Tragedi Dalam Asrama

Tragedi Dalam Asrama
episode 40


__ADS_3

"Naya, maafkan papa nak, papa nggak bermaksud untuk membunuh kamu." Pak Indra bergumam, dan Rifki mendengarnya.


"Hah? Apa yang papa maksud tadi? " Rifki bertanya-tanya, namun pastinya tidak akan ada yang bisa menjawab.


***


Setelah puas menumpahkan seluruh hal yang mengganjal di hatinya melalui air mata, aleya berpamitan kepada Rendy untuk kembali ke asrama. Tentu saat di perjalanan menuju sekolah, aleya dibantu oleh Rendy. Karena aleya tidak terlalu hafal jalan yang dia lalui.


"Thanks ya, ren,, lu udah anterin gue. Dan thank you juga, karena lu udah mau menceritakan semuanya ke gue."


"Sans, kayak sama siapa aja, sorry ya gua cuman bisa nganter lu sampai sini. Lu bisa kan masuk ke asrama? Oh iya. Kalau pikiran lu lagi nggak tenang, datang ke tempat tadi aja, soalnya tempat itu juga salah satu tempat favorit gue pas masih hidup dulu."


"Yah, untuk soal masuk ke asrama itu hal mudah. Tapi boleh nggak? Ren? Kalau nanti gue ke tempat itu ngajak sahabat gue?"


"Lebih baik jangan. Untuk saat ini, tempat itu jangan sampai ada yang datang ke sana, selain lu. bukannya apa-apa, tempat itu kan cukup Indah, gua takut, nanti ada orang yang iseng, dan tempat itu jadi kotor deh. So, please, jangan dikasih tau dulu ke siapa-siapa, oke?"


"Oke. Berarti kita berpisah di sini ya, bye Rendy see you next time." Ucap aleya melambaikan tangan sambil berlalu pergi.


Rendy tersenyum, lalu kembali ke dalam hutan.


...


Di dalam salah satu kamar di asrama putri, viona dan Zahra masih terus gusar dan gelisah menanti sahabatnya kembali. Zahra dan viona terus mencoba menghubungi aleya, namun tetap hasilnya tidak bisa dihubungi.


"Zar ini udah jam berapa?"


"Jam 21.00, vi, emang kenapa?"


"Kalau jam 21.30 Aleya belum pulang juga, kita cari dia, oke?"


Zahra hanya mengangguk lemah.


Di tengah-tengah perasaan gelisah viona dan Zahra tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


Zahra hendak membuka pintu, namun dicegah oleh viona.


"Jangan, takutnya itu bukan manusia."


"Tapi kalau itu aleya? Gimana? Vi?"


"Kalau itu aleya, dia pasti manggil kita."


Sedangkan Aleyya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya cukup merasa kesal karena dari tadi dia mengetuk pintu, namun tidak dibukakan.


Aleya menghela nafas. Lalu memanggil nama kedua sahabatnya. "Zar, vi, kalian Udah tidur kah? Kok pintunya nggak dibukain?"


"Lu beneran aleya? " Tanya viona dari balik pintu yang tertutup.


"Yah, buruan buka!"


Zahra membuka pintu, lalu Zahra dan viona langsung memeluk aleya.


"Ya ampun! Al! Lu itu dari mana aja sih? Gue sama Viona dari tadi panik tahu nggak nungguin lu pulang." Ujar Zahra.


"Oh, panik karena nungguin, bukan karena nyariin." Ucap aleya sedikit ketus, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kayaknya Aleya marah banget deh sama gue, Zar."


"Kayaknya bukan sama lu doang, vi, sama gua juga kayaknya Aleya marah deh."


"Iya, sikapnya dingin banget."


*****


Tiga hari kemudian.


Hubungan antara aleya dan teman-temannya sedikit renggang, selain karena kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu juga karena aleya belakangan ini sikapnya sangat jauh berbeda. Bukan karena Aleya kesal dengan mereka, tapi Aleya hanya tidak ingin saja jika mereka yang sedang berkumpul dan tertawa bersama, menjadi tidak suka karena kehadiran aleya di tengah-tengah mereka.


Apalagi sikap Dela dan fita, Yang sepertinya sangat kecewa kepada Aleya.


Viona dan Zahra sangat merasa bimbang, karena mereka berdua bingung harus berada di posisi siapa, aleya, sahabat yang sudah kenal dengannya sejak dulu, atau teman-temannya yang baru saja mereka kenal beberapa minggu yang lalu.


...

__ADS_1


Saat ini, aleya sedang berada di perpustakaan sekolah. Bersama dengan Tia. Biasanya Revan juga ada di perpus namun entah mengapa hari ini dia tidak ada di perpus.


"Hai, kamu baca buku apa? " Aleya menyapa tia sekaligus bertanya.


"Aku baca buku diary."


"Buku diary siapa?"


"Buku diary yang waktu itu ditemuin sama fita pas dia lagi bersih-bersih."


"Oh yang itu. Emang, kalau aku boleh tau, itu buku diarynya siapa?"


"Ini buku diary kakak aku."


"Hah? Kakak kamu? Maksudnya gimana? " Tanya aleya tak paham, karena memang tia hanya bercerita kepada Dela dan fita saja.


"Kakak aku juga dulunya sekolah di sini. Tapi sekarang entah ke mana, kata pihak sekolah sih dia dimasukkan ke universitas luar negeri." Tia memberitahu secara singkat.


"Oh begitu."


"Iya. Dan karena adanya buku ini, rindu aku terhadap kakakku, jadi berkurang. Tapi, ada kata-kata di halaman terakhir, yang aku kurang paham."


"Kurang paham gimana?"


"Coba deh kamu baca di bagian ini." Suruh tia sambil menunjuk halaman yang menurutnya ganjil.


"Aku seharusnya tidak memasuki tempat itu karena tempat itu aku kehilangan segalanya." ujar Aleya yang membaca tulisan di buku itu.


"Dan itu menjadi tulisan terakhir kakakku. Di halaman selanjutnya, kosong, tidak ada tulisan lagi."


Aleya membalik halaman selanjutnya, dan memang benar kalau itu adalah tulisan terakhir.


"Ini maksudnya apa ya? Tempat apa yang kakak kamu maksud, dan, kehilangan segalanya itu maksudnya apa?"


"Entahlah, Aku pun bingung memikirkannya." Ucap Tia pasrah.


"Kamu terakhir ketemu Kakak kamu kapan?"


"Sehari sebelum keberangkatannya ke kota ini untuk sekolah di sini."


Tia mengangguk.


"Udah, kamu jangan nangis aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan ketemu sama kakak kamu, dan kita akan mendapatkan arti dari tulisan itu." Ucap Aleya menyemangati tia ketika melihat mata tia sudah berkaca-kaca.


"Ke kelas yuk, bentar lagi bel bunyi." Ajak aleya, lalu mereka menuju kelas masing-masing.


...


Malam harinya.


Pak Indra sedang mengendarai mobil menuju ke rumahnya dari kantor tempatnya bekerja. Yah, Pak Indra sudah pulang dari rumah sakit, karena memang kondisinya tidak terlalu parah, jadi, tidak perlu rawat inap cukup lama.


Sedang fokus mengendarai mobil miliknya, pak Indra tiba-tiba merasakan aura yang berbeda di sekitarnya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, dan hawa di sekitarnya menjadi sedikit mencekam.


"Siapapun itu, tolong jangan ganggu saya! " Pak Indra memberanikan diri untuk mengeluarkan kata-kata larangan.


"Papa." Arwah Kanaya muncul lagi, dan masih dengan sosok menyeramkannya.


Pak Indra terkejut, hingga refleks membanting setir ke arah kiri dan menabrak pengendara jalan yang lainnya dan terjadilah kecelakaan beruntun.


Pengendara jalan lainnya yang tidak terlibat dalam kecelakaan itu, langsung memberi tindakan kepada korban kecelakaan. Untung saja, kecelakaan ini tidak memakan korban jiwa.


...


Sedangkan ibu Leni dan Rifky yang mendapat kabar bahwa Pak Indra mengalami kecelakaan, langsung pergi menuju rumah sakit.


"Dengan keluarga Pak Indra arfanza." Ujar dokter yang baru keluar dari ruangan UGD.


"Saya istrinya, dan ini anaknya. Bagaimana dengan keadaan suami saya??"


"Ibu bisa ikut ke ruangan saya sebentar." Ujar dokter, lalu Bu leni mengikuti dokter menuju ruangannya.


"semoga papa baik-baik aja, ya, Rifky belum siap kalau harus kehilangan papa, karena duka saat kehilangan Kak Naya saja belum hilang." Rifky berkata dalam hati.

__ADS_1


...


"Silakan duduk, Bu." Suruh dokter ketika sampai di ruangannya.


Bu Leni menduduki kursi yang posisinya berhadapan dengan tempat duduk dokter. Lalu Bu Leni mulai bertanya kembali. "Jadi bagaimana keadaan suami saya? Dok? Apakah ada hal yang serius?"


"Akibat dari kecelakaan yang terjadi itu sangat fatal bagi Pak Indra, Bu. Karena saat ini, pak Indra mengalami lumpuh permanen. Kaki, tangan, tubuh dan kepalanya tidak bisa digerakkan, bahkan bicara pun beliau tidak bisa." Dokter menyampaikan kabar buruk itu dengan berat hati.


"Apakah benar-benar permanen??"


Dokter mengangguk. Sedangkan Bu Leni sangat terpukul mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh dokter.


"Mungkin pak Indra membutuhkan perawatan di rumah sakit ini selama beberapa minggu, hingga nanti akan kami izinkan untuk dirawat di rumah." Lanjut dokter kemudian.


Bu Leni keluar dari ruangan, lalu menghampiri Rifky yang sedang duduk termenung. Bu Leni memeluk anak satu-satunya itu, sambil menangis. Rifky yang panik saat melihat mamahnya menangis, ingin bertanya, namun Rifky urungkan karena Rifky ingin membiarkan mamanya meluapkan tangisannya terlebih dahulu agar sedikit tenang.


Setelah tenang, Bu Leni memberitahukan kepada Rifky, dan Rifky pun sangat terpukul mendengar kabar itu. Namun mereka masih bersyukur, karena Pak Indra masih diberikan kesempatan untuk hidup bersama mereka oleh Tuhan.


****


Keesokan harinya.


Saat jam istirahat Aleya memutuskan untuk pergi ke danau yang ada di hutan belakang sekolah. Karena guru yang mengajar di pelajaran ketiga tidak masuk, jadi aleya memutuskan untuk menghabiskan waktunya di tempat nyaman itu. Tanpa Aleya sadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.


"Danau ini kalau siang juga terlihat bagus. Eh walaupun aku lebih suka saat keadaan senja, karena lebih indah aja, gitu." Aleya berbicara sendiri.


Saat Aleya sedang duduk santai, tiba-tiba daun yang ada di atas pohon di belakangnya aleya, berjatuhan mengenai kepala aleya.


"Hei! Kok daun-daunnya bisa pada jatuh kayak gini sih." Ujar Aleya sedikit kesal sambil membersihkan daun-daun yang menempel di baju dan hijabnya.


Daun-daun itu terus berjatuhan, padahal tidak ada angin kencang di sekitarnya. Merasa ada yang tidak beres, aleya menoleh ke bagian atas pohon. Dan terlihatlah, Rendy yang sedang tersenyum jahil di atas sana.


"Rendy! Bener-bener ya lu!"


"Hehehe, lagian sih lu ngelamun aja sekalian aja gue jailin, daripada gua nganggur. By the way, tumben lu datang ke sini siang-siang, emang nggak ada pelajaran?"


"Anjir lu ya! Turun nggak lu! Nggak ada pelajaran, lagi jamkos. Mangkanya gue main ke sini. Eh tapi, lu kan hantu, kok siang-siang bisa muncul?"


"Hahaha, lu percaya? Sama kata-kata kalau siang-siang itu nggak ada hantu?"


"Ya kata orang-orang sih gitu."


"Coba nih ya gua tanya, arwah itu makhluk apa?"


"Makhluk gaib."


"Jin dan iblis itu makhluk apa?"


"Makhluk gaib juga."


"Sosok jin iblis, hantu atau arwah itu sama-sama menyeramkan ya kan?"


"Iya. Mereka kan memang sejenis."


"Nah jadi, kalau arwah, jin, dan iblis itu sejenis berarti mereka sama dong. Gimana ceritanya, kalau manusia bisa digoda iblis di siang hari, sedangkan orang-orang pada percaya kalau hantu itu nggak ada di siang hari."


"Iya juga ya."


"Baru sadar kan lu, dari tadi ke mana aja?"


"Ya sorry, gue nggak terlalu berpikir ke sana."


Rendy turun dari atas pohon, lalu duduk di samping Aleya.


"Al."


"Yah, kenapa?"


"Lu kok ke sini bawa temen sih?"


"enggak kok gua nggak ajak siapa-siapa ke sini." Ucap Aleya bingung sambil menoleh ke kanan dan kirinya.


"Yakin? Terus itu siapa?"

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2