
"Sandi!!! " Teriak Aleya panik ketika melihat kaca itu menimpah tubuh sandi.
"Al! Lu kenapa? sandi kenapa Al?! " Zahra sangat merasa kebingungan di situasi saat ini.
"Al! Kok lu nggak jawab pertanyaan gua sih? " Zahra bertanya lagi namun tidak mendapatkan jawaban.
...
Sama seperti yang lainnya, gadis kelas 1 SMA yang bernama Mutia Clarissa itu pun berusaha menyelamatkan dirinya. Namun karena penglihatan Tia yang terhalang oleh kabut tebal Tia hanya berjalan lurus saja.
"aaww!! " Tia berteriak ketika merasa menabrak sesuatu. Tia meraba sesuatu yang ditabraknya tadi hingga Tia sadar kalau itu adalah dinding.
Tia hendak melanjutkan langkahnya lagi namun kemudian bumi di sekitarnya terasa bergetar. Alhasil Tia merasa ketakutan karena mungkin saja bangunan yang ada di dekatnya akan segera runtuk.
Tia mendengar seperti ada suara benda yang hendak jatuh ke arahnya. Tia mempercepat langkahnya, namun ada sebongkah batu yang menghalangi langkahnya. Hingga Tia terjatuh karena merasakan sakit di kakinya yang diakibatkan oleh batu tadi.
Tia tidak bisa berdiri dan itu membuat Tia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan menimpa dirinya.
"Hiks.. Ibu, maafin adik ya kalau adik nggak bisa nemenin Ibu lagi. Kakak,, suatu saat nanti Kakak pulang ke rumah nemenin ibu ya Kak." Tia menangis karena sudah merasakan putus asa.
Di tengah keputus asaannya, Tia seperti merasa kalau ada seseorang yang akan menghampirinya. Tia juga merasa kalau ada benda besar yang akan menimpanya.
"Adik awas dek!!! " Terdengar suara seseorang berteriak yang sudah tidak asing lagi di telinga Tia.
Sebelum Tia berkata dan bertanya-tanya, Tia merasa seperti ada yang menarik tangannya dengan kuat. Bahkan Tia merasa kalau dirinya melayang terbang meninggalkan tempat itu.
"Kamu nggak papa? ada yang sakit nggak?"
"K-kakak. Ini beneran Kakak? " Tia sungguh merasa terharu dan terkejut saat melihat seseorang yang ada di hadapannya. Walaupun di sekitar Tia terlihat gelap, entah mengapa Tia bisa melihatnya.
"Maaf, maksud kamu apa ya? " Orang itu bertanya dengan heran, lalu Tia melepas pelukannya.
"Ma..maaf kak Sinta. Aku kira tadi itu Kak Sinta kakak aku."
"Oh ya sudah tidak apa-apa. Apakah kamu merasa kesakitan?"
"Nggak ada kak. Paling cuman kaki aku doang terasa sakit sedikit."
"Aku obati kaki kamu ya." Tia hendak menolaknya namun kak Sinta terlebih dahulu membersihkan luka-luka yang ada di kaki Tia.
...
Masih di tempat yang sama namun jarak mereka cukup jauh. Sama seperti yang lainnya, Rifky juga merasa bingung Dan panik. Di suasana mencekam seperti yang sedang Rifky rasakan saat ini, Rifky mencari keberadaan papanya.
Rifky khawatir, kalau papanya itu tertimpa puing-puing bangunan sekolah yang runtuh. Apalagi kondisi papanya yang tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Jangankan untuk melarikan diri untuk mengeluarkan suara pun papanya tidak bisa melakukannya.
Rifky terus mencari keberadaan Papanya mengandalkan insting yang ada di dalam dirinya. Tentu sambil berdoa di dalam hati.
5 menit pun berlalu, kabut hitam itu mulai menghilang secara perlahan. Hingga beberapa orang yang ada di sekitaran sekolah bisa melihat dengan jelas kondisi bangunan yang beberapa menit lalu menjadi tempat mereka menempuh pendidikan.
namun saat ini bangunan itu sudah sangat berantakan, bahkan dinding-dinding yang kokoh pun tidak ada yang berdiri lagi.
Karena kabut sudah sepenuhnya menghilang Rifky mendekati reruntuhan bangunan berharap menemukan papanya masih dalam keadaan selamat. Beberapa orang juga menghampiri rifky, bahkan ada beberapa aparat kepolisian yang tadi dihubungi oleh bu Wulan.
"Pa.. papaaaaa!!! Papa ada di mana?? papa nggak apa-apa kan? " Rifky berteriak memanggil nama papanya sambil menangis.
Salah satu anggota kepolisian menghampiri Rifky. "Adik, adik tenang dulu ya. Nanti kami beserta tim yang lainnya akan membantu mencari keberadaan papa adik." Pak polisi itu menenangkan Rifky.
"Pak, tolong cari papa saya ya. Temui dia, dalam keadaan selamat."
"Kami akan berusaha. Adik juga bantu kami dengan doa ya."
"Pak, tolong Pak, tadi juga saya melihat ada salah satu teman dekat saya yang tertimpa reruntuhan bangunan." Aleya melaporkan perihal sandi kepada aparat kepolisian.
"Baik adik, terima kasih informasinya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan orang-orang yang tertimpa puing bangunan sekolah ini." Pak polisi berkata sangat bijak..
"Saya minta, untuk yang masih ada di sekitaran sini silakan kembali saja ke rumahnya masing-masing. Agar tidak mempersulit pekerjaan kami."
"Baik, Pak, nanti saya akan memberikan instruksi kepada semua siswa dan pegawai SMA angkasa." ujar Bu Wulan.
Para anggota tim SAR dan aparat lainnya melaksanakan tugasnya.
...
"Al, yang lu maksud teman dekat kita itu siapa? " Tanya Fita ketika mereka sampai di cafe dekat sekolah.
"Sandi." Jawab Aleya lemah. Semua orang-orang yang mengenal sandi pun langsung terkejut.
"A..apa ma-maksud lu Al? Lu nggak serius kan? " Zahra tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Aleya.
Aleya hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Tanda kalau dirinya berkata jujur.
"Nggak, sandi nggak mungkin kenapa-napa. Gue yakin sandi pasti selamat, gua yakin! Sandi itu kuat, dia pasti bisa selamat." Ujar dela sambil menangis.
"Kita berdoa yang terbaik untuk Sandi dan untuk seluruh korban SMA angkasa." Ucap aleya.
15 menit pun berlalu, dan mereka hanya sibuk memikirkan keadaan sandi dibalik reruntuhan bangunan sekolah SMA angkasa.
__ADS_1
"Bentar.. viona ada, fita ada, Dela ada, Zahra ada. Hmmmm... Siapa lagi ya yang nggak ada? " Aleya menatap satu persatu teman teman di dekatnya.
"Kak Sinta! Tia! " Aleya berteriak tiba-tiba saja sontak itu membuat keempat temannya terkejut.
"Lu kenapa al? Emang Kak Sinta sama Tia kenapa?"
"del, lu tadi ngeliat keberadaan kak Sinta sama Tia nggak?"
"Astagfirullah iya. Tia sama Kak Sinta ke mana ya?! " Fita, Viona dan Zahra pun menjadi ikutan panik.
"Mau kita cari nih?"
"Boleh, al, tapi kita mau cari di mana?"
Aleya berpikir sebentar kemudian mengajak teman-temannya ke suatu tempat.
...
"Sudah selesai. Apakah ada yang sakit? " Tanya Kak Sinta setelah mengobati luka Kaki Tia.
"Udah nggak ada yang sakit, Kak, makasih ya." Tia mengucapkan terima kasih kepada Kak Sinta kemudian Kak Sinta pun tersenyum.
"Senyuman itu.. kenapa kak Sinta yang ini makin mirip aja ya sama kakak aku? " Tia merasa heran.
"Kamu kenapa diem aja? Sekolah kita sudah hancur. Jadi rencananya kamu mau sekolah di mana? Setelah ini?"
"Kak Sinta tahu dari mana kalau sekolahan kita udah hancur?"
"Karena aku mendengar suaranya tadi. Jadi bagaimana? Apa rencana setelah ini?"
"Aku nggak tahu, Kak, mungkin aku akan kembali ke kampung bersama ibu."
"Melanjutkan sekolah di kampung?"
"Enggak kak, mungkin aku akan bantu ibu bekerja."
"Bekerja? Untuk apa? Memang ayahmu ke mana?"
Ekspresi Tia langsung berubah ketika mendengar pertanyaan itu. "Ayah udah lama ninggalin keluarga kecil kita Kak." Tia berkata dengan suara menahan tangis.
"Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Lantas? Bagaimana dengan saudaramu yang lain?"
"Nggak apa-apa Kak. Aku memang sudah harus kuat ketika mendapatkan pertanyaan tentang seorang ayah. Aku punya seorang kakak perempuan, tapi, keberadaannya tidak kami ketahui."
"tidak diketahui? Maksudmu Kakak kamu menghilang?"
"Disebabkan oleh?"
Tia pun menceritakan semuanya kepada Kak Sinta.
"Aku kangen banget, Kak, sama Kakak aku." Ujar Tia setelah bercerita.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, kak."
"Menurut kamu, keadaan kakak kamu bagaimana sekarang?"
"Mungkin kakak aku sekarang udah sukses. Dan sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini."
"Kalau yang kamu pikirkan saat ini salah, bagaimana?"
"Maksud kakak?"
"Coba begini. Kamu pikirkan apa saja sesuatu terburuk yang terjadi kepada kakak kamu tanpa sepengetahuan kamu."
"Aku nggak mau, kak, takutnya, apa yang aku pikirkan jadi kenyataan."
"Kalau memang itu kenyataannya bagaimana?"
"Aku nggak ngerti apa yang kakak maksud."
"Ayolah! Coba kamu pikirkan kejadian terburuk yang mungkin saja terjadi di dalam kehidupan Kakakmu saat ini."
"Aku nggak tahu Kak. Aku beneran gak bisa berpikir negatif tentang kakak aku."
"Oh apa gini aja, ada sesuatu yang Kakak kamu tinggalkan untuk kamu?"
"Ada,, kak."
"Apa itu?"
"Buku diary."
"Tulisan terakhirnya apa?"
"nah tulisan terakhirnya itu Kak yang bikin aku bingung. Soalnya di situ tertulis kata-kata.. Aku seharusnya nggak memasuki tempat itu, karena tempat itu aku kehilangan segalanya. Sampai sekarang aku nggak paham tempat apa yang kakak aku maksud, dan kehilangan segalanya itu maksudnya apa."
__ADS_1
"Wow, kata-katanya sungguh menyimpan banyak teka-teki. Ya sudahlah. Doakan saja yang terbaik untuk kakakmu. Bagaimanapun keadaannya saat ini. Dan aku harap, jika suatu saat nanti kamu mendengar kabar tentang kakak kamu kamu tidak terlalu larut dalam rasa."
"Rasa apa?"
"Kita lihat saja nanti, perasaan apa yang akan kamu rasakan ketika mendengar kabar tentang kakak kamu."
"Sebentar, apa kak Sinta mengetahui sesuatu tentang kakakku?"
"Aku rasa pertanyaan itu tidak perlu aku yang menjawabnya. Karena kalau garis takdir sudah berkata semuanya akan terungkap, maka akan terungkap yang sebenarnya. Aku izin pamit ya. Kalau kamu ingin pergi dari tempat ini, tunggu beberapa saat lagi. Akan ada teman-temanmu yang menghampirimu." Kak Sinta langsung pergi meninggalkan tia dengan rasa bingung.
"Aku sama sekali nggak ngerti apa yang dimaksud Kak Sinta."
...
Di sisi lain. Revan, Angga farel dan Rifky membantu para petugas untuk mencari korban yang tertimpa reruntuhan bangunan sekolah.
Karena sedari tadi Revan tidak melihat Sandi akhirnya Revan sadar, kalau yang Aleya maksud itu adalah sandi.
"Dia ada di balik dinding itu." Ucap seseorang sambil menunjuk salah satu bagian puing puing bangunan.
"Terima kasih sudah memberitahuku."
"Sama-sama. Tapi maaf."
"Tidak perlu kau lanjutkan kata-katamu. Aku sudah tau. Yang pasti, aku lebih senang jika terjadi seperti ini." Ujar Revan setelah itu pergi mencari petugas tim SAR untuk membantunya mencari sandi.
Revan dan beberapa anggota tim SAR mengangkat dan menggeserkan puing-puing bangunan. Hingga menemukan tubuh manusia.
"Apakah ini teman kamu? " Tanya anggota tim SAR lalu Revan mengangguk.
Mereka membawa jasad itu ke salah satu tempat yang luas. Kemudian nantinya akan dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.
"Sa-Sandi!! " Angga sangat terkejut saat melihat jasad yang dibawa oleh anggota tim SAR.
Farel dan Angga langsung menghampiri jasad Sandi dan menangis.
"Pak, apa yang terjadi dengan teman kita pak? Dia nggak kenapa-napa kan pak?! pak dia masih hidup kan pak?! " Farel melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada anggota tim SAR.
"Maaf, dik, karena teman kalian tertimpa banyaknya puing-puing bangunan. Jadi teman adek sudah tidak bisa terselamatkan."
"Nggaaaaaaakkkk!!!! Nggakkk mungkiiiiin!!! " Angga berteriak sangat kencang tidak menyangka sahabat nya sejak SMP akan meninggalkannya secepat ini.
"Nggak mungkin Pak! Pasti sandi masih hidup pak! Bapak coba cek lagi Pak! Sahabat kita masih hidup Pak! Pasti masih hidup! san, lu masih hidupkan San?! Bercandanya nggak lucu San. Sandi ayok bangun! Cukup prank-nya cukup! Nggak lucu/tau nggak!!!! " Farel terus mengguncang-guncangkan tubuh sandi yang penuh dengan memar.
Secara bersamaan ambulans pun datang lalu anggota tim Sar menggotong tubuh sandi untuk dimasukkan ke dalam mobil jenazah.
"Anggaaaaa!!! Ini cuman mimpi kan ga?! Ini nggak kenyataan kan ga?! Nggak mungkin! Sandi pasti masih hidup! Dia cuman nge-prank kita doang! " Farel masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Zahra, Viona, Fita, Dela dan Aleya. Menghentikan langkahnya secara bersamaan, ketika melihat ada mobil jenazah yang terparkir juga ada jasad yang digotong.
"Ada mobil jenazah? emang ada yang meninggal ya? " Tidak ada yang menjawab pertanyaan Viona, mereka semua melanjutkan langkahnya menuju ke arah kerumunan orang.
"Farel?! Angga?! Revan?! Ada apa ini? " Revan, Angga, dan farel menoleh ketika mendengar panggilan dari Zahra. Saat melihat 5 teman yang lainnya Angga dan farel makin tidak bisa menahan air matanya.
"Kalian kenapa nangis?! Apa yang terjadi?! " Revan, Angga dan farel hanya bisa menundukkan kepala tidak bisa menjawab pertanyaan Dela.
"Permisi, adik-adik semua. Apakah ada salah satu dari kalian anggota keluarga sandi?"
"Tidak ada, Pak, memangnya ada apa ya Pak? Kalau memang ada sesuatu nanti akan saya hubungi keluarganya." Jawab Fita.
"Silakan hubungi keluarganya ya, Adek, kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga agar jenazah bisa dikuburkan segera mungkin."
Deggg!!!!
Bagaikan mendengar petir menggelegar di siang hari. Kelima remaja SMA itu langsung terduduk lemas di tanah.
"A.. apa yang Bapak maksud? Dikuburkan? Jenazah? Apa maksud itu semua pak?! " Dela bertanya untuk memastikan sesuatu.
"Sandi, del, dia jahat banget udah ninggalin kita semua. Dia jahat banget udah bikin perpisahan dengan cara seperti ini." Angga yang menjawab pertanyaan Dela.
"Apa sih maksud dari semuanya ini?! ga, maksud lu sandi meninggal?! Iya?! " Zahra bertanya sangat lantang kepada angga Angga hanya bisa mengangguk lemah.
Semua teman-temannya Sandi larut dalam kesedihan dan mereka sangat tidak menyangka dengan apa yang terjadi disore yang kelam ini.
Bersambung.........
_
hai... nggak kerasa nih udah menuju ending. terima kasih banget ya buat yang masih setia membaca dan memberi dukungan kepada aku dan novel ini.
maaf kalau di episode ini ada banyak kesalahan entah itu typo, ataupun alurnya yang kurang menarik. mungkin rasa kesedihannya nggak nyampe di hati readers aku nggak bakat banget sumpah naruh bawang di novel.
mau ngomong apa lagi ya?
pokoknya terimakasih banyak banget semuanya. dan untuk para author, semangat terus ya nulisnya. semoga bisa menjadi author yang sukses seperti yang diharapkan.
untuk para readers semoga selalu diberikan kesehatan, dan dilancarkan rezekinya.
__ADS_1
doa yang terbaik untuk semuanyaa 🥰🥰,