Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 47


__ADS_3

15 menit pun berlalu sedangkan wanita yang berumur 40 tahun bernama Rana Faza itu masih belum siuman dari pingsannya.


Sementara frislly beserta beberapa art lainnya mengoleskan minyak kayu putih di tubuh Rana. Kehangatan dan aroma minyak kayu putih yang terasa oleh seseorang yang sedang pingsan bisa membantu nya agar cepat siuman.


"Bunda, ayo dong Bunda bangun! Jangan lama-lama pingsannya. Jangan bikin Frislly sama abang khawatir Bun. Bunda bangun ya." Ujar Frislly dengan air mata yang membasahi pipinya dari tadi.


"Ka..kakak." Bu Rana berkata lirih.


"Bunda! Bunda udah sadar? Bunda mau apa? Bunda butuh minum?"


"Frislly. Bagaimana keadaan kakak kamu?"


"Frislly belum tahu, Bun, ayah belum ngasih info apa-apa. Bunda tenang dulu ya. Kita doakan aja semoga Kakak nggak kenapa-napa."


"Aamiin. Semoga saja begitu. Abang ke mana? Frisly?"


"Abang ada di bawah Bun, mau frisly panggilin Abang? " Rana mengangguk, kemudian Frislly keluar dari kamar milik bundanya hendak menemui abangnya.


...


Di rumah sakit.


Seorang lelaki berkisaran umur 40 tahun, berjalan tergesa-gesa menuju ke arah ke tujuh remaja tersebut.


"Fita, Dela, farel, gimana keadaan sandi? dia nggak kenapa-napa kan?"


"Eh... Om... Sa..Sandi."


"Sandi kenapa Fita? Apa yang terjadi dengan sandi?!"


"Permisi, apakah keluarga dari Ananda sandi fandra ARafit sudah datang?"


"Saya dok, saya ayahnya sandi. Bagaimana dengan keadaan anak saya dok? Anak saya baik-baik saja kan dok?"


"Saya harap bapak tenang terlebih dahulu ya pak. Mari ikut saya Pak." Laki-laki yang bernama lengkap fajar Arafit itu mengikuti langkah dokter.


"Kok Om fajar ke sininya sendirian doang ya? Bang Yogi sama tante Rana dan frisly ke mana? " Tanya farel.


"Gua nggak tau, rel." Jawab Fita.


...


"Pak, ini ayah dari Ananda sandi fandra Arafit. Silakan dibantu untuk melihat jenazah anaknya." Ucap dokter kepada petugas kamar mayat.


"Baik dok. Mari Pak ikut saya ke dalam." Ajak petugas kamar mayat dengan ramah.


"Sebentar. Ini maksudnya apa? " Tanya Pak fajar dengan heran.


"Nanti akan saya jelaskan di dalam Pak, mari ikut saya ke dalam." Ajak petugas tersebut sekali lagi.


Pak fajar hanya mengikuti langkah petugas itu dengan perasaan bingung dan gelisah.


Petugas tersebut berhenti di dekat salah satu jenazah.


"Apa yang terjadi pak?! Itu nggak mungkin jenazah anak saya kan?!"


"Mohon maaf sekali Pak, karena puing-puing bangunan yang menimpah anak bapak cukup banyak dan besar. Nyawa anak bapak tidak bisa diselamatkan." Ujar petugas tersebut sambil perlahan membuka kain putih yang menutupi jasad sandi.


"Nggak mungkin! Nggak mungkin ini semua terjadi!  ini bukan anak saya! Ini bukan sandi anak saya!  anak saya masih hidup. Dia masih sehat, dia nggak mungkin meninggalkan keluarganya secepat ini." Seorang ayah yang terkenal tegar itu menangis tersedu-sedu di hadapan jasad anaknya.


Kain putih tersebut sudah dibuka semuanya. Terlihatlah tubuh yang sedang berbaring lemah di sana dengan senyuman yang terpancar di wajahnya. Ada beberapa bagian tubuhnya yang memar akibat tertimpa reruntuhan bangunan.


Pak fajar langsung memeluk tubuh anaknya yang sudah kaku dan sedingin es itu sambil menangis.


"Kakak, maafin ayah ya Kak ayah nggak bisa jagain kakak. Ayah nggak ada di saat terakhir-terakhir dengan kakak. Maafin ayah juga kalau selama kakak hidup ayah nggak bisa membahagiakan kakak."


"Jenazahnya mau dibawa pulang malam ini atau besok pagi Pak? " Tanya petugas tentu setelah pak fajar sudah bisa mengontrol rasa kesedihannya.


"Sebentar ya Pak, saya minta persetujuan dari anggota keluarga saya yang lainnya terlebih dahulu."


"Baik, pak, kalau sudah ada keputusannya segera kabari saya ya Pak." Ujar petugas lalu Pak fajar pun mengangguk setuju.


"Permisi, apa kami boleh melihat jasad sandi? " Aleya bertanya untuk mewakili teman-temannya.


Petugas melirik Pak fajar untuk meminta persetujuan kemudian Pak fajar pun mengangguk.


"Silakan, adek, tapi jangan semuanya ya. Secara bergantian masuk ke dalamnya." Ujar petugas memberi peringatan.

__ADS_1


"Angga sama Dela duluan aja yang masuk ke dalam." Suruh Fita.


Angga dan Dela memasuki kamar jenazah bersama petugas. Kemudian petugas memberitahukan kepada mereka di mana letak jenazahnya sandi.


Air mata yang sudah berhenti mengalir, kini harus kembali mengalir deras ketika sampai di hadapan jenazah sahabat yang selama ini mengisi hari-hari Dela dan Angga.


"san, kita nggak marah kok sama lu. Kita nggak kecewa sama lu karena lu ninggalin kita semua. Kita ikhlas san, kalau memang lu mau ninggalin kita semua terlebih dahulu. Kita ikhlas walau kita harus berpisah dengan kata-kata kematian. Kita akan mencoba ikhlas, hari-hari yang akan kita jalani kedepannya tanpa kehadiran lu. Tanpa seseorang yang lemah lembut tanpa seseorang yang bijaksana. Insya Allah kita akan belajar mengikhlaskan kepergian lu san." Ujar Angga sambil menggenggam tangan kanan sandi yang terasa begitu dingin.


"San makasih ya udah pernah mewarnai hari-hari kita. Makasih ya udah bikin kita tersenyum di setiap harinya. Makasih sudah menjadi sahabat yang terbaik. Makasih lu udah ngingetin kalau kita salah, lu negur kita kalau kita berbuat nggak baik. Makasih juga sudah menunjukkan sikap dewasa lu diantara kita semua. Lu sahabat terbaik kita san, mungkin nanti akan ada yang lebih baik dari lu, tapi yang seperti lu, nggak akan pernah ada. Kita nggak berharap akan ada seseorang yang menggantikan posisilu karena memang sampai kapanpun posisi lu di hati kita semua nggak akan pernah terganti. Makasih sudah menunjukkan kepada kita arti sahabat yang sesungguhnya. Arti sahabat yang sejati. Persahabatan sejati, itu adalah persahabatan yang dipisahkan oleh maut. Dan hari ini lu membuktikan. Kalau persahabatan kita, adalah persahabatan yang sejati." Ujar Dela.


"Kita pamit keluar ya San. Sampai ketemu besok, kita akan mengantarkan lu ke tempat terindah di sisinya." Pamit Angga kemudian Angga dan Dela keluar dari kamar jenazah.


"Boleh bertiga." Ucap petugas kepada teman-teman sandi yang lainnya.


Zahra, Fita dan farel masuk ke kamar jenazah.


"Hai ganteng, apa kabar hari ini? Pasti kamu baik-baik aja kan? Aku cuman mau bilang makasih ya untuk hari-hari kemarin. Terima kasih sudah membiarkanku untuk merasakan akan indahnya cinta. Makasih udah menempatkan aku sebagai cinta terakhir di dalam kehidupanmu. Makasih juga sudah menolongku di saat aku hhendak ketimpa puing-puing bangunan itu. Aku nggak akan menyalahkan diriku, atau menyalahkan siapapun seperti nasehatmu yang lalu. Aku yakin, dibalik kejadian ini pasti ada hikmahnya. Selamat tinggal ya ganteng. Bahagia ya di sana. Semoga Allah mempertemukan kita semua di surganya. Thank you for everything my boyfriend."


"Hai sandi. Senyuman lu indah banget. Nggak nyangka banget ya. Tadi siang di kantin, kita masih bercanda bareng. Ketawa bareng saling meledek satu sama lain. Tapi hari itu terasa mimpi bagi gue. Suara tawa yang siang lalu terdengar kini telah senyap. Ekspresi emosi lu pas gua ngambil makanan lu kini telah tergantikan dengan senyuman abadi. Mata yang jika menatap siapapun akan terlihat bijaksana dan berwibawa.. kini telah tertutup rapat. Nasehat yang selalu lu berikan disaat kita melakukan kesalahan.. kini hanya menjadi kenangan yang tidak akan pernah terulang kembali. Makasih sudah mengajarkan kita. Kalau setiap kebersamaan itu wajib menjadi kenangan yang tersimpan. Bahagia ya di sana." Ucap Fita.


"Halo sahabat bijaksanaku yang bernama sandi fandra arafit. Gue nggak mau bilang panjang lebar sama lu. Gue cuman mau bilang makasih untuk semua yang sudah diberikan kepada kita. Terima kasih karena sudah mengajarkan kita kalau waktu itu sangatlah berharga. Terutama waktu kebersamaan kita di siang hari tadi. Maaf ya kalau selama ini sikap humoris dan bercandaan gue ada yang menyinggung perasaan lu. Mudah-mudahan lu bisa maafin kita semua ya San." Ujar farel. Laki-laki yang terkenal dengan kehumorissannya itu, kini menjadi sangat rapuh.


Petugas yang dari tadi memperhatikan semuanya juga meneteskan air mata.


...


"Permisi, apa kita boleh gabung di sini?"


"Oh tentu boleh. Silakan duduk." Suruh bu Wulan sambil menunjuk bangku kosong yang ada di hadapannya.


"Makasih ya Bu, sudah mengizinkan kita untuk gabung di sini."


"Sama-sama Tia. Bagaimana keadaan kamu? Nggak kenapa-napa kan?"


"Alhamdulillah saya nggak kenapa-napa Bu. Tadi hampir aja ketimpah puing-puing bangunan, tapi alhamdulillah ada kak Sinta nolongin saya."


"Syukur alhamdulillah. Kalian mau makan apa?? biar sekalian Ibu pesenin."


"Apa itu nggak merepotkan Bu?"


"Enggak dong Tia, sudah kalian pilih saja menu apa yang mau kalian makan."


"Apa? Jenazahnya sandi??  sandi meninggal? " tanya Tia panik.


"Iya Tia. Sandi sudah meninggal dunia. Ya sudah Revan, kalau kamu ingin ke rumah sakit. Mama izinkan."


"Makasih ya mah." Revan beranjak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan kafe tersebut.


"Innalillahiwainnailaihirojiun. Kasihan banget sahabat-sahabatnya sandi, pasti mereka merasa kehilangan banget."


"Ya begitulah Tia. Namanya juga, dunia ini hanya sementara. Dan maut kan sudah ada yang mengaturnya. Ayo dimakan cemilannya, sambil nunggu pesanan kalian datang."


"Apakah kamu juga akan sedih? Jika tahu kalau seseorang yang kamu sayang sudah meninggal dunia? " Tanya seseorang yang tidak mendapatkan jawaban dari siapapun.


...


"Aleya." Seseorang memanggil Aleya kemudian Aleya menoleh.


"Revan? Akhirnya lu datang juga ke sini."


"Gimana? Apa aja yang terjadi?"


"Ya pasti mereka diliputi dengan rasa kesedihan lah. Tapi untuk yang dibicarakan sama mereka di dalam kamar jenazah tadi gua nggak denger apa-apa. Soalnya gua nggak ikut masuk ke dalam."


"Lah kenapa?"


"Gua merasa kayak nggak ada kepentingan aja kalau gua masuk ke dalam., bukan cuman gua doang kok yang gak masuk ke dalam, Viona juga nggak masuk."


"Ikut gue ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Udah nggak usah kepo." Revan menarik tangan aleya untuk mengikutinya.


"Apaan sih? Kita ngapain ke sini? " Tanya Aleya heran saat mereka sampai di lorong yang cukup sepi.


"Udah lu diem aja." Revan menyuruh Aleya diam lalu Aleya menurutinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Aleya merasa suasana di sekitarnya berubah menjadi dingin. "Apaan nih? Kok tiba-tiba jadi horor kayak gini suasananya?"


"Hai." Revan melambaikan tangannya kepada sesuatu yang tidak terlihat oleh Aleya.


"Lu nyapa siapa?  hantu?"


"Dia teman kita. Yang sekarang sudah menjadi arwah."


"Maksud lu sandi?"


"Nah pintar. Dia sekarang ada di sini. Lu mau lihat?"


"Gimana caranya?"


"Sebenarnya mata batin lu itu udah kebuka sedikit. Tapi lu nya aja yang terlalu masa bodoh. Sini gua kasih tahu caranya, lu pejamin mata lu tarik dan buang nafas sherillex  mungkin. Terus fokuskan pikiran lu kepada sandi atau kepada lorong rumah sakit ini." Aleya mulai melakukan apa yang dikatakan Revan.


"Udah sekarang buka mata lu." Suruh Revan setelah kurang lebih 2 menit aleya menutup mata.


Aleya membuka matanya secara perlahan dan pertama kali yang Aleya lihat adalah sandi sahabatnya yang telah meninggal.


"Sa..Sandi. ini beneran lu?"


"Iya Al ini beneran gue. Makasih ya kalian udah menjalankan rencana kita dengan baik. Gue seneng banget karena gue meninggal bukan dengan cara menjadi tumbal. Coba aja, kalau rencana itu kalian undur pasti gua akan meninggal dengan cara yang tragis. Atau mungkin, jenazah gue juga dikuburkan secara tidak layak seperti yang lainnya."


"iya san sama-sama. Kok lu bisa tahu? Kalau yang sebelumnya itu dikuburkan secara tidak layak."


"Ada salah satu penghuni sekolah yang ngasih tahu ke gua. Ini menjadi tugas kalian yang berikutnya. Kalian harus meminta pihak yang berwajib untuk membongkar kuburan itu, dan menguburkan jenaza di sana secara layak."


"Itu juga yang gue rencanain san. Nanti gua sama Aleya coba cari waktu yang tepat."


***


Hari pun telah berganti. Malam yang cukup memilukan dan menguras air mata sudah berlalu. Meskipun begitu, rasa kesedihan dan duka yang mendalam tetap terasa di hati semua anggota keluarga dan sahabat Sandi.


Terutama seorang yang sudah melahirkan Sandi ke dunia. Juga seorang adik yang selama ini sangat dekat dengan kakaknya.


"Frisly ayoo keluar? Masa Frislly nggak mau melihat kakak sandi untuk terakhir kalinya sih? Emang Frislly nggak kangen sama kakak? " Fita membujuk frislly agar mau keluar kamar. Karena semenjak Frislly mendengar kabar buruk tentang kakaknya, Frislly tidak mau keluar dari kamarnya. Bahkan waktu sarapan frislly lewatkan.


"Frisly nggak suka sama kakak yang sekarang! Frislly mau pas Kakak datang ke rumah itu kakak bisa main lagi sama frislly. Bukan keadaan kakak yang seperti ini. Frislly nggak suka sama kakak yang sekarang. Frislly nggak mau ketemu Kakak, Kakak nggak bisa diajak main." ujar frislly sambil menangis di dalam sana.


"Frislly. Kamu jangan kayak gini, Frislly tahu kan kalau kakak Sandi udah marah itu serem banget, nanti kalau kakak sandinya marah karena Frislly di kamar terus gimana? Emang Frislly nggak takut kalau kakak marah?"


Frislly membuka pintu kamarnya lalu memeluk Fita dengan erat. "hiks, Kak Fita, frislly nggak mau kehilangan Kakak, frislly masih mau main dan bercanda bareng lagi sama kakak."


"Fita mengusap lembut pundak dan kepala gadis belia tersebut. "Frisly jangan nangis ya. Kakak kan nggak suka kalau melihat Frislly nangis. Ingat nggak? Kakak pernah bilang apa ke frislly."


"Iya Kak, kakak sandi pernah bilang ke frislly. Kalau ada seseorang yang bikin Frislly nangis, Kak sandi bakalan menyakiti orang itu. Dan akan membencinya."


"Nah berarti. Kalau Kak sandi yang bikin Frislly nangis, bisa jadi Kak sandi akan nyakitin dirinya sendiri, dan Kak sandi akan benci sama dirinya sendiri. Emang frislly mau? Kalau Kak sandi ngelakuin itu?"


"Enggak Kak, frislly nggak mau itu semua terjadi."


"Ini baru adiknya kakak sandi yang pintar. Sekarang frislly ikut Kak Fita keluar ya, frisly juga harus bisa bikin Bunda senyum. Kita, harus mengantarkan Kak Sandi ke peristirahatan terakhirnya dengan senyuman. Biar Kak sandi juga ikut tersenyum disaat kepergiannya. Oke? " Frislly mengangguk. Lalu mereka berdua menuju ke lantai bawah ke tempat jenazah sandi berada.


***


Bukan hanya di rumah keluarga aRafit yang merasakan duka mendalam. Di rumah keluarga arvanza pun lagi-lagi merasakan duka mendalam. Satu bulan setelah kepergian Putri keluarga arvanza, kini keluarga tersebut harus kehilangan tuan besar keluarga arfanza.


Ya, memang korban yang ditemukan semalam oleh pihak tim SAR itu adalah Pak Indra kondisinya memang benar-benar sangat memprihatinkan bahkan lebih dari kondisi jenazah anaknya Kanaya arfanza.


Kepalanya yang sudah tidak berbentuk karena tertimpa dinding yang cukup berat dan besar. Jadi pihak tim SAR hanya menemukan tengkoraknya saja. Lalu seperti anggota tubuh lainnya yaitu tangan, kaki, dan badan. Semuanya berpencar karena sebelum dinding besar itu menimpa tubuh dan kepala Pak Indra. Kaca-kaca jendela besar terlebih dahulu memisahkan tangan dan kaki Pak Indra dari tubuhnya.


Yang hadir dalam acara pemakaman Pak Indra hanyalah bu Wulan, Pak Yusuf, beserta istrinya. Sedangkan Revan tidak ikut, karena dirinya juga harus menghadiri acara pemakaman sahabatnya yaitu sandi.


Sedangkan dari kejauhan, ada segerombolan makhluk yang mengintai acara pemakaman.


"Hei, lihatlah, kondisi dia mati sama sepertiku. Posisinya tengkurap. Tuhan memang benar-benar adil."


"Tangannya juga dan kakinya juga sama sepertiku. Terpisah oleh anggota tubuh yang lainnya."


"Dan kepalanya, wow, itu sangat mirip dengan kondisi kepalaku. Saat dia membenturkan kepalaku berkali-kali hingga beberapa bagian menjadi retak. Juga menghancurkan kepalaku dengan palu yang besar. Sekarang kondisinya sama mengerikan seperti kita."


"Aku bahagia sekali hari ini hahaha."


"Eh kau tidak boleh seperti itu. Nggak baik tertawa di atas penderitaan orang lain."


"Maaf aku lupa karena saking bahagianya." Beberapa arwah penasaran itu pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2