Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 37


__ADS_3

"San, lu nggak apa-apa kan?"


"nggak apa-apa, del, Lu kenapa terima tawaran sosok itu sih?"


"Karena kita semua nggak mau lu kenapa-napa, udah ya. Mulai saat ini kita jangan menyelidiki lebih dalam lagi. Sesuai yang kita sepakati tadi."


"Apa lu bilang? del? Sesuai yang kita sepakati??? emang lu bikin kesepakatan itu minta persetujuan dari kita dulu?"


"Emang kenapa? Al? Lu nggak terima?"


"Bukannya gua nggak terima, tapi lu terlalu cepat mengambil keputusan."


"Apa lu bilang? Gue terlalu cepat mengambil keputusan? Lu nggak lihat tadi kondisinya sandi gimana?"


"Udahlah, al, menurut gua keputusan yang dela bikin itu benar."


"Gua nggak menyalahkan keputusannya dela Vi, tapi gua menyalahkan pemikiran Dela yang Nggak sadar, kalau kita itu lagi kena tipu daya iblis.


"Al, udah ya, cukup! Gua yakin semuanya mungkin kecuali lu setuju sama keputusan yang gua ambil. Kalau lu nggak setuju, ya lu bikin aja kesepakatan yang baru, dan nyawa lu yang jadi taruhannya . Jangan salah satu dari kita."


"Udah, kenapa kalian jadi pada ribut sih? Pada intinya untuk saat ini, kita hentikan aja semuanya."


"Ya berarti kesimpulannya, kalian semua setuju dong, sama keputusan yang gua ambil."


"Iya, Del, kita setuju sama keputusan yang lu ambil. Lagi pula kan selama kita kenal sama lu keputusan lu nggak pernah meleset.


"Thank you, fit, lu udah percaya sama gue."


"Al, lu masih nggak setuju sama keputusan yang dela ambil? Padahal menurut gua pemikiran dela itu dewasa banget."


"Udahlah, Zar, nggak usah ditanya lagi. Pasti aleya masih teguh sama pendiriannya sendiri, Ya seperti yang kita tau dari dulu. Kalau aleya selalu keras kepala dan egois pastinya. Seharusnya, Al,, di saat-saat seperti ini lu gunain pemikiran dewasa lu jangan selalu pemikiran kekanak-kanakan yang lu gunain."


Aleya tidak memberikan tanggapan apapun dia memilih untuk pergi dari tempat itu.


"Al, lu mau ke mana?"


"Ya udahlah,, nggak usah di peduliin."


"Tapi, vi."


"Udahlah, biarin aja dia mau pergi kemanapun. Mending sekarang kita kembali ke asrama." Ucap Dela lalu mereka semua pergi meninggalkan tempat itu menuju ke asrama.


.


.


.


Aleya terus berjalan mencari tempat yang nyaman untuk menumpahkan segala hal yang mengganjal pikiran dan hatinya. Alea mencari tempat yang sepi yang benar-benar sepi.


Aleya terus mencari, hingga dia sampai di bagian belakang sekolah.


"Aaaaaa! Kenapa sih?! Kenapa?! Kenapa ini semua bisa terjadi?! Gua bingung gua nggak mau mengorbankan nyawanya sandi. Tapi gue juga nggak mungkin ngebiarin sekolah ini mendapatkan tumbal nyawa semakin banyak."

__ADS_1


"Kenapa sih?! Kenapa gua harus terjebak di situasi kayak gini?! " Aleya begitu frustasi karena dihadapi dengan pilihan yang amat sulit.


Aleya melanjutkan langkahnya, dan kini tujuannya adalah hutan yang ada di belakang sekolah. Tak ada rasa takut sedikitpun, baik itu rasa takut kepada hewan, atau rasa takut kepada makhluk gaib tidak ada di pikiran Aleya yang sedang frustasi dan bimbang.


Langkahnya semakin jauh, langit di atas pun mulai terlihat gelap. Hawa dingin mulai terasa, dan suara hewan-hewan malam mulai terdengar. Karena, hari sudah petang dan akan berganti malam.


Karena penerangan yang semakin minim, Aleya merogoh handphone yang ada di saku celananya, dan menghidupkan senter di handphonenya.


***


Sedangkan di lain tempat, lebih tepatnya di kamar aleya, Viona, dan Zahra.


"Zar, aleya belum balik juga?"


"Belum, vi, dari tadi hp-nya juga gua telepon nggak aktif."


"Apa yang gue omongin ke dia tadi itu bikin dia tersinggung ya?"


"Mungkin salah satunya itu, Vi,, tapi kan kita juga tau dari dulu, Aleya itu kalau mau mengambil keputusan dia membutuhkan waktu sendiri untuk beberapa saat sampai dia benar-benar yakin dengan keputusannya."


"Iya sih, tapi gue tetep aja panik, soalnya ya kita semua udah tau lah apa yang terjadi di asrama ini kalau malam hari."


"Udah. Jangan berpikiran negatif, gua yakin kok bentar lagi Aleya pulang ke kamar."


"Semoga aja begitu, Zar, eh tapi, kalau nanti ada pengasuh yang ngontrol perkamar, dia nanyain Aleya terus Aleya belum pulang, kita jawab apa?


"Gua nggak tau, vi, coba deh nanti gua pikir-pikir dulu."


"Nggak ada, Vi, bahkan gua udah cari ke mushola, gue cari ke balkon, pokoknya ke tempat-tempat sepi lah.. tapi tetap aja, gua nggak nemuin dia. Nggak mungkin kan? Aleya menyendiri di dalam sekolah?"


"Ya nggak mungkin lah, sekolah kan dikunci."


"Nah mangkanya itu, sampai sekarang gue juga bingung tuh anak menyendirinya di mana. Lokasi hp-nya juga nggak kelacak lagi, kayaknya dia nggak nyalain lokasi deh, atau hp-nya dalam airplane mode."


"Lu pantau aja terus, Zar, siapa tahu nanti aktif hp-nya.


***


Di sisi lain.


"Terima kasih, Pak Wahyu, untuk kesempatan hari ini. Sampai jumpa di lain waktu."


"Sama-sama, Pak Indra, saya cukup salut sama Pak Indra, walaupun anak pak Indra baru saja pergi untuk selama-lamanya tapi pak Indra tetap profesional dalam pekerjaan."


"Saya tidak ingin, Pak, terlalu larut dalam kesedihan. Karena saya yakin, anak saya yang sudah pergi mendahului saya, tidak suka jika saya dan keluarga saya terlarut dalam kesedihan karena kepergiannya."


"Wah, bapak ini benar-benar seorang ayah, dan kepala rumah tangga yang bijak. Lalu? Pak? Bagaimana dengan keadaan Bu Leni? Apa beliau sudah pulang dari rumah sakit?"


"Ah, Pak Wahyu ini bisa saja memuji saya. Untuk istri saya, beliau sudah pulang dari rumah sakit. Dan keadaannya juga sudah lebih baik dari kemarin-kemarin."


"Syukur kalau begitu. Oh iya, pak Indra, ini hari sudah menjelang malam, kalau begitu saya pamit pulang ya."


"Iya. Silakan pak Wahyu, silakan, saya juga harus kembali ke rumah."

__ADS_1


"Saya permisi ya Pak Indra." Ucap pak Wahyu lalu keluar dari ruangan.


...


Saat ini, pak Indra sedang mengendarai mobil miliknya sambil mendengarkan musik.


Saat tengah menikmati alunan musik yang terdengar, tiba-tiba saja musik itu berhenti.


"Apa ini? Kok musiknya malah berhenti? " Ujar Pak Indra heran lalu mencoba mengecek ponselnya untuk memastikan ada masalah atau tidak dengan sambungan bluetooth-nya.


"Koneksinya baik sambungan bluetooth-nya juga nggak ke putus, tapi kenapa bisa berhenti ya?"


Meskipun cukup merasa heran, namun pak Indra tetap melanjutkan perjalanannya.


Saat Pak Indra tengah fokus menyetir mobil, tiba-tiba terdengar suara dari samping Pak Indra.


"Papa." Begitulah kata-kata yang terdengar.


Pak Indra terkejut, lalu mencoba menepikan mobil yang dikendarainya terlebih dahulu. Saat sudah menepikan mobil, Pak Indra mencoba mengontrol reaksi tubuhnya karena mendengar suara tadi. Jantungnya berdegup kencang, keringat mulai bercucuran, dan nafas yang mulai terasa sesak. Pak Indra sangat mengenal suara itu, itu adalah suara kanaya. Putrinya, yang meninggal kemarin malam.


"Nggak mungkin! Nggak mungkin itu kanaya, nggak mungkin." Pak Indra mencoba untuk meyakinkan dirinya, kalau itu tak lebih hanyalah halusinasinya saja.


Ketika sudah merasa sedikit tenang, pak Indra mulai melajukan mobilnya kembali.


"Papa, kita mau ke mana? " Suara itu terdengar lagi, bahkan semakin jelas.


"Pergi kamu! Jangan ganggu saya! " Pak Indra memberanikan diri untuk menentang suara itu.


"Hiks, hiks, papa jahat!, papa jahat! " Suaranya terdengar lagi, bahkan disertai dengan tangisan yang sangat menyayat hati. Entah apa yang mempengaruhi Pak Indra sehingga pak Indra memberanikan diri untuk menoleh ke sebelah kiri.


Dan benar saja di kursi sebelah kiri pak Indra, ada Kanaya yang sedang tersenyum dengan senyuman manisnya. Pak Indra menepikan mobilnya kembali dan melihat ke kursi sebelahnya lagi Kanaya yang tadinya tersenyum manis, wajahnya perlahan berubah menjadi amat sangat menyeramkan. Kulit kulitnya mulai mengelupas daging dan tulang-tulangnya berjatuhan di kursi mobil. Disertai juga dengan darah yang terus mengalir hingga menimbulkan aroma yang sangat anyir.


Pak Indra menyaksikan itu semua sudah tidak kuat lagi, hingga akhirnya pak Indra pingsan.


Karena ada beberapa pedagang kaki lima yang merasa curiga dengan mobil yang sedari tadi menepi, namun pemiliknya tak kunjung ke luar. Pedagang kaki lima itu mencoba memastikan apa yang terjadi di dalam mobil. Hingga mereka melihat Pak Indra yang sedang pingsan, lalu mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.


***


Kembali lagi kepada Aleya.


Aleya terus menelusuri hutan itu, dengan memegang handphone yang memberikan cahaya untuk langkahnya. Hingga beberapa saat kemudian aleya seperti mendengar suara air mengalir. Aleya cari suara air itu berasal, lalu mendekatinya.


"Wow indah banget ternyata di sini ada danau." Aleya cukup terkejut karena menemukan danau yang cukup indah.


Aleya memperhatikan ke sekekeliling danau lalu dia melihat ada bangku di pinggir danau. Aleya mendekati bangku itu, lalu duduk di atasnya sambil menatap danau yang jernih dan cahaya bulan yang menyinari bumi. Pemandangan yang dilihatnya cukup menjernihkan pikirannya beberapa saat.


Cukup lama aleya menikmati pemandangan indah itu, hingga dia merasa kalau di sampingnya ada seseorang.


Aleya menengok ke samping kanan dan kirinya secara bergantian saat menoleh ke sebelah kanan, aleya melihat seorang laki-laki yang sedang tersenyum saat  aleya menoleh ke arahnya.


"Ka-kamu siapa?


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2