
Mereka sudah beranjak dari tempat duduknya masing-masing hendak ke asrama namun tiba-tiba saja.
Huusssshhhhh
Pusaran angin kencang datang dari arah belakang, dan itu sontak membuat mereka semua terhempas jauh.
"Awww!!! " Teriak aleya saat merasakan sakit di tubuhnya karena jatuh ke tanah cukup keras.
"Astagfirullah! Sakit banget! Eh, ini di mana? " Tanya aleya saat melihat tempat asing di sekitarnya.
Aleya coba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Lalu Aleya menatap kembali ke sekeliling dan menemukan teman-temannya yang sedang pingsan. Yang disebabkan oleh pusaran angin yang datang secara tiba-tiba saat mereka di taman tadi.
"Hah? Semuanya beneran pingsan nih? Cuman gua doang yang sadar? " Tanya Aleya entah kepada siapa.
"Zar, bangun zar! " Aleya mengguncang-guncangkan tubuh Zahra agar Zahra segera sadar dari pingsannya.
Tak lama Zahra sadar.
"Al... Kita di mana? Dan,awww! Kepala gua sakittt." Zahra meringis merasakan rasa sakit di kepalanya.
"Gua nggak tau, kita ada di mana." Jawab Aleya lemah.
"Yang lainnya ke mana?"
"Pingsan."
__ADS_1
"Hah? " Ucap Zahra terkejut lalu mencoba membuka matanya yang tadi terpejam karena menahan sakit di kepalanya.
Aleya dan zahra membangunkan teman-temannya satu persatu hingga semuanya tersadar. Dan saat mereka tersadar dari pingsannya reaksi mereka sama seperti reaksi Zahra dan Aleya terkecuali Revan. Jika teman-temannya bereaksi heran dan bertanya-tanya, justru Revan bereaksi panik dan cemas.
"Bentar bentar, Kok gua kayak pernah ngelihat tempat ini ya. Tapi di mana? " Ucap sandi yang merasa tidak asing dengan tempat itu.
"Di mimpi, san." Jawab Revan.
"Maksud lu? Ini di belakang asrama putra?"
"Ya." Jawab Revan singkat sambil bangkit berdiri lalu membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya.
"Kalau ini di belakang asrama Putra, berarti." Ucap aleya lalu kembali memperhatikan sekeliling.
"Huahahaha! Ternyata kalian semua sudah sadar." Tiba-tiba ada suara menggelegar terdengar.
"Wow! Ternyata kau cukup mempunyai mental yang besar untuk berteriak kepadaku seperti itu. Aku rasa Aku tidak perlu memberi tau siapa aku, karena pastinya, teman kalian sudah pernah bertemu denganku di dalam mimpi dan sudah menceritakan semuanya kepada kalian. Termasuk bagaimana wujudku.. ya kan? " Ucapnya masih dengan suara yang menyeramkan.
"Ja-jadi kau?!"
"Ya, kamu benar gadis yang manis."
"Kau mau apa membawa kami semua ke sini? " Sekarang Revan yang bertanya.
"Aku ingin melakukan sebuah penawaran kepada kalian semua."
__ADS_1
"Penawaran apa maksudmu? " tanya Aleya sedikit gram.
"Aku ingin, kalian semua berhenti menyelidiki apapun itu yang ada di sekolah ini. Imbalannya, kalian akan hidup dengan tenang bahkan kalian tidak akan pernah diganggu oleh arwah arwah penasaran di sekolah ini. Jika kalian berhenti menyelidikinya mulai sekarang juga, dan kalian tidak boleh memberitahu kepada siapapun tentang informasi yang sudah kalian dapatkan."
"Tawaranmu tidak menarik." Ucap Revan sambil tersenyum sinis.
"Baiklah, kalau kalian tidak mau menerima tawaranku Ini akibatnya."
"Aaaggrhhh! " Tiba-tiba sandi berteriak, dan mereka semua refleks menoleh ke arahnya. terlihatlah, kalau ada sebuah tangan panjang, yang tidak terlihat itu berasal dari mana. Dengan kuku yang runcing, dan berwarna hitam, mencekik leher sandi hingga tubuh sandi terangkat beberapa senti dari tanah.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan temanku!!! Makhluk lakna! " Ucap Revan berteriak.
"Hahaha! Jangan berharap, aku tidak akan pernah melepaskannya sebelum kalian berjanji untuk tidak menyelidiki lebih dalam lagi tentang sekolah ini." Jawab sosok itu sambil mengeratkan cekikannya di leher sandi. Wajah Sandi sudah mulai memucat dikarenakan oksigen yang didapatkan semakin sedikit.
"Bagaimana? Apakah kalian tidak kasihan? melihat teman kalian yang sudah hampir mati di tanganku. Ayo, segera mengambil keputusan! Sebelum temanmu ini aku lepaskan dengan keadaan sudah tidak bernyawa." ancam sosok itu.
"Udahlah... Kita turutin aja apa maunya dia, daripada nyawanya sandi terancam." Ucap Zahra kepada teman-temannya sambil menangis.
"Tapi, Zar." Ujar Aleya ragu.
"Ayo cepatlah! Sebentar lagi temanmu ini sudah kehilangan nyawanya."
"Baiklah, kita semua akan berhenti menyelidikinya, asal kamu lepaskan teman kami sekarang juga." Ucap dela tanpa meminta persetujuan yang lainnya.
"Bagus! Hahaha! " Tawa menyeramkannya bergemah sambil melepaskan cengkraman tangannya dari leher sandi.
__ADS_1
Bersambung.........