Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 30


__ADS_3

"Van, lu bisa berkomunikasi sama mereka?


"Iya, begitulah." Revan menjawab pertanyaan angga.


"Lu indigo? " Sekarang Sandi yang bertanya.


"Ya bisa dibilang gitu. Sekarang kan kalian sudah tahu semuanya, gua harap, kalian nggak akan kasih tahu ke siapa-siapa.


"Termasuk teman kita yang lain?


"Ya, termasuk mereka, biarkan waktu yang memberitahu mereka.


"Oh okelah.


"Tadi arwah guru itu bilang apa?


"Sepertinya korban sekolah ini akan bertambah satu malam ini.


"Maksud lu? Bentar-bentar, waktu itu kan lu pernah bilang, kalau sekolah ini membutuhkan korban jiwa sebanyak 2 orang setiap tahunnya. Kalau malam ini ada korban, berarti  tinggal satu korban lagi?


"Memang tumbal yang dibutuhkan hanyalah dua orang dalam setiap tahunnya, tapi berbeda cerita, jika ada yang melanggar peraturan mutlak di sekolah ini.


"Peraturan apa?


"Peraturan untuk tidak memasuki ruangan rahasia itu.


"Van, apa kita nggak akan membantu korban itu?


"Nggak usah, rel, yang ada nanti kita semua bakal kena imbasnya.


"Memang imbasnya apa?


"Imbasnya kita akan membuat makhluk itu menjadi puas.


"Maksudnya? Makhluk itu akan mengincar kita semua gitu?


"Yaps, lu bener,.


"Apa nggak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah ini terjadi?


"Nggak ada, ga.


Mereka semua terdiam  tenggelam dalam keputus asaan.


...


"Revan, kau tau, kalau yang menjadi korban malam ini itu adalah anaknya?


"Apa kau bilang?


"Kanaya. Yang menjadi korban.


"Benar-benar sudah kehilangan akal.


...


*****


"Bukalah pintunya! " Suruh mbak Prapto saat sudah sampai di depan ruangan rahasia.


"Mbah, apakah kau tidak melihat? Apa yang ada di gendonganku?


"Baiklah, serahkan saja kuncinya kepadaku." Ucap Mbah Prapto lalu menerima kunci yang diberikan oleh papanya kanaya yang ternyata namanya Indra.


Mbah Prapto membuka pintu dan terlihatlah ruangan yang sangat gelap dan pengap di hadapan mereka.


"Mengapa gelap? Bukankah sepertinya kau sudah memasangkan lampu?


"Mungkin lampunya rusak Mbah, dan saya belum sempat mengecek ruangan ini.


"Hah, Ya sudahlah. Apa kau membawa handphone?


"Ya, saya bawa.

__ADS_1


"Berikan padaku.


"Kau bisa bermain handphone?


"Hei! Kau jangan meremehkan aku seperti itu, segera berikan handphone-mu!


"Ini, ambillah." Ucap pak Indra lalu memberikan handphone miliknya yang baru saja diambil dari saku jaket yang dipakainya.


Mbah Prapto menyalakan senter handphone milik Pak Indra, dan memasuki ruangan itu terlebih dahulu.


"Masuklah! Apakah kau tidak keberatan? Menggendong anakmu itu yang dosanya sangat banyak sepertimu?


"Dasar dukun tidak tahu diri, apa tadi dia bilang? aku dan anakku mempunyai banyak dosa? Kalau tidak ada dirimu di dunia ini, aku tidak mungkin masuk ke dalam dunia hitam seperti ini." Pak Indra menggerutu kesal lalu dia masuk ke ruangan.


"Letakkan putrimu di situ." Perintah Mbah Prapto sambil menunjuk salah satu sudut ruangan.


Pak Indra berjalan ke sudut ruangan yang ditunjuk Mbah Prapto dan meletakkan tubuh Kanaya di sana.


Mbah Prapto duduk bersilah di samping kiri Kanaya, dan mulai membacakan mantra.


Tak lama suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat mencekam.


"Huahahaha akhirnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan." Sosok itu tertawa bahagia, lalu menghampiri Kanaya yang sedang tertidur. Dia mendekati wajahnya ke wajah kanaya. Dan menatapnya dengan intens.


"Wajahnya cantik, dan aku suka, tapi sayang sikapnya Aku tidak suka.. dia terlalu jahat untukku." Ucap sosok itu.


"Menjijikan! Dukun dan peliharaannya sama-sama tidak tahu diri." Pak Indra berkata dalam hati.


"Hei! Apa yang kau katakan? Aku bisa mendengar semuanya.


"Baguslah kalau kau bisa mendengarnya. Wahai makhluk tidak tahu diri.


"Kau! Sekali lagimenyebutku dengan kata-kata seperti itu, akan kupastikan, karirmu dan keluargamu hancur dalam sekejap mata.


"Ya baiklah, aku diam.


"Kau mau apa kan anak ini?


"Lalu bagaimana dengan siswa-siswi yang sudah mengetahui perbuatan ku?


"Tenanglah, itu semua akan ku atur. Sekarang pergilah kalian dari tempat ini!


"Ya ya ya, aku pergi." Ucap pak Indra lalu menggendong kembali kanaya dan membawanya keluar.


"Kau berhati-hatilah, anak-anak itu tidak bisa kita remehkan." Ucap Mbah Prapto kepada sosok itu sebelum pergi.


"Hei dukun tua! Tanpa kau beritahu pun aku sudah mengetahuinya terlebih dahulu." Ucap sosok itu geram.


***


Di kamar Vita dan Dela.


"Del, hp-lu bunyi, cepatan angkat! Siapa tahu penting.


Dela mendekati handphone-nya yang sedang dicas, untuk memastikan siapa yang menelponnya.


"Tante Fani? Ngapain dia nelpon aku? " Dela bertanya-tanya.


Dela menerima panggilan itu, dan mulai menyapa.


"Halo, assalamualaikum. Tante.


"Waalaikumsalam. dela bagaimana kabarmu? " Tanya Tante Fani dari seberang telepon.


"Alhamdulillah aku baik Tante, kalau Tante sendiri gimana?


"Alhamdulillah. Kabar tante juga baik.. bagaimana kabarnya Angga?? sejak tadi siang, tante mencoba menghubungi Angga tapi handphonenya nggak aktif." Tante Fani bertanya tentang Angga.. karena Tante Fani adalah mamahnya Angga.


"Angga keadaannya baik, tante  gak perlu khawatir.


"Syukurlah kalau begitu. Rencananya hari Minggu nanti tante dan om mau berkunjung ke asrama. Boleh kan?


"Boleh dong Tante, kenapa aku harus larang

__ADS_1


"Syukurlah kalau boleh. Oh ya, bagaimana sikap Angga ke kamu?


"Seperti biasanya tante.


""Tidak ada perkembangan?


"Perkembangan gimana maksudnya


"Ya, perkembangan seperti, Angga menjadi perhatian sama kamu, atau angga dan kamu bisa menjalin hubungan lebih dari seorang sahabat.


"Ah, Tante selalu berpikir kayak gitu dari dulu.


"Dela, apa kamu sudah mau tidur?


"sepertinya begitu, tante, apa Tante juga mau tidur?


"Tante sebenarnya ingin mengobrol sama kamu lebih lama lagi, tapi kalau kamunya sudah mengantuk ya sudah kita akhiri saja perbincangan ini. Tante titip Angga ya, Dela, assalamualaikum.


"Waalaikumsalam. Good night tante, and see you di hari Minggu nanti." Ucap dela lalu menutup panggilan.


#


Mari kita berkenalan dengan Dela.


Hai, perkenalkan namaku delania sabrina. Panggil saja aku Dela. Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat perhatian kepadaku. Yah, meskipun terkadang dia jahil dan rese, tapi aku tetap sayang kepadanya, dan begitupun dia. Sebelum Aku bersekolah di SMA angkasa, Aku bersekolah di SMP bakti bangsa, dan di sekolah itulah aku bertemu dengan 4 orang yang saat ini menjadi sahabatku. Iya, mereka adalah fita, farel, Sandi dan Angga.


Aku salah satu orang yang tidak menyukai mata pelajaran matematika, apakah ada yang seperti aku? Kalau ada berarti kita sama. Selain tidak suka aku juga tidak pandai di bidang matematika, dan hal itulah yang membuat aku susah untuk mendapatkan teman. Aku heran mengapa orang-orang menilai akademik seseorang itu dari mata pelajaran matematika saja, padahal kan masih ada banyak mata pelajaran yang lainnya. Saat SD, Aku tidak mempunyai teman satupun, karena bagi teman-teman sd-ku yang tidak pandai di mata pelajaran matematika tidak pantas untuk dijadikan teman.. karena tidak pintar, begitulah yang dikatakan orang tua mereka.


Kalau ada yang bertanya, Aku tidak suka dan tidak pandai di pelajaran matematika mengapa aku mengambil jurusan IPA? Karena aku menyukai pelajaran biologi, ya biologi.. entah mengapa aku sangat menyukai pelajaran itu. Dan yang membuatku agak kesal, mengapa biologi dan matematika harus bersatu dalam jurusan IPA? Hei, kau Dela bertanya kepada siapa? tidak akan ada yang bisa menjawab,.


Aku ingin memberitahu tentang rahasiaku, kalau sejak kelas 2 SMP, Aku menyukai seseorang yang menjadi sahabatku. Kalau ada yang bertanya siapa dia? Aku tidak akan memberitahunya sekarang, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Begitulah kata-kata andalan di novel ini. Tapi yang pasti, ketahuilah, mencintai seorang sahabat, itu tidak mudah dan tidak enak. Jika dipendam menyakiti perasaan sendiri, jika dikeluarkan, pasti akan merusak hubungan persahabatan dan akan menimbulkan rasa canggung. Iya saja kalau aku dan dia memendam perasaan yang sama, kalau tidak? bagaimana?


Tapi untung saja di saat perasaanku sedang sedih atau terluka, ada salah satu sahabatku yang selalu ada disampingku untuk memberi ketenangan dan memberi semangat. Ya, dia adalah fita. Dia yang selalu menghiburku dan memberikan semangat, di saat aku terpuruk dan terjatuh dan dia juga mengetahui tentang perasaanku kepada laki-laki itu.


Lalu bagaimana sikapku? Kata sahabat-sahabatku, aku memiliki sikap yang lebih dewasa dari usiaku. Seperti mencari jalan keluar dalam masalah seseorang, atau mematangkan pikiran sebelum mengambil keputusan. Ya begitulah, kata mereka jadi setiap mereka ada masalah, pasti mencari jalan keluarnya kepadaku. Atau disaat mereka bimbang untuk mengambil keputusan pastilah melibatkanku untuk mengambil tindakan. Hufff...! Andai saja ada teknologi yang bernama jPS singkatan dari jaringan pemberi solusi, mungkin aku akan menjadi operatornya. Yah walaupun aku tidak bisa menyelesaikan permasalahan sendiri.


Untuk sikap negatifnya, Aku sangat sensitif, seperti tidak bisa mengontrol emosi.. Ya begitulah contohnya.


Perkenalannya cukup sampai sini saja, ya, masih banyak yang lainnya yang belum berkenalan. Maaf, kalau aku tidak menggunakan foto di saat perkenalan karena aku tidak terlalu percaya diri.


Mari kembali ke kamarku.


***


"Del, siapa yang nelpon?


"Tante Fani.


"Tante Fani? Mau ngapain nelpon lu?


"Ya biasalah, nanyain kabar.


"Cuman itu doang?


"Yah, cuman itu, emang menurut lu ada yang lain?


"Nggak kok, gua nggak mau mikir yang lain gua nggak mau berpikir suudzon.


"Bagus deh, kalau lu akhirnya bisa berpikir kayak gitu.


"Eh, del, lu udah dapat info belum? Tia pulangnya kapan?


"Katanya sih, Tia cuman dirawat 3 hari doang, Ya mungkin hari Sabtu dia pulang.


"Besok kita jenguk yuk


"Memang diizinin?


"Ya kita coba dulu lah, minta izin, sekalian kita ajak aleya Viona sama Zahra. Siapa tahu mereka juga mau ikut.


"Oke, besok ya.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2