
"ini kan, anak yang ketabrak truk tadi.
"Hah? Maksud ibu apa? " Tanya Mama Kanaya terkejut.
"Begini Bu, tadi di sini baru saja terjadi kecelakaan. Korbannya itu anak remaja yang baru saya lihat fotonya di handphone ibu.
"Nggak mungkin Bu! Nggak mungkin anak saya kecelakaan! " Ucap Mama Kanaya histeris tak percaya.
"Bu, mungkin ibu salah lihat." Ucap Rifky
"Tidak, dek, Bu, saya nggak salah lihat. Kalau tidak percaya, silakan pergi ke rumah sakit untuk melihat jenazahnya. Ya walaupun, menurut saya sulit dikenali karena. Bagian kepalanya hancur, tapi mungkin dari pakaian yang digunakan oleh korban itu.. ibu dan adik bisa mengenalnya.
"Tidakkk!!! Tidak mungkin! Itu bukan anak saya yang kecelakaan. Ibu-ibu ini pasti mengarang cerita, atau enggak, ibu-ibu ini salah lihat." Ucap Mama Kanaya dengan suara yang bergetar karena takut yang dibilang ibu-ibu tadi itu benar.
"Mama tenang dulu, ya, lebih baik kita pergi ke rumah sakit untuk memastikan." Ucap Rifky menenangkan mamahnya.
"Bu, makasih informasinya. Kalau begitu saya dan Mama saya permisi." Lanjut Rifky berpamitan kepada ibu-ibu.
"Iya, dek, sama-sama. Mudah-mudahan itu bukan kakak kamu ya, dek, Dan jika memang kakak kamu, semoga kamu dan keluarga diberi ketabahan.
"Amin. Terima kasih, Bu, doanya." Ucap Rifky lalu membantu mamanya untuk berdiri.
Setelah mamanya, bisa berdiri mereka berdua menuju ke cafe, untuk memberitahu Pak Indra.
Sesampainya di cafe, mereka berdua langsung menghampiri Pak Indra yang masih berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya.
Mama langsung memeluk Pak Indra, dan menangis di dalam pelukan Pak Indra.
"Astaga! Mama kenapa mah? " Tanya Pak Indra heran karena melihat istrinya yang tiba-tiba saja menangis.
Mamah tidak menjawab, dia makin menangis sesenggukan membayangkan jika korban kecelakaan itu adalah Kanaya.
"Rifky, apa yang terjadi sama mama? Dan kakak kamu mana? " Pak Indra melontarkan pertanyaan kepada Rifky.
"Jadi gini, pa, tadi pas aku sama mama lagi nyari kakak kita ketemu sama ibu-ibu yang lagi ngobrol. Mama nanya sama ibu-ibu itu, siapa tahu mereka lihat Kakak lewat. Nah, ibu-ibu itu minta Mama untuk nunjukin fotonya, terus pas mama nunjukin foto kakak, ibu-ibu itu bilang kalau itu seperti anak yang baru saja jadi korban kecelakaan. Karena itu, pa, mama jadi nangis, lebih baik kita pergi aja deh pa ke rumah sakit, untuk memastikan itu benar Kakak atau bukan.
"Ayo, pa, kita ke rumah sakit! Mama mau meyakinkan diri Mama sendiri, kalau itu bukan naya." Ucap Mama masih menangis.
"Ya Tuhan! Aku nggak kuat jika melihat istriku menangis seperti ini." Pak Indra berkata dalam hati.
"Mama tenang, ya, ayo kita ke rumah sakit! Biar kita tahu yang sebenarnya.
__ADS_1
Sebelum pergi ke rumah sakit keluarga arfanza menutup acara yang sedang berlangsung dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Para tamu undangan yang hadir, merasa terkejut saat mendengar kabar itu. Beberapa dari mereka berharap, semoga saja yang menjadi korban kecelakaannya bukan kanaya.
"Itu beneran kanaya atau bukan? Ya? " Tanya Caca sahabat Kanaya kepada teman-teman yang lainnya.
"Ya kita nggak tahu, ca,kita tunggu aja kabar selanjutnya." Ucap teman yang lainnya.
"Gua sih, berharap, kalau itu bukan kanaya. Yah, walaupun, gua benci sama sikap sombongnya Kanaya tapi gua nggak rela aja, kalau kanaya sampai meninggal. Kan, kalau kanaya beneran meninggal, gua nggak bisa dapat traktiran lagi.
"Parah banget lu, ca, masih aja mikirin soal harta.
"Ya iyalah, gua kan berteman sama Kanaya cuman gara-gara hartanya dia.. lu juga sama kan?
"Ya sama, tapi jangan kayak gitu juga lah.
***
"Permisi, sus, saya mau bertanya apa korban yang kecelakaan di jalan xxx, itu di bawa ke rumah sakit ini? " Tanya Pak Indra kepada petugas resepsionis rumah sakit.
"Iya, Pak, apa Bapak keluarganya?
"Saya datang kemari untuk memastikan, kalau itu anak saya atau bukan, soalnya berapa jam yang lalu anak saya pergi keluar dan sampai sekarang belum kembali." Ucap pak Indra menjelaskan.
"Oh begitu, Pak, bapak ibu dan adik, silakan cek di kamar jenazah. Jenazahnya belum diurus oleh pihak rumah sakit, karena belum ada keluarga dari korban.
"Silakan, pak, pihak rumah sakit belum mengotak-atik tubuh jenazah karena takut kehilangan identitas." Ucap suster lalu Pak Indra beserta keluarganya menuju ke kamar jenazah.
"Mama, nggak sanggup, pa, kalau itu beneran kanaya." Ucap Mama dengan suara bergetar.
"Mama jangan ngomong gitu, jika itu benar Kanaya kita harus menerimanya dengan ikhlas. Mungkin Tuhan lebih sayang sama KaNaya." Ucap pak Indra seolah-olah menjadi ayah yang bijak.
Sesampainya di depan kamar jenazah, mereka disambut dengan petugas yang mengurus jenazahnya Kanaya.
"Permisi, Pak, Bu, Dek, ada yang bisa saya bantu? " Tanya petugas ramah.
"Saya ingin melihat jenazah yang menjadi korban kecelakaan tadi, mas, apa bisa?
"Bisa, pak, mari masuk! Saya tunjukkan jenazahnya." Ajak petugas lalu keluarga arfanza masuk ke kamar jenazah.
"Ini, Pak Bu, dek,, jenazah yang menjadi korban kecelakaan tadi." Ucap petugas itu saat sampai di dekat salah satu jenazah.
"pa, itu bukan naya kan Pa? Bukan kan pa? " Tanya Mama dengan air mata yang terus mengucur deras.
__ADS_1
"Tenang Ya, mah, papa belum ngecek jenazahnya." Ucap pak Indra menenangkan istrinya.
"Apa mau dibuka sekarang? Pak?
"Bagaimana? Mah?
"Iya, buka sekarang saja.
Petugas itu perlahan membuka kain putih yang menutupi jenazah kanaya. Keluarga Kanaya tidak berani menyaksikan.
Separuh kain putih yang menutupi jenazah Kanaya sudah terbuka. Seketika aroma anyir darah menusuk hidung mereka semua yang ada di kamar jenazah. Terlihat juga kondisi jenazah Kanaya yang membuat siapapun melihatnya pasti akan merasa mual dan merasa ngeri. Bagaimana tidak? Kondisi jenazah kanaya. Sangatlah mengerikan. Bagian kepala termasuk wajah sudah tidak berbentuk, dengan pakaian yang dilumuri darah.
"Saya menemukan ini, pak, di tempat lokasi korban kecelakaan." Ucap petugas sambil memberikan kalung milik Kanaya kepada Pak Indra.
Pak Indra masih belum berani membuka matanya. Saat mendengar petugas yang berkata seperti itu, pak Indra memberanikan diri untuk membuka mata namun masih belum berani untuk melihat ke arah jenazah kanaya berada.
Pak Indra mengambil kalung yang diberikan petugas, dan menatap kalung itu dengan intens.
Dan, ternyata benar saja, kalau itu adalah kalung yang dipakai kanaya. Karena di kalung itu terdapat liontin nama Kanaya.
"Pa, itu bukan kalungnya Kanaya kan pa?! " Tanya Mama histeris.
"Pa! Jawab pa! " Teriak Rifky.
Pak Indra memberikan kalung itu kepada Mama lalu memeluk Mama dengan erat.
Mama memperhatikan kalung yang diberikan Pak Indra, dan seketika tangisnya semakin kencang. Mama memberanikan diri untuk menoleh ke tempat jenazah Kanaya berada. Dan saat melihat kondisi jenazah kanaya yang seperti itu, Mama kanaya langsung pingsan tergulai lemas dipelukan Pak Indra.
"Mah! Bangun mah! " Teriak Pak Indra panik sambil mengguncang-guncangkan bahu istrinya namun hasilnya nihil.
Rifky yang mengetahui semuanya langsung pergi meninggalkan kamar jenazah untuk mencari tempat yang sunyi.
Tak lama, Rifky sampai di taman rumah sakit yang cukup sepi. Ia duduk di salah satu bangku di bawah pohon..
"Kakaaaaaakkkk!!!!! Kenapa Kakak harus tinggalin aku kak?! Kenapa?! Aku, Mama, dan papa, nggak mau kehilangan kakak." Rifky berteriak sekeras mungkin meluapkan emosi dan kesedihannya.
Walaupun kakaknya sering memperlakukan Rifky secara tidak baik namun Rifky tetap menyayangi kakaknya.
Bersambung.........
_
__ADS_1
Haaaiii... Para readers. Tahu nggak sih? Kalau aku nulis episode ini merasa sedih sekaligus ngeri ngebayangin kondisi jenazah yang aku deskripsikan.
Tapi walaupun begitu it's okelah, yang penting para readers ku tersayang suka sama episode ini.