Angga.
"Hai Rifki salam kenal ya.
"Salam kenal juga, nama lu farel kan?
"ih kok tau? Apa jangan-jangan kuat terkenal ya di sekolah? Jadi semua orang tahu nama gua.
"Kepedean lu, rel, dia tahu nama lu karena di seragam lu tertulis nama lu farel Azka Erlangga.
"Oh iya gua lupa.
***
"Al, tadi lu dari mana aja sih? Lu tahu nggak gua sama yang lainnya itu sampai nggak makan di kantin gara-gara nungguin lu sama fita.
"Ya ampun! Sampai sebegitunya? Gua minta maaf vi, soalnya tadi itu ada kejadian yang bener-bener bikin gua syok banget.
"Kejadian apa?
Aleya kemudian menceritakan semuanya kepada Viona dan Zahra.
"Bentar bentar, kalian berdua masih ingat nggak sih? Sama cerita yang pernah diceritain sama Sandi?
"Cerita yang mana tuh??
"Ih, masa lupa sih Vi, yang soal siswi yang bunuh diri karena dibully.
"Oh yang itu iya iya. Gua ingat sekarang.
"Emang kenapa? Zar? Emang ada hubungannya ya sama kejadian yang gua alami
__ADS_1
"Ya ada lah al, waktu itu kan sandi cerita, kalau lokasinya itu di toilet paling ujung, kan mayatnya ditemukan dengan kondisi mulut yang mengeluarkan banyak busah.
"Wah, keren lu,Zar, bisa ingat sedetail itu.
"Ya iyalah fi, apa sih yang dilupakan sama Zahra kalau ada hubungannya sama Sandi.
"Is, kalian berdua nih! Ini gua serius loh.
"Ya kita juga serius, ya kan Al?
"Iya.
"apaan sih, awalnya bahasĀ apaan, terus nyambungnya jadi ke mana.
"Iya iya maaf. Jangan cemberut gitu dong, nanti gua foto terus fotonya dikirimin ke sandi, biar sandi makin tergila-gila.
"Aleyaaaa!!!! " Ucap Zahra geram sambil mengangkat sepatu miliknya untuk diterbangkan ke arah aleya.
"Eets, santai dong, sepatunya turunin dulu! Kan nggak lucu, kalau sepatunya mendarat di muka gua.
"Iya, mending kalau sepatunya wangi.
"Wangi lah sepatu gua, nih kalau nggak percaya lu cium aja sendiri.
"Oh tidak, terima kasih untuk tawarannya.
"Udah udah, kita lanjut ke topik awal. Jadi maksud lu Zar, kalau sosok yang gua lihat tadi siang itu arwahnya Nina?
"Yah, zahranya ngambek, kalau gini enaknya telepon babang sandi nih. Biar bisa senyum lagi, Ya nggak Al?
"Udah Vi, jangan kayak gitu, kasihan Zahra." Ucap aLeya tapi lihatlah apa yang dia lakukan secara diam-diam.
...
Nada dering HP sandi berbunyi yang menandakan bahwa ada panggilan masuk. Sandi melihat layar handphonenya, dan Sandi cukup heran saat mengetahui kontak yang melakukan panggilan video call kepadanya.
Sandi menerima panggilan itu.
...
"Ih nggak apa-apa lah Al, justru ni ya, kan nanti kita bisa lihat senyuman Zahra yang manis itu. Buat nambahin rasa manis di minuman gua, tadi gua beli minum di kantin manisnya kurang, jadikan kalau Zahra bisa senyum lagi gara-gara Abang sandi minuman ini jadi manis.
"Vionaaaaaa!!!!!! " zahra berteriak.
"Lu kenapa sih Zar? Orang sandi nya aja nggak ada di sini kenapa lu harus marah segitunya.
"Iya sih Al, lu benar, sandi kan nggak ada di sini, tapi gue tetap aja kesal! Karena lu sama Viona dari tadi mancing emosi gua.
__ADS_1
"Ih nggak boleh emosian, nanti kalau emosian babang sandinya nggak sayang lagi sama Zahra." Ucap Viona masih menjahili Zahra walaupun pipinya sudah penuh dengan rona merah.
"Cukup ya Viona! Gua masih bisa sabar kalau lu kelakuannya kayak gini pas di kamar, tapi awas aja kalau pas di luar terus di situ ada sandi atau ada yang lainnya. Gua habisin Lu!
"Ya udah viona nya habisin aja zar! Nih, gua titip HP bentar ya, mau mandi dulu." Ucap Aleya memberikan handphone miliknya kepada Zahra yang sedari tadi sudah tersambung panggilan video dengan sandi.
Zahra melihat sekilas ke layar handphone aleya, karena terkejut Zahra reflek melempar handphone aleya ke arah viona.
"Eh apaan nih? Gua dapat HP gratis gitu? Tapi gue maunya HP yang baru lah, nggak mau HP bekas." Ucap Viona yang menangkap handphone itu agar tidak jatuh ke lantai.
"Aleyaaaa!!! Keluar lu sekarang juga!!! " Ucap Zahra sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Zahra diam! gua lagi mandi, masa lu suruh keluar? Jangan teriak-teriak dong nanti kalau didatengin pengasuh mampus lu." Teriak Aleya dari dalam kamar mandi.
Viona melihat layar handphone aleya namun reaksi viona sangat jauh berbeda dengan reaksinya Zahra. Jika Zahra terkejut, viona justru tertawa terpingkal-pingkal.
"Waahhahahahaha lu parah banget Al.
Zahra yang melihat Viona sangat bahagia, mendekati viona hendak merebut handphone aleya dan mematikan panggilan itu.
"Sini HPnya!
"Mau ngapain? Mau klarifikasi ya sama bang sandi?
...
Sedangkan sandi, Revan, Angga, farel, dan Rifky mereka sedari tadi menahan tawa melihat kelakuan yang diperbuat oleh, aleya, Viona dan Zahra.
...
"Hai kalian! ketawanya jangan ditahan gitu dong ayo lepaskan! Lepaskan! Wahahahaha.
"Dasar sahabat laknat! " Ucap Zahra kesal lalu pergi keluar kamar.
"Ih zahranya keluar, sandi, lu temuin sana! " Suruh viona lalu menutup panggilan.
...
Sandi juga pergi keluar asrama untuk menemui Zahra.
"Sumpah ternyata mereka lebih jahil dari gua." Ucap farel.
*
"Lah? Zahranya ke mana fi? " Tanya aleya yang baru selesai mandi.
"Keluar. Parah lu al jahilnya kebangetan.
__ADS_1
"Haha.
Bersambung.........