Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 44


__ADS_3

"ada pengumuman nih." Teriak ketua kelas 1 A 2


"Info apaan? " Tanya siswa yang lainnya.


"Jadi nanti sore, kita semua disuruh ngumpul sama Bu Wulan di lapangan depan sekolah."


"Kenapa harus di sana? di dalam sekolah juga kan ada lapangan." Tanya siswa yang lainnya bingung.


"Ya Nggak tahu juga. Gua nggak dikasih tahu apa-apa sama bu wulan. Daripada banyak nanya, lebih baik kalian nanti semua kumpul ya di lapangan itu." Himbauan ketua kelas.


"Semuanya? Satu sekolahan? " Tanya Aleya.


"Iya." Jawab ketua kelas singkat.


"Kalau semuanya keluar sekolah, berarti ini peluang yang bagus dong untuk gua ngerjain rencana sama Revan dan Pak Yusuf. Kan nanti malam juga malam Jumat Tapi kok feeling gua nggak enak ya? " Alea berkata dalam hati.


...


Jam istirahat.


"Al, lu mau ikut ke kantin bareng kita nggak? " Tanya Zahra.


"Kalian duluan aja deh, Zar, nanti gua nyusul." Jawab aleya.


"Oke, gua ke kantin ya." Ujar Zahra kemudian keluar kelas.


Aleya pun mengikuti Zahra ke luar kelas namun tujuan mereka berbeda. Jika tujuan Zahra adalah kantin tujuan Aleya yaitu perpustakaan.


Aleya ke perpustakaan karena ingin menemui Revan. Ketika sampai di perpustakaan, aleya langsung menyapa Revan dan Tia yang sedang membaca buku.


"Hai, maaf nih, gua ganggu ya? Van, ada yang mau gua omongin. Kita bisa ngobrol sebentar nggak?"


"Soal?"


"Soal Bu Wulan yang nyuruh semua siswa ke lapangan luar sekolah."


"Oh soal itu." Revan segera menutup buku yang sedang dibacanya lalu meninggalkan perpustakaan bersama aleya.


"Jadi apa yang mau dibicarakan? " Tanya Revan ketika mereka sampai di tempat yang cukup sepi.


"Ini peluang bagus buat kita nggak sih? Dan kebetulan juga kan nanti malam malam Jumat tuh. Jadi bisa dong? Kita memulai rencana kita?"


"Ya,  bisa aja. Coba nanti kita bicarakan lagi sama pak Yusuf."


"Kenapa harus nunggu nanti? sekarang aja lah, mumpung masih jam istirahat."


"Oke kalau maunya sekarang." Revan dan Aleya hendak pergi namun.


"Hayo! Ngapain berduaan aja di sini? Mana tempatnya sepi lagi." Revan dan aleya cukup terkejut karena kehadiran viona yang secara tiba-tiba.


"Astagfirullah! Viona Viona! Kok lu tiba-tiba sih datangnya? Udah kayak setan aja." Aleya memegang dadanya karena terkejut.


"Hehe. Maaf deh kalau gua ngagetin kalian. By the way pertanyaan gue belum dijawab loh tadi."


"Kita nggak ngapa-ngapain kok, udah ya. Pikiran lu itu jangan negatif mulu." Aleya mencoba berbohong, karena kalau aleya beri tahu  yang sebenarnya kepada Viona, vionat tidak akan pernah menyetujuinya.


"Ya udah kalau nggak ada apa-apa. Ayo ke kantin! Kita tuh dari tadi nungguin kalian tahu nggak sih?"


Aleya dan Revan sama-sama reflek memegang keningnya masing-masing.


"Apaan nih? Pakai megang kening aja barengan segala." Viona cukup heran dengan reaksi aleya dan Revan.


"Ayo! Ke kantin! " Ajak viona sekali lagi dan kali ini Aleya dan Revan menurutinya.


...


Dua jam kemudian. Saat sekolah sudah selesai.


Revan mencoba mencari keberadaan Pak Yusuf. Revan ingin menemuinya, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


"Gua cari ke mana lagi ya? di ruangannya nggak ada, di seluruh asrama putra juga nggak ada. Haduh, Revan Revan! Kan ada handphone. Tinggal ditelepon aja susah banget." Revan cukup kesal kepada otaknya yang tidak kepikiran untuk menelpon Pak Yusuf.


Revan menelpon Pak Yusuf hingga terdapat suara yang menyapa dari seberang sana.


"Om, om ada di mana?"

__ADS_1


.....


"Oh oke, nanti Revan ke sana ya."


...


Setelah mendapatkan jawaban, Revan memutus telepon. Kemudian menuju tempat yang disebutkan pak Yusuf tadi.


...


Di lain tempat. Di asrama putra.


"San, gua haus nih, tolong ambilin air minum dong." Farel meminta tolong kepada sandi, karena memang tempat tidurnya sandi yang berdekatan dengan dispenser.


Tanpa berkata apa-apa, sandi mengambilkan air minum yang dibutuhkan farel. Namun sebelum gelasnya sampai di tangan farel. Tiba-tiba saja.


Praaangggg!!!


Gelas yang sandi pegang jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


Farel dan Angga yang mendengar suara itu langsung menghampiri sandi. Sedangkan sandi cukup merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"San, lu nggak papa? " Tanya Angga khawatir.


"Gua nggak papa, ngga, kok bisa ya tiba-tiba gelasnya jatoh kayak gitu? Padahal gua nggak lagi pusing atau apapun itu." Sandi masih terheran-heran mengapa gelas itu tiba-tiba saja lepas dari genggamannya.


"Mungkin tangan lu basah, jadi gelasnya jatuh deh. Udah sekarang mending lu sama Angga balik ke tempat tidur masing-masing aja, biar gue yang bersihin belingnya. Maafin gue ya, san gara-gara gue yang minta tolong sama lu jadinya kayak gini. Untung aja lu nggak kena pecahan belingnya. Kalau sampai kena entah sebesar apa penyesalan gue." Farel berkata panjang lebar dengan rasa penyesalan.


"Nggak apa-apa, rel, ini bukan salah lu. Yang penting kan gua nggak kenapa-napa.. jadi ya, aman." Sandi coba meyakinkan farel agar farel tidak begitu merasa bersalah.


Angga dan Sandi kembali ke aktivitasnya masing-masing sedangkan farel membersihkan pecahan beling yang berasal dari gelas tadi. Sementara sandi, masih memikirkan kemungkinan yang terjadi di balik kejadian gelas yang pecah tadi.


...


Di asrama putri.


Zahra tiba-tiba saja memiliki perasaan gelisah. Yang tidak Zahra ketahui maksudnya apa. Untuk menghilangkan perasaan gelisah yang tiba-tiba saja datang. Zahra bermain handphone. Karena sudah bosan berselancar di sosial media, Zahra iseng-iseng membuka galeri di handphonenya. Ia mengamati satu persatu foto yang ada di galeri sambil sesekali tersenyum.


Namun saat Zahra melihat salah satu foto Sandi yang sedang bersama dirinya. zzahra merasa ada keganjilan di dalam foto itu. Zahra Zoom foto itu sampai Zahra cukup merasa terkejut. Karena tiba-tiba saja di bagian pundak sandi sebelah kanan terdapat warna merah yang terlihat seperti darah.


Karena Zahra kurang percaya. Zahra mengamatinya sekali lagi. Namun tetap saja sama. Padahal Zahra sangat merasa yakin kalau saat Zahra dengan sandi berfoto itu, tidak ada noda berwarna merah sedikitpun di bajunya sandi. Zahra masih ingat, karena mereka baru berfoto kemarin sore.


"Apaan sih? Heboh bener." Aleya yang sedang asyik scroll video di salah satu aplikasi merasa terganggu karena Zahra yang bersikap seperti itu.


"Sini deh kalian! Gua mau memperlihatkan sesuatu." Suruh Zahra agar kedua sahabatnya menghampirinya.


"Sesuatu apaan? " Tanya viona ketika sudah berada di dekat Zahra.


Zahra memberikan handphone-nya kepada Viona dan aleya secara bergantian.


"Apaan nih? Ini kan foto lu sama Sandi jadi maksudnya gue suruh ngeliat keromantisan kalian gitu?"


"Bukan gitu, al, coba deh lu amati lebih detail, pasti lu menemukan sesuatu yang janggal."


Aleya dan Viona mengamati foto itu sekali lagi namun mereka tetap tidak menemukan kejanggalan apapun.


"Apaan sih? Zar? Ini beneran nggak ada yang aneh sama sekali loh."


Zahra mengambil handphonenya kembali dari tangan Viona, lalu melihat foto itu sekali lagi. "Kok nggak ada ya? Padahal tadi ada loh." Zahra heran karena noda darah yang terlihat di baju sandi di dalam foto tidak terlihat lagi.


"Emang di foto itu ada apanya sih?"


"Tadi itu gua ngelihat ada noda darah di bajunya Sandi, udah gua zoom berkali-kali fotonya memang benar ada darah di baju dia. Tapi entah kenapa, pas gua kasih lihat ke kalian. noda darah di bajunya Sandi udah nggak ada lagi." Zahra menjelaskan masih dengan ekspresi keterkejutannya. Sedangkan aleya dan Viona cukup tidak paham dengan apa yang baru saja Zahra jelaskan.


"Mangkanya jangan kebanyakan berhalusinasi. Efeknya kayak gini nih." Aleya memperingati Zahra.


"Mana ada gua halu, orang tadi gua beneran kok."


"Iya deh iya percaya. Lagian kan emang di tempat ini banyak kejadian yang gak logis." Viona sedikit mempercayai apa yang dikatakan Zahra.


...


Sore hari pun tiba. Dan seluruh orang-orang yang ada di SMA angkasa sudah berkumpul di tempat yang cukup luas di sekitaran SMA angkasa.


"Ini bener-bener sekolah dikosongin dong, bahkan para pengasuh pun nggak ada yang di dalam." Ucap salah satu siswi membisiki teman di sampingnya.

__ADS_1


"Iya. Emangnya sepenting apa sih informasi yang akan disampaikan Bu Wulan? Sampai semuanya disuruh keluar sekolah." Tanya siswa yang lainnya.


"Udahlah. Nggak usah banyak tanya, nanti juga kalian tahu jawabannya." Yang lainnya memperingati.


Tak lama bu wulan pun hadir di tengah-tengah perkumpulan itu bersama dengan orang yang sudah tak asing lagi pastinya.


"Eh itu bukannya pak Indra ya? Kok dia pakai kasur roda sih? Kayak orang lumpuh aja." Kumpulan siswi yang suka ngegibah mulai membicarakan Pak Indra.


"Semuanya tenang Ya! Harap semuanya tenang! Di sini saya ingin menyampaikan sesuatu. Kepada seluruh para pegawai dan siswa-siswi SMA angkasa. Kalau saya akan menggantikan posisi Pak Indra sebagai kepala sekolah di sekolah ini. Seperti yang kita lihat. Kondisi Pak Indra sudah sangat tidak memungkinkan untuk masih duduk di jabatannya. Dan saya menggantikan posisinya, juga, atas permintaan yang bersangkutan. Jadi saya harap, semuanya bisa menerima keputusan yang diambil oleh pak Indra." Bu Wulan berkata panjang lebar menjelaskan.


Jika yang lainnya mendengarkan apa yang bu Wulan jelaskan. Aleya malah sedang kebingungan karena ada seseorang yang tidak terlihat sedari tadi. Diantara keramaian itu, aleya mencari seseorang yang ingin aleya ajak berbicara. Matanya mengamati satu persatu orang-orang yang ada di sekitarnya. Sampai Aleya melihat seseorang yang dicarinya sedang bersama dengan orang lain mengendap-ngendap hendak meninggalkan tempat itu.


"Nah itu dia Revan sama pak Yusuf. Tapi kenapa mereka kayak mengedap-ngendap gitu ya mau pergi? Apa gue ikutin aja ya? " Aleya bertanya kepada dirinya sendiri, kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang sama yaitu pergi dari tempat itu secara diam-diam.


Bu Wulan yang sedari tadi mengamati Aleya tidak mencegah kepergian Aleya. Bu Wulan tetap santai menjelaskan kondisi yang terjadi dengan pak Indra sesekali menjawab pertanyaan beberapa orang yang mengajukan pertanyaan.


Revan, pak Yusuf, bahkan dengan aleya.. berhasil pergi dari kerumunan dan hendak menjalankan rencana yang sudah tersusun rapi.


Aleya terus mengikuti langkah Pak Yusuf dan Revan tanpa disadari oleh keduanya. Hingga sampai di ruangan yang menjadi tempat sesembahan pesugihan selama ini.


Revan dan Pak Yusuf langsung bisa memasuki ruangan itu, karena memang kuncinya sudah berada di tahngan Revan. Entah bagaimana caranya, mungkin Pak Indra memberikannya kepada Bu Wulan, dan bu Wulan menyerahkannya kepada Revan.


"Aku boleh ikut masuk nggak? " Revan dan Pak Yusuf terkejut karena kehadiran aleya.


"Kok lu bisa ada di sini?"


"Ada deh, sekarang jawab pertanyaan gue. Boleh nggak gua masuk? " Revan menatap pak Yusuf untuk meminta persetujuan kemudian Pak Yusuf pun mengangguk tanda setuju.


Sesampainya di dalam mereka bertiga mengambil posisi yang nyaman masing-masing. Lalu Pak Yusuf dan Revan segera membuka Alquran untuk dibaca. Sedangkan aleya disuruh Revan untuk memegang batu jimat itu. Sebenarnya Aleya tidak mau, namun karena hanya itu yang bisa dilakukan akhirnya Aleya melakukannya.


"Apapun yang terjadi dengan batu itu bapak harap kamu tidak akan melepas atau melemparnya." Pak Yusuf memperingati aleya.


"Siap pak." Aleya menyanggupinya.


Pak Yusuf dan Revan mulai membaca salah satu surah di Alquran. Sedangkan aleya merasa tidak nyaman saat menggenggam batu. Semakin lama mereka membaca ayat-ayat suci Alquran, batu yang digenggam oleh Aleya semakin terasa panas. Aleya sudah ingin melemparkan batu itu, namun Aleya ingat perkataan Pak Yusuf tadi. Revan Melirik Aleya sebentar lalu bergantian melirik Pak Yusuf. Pak Yusuf yang mengerti maksud dari tatapan Revan hanya menganggukkan kepala tanda tidak akan ada apa-apa.


30 menit berlalu, dan Aleya masih berusaha menggenggam batu itu walaupun sudah sangat menyakitkan baginya. Tak lama dari itu, terdengar suara geraman yang berasal dari belakang Aleya.


"Dia sudah datang, van, aleya, kamu jangan menengok ke belakang sedikitpun ya." Pak Yusuf memperingati aleya lagi lalu Aleya mengangngguk.


"Apa maksud dari perbuatanmu ini hah?! Hentikan semuanya!! " Suara sosok itu menggema ke seluruh ruangan. Aleya yang mendengar suara sosok itu sudah tidak takut lagi karena sudah beberapa kali Aleya mendengarnya.


Revan dan Pak Yusuf tidak mempedulikan kata-kata atau perintah dari makhluk itu mereka tetap melanjutkan membaca ayat Alquran.


"Sudah kubilang! Hentikan ya hentikan! " Makhluk itu berteriak lagi.


"Hentikaaaaaaaaaaaaaaannn!! Panaaaaaaaaaaaaaassss!!!! " erangan yang terdengar dari makhluk itu sungguh membuat merinding siapapun yang mendengarnya.


"Aleya! Lemparkan batu itu sekarang juga ke arah belakangmu! " Perintah Pak Yusuf. Aleya pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh pak Yusuf.


...


Sedangkan di luar sekolah tiba-tiba saja kabut tebal berwarna hitam pekat menyelimuti sekitaran SMA angkasa. Bu Wulan yang melihat kabut itu, langsung memberi himbauan kepada semua orang untuk menyelamatkan diri masing-masing. Meskipun merasa heran dan penglihatan mereka yang tidak jelas karena kabut itu, tapi mereka tetap mencoba melarikan diri.


"Ini ada apaan sih? Kok tiba-tiba jadi kayak gini? Aleya mana?! " Zahra merasa panik karena dirinya tidak bersama Aleya.


"Mungkin Aleya udah pergi duluan.. ayo Zar! Kita pergi dari sini! " Teriak Viona.


...


"Lemparkan sekarang juga! " Aleya melempar batu itu ke arah belakangnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Aaaaaaaaaaaaaaaarrdhhhhh!!! " Makhluk itu mengeluarkan suara erangan lagi namun setelahnya terdengar suara ledakan dari bagian belakang aleya dan suara percikan api.


Revan dan Pak Yusuf segera menyeret aleya untuk membawa aleya keluar meninggalkan tempat itu. Mereka terkejut, karena SMA angkasa sudah ditutupi oleh kabut yang sangat tebal dan berwarna hitam. Meskipun begitu, kabut itu tidak menghalangi penglihatan aleya dan Revan. Mereka terus berlari keluar sekolah. Dan setelah sampai di luar tiba-tiba saja bumi di sekitar mereka bergetar. Angin besar menerpa bangunan megah itu hingga sudah ada beberapa bagian yang runtuh.


Aleya secara tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya hendak tertimpa oleh kaca besar di salah satu bangunan sekolah. Aleya hendak menyelamatkannya.


"Zahra pergi dari situ sekarang juga! Kacanya mau jatuh ke arah lu! " Aleya memperingati Zahra.


"Al! Itu lu al! lu Ada di mana?"


Zahra malah mencari keberadaan Aleya, tanpa mendengar peringatannya. Sandi yang mendengar peringatan dari aleya, dan sepertinya Zahra yang tidak mengerti. Langsung menuju ke arah suara Zahra berasal dan mendorong Zahra sekuatnya hingga meninggalkan tempat itu.


PRANGgg!! Suara kaca yang terjatuh menimpa sandi.

__ADS_1


"SANDI!!!*"


Bersambung.........


__ADS_2