
"Al."
"Yah, kenapa?"
"Lu kok ke sini bawa temen sih?"
"enggak kok gua nggak ajak siapa-siapa ke sini." Ucap Aleya bingung sambil menoleh ke kanan dan kirinya.
"Yakin? Terus itu siapa? " Ujar Rendy sambil menunjuk salah satu pohon.
"Lah, itu kan pohon?"
"Bukan pohonnya yang gua maksud. Tapi seseorang yang ada di balik pohon itu."
"Masa sih? Beneran?"
Sebelum Rendy menjawab, seseorang keluar dari persembunyiannya.
"Revan? Kok lu bisa ada di sini?"
"Sorry. Gua tadi iseng ngikutin lu. Lu kok bisa tahu tempat ini?? dan, sejak kapan bisa berkomunikasi sama dia? " Tanya Revan sambil mennunjukk rendy.
"Eh, lu juga bisa lihat gua?"
"Ya, bisa."
"Kok lu nggak jawab pertanyaan gua? " Revan bertanya kepada Aleya
"Pas kejadian sore itu gua iseng-iseng pergi ke belakang sekolah, lalu, gua nggak sengaja nemuin tempat ini. Dan untuk bisa berkomunikasi sama dia, gue juga nggak tau kenapa bisa. Kata Rendy sih, gua punya kemampuan indra keenam. Yang nggak gue sadari."
"Oh." revan mengangguk mengerti lalu menatap serius pemandangan indah yang ada di hadapannya.
"Dia siapa lu? " tanya Rendy sedikit berbisik kepada Aleya.
"Temen." Jawab aleya singkat.
Cukup lama mereka saling diam hingga.
"Aleya." Revan memanggil Aleya.
"Apa?"
"Lu yakin? Mau ngikutin mereka?"
"Maksud?"
"Maksud gua Lu beneran mau berhenti menyelidiki semuanya?"
"Entahlah, gue bingung."
"Kalau menurut gua tanpa mereka pun kita bisa melakukannya. Lu nggak takut kan? Sama ancaman itu?"
"Enggak."
"Nah, gimana kalau kita lanjutkan? tapi cuman kita berdua doang? Eh, maksud gua bukan berdua, tapi bertiga atau mungkin berempat."
"Apaan sih? Nggak jelas. Emang dua orang lagi siapa?"
"Mungkin, Kak Sinta sama pak Yusuf."
__ADS_1
"Hah? Apa?! Pak Yusuf? Pak Yusuf guru agama kita?"
"Ya iyalah. Masa Pak Yusuf tukang parkir di supermarket dekat sekolah kita."
"Kirain. Emang pak Yusuf mau bekerja sama sama kita?"
"Mau."
"Okelah, nanti gua nyusun strategi dulu."
"Tolong, kacang mahal." Ucap Rendy yang merasa diabaikan.
"Eh ternyata lu masih di sini, gua kira udah pergi."
"Gua nggak mungkin pergi lah, ini kan tempat gue."
"Al, Bisa bantu gua nggak?"
"Bantu apa? Van?"
Revan membisikan sesuatu kepada Aleya lalu Aleya mengangguk setuju.
"Apaan sih? Pakai bisik-bisik tetangga segala."
"Hmm, nggak ada apa-apa kok, ren, gua sama Revan mau pergi sebentar dulu ya. Nanti kita balik lagi ke sini."
"Oke." Rendy mempersilahkan Aleya dan Revan untuk pergi sebentar.
...
"Menurut lu? Mesin pemotong rumput ada di mana? " Tanya Revan.
Aleya berpikir sejenak. "Gimana kalau lu cari di lantai 1 asrama putra, lu cari gudang tempat penyimpanan."
"Jangan sampai ketahuan, nanti kalau ditanya itu buat apa kita bingung jawabnya." Ucap aLeya lalu Revan mengangguk, kemudian menuju ke asrama putra.
...
Revan menelusuri lantai 1 asrama Putra, mencari gudang tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Revan terus berjalan menelusuri koridor hingga sampai di bagian ujung. Dan Revan melihat ruangan yang terlihat seperti gudang.
Revan mendekati ruangan itu, lalu mencoba membuka pintu. Beruntungnya Revan, pintu ruangan itu tidak dikunci. Entah ada yang lupa mengunci, atau dibiarkan tidak dikunci.
Revan masuk ke dalam gudang, lalu mencari mesin pemotong rumput yang dibutuhkan. Tak lama Revan pun menemukannya lalu segera pergi keluar agar tidak ada yang mengetahui kalau Revan memasuki gudang.
...
"Nih, gua udah dapat. Ayo kita ke sana! " Ajak Revan, lalu mereka berdua menuju ke danau di hutan belakang sekolah.
"Hai, Ren, kita kembali. Nggak lama kan?"
"Nggak lama kok, eh, itu buat apa mesin pemotong rumput? " Tanya Rendy heran saat melihat Revan memegang mesin pemotong rumput.
"Buat menggali tanah."
"Hah? Emang bisa? Van?"
"Menurut lu? Mesin pemotong rumput itu buat apa?"
"Ya motongin rumput, biar bersih tempatnya."
__ADS_1
"Itu lu tahu. Kenapa nanya."
Revan dan Aleya melangkah menuju salah satu tempat sedangkan Rendy hanya mengikuti mereka dengan perasaan bingung.
"Van mesin rumputnya kan cuma ada 1 . Jadinya gua nganggur dong."
"Kalau lu nggak mau nganggur, mending lu pergi sana."
"Oke, gua pergi dulu ya, baik. Eh, bentar, ren, Lu tau nggak jalan dari sini yang tembus ke bagian luar sekolah."
"Tahu, mau gua antar?"
"Boleh juga." Ucap aleya lalu Aleya dan Rendy pergi. Sementara Revan memotong rumput-rumput panjang yang ada di salah satu tempat di hutan.
...
Setelah berhasil keluar dari hutan dan area sekolah, kini aleya menuju ke suatu tempat.
"Nah udah dapat. Sekarang, saatnya aku kembali ke asrama sebentar." Aleya melalui jalan yang sebelumnya Aleya lalui untuk menuju ke luar sekolah.
Setelah berhasil masuk ke dalam asrama aleya menuju ke kamarnya. Namun sebelum memasuki kamar, aleya mendengar sayup-sayup suara canda tawa dari dalam kamar. Aleya menajamkan pendengarannya, hingga Aleya tau kalau viona dan Zahra sedang bersama fita dan Dela. Atau mungkin ada tia juga di sana.
Aleya yang tidak ingin mengganggu, berbalik badan untuk menuju ke kamar salah satu kakak kelas yang aleya kenal.
Sesampainya di depan kamar yang dituju Aleya mengetuk pintu. Tak lama pintu pun terbuka.
"Eh Aleya. Kakak kira siapa, ada apa nih? Tumben ke sini?"
*Kak Nisa, aku boleh minjem sesuatu nggak?"
"Sesuatu apa? " Tanya kak Nisa, lalu Aleya menjelaskan sesuatu yang ingin dirinya pinjam.
"Oh itu. Boleh dong, bentar ya Kakak ambilin dulu." Kak Nisa masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil sesuatu. Setelah itu kembali keluar dan memberikannya kepada aleya.
"Makasih ya, Kak, nanti aku balikin lagi."
"Iya sama-sama." Kak Nisa tersenyum, lalu Aleya pamit pergi.
...
Sesampainya di hutan aleya menghampiri Revan yang sedang duduk di pinggir danau.
"Van udah selesai kah? ini gua udah bawa semua yang kita butuhin."
"Udah selesai, Al, yah, walaupun gak bersih banget. Tapi setidaknya lebih baik dari yang sebelumnya. Oh lu udah bawa apa yang kita butuhin Ya? Bagus deh, sekarang aja kita mulai." Revan bangkit dari duduknya lalu mereka berdua menuju ke tempat yang mereka tahu kalau itu adalah tempat jasad-jasad orang yang menjadi tumbal dikuburkan.
Revan dan Aleya menabur bunga yang Aleya beli ke seluruh tempat itu, lalu mereka mulai duduk di salah satu sisi, dan buka Alquran yang aleya pinjam kepada kak Anisa tadi.
Setelah membaca salah satu surah di Alquran.. Mereka mendoakan agar ruh yang dikuburkan di tempat itu diberi ketenangan di sisi Tuhan Yang maha esa. Mereka juga berdoa, agar mereka diberikan kelancaran untuk menjalani rencana yang mereka niatkan.
Rendy yang menyaksikan itu semua dari kejauhan cukup merasa terharu. Aleya dan Revan juga saat membaca salah satu surah Alquran, dan saat memanjatkan doa. Sempat beberapa kali mereka meneteskan air mata karena membayangkan bagaimana perasaan keluarga mereka yang masih hidup dan betapa kejamnya manusia yang melakukan perbuatan itu.
"Terima kasih. Kalian benar-benar orang yang sangat baik." Ada yang mengucapkan kata-kata itu dari kejauhan.
Bersambung.........
_
Hai, hai, hai. Aku terakhir up kapan sih? Kok kayaknya udah lamaaaaaa banget.
__ADS_1
Maaf ya aku up nya nggak menentu. Aku kemarin sempat kehabisan ide, dan aku juga lagi memutar otak untuk merangkai ending dari novel ini.
Terimakasih ya, masih setia membaca dan menanti.