Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 42


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Di rumah sakit.


"Permisi, bu, saya ingin menyampaikan. Kalau hari ini pak Indra sudah boleh dirawat jalan."


"Baik, dok, nanti saya akan persiapkan kepulangan suami saya."


"Sebelum itu silakan selesaikan administrasinya dulu ya Bu. Saya pamit undur diri, selamat siang."


Setelah dokter keluar dari kamar rawat pak Indra. Bu Leni segera mengurus administrasi. Setelah selesai, Bu Leni dan Rifky menyiapkan barang-barang Pak Indra, lalu mereka menuju pulang ke rumah.


***


Di rumah keluarga arfanza.


Pak Indra menyerahkan kertas kepada Rifki. Ya, saat ingin menyampaikan sesuatu, Pak Indra menulis di atas kertas.


Rifki membaca tulisan yang ada di kertas pemberian papanya. ▪️▪️▪️ Rifki, tolong hubungi Tante Wulan. Dan suruh dia menemui papa. Ada yang ingin papa sampaikan kepadanya. ▪️▪️▪️


"Oke, pa, nanti Rifky hubungin tante Wulan." ucap Rifky lalu segera mengirimkan pesan kepada tante Wulan.


***


Di lain tempat. Lebih tepatnya di sekolah.


"Al, jadi nggak? Nemuin Pak Yusuf di ruangannya?"


"Jadi dong, ayo OTW!"


"Lu mau ngapain? Nemuin Pak Yusuf?"


"Ada urusan, zar, gua tinggal ya bye." Aleya berpamitan kepada Zahra lalu pergi bersama Revan menuju ke ruangan Pak Yusuf.


"Hufff! Semoga aja Revan sama Aleya nggak lakuin hal yang aneh-aneh." Ujar Zahra.


...


"Jadi, kita tinggal tunggu aja waktu yang tepat." Ujar Pak Yusuf to the point, yang membuat aleya kebingungan.


"Hah? Maksudnya gimana? Pak?"


"Revan sudah menjelaskan semuanya kepada saya. Dan saya juga sudah tahu kelemahan dari makhluk itu apa."


"Memang apa? Kelemahannya? Pak?"


"Loh, emangnya kamu belum tahu? Van? " Tanya Pak Yusuf lalu Revan menggeleng.


"Bapak kira kamu sudah tahu. Baiklah, akan Bapak jelaskan. Sebenarnya, kelemahan makhluk itu sangatlah mudah. Tapi, akibatnya yang sangat fatal. Cara untuk memusnahkan makhluk itu dan menghentikan pesugihan ini. Adalah kita harus membaca ayat-ayat Alquran tepat di dalam ruangan itu. Dan untuk akibatnya, mungkin makhluk itu tidak akan pernah mau kalau hanya dirinya saja yang musnah. Dalam artian makhluk itu akan menghancurkan tempat ini, atau akan membawa beberapa nyawa manusia."


"Resikonya berat sekali."


"Ya memang begitu aleya, tapi saya rasa kita bisa mencegah agar resiko akan ada banyak nyawa yang melayang itu tidak terjadi."


"Bagaimana caranya? Pak?"


"Yang pasti, kita harus memastikan kalau di sekolah atau di asrama tidak ada siapapun selain kita bertiga."

__ADS_1


"Tapi gimana caranya kita bikin mereka semua keluar dari tempat ini? " Tanya Revan.


"Untuk pertanyaan itu, saat ini saya belum bisa menjawabnya. Kita tunggu saja nanti. Mudah-mudahan Allah memberikan waktu yang tepat untuk kita melakukan semuanya."


"aamiin. Kalau begitu, aku dan Aleya pamit kembali ke kelas ya pak."


"Ya, silakan." Pak Yusuf mempersilahkan, lalu mereka berdua kembali ke kelas masing-masing.


"Tekad kamu benar-benar sudah bulat Revan." Pak Yusuf bermonolog di dalam ruangannya.


...


Aleya sedang mencuci tangan di wastafel toilet sekolah. Di hadapan aleya ada cermin yang berukuran besar. Dan ini yang paling tidak aleya sukai, entah mengapa sejak kecil Aleya sangat tidak suka dengan cermin. Secara tidak sengaja Aleya melihat cermin di hadapannya. Namun Aleya sangat terkejut, karena Aleya melihat ada sosok wanita berwajah hancur di belakangnya.


Wajah wanita itu sangat hancur tidak berbentuk. Kulitnya yang mengelupas memperlihatkan daging di wajahnya yang berwarna merah darah. Kedua mata wanita itu bergelantungan. Dan mulutnya sobek.


Aleya tidak bisa bergerak bahkan untuk berteriak pun aleya sulit untuk mengeluarkan suaranya. Aleya berusaha memejamkan matanya agar tidak bisa melihat wanita menyeramkan itu lagi. Saat sedang memejamkan mata, aleya mendengar suara langkah kaki dari belakangnya.


Aleya masih tidak berani bergerak dan berkata.. hingga seseorang menepuk pundaknya.


"Aleya, kamu kenapa?"


Aleya memberanikan membuka mata dan menoleh ke belakang. "Kak Sinta? Kok kak sinta bisa ada di sini?"


"Tadi aku dari kantin. Lalu aku merasa ingin ke toilet, karena toilet kelas 12 cukup jauh, jadi aku memutuskan untuk ke toilet kelas 10 saja. Tidak apa-apa? kan?"


"Eh, iya, nggak apa-apa Kak."


"Kamu kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?"


"I-i-itu, Kak, tadi aku lihat sosok menyeramkan."


"Iyalah kak aku takut. Emang ada ya, orang yang nggak takut"


"Jika sudah terbiasa, nggak akan ada rasa takut."


"Kak Sinta udah terbiasa ya?"


"Maaf ya, aku harus kembali ke kelasku dulu. Kamu juga lebih baik kembali ke kelas, daripada nanti kamu di sini dan melihat sosok itu lagi."


"Iya deh kak."


Sore harinya.


Seperti biasa, sore hari mereka berkumpul di taman. Terkecuali aleya. Saat sore hari, aleya lebih memilih pergi ke danau di hutan.


"Kamu kenapa?? " Tanya sandi kepada Zahra yang sedari tadi terlihat murung.


"Aku nggak apa-apa kok, San, Aku cuman kangen aja sama sikap aleya yang dulu dan sama hubungan pertemanan kita yang dulu."


"Maafin aku ya, Zar."


"Kenapa minta maaf?"


"Karena gara-gara aku, hubungan pertemanan kita jadi nggak baik kayak gini."


"Ini semua bukan kesalahan kamu sepenuhnya, san, jadi kamu jangan  merasa bersalah."

__ADS_1


Bentar bentar, kok Zahra sama Sandi panggilannya aku kamu ya? Apa jangan-jangan mereka udah pacaran?


"Ehem, ini kenapa nih? Kok sepasang kekasih yang ini mukanya sama-sama murung? " Tanya farel dengan sikap jahilnya.


"Mungkin mereka lagi ada masalah rel, biarin aja lah mereka nyelesaiin masalahnya. Nggak usah digangguin, mending kita kebagian sana aja kita foto-foto." Ajak viona.


"Is, kalian berdua nih, masa ribut terus sih? Sekali-sekali akur gitu. Kayak gua nih sama Viona hubungan kita jarang ada masalah."


"Apaan sih lu? Sok tau banget.. hati-hati loh, katanya kalau hubungan yang jarang ada masalah itu, sekali ada masalah langsung putus."


"Mitos dari mana tuh?"


"Udahlah, nggak usah dilanjutin. Ayo, rel, kita ke sana." Ajak viona lagi kali ini farel menurutinya.


"Cepat selesai ya masalah kalian.. selesain masalahnya! Jangan diselesaikan hubungannya." Ucap farel sedikit keras karena sudah berjalan cukup jauh dari tempat Zahra dan Sandi berada.


Malam hari. Di rumah keluarga arvanza.


Kini Bu wulan sudah sampai di rumah pak Indra tentu setelah mendapatkan izin dari sang putra yaitu Revan. Karena jujur saja, sekarang bu wulan tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga arfanzah tanpa persetujuan Revan.


"Jadi, ada perlu apa Kakak menyuruh aku kemari? " Tanya bu wulan ketika menemui Pak Indra.


Pak Indra menuliskan sesuatu di atas kertas, setelah selesai, pak indra memberikannya kepada Bu Wulan.


Bu wulan membaca tulisan yang ditulis oleh pak Indra. ▪️▪️▪️▪️ Wulan Aku ingin kamu yang bertanggung jawab atas sekolah SMA angkasa. Aku ingin kamu yang menjadi kepala sekolah. Dan tolong, selalu berikan makanan setiap malam Jumat kepada sosok itu.. ▪️▪️▪️▪️


Bu wulan mengambil nafas berat lalu berbicara. "Aku tidak bisa, aku tidak punya waktu luang untuk mengurusi sesajen seperti itu setiap malam jumat nya. Kalau memang Kakak sudah tidak bisa melakukan itu lagi mengapa tidak Kakak putuskan aja semuanya?"


Pak Indra menulis lagi. ▪️▪️▪️ Tidak semudah itu aku memutuskan semuanya Wulan. Aku masih belum siap kehilangan nyawaku. Tolonglah Wulan, tolong bantu aku kali ini saja. Dan akan kupastikan, ini terakhir kalinya aku meminta pertolongan kepadamu. ▪️▪️▪️


"Hufff! Kak Indra kak Indra. Kalau aku menjadi dirimu, aku lebih memilih mati daripada merasakan kondisi seperti ini. Lihatlah kondisi tubuhmu yang sekarang. Dan sadarlah! Kamu hidup pun tidak ada gunanya lagi. Kamu tidak bisa bekerja untuk menafkahi Rifky dan Mbak Leni, kamu hanya bisa merepotkan mereka saja. Dengan kondisimu yang seperti ini."


Ucapan bu wulan itu sangat menusuk hati Pak Indra, namun Pak Indra tidak bisa mengelak karena memang itulah kenyataannya.


"Aku akan menerima, jika engkau menyuruhku untuk menggantikan posisimu di SMA angkasa. Tapi aku tidak mau, kalau harus melanjutkan perbuatan musyrik itu." Karena tidak ingin berlama-lama, bu wulan memutuskan untuk segera pergi dari rumah itu.


"Munafik kau wulan! Dulu saja, engkau rela melakukan apapun demi harta sama sepertiku. Tapi sekarang, kau malah bersikap seperti ini. Aku akan coba memberi penawaran kepada Mbah Prapto. " Pak Indra berbicara dalam hati.


...


"Jadi bagaimana mah? Apa yang orang itu inginkan? " Tanya Revan kepada Bu Wulan melalui telepon.


Bu wulan menjelaskan semuanya, dan Revan sungguh merasa kesal akan hal itu.


"Ma, mama bisa bantu aku nggak?"


"Bantu apa? Sayang? Insya Allah Mama bisa bantu."


Kemudian Revan menjelaskan kepada bu wulan tentang pembicaraannya kepada Pak Yusuf tadi siang.


"Oke, nanti akan mama usahakan."


"Makasih ya."


"Sama-sama anak mama yang ganteng. Kalau gitu teleponnya Mama tutup dulu ya. Kamu jangan tidur malam-malam. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Revan menjawab salam dari mamahnya lalu sambungan telepon pun terputus.

__ADS_1


"Aku senang banget, sama mama yang sekarang. Terima kasih ya Allah, engkau masih memberikan hidayahmu kepada ibuku." Ujar Revan.


Bersambung.........


__ADS_2