
"guys kita kapan nih jemput tia? " Tanya fita.
"Sekarang aja yuk, gimana?"
"Boleh, Al,, kita ke sana naik taksi online kan?"
"Ya iyalah, Del, pakai taksi online."
"Yang mesen taksi online siapa? " tanya Zahra.
"Gua aja yang mesen." Ucap Viona.
"Kalian yang cowok-cowok nggak mau ikut?"
"Enggak lah, Del, kita mau menikmati sekolah yang lagi libur." Jawab farel.
"Dengan cara? " Tanya viona.
"Dengan cara apa aja lah, yang penting happy."
"Ya udah deh, terserah kalian. Ayo cewek-cewek, kita siap-siap." Ucap Dela.
"Nanti sepulang tia dari rumah sakit, kalian kumpul lagi di taman ini. Jangan ajak tia, biarin aja tia istirahat di kamar." Ucap sandi.
"Lah emangnya mau ngapain Lagi? San? " Tanya Dela.
"Udahlah, nggak usah banyak tanya. Nurut aja sih."
"Apaan sih, rel, orang gua nanya ke sandi, kenapa lu yang jawab?"
"Suka-suka gua lah."
"Udah, jangan ribut, nanti gua sama Sandi jelasin kalau semuanya udah ngumpul lagi di taman. Termasuk Revan." Ucap Angga.
" ngomong-ngomong Revan, kok dia belum balik-balik ya? Dari ruangan bu wulan." Ucap Zahra.
"Iya juga ya. Masa iya sih, Revan dapat hukuman."
"Udahlah, kok jadi malah bahas Revan sih. Nanti kita kesiangan nih, jemput tia nya." Ucap fita.
"Iya deh iya. Ayo guys! Kita kembali ke kamar, untuk bersiap-siap." Ucap Zahra lalu mereka masuk ke asrama putri.
***
"Aku pikir kalian lupa, kalau hari ini waktunya aku pulang dari rumah sakit." Ucap tia.
"Nggak lupa lah. Oh ya, ini barang-barangnya nggak ada yang ketinggalan lagi kan? " Ucap aleya sambil mengamati barang-barang tia.
"Kayaknya nggak ada, Al."
"Kok kayaknya? Pastiin dulu, siapa tahu ada yang ketinggalan." Ucap aLeya.
"Udah gua pastiin ke seluruh kamar ini, dan menurut gua nggak ada barang yang ketinggalan." Ucap Viona.
"Baguslah kalau gitu. Fi, taksi online udah lu pesan?"
"Zahra katanya yang mesen.
"Udah lu pesan? Zar?"
"Udah, Vi, kita tunggu di lobby aja yuk." Ucap Zahra lalu mereka menuju ke lobi rumah sakit.
"Dtia, masih ada yang sakit nggak? " Tanya Dela.
"Nggak ada, Del."
"Guys taksinya udah sampai di parkiran rumah sakit ayo kita keluar." Ucap Zahra lalu mereka pergi keluar.
***
Di lain tempat.
Terlihat seorang anak remaja laki-laki, sedang duduk termenung sambil menatap ikan-ikan yang ada di kolam di hadapannya. Sambil sesekali meneteskan air mata karena masih merasakan kesedihan yang mendalam atas apa yang telah terjadi.
"Rifky." Panggil seseorang dari belakang.
Ya, anak remaja laki-laki itu adalah Rifky.
Mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, Rifky langsung menoleh ke belakang.
Saat mengetahui siapa orang itu, Rifky langsung memeluk seseorang itu dan menangis dalam pelukannya.
"Van, Kak Naya van, Kak Naya." Ucap Rifky sambil terisak.
__ADS_1
"Nangislah rif, nangis aja, sampai Lu puas daripada Lu tahan sendiri."
"Gua nggak rela van gua nggak rela kalau Kak Naya meninggal dengan tragis seperti itu."
"Itu udah takdir, rif, Lu harus bisa menerimanya.
"Tapi kenapa?! Kenapa Kak Naya yang ditakdirkan seperti itu."
Revan tidak menjawab Revan memberi waktu agar Rifki bisa meluapkan segala isi hatinya.
"Gua benci! Gua benci sama orang yang udah nabrak kakak gua! Apalagi dia nggak mau tanggung jawab, main lari gitu aja."
Ya, memang sopir truk yang menabrak Kanaya tidak tanggung jawab.
"Orang yang seharusnya lu benci, bukan cuman supir truk itu doang Rif. Tapi Om Indra juga pantas untuk dibenci, karena kalau dia nggak melakukan pesugihan. Kak Naya nggak mungkin meninggal secara tragis seperti yang terjadi kemarin." Ucap Revan dalam hati.
"Lu Udah makan? rif? " Tanya Revan dan dijawab gelengan oleh Rifki.
" Gua nggak nafsu makan,." Ucap Rifki lemah.
"Lu jangan gitu, rif, nanti kalau lu nggak makan, lu jadi sakit. Dan kalau lu sakit pasti Om Indra sama tante Lenni makin kerepotan. Lu nggak mau kan? Kalau lu ngerepotin kedua orang tua lu?"
"Nggak, gua nggak mau ngerepotin mereka. Ya udah deh, gua mau makan."
"Nah gitu dong, gua panggilin bibi Ya suruh bawa makanan ke sini."
"Iya."
***
"Selamat datang kembali di kamar ini Tia." Ucap fita saat mereka sampai di kamar.
"Kita boleh masuk nggak? " Tanya Zahra.
"Nggak boleh, Zar, kalau mau masuk ke kamar ini harus bayar. Nggak ada yang gratis."
"Ih, gua serius loh, fit."
"Iya gue juga serius."
"Jangan didengerin, zar, si fita memang kayak gitu orangnya."
"Dasar lu, fit, pengen dapat untung aja."
Mereka masuk ke dalam kamar, dan membantu tia untuk merapikan barang-barang miliknya.
"Nah udah selesai, ayo kita ke taman." Ajak dela.
"Kalian mau ke taman? Ya? " Tanya Tia.
"Iya. Kamu nggak apa-apa kan? Ditinggal sendirian? " tanya fita.
"Nggak apa-apa. Tapi sebelum kalian keluar, fit, apa kamu bisa kasih buku diary yang kamu temuin ke aku sekarang.
"Emm... Kayaknya itu nanti malam aja deh, tia, maaf ya.
"Ya udah deh nggak apa-apa.
"Lu istirahat aja, ya, tia, kita juga nggak lama kok di tamannya."
"Iya.al."
"Kita keluar dulu ya." Ucap dela lalu mereka semua pergi keluar kamar untuk menuju ke taman.
"Lah kok sepi? Mereka ke mana? " Tanya aleya heran saat melihat di taman tidak ada siapa-siapa.
"Mungkin mereka lupa, Al, bentar deh gua chat salah satu dari mereka dulu." Ucap Dela lalu menghubungi farel untuk memberitahu kalau mereka sudah ada di taman.
"Gua udah chat farel, katanya bentar lagi mereka datang ke sini. Ternyata benar, mereka lupa kalau ada janji ngumpul di sini."
"Ih, masih umur belasan kok udah pikun."
"Nggak usah ngomongin orang, Zar,, lu juga sama."
"Diam lu, al, nggak usah ngumbar aib." Ucap Zahra sedikit kesal.
"Kok suasana sore ini kayak ada yang berbeda ya." Ucap Aleya dalam hati.
"Hai, sorry ya bikin kalian nunggu."
"Iya nggak apa-apa. Yah, walaupun aneh siapa yang bikin perjanjian ketemu, siapa yang telat."
"Ya maaf,."
__ADS_1
"Semuanya udah ngumpulkan? " Tanya Angga.
"Belum, ga, Revan belum datang." Ucap dela.
"Sorry gua telat." Ucap Revan yang baru saja datang.
"Panjang umur baru diomongin langsung datang." Ucap Zahra.
"Lu nggak telat kok, van, kita bertiga aja baru sampai sini." Ucap sandi.
"Udah langsung ke poinnya aja, kalian ngapain nyuruh kita semua kumpul di sini? " Tanya Dela.
"Jadi gini gua sama angga punya rencana. Gimana, kalau penyelidikan soal misteri sekolah ini kita hentikan dulu. Gua mau kita semua lebih fokus ke Tia, biar buling yang dia alami nggak berakibat fatal." Ucap Sandi memberi penjelasan.
"Jadi gimana? Kalian setuju nggak? " Tanya Angga.
Sempat beberapa saat suasana menjadi hening.
"Emangnya kita nggak bisa ya? Menangani semuanya? " Tanya Aleya.
"Bisa aja, al, tapi pasti ada yang kita prioritaskan dan kita minoritaskan.
"Maksud gua gini, kita kan jumlahnya lumayan banyak nih, jadi kita bagi dua kelompok aja. Siapa aja yang menjaga tia, dan siapa aja yang menyelidiki misteri ini lebih lanjut."
"Tapi kan kalau ada info terkini di antara keduanya, kita harus memberi kabar satu dengan yang lainnya. Dan lagi pula kita jumlahnya 9 orang, jadi gua rasa, kalau untuk dibagi dua kelompok nggak bisa. Salah satunya harus ada yang lebih.
"Ya memang, kalau ada info terkini di antara keduanya memang harus saling kasih kabar. Tapi kan hanya untuk saling ngasih kabar bukan untuk membantu atau ikut terlibat. Dan untuk jumlah kelompok yang tak sama, masih ada satu orang lagi yang bisa melengkapi jumlah keseluruhan dari kita."
"Siapa?"
"Kak Sinta. Kalian lupa sama dia? Bahkan menurut gua, kak sinta itu orang yang paling penting loh."
"Wow, jago juga dia kalau berdebat." Ucap Revan dalam hati mengagumi aleya.
"Ya,, oke deh. Tapi, kalau kita bentuk kelompok apa kalian nggak ada yang keberatan? " Tanya sandi sambil menatap satu persatu teman-temannya.
"Kalau gua sih gimana aja oke." Jawab farel dan yang lainnya pun memberi jawaban yang sama.
"Harus jujur, kalau ada yang mengganjal sampaikan aja." Ucap Aleya.
"Kita serius, al." Jawab mereka bersamaan.
"Oke, berarti kita bentuk kelompoknya ya. BTW, siapa yang jadi ketuanya? " Tanya Angga.
"Nggak ada ketua dan anggota, samain aja, biar nggak ada yang mengatur dan diatur. Jadi, nggak ada yang merasa terpaksa dan memaksa." Jawab Aleya.
"Oke oke, jadi, yang bentuk kelompoknya siapa?
"Gini aja, viona, fita, farel, Zahra, dan angga. Menjaga tia. Sedangkan gue,, Dela Revan, Sandi dan kak Sinta menyelidiki misteri sekolah ini. Gimana? setuju nggak? Kalau nggak setuju bilang aja."
"Gue setuju,." Ucap Dela.
"Iya gue juga setuju." Ucap Viona lalu yang lainnya pun mengangguk setuju.
"Oke, semuanya selesai kan? berarti tinggal kita bicarain ini sama Kak Sinta. Nanti kalau ada yang ketemu sama Kak Sinta, tolong sampaikan ya." Ucap sandi lalu mereka semua mengangguk.
Saat mereka semua sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba suasana menjadi berbeda.
"Kok suasananya makin aneh gini ya? " Aleya bertanya-tanya dalam hati.
"Guys, kalian rasain suasana yang aneh nggak sih? " Tanya Zahra.
"Loh, lu juga ngerasain Zar?"
"Iya, Al, lu ngerasain juga? " Tanya Zahra dan dijawab anggukan oleh Aleya.
"Kalian ngerasain nggak? " Zahra bertanya-tanya kepada teman yang lainnya lalu mereka mengangguk.
"Masuk aja yuk, perasaan gua udah nggak enak nih." Ucap viona.
Mereka sudah beranjak dari tempat duduknya masing-masing hendak menuju ke asrama namun tiba-tiba saja.
Wuusssshhhh
Bersambung.........
_
Hai, bagaimana kabarnya hari ini? Maaf ya, kemarin nggak sempat update. Dan hari ini juga updatenya agak sedikit telat. Yang biasanya siang, ini malah malem, tapi nggak apa-apa kan ya? Yang penting up daripada kayak kemarin.
Aku itu, kemarin nggak up karena sibuk banget. Dan aku juga sempat kehabisan ide, tapi alhamdulillah bisa nulis episode ini.
Semoga para readers masih setia menanti ya.
__ADS_1