
Saat ini, Revan, aleya, Fita, farel, Viona, Angga, Zahra, Dela, Tia, bahkan Bu Wulan dan Pak Yusuf pun sedang berkumpul di 1 tempat.
Revan dan Aleya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum tragedi sore kemarinnya.
Sempat ada kesalahpahaman di antara mereka, namun Pak Yusuf dan bu Wulan segera meluruskannya.
Semua sudah sepakat, kalau kuburan yang ada di hutan di belakang SMA angkasa segera dibongkar.
Pak Yusuf sudah menghubungi polisi dan polisi akan segera datang ke tempat perkara.
"Sekarang kita semua ke sekolah itu ya. Kita bantu kepolisian untuk membongkar kuburan tak layak itu." Bu Wulan mengajak mereka untuk ikut ke lokasi.
Mereka semua langsung berangkat ke hutan belakang SMA angkasa.
...
"Di sini tempatnya? Revan? " Tanya Pak Yusuf kepada Revan untuk memastikan.
"Iya pak, di sini tempatnya."
"Baiklah. pak polisi, segera dimulai saja pembongkarannya." Pihak kepolisian mulai melakukan pembongkaran.
Sudah ada lubang yang di gali sedalam lutut orang dewasa. Pihak kepolisian sudah menemukan tengkorak manusia.
Semakin dalam lagi mereka menggali. Aroma busuk makin menyengat di sekitaran tempat. Anggota kepolisian yang ada di dalam lubang mengangkat daging dan tulang belulang manusia yang tersisa ke atas tanah.
Seorang anggota polisi menghampiri Pak Yusuf beserta yang lainnya.
"Maaf Pak, kalau saya boleh tahu yang melakukan ini semua siapa ya Pak? Karena ini sudah termasuk tindakan kriminal. Dan pelakunya, harus dipidanakan."
"Pelakunya adalah salah satu korban kemarin Pak, yang bernama Indra arfanza. Tapi kalau hukum masih ingin memberikan pidana, ada satu orang lagi yang bersekongkol dengan pelaku. Saya rasa dia juga pantas mendapatkan akibatnya."
"Siapa Pak? Tolong beritahu kami alamat rumahnya." Pak Yusuf memberikan alamat rumah mbah Prapto kepada anggota kepolisian.
"Baik Pak, terima kasih informasinya. Saya harap bapak beserta ibu Wulan atau mungkin salah satu dari adik-adik ini ada yang bersedia menjadi saksi."
"Insya Allah kami siap pak, jika kami harus dijadikan saksi." Revan sekarang yang berbicara.
"Syukurlah kalau semuanya bersedia. Lalu? Sisa-sisa tulang belulang yang kami temukan ini dikuburkan di mana Pak?"
"Nanti saya akan cari data-data siswa-siswi yang menghilang secara misterius. Setelah itu saya akan menghubungi keluarganya dan terpaksa saya harus mengabarkan berita buruk ini kepada keluarganya. Sekalian juga saya akan meminta persetujuan mereka untuk dimakamkan di mana anggota keluarganya. Sebelum itu, saya minta semuanya di lakukan tes DNA atau pencocokan organ tubuh terlebih dahulu ya pak." Ujar Bu Wulan.
"Baiklah kalau begitu Bu. Saya permisi kembali untuk ke tugas saya." Pak polisi meminta izin mereka pun mengizinkan.
"Bu, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Apa yang kamu mau tanyakan? Tia?"
"Saya mau tanya. Apa SMA angkasa pernah memberangkatkan salah satu siswa ke luar negeri?"
"Maksudnya bagaimana ya Tia? Ibu kurang paham."
"Jadi begini Bu.. dulu Kakak saya sekolah di SMA angkasa juga Tapi saat kelulusannya, aku dan ibu datang kemari. Dan saat kami bertanya kepada Pak Indra, katanya Kak Sinta mendapatkan beasiswa di universitas Singapura." Tia kembali menceritakan perihal kakaknya.
"Nama kakak kamu siapa Tia?"
"Namanya Sinta Bu, nama lengkapnya Sinta Diana Putri."
"Sepertinya Ibu pernah mendengar nama itu. Sebelumnya ibu ingin menjelaskan, kalau SMA angkasa tidak pernah memberikan siswa atau siswinya beasiswa ke universitas luar negeri. SMA angkasa hanya memberikan beasiswa untuk kuliah di dalam negeri saja."
"Lalu? Kakak saya sebenarnya di mana? " Tia mulai merasa panik.
"Kamu tenang dulu. Nanti akan Ibu carikan informasinya."
"Makasih ya Bu."
"Tia kamu tenang ya. Jangan terlalu berpikiran negatif, takutnya itu malah jadi kenyataan." Aleya menenangkan Tia.
"Iya Al, makasih ya udah nenangin aku."
"Iya sama-sama. Udah kamu jangan murung kayak gitu ekspresinya." ujar aleya.. Tia pun mencoba mengukir senyum di wajahnya.
"Gue nggak bisa ngebayangin, kalau Sandi jadi salah satu tumbal. Pasti, jasadnya dikuburkan di tempat ini juga. Dikuburkan secara tidak layak dan arwahnya juga pasti nggak tenang karena nggak pernah ada yang mendoakan." Ucap Dela.
"Ya lu bener, Del, coba aja kalau aleya sama Revan telat sedikit. Pasti situasinya lebih gawat lagi." Farel menyetujui perkataan Dela.
"Bukan kita kok yang gercep, tapi Allah yang menggerakkan hati beserta tubuh kita agar lebih cepat lagi bertindak." Ujar Revan.
"Bener tuh kata Revan, kalian seharusnya mengucapkan terimakasih kepada Allah. Bukan kepada gue, Pak Yusuf, atau Revan.. karena kita hanyalah perantaranya. Tanpa seizin dan campur tangannya, ini semua nggak mungkin terjadi." Sahut Aleya.
Saat mereka sedang berbincang-bincang salah satu anggota kepolisian menghampiri mereka.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Saya menemukan kalung ini di salah satu korban."
"Oh baik Pak, terimakasih. Nanti akan saya coba selidiki lagi tentang kalung ini." ujar bu Wulan kemudian polisi tersebut kembali kepada tugasnya.
Tia merasa tidak asing dengan kalung yang berada di tangan bu Wulan. "Bu, boleh aku pinjam kalungnya?"
Bu Wulan mengangguk.. lalu memberikan kalung tersebut kepada Tia. Tia mengamati kalung itu dengan seksama.
"Kenapa Tia? Apa kamu merasa nggak asing sama kalung itu? " Tanya Revan.
"Iya. Aku merasa nggak asing sama kalung ini. Kalung ini seperti punya kakakku.. Kak Sinta."
"Kamu yakin? Mungkin aja kan ada orang yang sama mempunyai kalung itu." Ucap Dela.
"Aku rasa nggak ada, soalnya pas dulu sebelum kakakku pergi untuk bersekolah di sini. Aku membuatkan kalung yang persis sekali seperti kalung ini untuk kakakku. Liontinnya juga bergambar bintang sama seperti liontin yang ada di kalung ini. Aku yakin sekali, kalau ini adalah kalung milik kakakku."
"Tapi kok polisi bisa menemukan kalung itu di..." Viona tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Jangan negatif thinking dulu. Bisa aja kan? Salah satu korban itu teman dekatnya Kak Sinta, dan dia minjem kalungnya Kak Sinta." Ujar Fita.
***
Sore pun tiba. Dan pembongkaran kuburan tulang belulang korban sudah selesai.
"Kalian pulang dulu saja. Ibu dan Pak Yusuf mau ada urusan sebentar." Bu Wulan meminta yang lainnya untuk kembali pulang.
"Oke mah. Kita semua pulang dulu ya mah. Nanti kalau ada info terkini jangan lupa kabarin aku." Ucap Revan sebelum pergi.
...
"Eh kita ke cafe itu dulu. Gue haus banget nih, pengen minum yang seger-seger." Ajak Viona mereka pun menurutinya.
"Kalian mau mesan apa? biar gua yang bayarin."
"Serius? Rel? Lu nggak lagi bercanda kan?"
"Ya enggaklah, fit, gua serius. Udah cepet pesan menu yang mau kalian makan atau minum." Mereka mulai memilih menu yang mereka inginkan.
"Thank you ya rel, ternyata lu baik juga."
"Jadi lu selama ini berpikir gue itu jahat Van?"
"Eh bukan gitu maksud gue."
"Ya jelaslah Revan mengira lu orang jahat. Tampang lu itu nggak memperlihatkan sama sekali kebaikan lu."
"Anjir lu fit."
Mereka bercanda dan tertawa. Sejenak mereka menyingkirkan duka mendalam yang mereka rasakan.
"By the way, kalian senang nggak sih kalau SMA angkasa itu udah musnah? " Zahra bertanya kepada teman-temannya.
"Rasanya nano-nano. Ada bahagia dan duka, ada senang dan sedih." Jawab Aleya
"Iya. Senang dan bahagianya karena kita bisa bebas dari sekolah yang membutuhkan tumbal setiap tahunnya. Sedih dan dukanya.. kita kekurangan orang di circle kita." Sambung Dela.
"Tapi yang lebih dominan bahagia atau sedih? " Zahra bertanya lagi.
"Kalau gue pribadi sih, lebih dominan bahagia." Jawab Angga.
"Yang lain? " Tanya Zahra kepada yang lainnya. Mereka semua menyetujui ucapan Angga.
"Tia. Kamu kenapa? Kok mukanya murung gitu? " Revan bertanya kepada Tia. Karena memang hanya Tia saja yang sedari tadi menampakkan ekspresi tanpa senyuman.
"Aku nggak papa. Masih kepikiran aja sih, sama yang tadi."
"Tenang. Mamah dan Pak Yusuf kan lagi menyelidiki. Kamu berdoa aja, semoga hasil penyelidikannya nggak seperti yang kamu pikirkan saat ini." Tia mengangguk lemah.
"Eh sumpah, Van, gua masih nggak nyangka loh kalau Bu Wulan itu nyokap lu." Ucap Vita dengan nada antusias.
"Memang gue selama ini merahasiakannya dari kalian."
"Alasannya apa? " Tanya Aleya.
"Emang harus dikasih tahu ya?"
"Ya gak harus sih."
"Ya udah kalau nggak harus."
"Udah, Van, pertanyaan Aleya itu Nggak semuanya harus dijawab. Walaupun kalau pertanyaannya belum terjawab dia nggak bakal bisa tidur semalaman." Viona menimpali.
"Nyambung aja lu, kayak listrik." Ujar Aleya sedikit ketus.
"Bodo amat."
"Anjir! Awas lu ya Vi."
"Awas... Awas... awas.. kalau ada makanan di meja... Mejanya yang ku makan" Viona malah menyanyikan lagu dangdut klasik dan itu cukup membuat emosi Aleya memuncak.
Semua yang melihat tingkah Aleya dan Viona pun jadi tertawa.
...
15 menit kemudian.
"udah Azan magrib. Ayo salat dulu! " Revan mengajak teman-temannya untuk mengerjakan kewajiban.
Mereka semua pergi ke mushola yang ada di dekat cafe.
"Habis ini kita mau ke mana lagi? Mau langsung pulang kah? " Tanya Aleya ketika mereka sudah selesai melaksanakan salat Maghrib.
"Ke danau yuk mau nggak?"
"Boleh juga tuh, ayo gas, kita ke danau." Aleya menyetujui usulan Revan.
"Danau? Emang ada danau? Di mana? Kok gua baru tau? " Fita bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Nanti juga lu tahu. Ayo ikut gua! " Mereka mengikuti langkah Revan.
"Eh bentar, lewat sana aja, Van, biar cepet sampai." Aleya menunjuk jalan pintas agar segera sampai ke danau.
"Oke, ayo kita ke sana."
"Apaan nih? Kita mau kembali ke hutan itu lagi? " Tanya Fita.
"Iya. Kita balik ke hutan itu lagi." Jawab Revan.
"Emang danaunya ada di sana? Kok tadi gua nggak lihat apa-apa." Tanya Viona.
"Jaraknya agak sedikit jauh dari tempat tadi sore." Jawab Revan kemudian melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh semua teman-temannya.
"Ini dia danau yang gua maksud sama Revan." Ujar Aleya ketika mereka sampai di danau.
"Wah indah banget di sini. Gua nggak nyangka di sini ada danau seindah ini." Zahra merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.
"Iya indah banget. Kalian kok bisa tahu tempat ini? " Tanya Dela kepada Aleya dan Revan.
"Ceritanya panjang." Jawab Aleya.
"Emang sepanjang apa sih?"
"Panjang banget, Zar, sepanjang jalan kenanga." Zahra sedikit kesal dengan jawaban sahabatnya.
Ke-9 remaja tersebut menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Cahaya bulan yang bersinar terang. Juga dinginnya angin malam. Membuat pikiran dan hati ke-9 remaja tersebut menjadi fresh kembali.
"Eh, ini rekomen banget nih buat dijadiin tempat healing. Gratis, pemandangan juga nggak kalah Indah sama destinasi wisata yang lainnya." Ujar farel sambil menatap bulan yang ada di atas langit.
"Bener juga. Apalagi pas keadaan senja, Weh, indah banget asli pemandangannya."
"Oh apa jangan-jangan pas lu lagi ada masalah kemarin sama kita itu sembunyinya di sini ya Al?"
"Tau aja lu Zar."
Saat teman-temannya sedang menikmati pemandangan danau. Aleya menoleh ke sana kemari mencari seseorang.
Revan dari tadi memperhatikan gelagat aleya. "Nyari siapa? Rendy?"
"Iya. Dia marah nggak ya? Kalau kita ajak orang serame ini ke danau."
"Nggak tau. Tanya aja sama rendinya langsung."
"Dianya aja nggak ada di sini. Terus gua mau nanya ke siapa? Nanya ke lu.. lu nggak tahu jawabannya."
"Doooor!!!"
"Eh kodok ketelen buaya! " Aleya terkejut karena dikagetkan oleh seseorang.
Aleya menoleh ke belakang namun tidak ada siapa-siapa.
"Gua ada di sini."
Aleya menoleh ke asal suara namun lagi-lagi Aleya tidak melihat siapapun.
"Eh sekarang gua udah pindah, gua ada di sini."
Revan hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Ayo cari gua."
"Males lah, buang-buang waktu."
"Heleh, bilangnya buang-buang waktu. Padahal mah takut kalah." Rendy tiba-tiba muncul di hadapan Aleya.
"Sudah gue duga."
"Lu nyariin gua ya? Kangen ya sama gua? Kan gua udah bilang kalau gua itu orangnya ngangenin." Ujar Rendy percaya diri.
"Narsis sekali anda. Gua nyariin lu bukan karena gue kangen."
"Lalu?"
"Gua mau minta maaf sama lu, karena gua nggak nepatin janji gua. Untuk nggak ngajak orang lain datang ke sini."
"Santai aja. Gua nggak marah kok sama lu. Asalkan ada bayaran per orangnya."
"Eh anjir! Lu kan makhluk gaib, uangnya buat apaan?"
"Kata siapa bayar pakai uang?"
"Lah emangnya pakai apa? Jangan bilang pakai sajen."
"Itu tahu kalau bayarannya pake sajen." Rendy tersenyum jahil.
"Eh yang bener aja lu? Nggak mau lah, itu kan musyrik."
"Hahaha, nggak lah, gue cuman bercanda doang. Panik banget lu."
"Garing banget tahu bercandaannya."
"Iya deh maaf. Eh gua boleh nggak gabung sama mereka?"
"Emang mereka bisa melihat lu?"
Tanpa mendapat persetujuan dari Aleya Rendy langsung bergabung bersama teman Aleya yang lainnya.
Di sisi lain danau. Tia sedang menatap serius kalung yang menurutnya itu adalah punya kakaknya.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kalung ini bisa ditemukan di kuburan itu?"
Beberapa pikiran negatif sudah singgah di kepala Tia.
"Eh ada kak Sinta." Teriakan Viona itu membuat semuanya menghampiri Viona. Termasuk Tia.
"Halo semua. Maaf nih mengganggu waktu kesenangan kalian. Aku dan teman-temanku hanya ingin membicarakan sesuatu kepada kalian semua."
"Sesuatu apa kak? " tanya farel.
"Kami ingin mengucapkan terimakasih. Karena kalian sudah mau menguburkan kembali tulang belulang kami secara layak." Ujar Kayla.
"tu..tulang belulang? Kuburkan????!" Mereka semua sangat merasa terkejut.
"Kami jelaskan terlebih dahulu. Sebelumnya perkenalkan namaku Nina. Nama lengkapku Nina Clara Ayudia. Pasti kalian sudah tidak asing lagi kan dengan namaku? Karena kalian pernah mendengar cerita tentangku. Aku yang meninggal karena meminum racun di toilet."
_
Cerita tentang Nina ada di episode 10.
_
"Jadi cerita yang kalian dengar kalau aku bunuh diri itu memang benar. Aku tahu kalau yang aku lakukan itu adalah tindakan yang ceroboh. Arwahku juga tidak tenang. Tapi lebih nggak tenang lagi, jasadku dikuburkan secara tidak layak oleh manusia sampah itu. Juga aku dipaksa untuk menjadi budak makhluk jahanam itu." Lanjut Nina kemudian.
Mereka semua sangat terkejut. Terkecuali Revan, karena Revan anak indigo, jadi Revan sudah mengetahuinya sejak awal Revan melihat mereka.
Mereka terkejut karena mereka melihat dan berkomunikasi langsung dengan arwah. Mereka juga terkejut.. karena selama ini mereka begitu dekat dengan Kak Sinta bahkan sering mengobrol bersama. Berarti selama ini mereka sangat dekat dengan arwah tanpa mereka sadari.
Kak Sinta menghampiri Tia.
"Halo adik kakak yang cantik."
"Ma-maksud kakak?"
Sinta memperlihatkan pergelangan tangannya kepada Tia. "Masih ingat kan sama bekas luka ini?"
Tia mengamati bekas luka yang ada di pergelangan tangan Shinta. Bekas luka itu seperti bekas luka kakaknya.
Tia terkejut. "I..ini apa? Ka-Kamu pasti bohong!"
"Maafin Kakak ya dek, kakak nggak bisa menjaga diri dan nyawa kakak. Kakak nggak bisa lagi kembali ke rumah. Kakak nggak bisa lagi ketemu sama ibu. Kakak juga minta maaf karena Kakak nggak bisa membahagiakan kalian." Sinta menangis tanpa mengeluarkan air mata
"Nggak nggak mungkin! Kamu bukan kak Sinta kakak aku! " Tia masih tidak percaya.
"Dia bener Kakak kamu Tia." Revan menimpali.
"Nggak nggak mungkin! Kakak aku nggak mungkin udah meninggal. Kalian pasti bohong! Kalian semua pembohong! " Tia merasa kecewa.
"Kamu jahat dek, kamu nggak percaya. Padahal kakak sudah menunjukkan bekas luka ini. Tapi nggak apa-apa kalau kamu nggak percaya sama kakak. Kakak hanya ingin menyampaikan kepada kamu, tolong jaga ibu dan bahagiakan ibu tolong tenangkan ibu, di saat ibu syok mendengar kabar buruk tentang kakak. Satu hal lagi, Kamu harus menjadi wanita yang kuat." Sinta bergabung lagi dengan teman-teman arwah yang lainnya.
Tia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Halo, mau kenalan nggak sama aku? " Ujar salah satu sosok berambut panjang dan bergaun merah.
Tidak ada yang menjawab, sekarang ekspresi ketujuh remaja tersebut berubah menjadi takut.
"Ih kok pada takut sih? Padahal aku menampakan wujud manusiaku bukan wujud arwahku. Halo Viona, kayaknya kita pernah ketemu deh di kamar mandi asrama."
_
Jangan-jangan ini cewek yang suka nyanyi di kamar mandi pas episode-episode awal.
_
Viona bergidik ngeri membayangkan kembali sosok wanita yang saat itu dilihatnya di kamar mandi. "Ja..jadi kamu yang neror aku, aleya, dan Zahra selama 1 minggu?"
"Yaps. Kamu benar. Aku yang setiap tengah malam mandi sambil bernyanyi." Ucap wanita itu dengan santai.
"Anjir! Jadi selama ini yang nyanyi-nyanyi kurang kerjaan di kamar mandi itu lu? Ih gila." Perasaan Zahra yang tadinya takut sekarang berubah menjadi kesal.
"Iya itu aku yang nyanyi. Bagus kan suaraku? Bahkan sampai bikin kalian tertidur lelap."
"Kata siapa kita tidur? Kita cuman pura-pura tidur." Sahut Aleya.
"Oh aku kira kalian tidur hihihi hihihi."
"Ih anjir ketawa lu! Nggak ada merdunya sama sekali." Sepertinya hantu kalau ada di dekat Aleya jadi nggak punya harga diri.
"Kalau aku nyanyi merdu kan suaraku?"
"Iya merdu.. merusak dunia."
"Ih kamu jahat banget sih Aleya sama aku." Sosok itu berpura-pura sedih.
"Nggak usah sok-sok sedih lu, yang keluar aja bukan air mata melainkan darah."
"Eh gimana caranya punya air mata? Perasaan waktu itu pas gua liat , matanya bergelantungan deh mau jatuh." Sambung Viona.
"Ih jangan gitu, kalian ini nggak kasihan ya sama mbaknya."
__ADS_1
"Makasih ya Zahra udah membela aku."
"Iya sama-sama. Eh tapi sekarang kasihan banget ya Mbak, udah nggak ada tempat untuk konser lagi."
Awalnya suasana sangat menakutkan. Tapi lama kelamaan suasana menjadi menyenangkan terkecuali untuk Tia.
"Kamu jangan sedih dulu. Kita tunggu aja besok kabar dari Bu Wulan." Ujar Fita lembut kepada Tia.
"Kalau memang benar kak sinta itu kakak kamu. Kamu lebih baik menikmati waktu-waktu ini untuk bercanda dan membuat kenangan baru sama Kak Sinta." Dela memberi usulan.
"Bener juga apa yang kamu bilang, del, aku harus memanfaatkan waktu ini dengan baik." Tia, Fita, dan Dela menghampiri Sinta lalu mereka perlahan bercanda bersama sama seperti yang lainnya.
Seperti Angga dan farel yang sedang berbincang-bincang dengan pocong yang meneror 1 minggu awal kedatangan mereka di SMA angkasa.
"Eh Cong lu itu salah satu korban atau apa? " Tanya farel tanpa rasa takut.
"Aku bukan korban. Aku hanya lah makhluk yang memang selalu ada di tempat apapun itu."
"Lu nggak gerah cong? Selalu selimutan pakai kain kayak gitu? " Tanya Angga konyol.
"Gerah banget. Kamu mau membukakannya?"
"Eeeeeeh... Maaf gue nggak bisa, Revan aja tuh yang bukain." Nyali Angga menciut ketika mendengar jawaban dari pocong.
"Males, ngapain dibuka? Dibungkus aja aromanya udah busuk, apalagi dibuka. Nanti yang ada makanan yang kalian makan tadi sore keluar semua." ujar Revan dengan nada datar.
"Eh perkataan kamu sungguh tajam sekali. Membuat hatiku hancur berkeping-keping."
"Emang hati lu kan udah hancur. Membusuk pula." Lagi-lagi Revan menjatuhkan martabat sesosok pocong.
"Iya sih bener juga. Bahkan organ tubuh Aku Yang lainnya aja udah membusuk." Pocong itu malah ikut-ikutan menjatuhkan harga dirinya sendiri.
Mereka terus berbincang dengan kaum hantu selalu dijadikan bahan ledekan. Sampai malam pun terasa cepat bagi mereka.
***
Saat pagi tiba, mereka terkejut karena tiba-tiba saja matahari bersinar. Mereka tidak mendengar suara adzan karena masjid yang cukup jauh. Bahkan mereka pun tidak menyadari kepergian arwah arwah.
Karena hari sudah berganti, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Revan.
Siang harinya. Bu Wulan dan Pak Yusuf mengumpulkan semuanya di ruang tamu rumah Bu Wulan.
Bu Wulan menyampaikan kabar buruk kepada Tia. Perihal kakaknya. Tia tidak begitu merasa syok ataupun sedih, karena saat malam tadi Tia sudah percaya kalau itu memang kakaknya. Dan Tia sangat beruntung karena dirinya mendapatkan waktu bersama kakaknya.
"Kalian silakan hubungi orang tua kalian masing-masing." Suruh Bu Wulan
"Kita udah boleh pulang ke rumah kita Bu?"
"Iya Viona."
Aleya, Viona, Zahra, farel, Fita dan Dela juga Angga segera menghubungi keluarga masing-masing. Untuk Tia, nanti Bu Wulan akan mengantarkan Tia ke desanya. Sekalian menjelaskan perihal Sinta kepada ibunya Tia.
****
"Alhamdulillah. Ayah sekarang sekolah itu sudah hancur. Memang benar apa kata ayah apapun yang diperjuangkan dengan tidak baik akhirnya juga akan menjadi buruk. Semoga ayah tenang ya di sana. Karena Revan sudah memenuhi wasiat ayah untuk menghancurkan tempat itu juga makhluk beserta dukun busuk itu. Insya Allah pengorbanan nyawa ayah tidak sia-sia." Ucap Revan sambil mengusap dan menatap sendu foto almarhum ayahnya.
***Tragedi dalam asrama the end--- ***
_
Halo semuanyaaa. Ih sumpah mau nangis, karena nggak nyangka novel ini udah tamat. Nggak nyangka banget, karena jauh dari luar prediksi aku.
Terima kasih untuk dukungan, saran, kritik, dari para pembaca Untuk novel ini. Novel yang masih jauh dari kata layak untuk dinikmati, novel yang dalam penulisannya masih banyak kesalahan. Alur berantakan, dan kekurangan yang lainnya.
Terima kasih juga buat yang masih setia membaca sampai ending. . ❤️❤️❤️❤️
Oh iya ini dia nama-nama lengkap tokoh novel tragedi dalam asrama. Sebagian udah pernah aku kasih tau, tapi nggak ada salahnya kan untuk mengulangnya sekali lagi. Hehe.
____
Revan azyansya.
Aleya Anastasia.
Viona Claudia Salsabila.
Farel Azka Erlangga.
Zahra syakila Maharani.
Sandi fandra Arafit.
Angga Zaidan Pratama.
DelaNia Sabrina.
Rifky arfanza.
Mutia Clarissa.
Fitarayana.
Wulan Herlina.
Ahmad Yusuf azaki.
+++ 👻 +++
Shinta Diana Putri.
Rendy Satya.
Nina Clara Ayudia.
Kayla zafira.
Kanaya arvanza.
###
__ADS_1