
"gimana caranya aku bisa dapetin batu jimat itu ya? " Revan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
*Flashback on*
"Revan, sebenarnya ada satu lagi kelemahan makhluk itu." Ujar Pak Yusuf.
"Apa itu? Om?"
"Kamu ingat? Sama batu yang diwarisi kakek kepada Om Indra?"
"Ya, aku ingat. Memang ada apa dengan batu itu?"
"Energi gelap yang ada di batu itu harus kita musnahkan terlebih dahulu. Setelah itu, batunya kita buang jauh-jauh."
"Tapi gimana caranya kita bisa dapetin batu itu?"
"Kita harus cari caranya. Om rasa, kalau dengan keadaan dia yang seperti ini, itu memudahkan kita untuk mengambil batu itu."
"Iya. Om benar juga."
*Flashback off*
"Van, Lu ngapain masih ada di sini?"
"Eh, san, ngagetin aja lu."
"Ayo tidur! Ini udah jam 21.00."
"Iya, san, nanti gua tidur."
***
Keesokan harinya. Di sekolah.
Aleya sedang berada di kelasnya. Menanti kehadiran guru yang mengajar di pelajaran pertama. Sambil sesekali membaca baca ulang materi pelajaran sesudah nya. Beberapa saat kemudian ada beberapa teman dari kelas lain menghampiri Aleya.
"al, bisa kita bicara sebentar?"
"Apa yang mau dibicarakan? " Tanya Aleya tanpa memalingkan pandangannya dari buku.
"Gua sama fita mau minta maaf. Soal kejadian yang waktu itu. Tolong, kita kembali seperti dulu lagi ya." Mohon Dela.
Aleya mendongakkan kepalanya. "Hah? Kalian ngomong kayak gini benar-benar dari hati, atau cuman di mulut doang?"
"Maksudnya apa??"
"Kalian pikir gue nggak tahu, apa yang kalian omongin waktu itu."
*Flashback on*
"del, lu tahu nggak? Kata si Zahra. Tadi malam Aleya di luar asrama lama banget."
"Oh ya? Ngapain aja?"
"Kata Viona sama Zahra, Aleya kalau lagi bimbang, mencari tempat yang sepi untuk mengambil keputusan."
"Terus dia udah dapat keputusannya? Ya gua harap sih, keputusan yang diambil Nggak bodoh ya."
"Hah? Maksudnya gimana??"
"Ya gua merasa, kalau aleya itu masih kekanak-kanakan banget. Kelihatan sih, dari sikap dan tingkah lakunya dia. Dan juga, Aleya itu anak tunggal kan? Jadi pasti dia dimanja habis-habisan sama kedua orang tua dan keluarganya. Dan kalau orang yang selalu dimanja itu, sampai kapanpun gak akan pernah bisa berpikir dewasa." Tanpa Dela dan fita sadari, sedari tadi ada yang mendengarkan percakapan mereka.
Dia adalah Aleya, orang yang dijadikan topik pembicaraan oleh Dela dan fita. "Hmm, gua nguping pembicaraan orang kayak gini dosa nggak ya?"
"Eh, yang diomongin mereka itu kan gue. Tapi, ini bukannya sama aja ngomongin di belakang? Tapi kan posisinya, gua ngedengerin pembicaraan mereka dari belakang. Jadi, apakah kata-katanya perlu diganti?"
Aleya berpikir konyol untuk menghibur hatinya. Lalu setelahnya, meninggalkan tempat itu."
Flashback off*
"Haduh! Gue mau kasih penegasan ya buat kalian berdua atau mungkin orang-orang yang ada di kelas ini juga. Gue mau kasih penegasan, please banget, please! Kalau kalian mau mengeritik gue, mengomentari gue, sampaiin aja ke orangnya langsung. Jangan ngomong di belakang, atau sejenisnya. Ungkapin aja semuanya, kalau nggak suka ya bilang nggak suka. Di depan orangnya langsung ya Dan kalau bisa bertatapan langsung sama yang bersangkutan. Jujur itu lebih baik, bukan?"
"kita minta maaf, ya, al, lu mau kan maafin gue sama Dela?"
__ADS_1
"Yah, udah gue maafin. Oh iya satu hal lagi, kalian jangan berani mengambil kesimpulan atas kehidupan orang lain. Sekarang gue tanya, ada nggak orang yang bilang kehidupan kalian itu pasti selalu bahagia? Pasti ada? Ya kan? Tapi apakah kenyataannya seperti itu? Belum tentu, ya kan? Jadi kalian jangan menyimpulkan kalau gue selalu dimanja, dan selalu bahagia di dalam lingkungan kehidupan gue. Kalau kalian nggak pernah berada di posisi gue dan kalian juga nggak tahu tentang cerita yang sebenarnya."
"Iya. Al, kita tahu, kalau kita salah. Makasih ya udah mau maafin gue sama Vita."
***
Di lain tempat.
"Rif, Lu udah masuk? Gimana keadaan papah Lu?"
"Papa gue nggak baik-baik aja, van." Ucap Rifky sendu.
"Sabar aja, ya. Nanti selesai sekolah, gua mau ke rumah lu. Boleh kan?"
"Lu serius?"
"Seriuslah. Emang kapan gue pernah bohong?"
"Oh. Serius. Gua kira lu bercanda, soalnya nggak biasa-biasanya datang ke rumah gua pas lagi ada papa. Lu ngapain minta izin segala sih? Ya pasti bolehlah, pintu rumah selalu terbuka untuk lu masuk kapan pun."
"Thank you. Nanti kita bareng ya ke sananya." Ucap Revan lalu Rifky mengangguk setuju.
"Kalau bukan karena batu itu, nggak Sudi gua ketemu sama manusia busuk kayak dia." Revan berkata dalam hati.
***
"Hai, papa, lihat nih Rifky bawa siapa. Papa senang nggak? Kalau Revan datang ke sini?"
"Anak itu. Untuk apa dia kemari menemuiku? " Pak Indra bertanya-tanya dalam hati. Namun saat merespon Rifky, pak Indra memancarkan senyuman.. senyuman terpaksa pastinya.
Sedangkan, Revan mencari titik sumber dari aura gelap yang terasa di kamar Pak Indra. Karena, Revan yakin kalau aura gelap yang terasa sumbernya dari batu itu.
"Papa, Revan, aku ke kamar dulu ya. Mau membersihkan diri." Pamit Rifky lalu pergi keluar kamar pak Indra, dan meninggalkan Revan berdua dengan papanya.
Revan terus memperhatikan sudut demi sudut kamarnya Pak Indra. Sehingga, Revan menemukan sumber aura itu. Revan mendekati Pak Indra yang sedang terbaring lemah di kasurnya. Lalu mencoba mengambil sesuatu yang ada di bawah pojokan kasur. Pak Indra yang melihat Revan berbuat seperti itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sial! Apa anak itu mau mengambil batu jimat itu ya? " Pak Indra coba menerka-nerka. Sambil memperhatikan Revan terus mencari sesuatu.
Tak lama Revan pun menemukannya. "Ternyata mendapatkan batu Jimat ini tidak sesulit yang aku pikirkan." Revan sambil memberikan tatapan sinis dan senyuman sinisnya kepada Pak Indra. Pak Indra yang melihat batu itu sudah berada di tangan Revan mencoba untuk mencegah Revan agar tidak membawanya pergi. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mendapatkan benda yang dicari, Revan pergi keluar kamar.
...
Setelah mendapatkan batu jimat itu, dan setelah keluar dari rumah keluarga arfanza. Kini tujuan Revan selanjutnya adalah rumah pak Yusuf.
...
"Assalamualaikum." Revan mengucapkan salam ketika memasuki rumah pak Yusuf.
"Waalaikumsalam. Eh, Revan? Ada apa kesini? " Tanya seorang wanita kepada Revan.
"Eh, tante. Tante apa kabar? Revan ke sini mau ketemu sama Om Yusuf. Om yusufnya ada di rumah nggak Tante?"
"kabar tante Alhamdulillah baik.. Kebetulan Om yusufnya sedang ada urusan di luar sebentar. Kalau benar-benar pertemuan yang penting, tunggu saja."
"Ya sudah tante. Revan tunggu di sini saja ya."
"Kamu butuh minuman? Atau cemilan?"
"Nggak perlu repot-repotante."
"Ah, tidak merepotkan. Sebentar ya, Tante ambilin cemilan dan tante buatkan minuman dulu." Ujar wanita itu lalu pergi ke dapur.
...
15 menit pun berlalu Revan masih setia menunggu kedatangan Pak Yusuf. Hingga tak lama kemudian pak Yusuf pun datang.
"Revan? Kamu kok ada di sini?"
"Revan ada keperluan sama Om."
"Oh begitu. Sebentar ya, Om mau ke kamar sebentar." Pak Yusuf pergi ke kamar meninggalkan revan sendirian di ruang tamu.
__ADS_1
tak lama kemudian Pak Yusuf pun datang kembali ke ruang tamu. Lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Revan.
"Jadi ada keperluan apa?"
Revan merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu. "Ini, Om, ini kan batu yang Om maksud? " Tanya Revan sambil menunjukkan batu.
"Kamu mendapatkannya? Wah hebat sekali."
"Jangan berlebihan gitu, Om, Aku mendapatkan ini mudah banget. Jadi, mau kita apakan batu ini?"
Pak Yusuf menjelaskan sesuatu kepada Revan. Lalu Revan mengangguk setuju.
...
Di asrama. Lebih tepatnya di taman.
Kini Aleya sudah kembali berkumpul dengan teman-temannya. Namun tetap saja ada yang kurang, karena, Revan tidak ada di antara mereka.
"Kalian serius? Nggak tahu Revan ke mana? " Tanya fita kepada Angga, farel, dan Sandi.
"Kita benar-benar nggak tau, fit. Lu kenapa kelihatan khawatir gitu? Pas tahu kalau Revan nggak ada di kamar." Tanya angga.
"Nggak ada apa-apa. Emang nggak wajar ya? Kalau gua ngekhawatirin Revan?"
"Iya wajar-wajar aja sih. Tapi ya, kayak aneh aja gitu."
"Gua pengen banget ke danau ngobrol sama Rendy. Tapi nggak mungkin gua pergi dari sini begitu aja." Ucap Aleya dalam hati.
"Hayooo! Lu kenapa? ngelamunin apa? Awas kalau ngelamun terus-terusan nanti jadi kesurupan. Kan, kalau lu kesurupan, kita semua yang repot." Ujar farel.
"Apaan? siapa yang ngelamun? Gua tuh nggak ngelamun ya. Tapi gue itu Lagi fokus menatap langit senja." Ucap aleya dengan santai.
"Lu suka pemandangan langit pas senja ya? " Tanya Angga.
"Semua suasana langit gua suka, entah itu pagi hari, siang hari, senja,, malam hari tengah malam menjelang subuh. Semuanya gue suka."
"Oh." Angga mengangguk mengerti.
"Dzar, San, kalian sejak kapan pacaran? Lu juga vi, rel, kok gua nggak tahu sih kalau kalian udah pacaran? "Tanya Aleya heran.
"Ya nggak tahu lah, kan, authornya nggak ngejelasin. Nggak tahu tuh kenapa, nggak dijelasin kenapa kita bisa jadian." Jawab viona.
"Tahu tuh, pengennya yang singkat-singkat aja." Farel menimpali.
"Pengen banget novelnya cepet ditamatin. Padahal mah, nggak terlalu memuaskan." Lanjut Zahra kemudian.
___
Haduh, kalian ini kenapa jadi ngomentarin aku sih? Aku kan pengen cepet-cepet namatin novelnya ada alasannya.
___
"Memang apa alasannya? Selalu banyak alasan." Tanya Aleya.
___
Udah diam gak usah kepo.
___
"Dasar menyebalkan." Sekarang sandi yang berbicara.
...
Sedangkan di hutan. Rendy sedang berada di pinggir Danau tidak sendirian.
"Aleya ke mana? Kok tumben dia nggak kemari?"
"Entah, coba aja kamu pantau di asrama."
"Enggak lah, aku mau di sini saja."
"Ya sudah. Kalau kamu maunya seperti itu."
__ADS_1
Bersambung.........