
UNDERVOID
"kau mati? " ucap Lock sambil melihat tubuh Toaru yang terkapar lemas,
walaupun Toaru masih sadar namun ia nampak tak berdaya, nafasnya tersengal-sengal,
"kau sekarat kawan..... " ucap Lock sambil berjongkok disamping Toaru"biar kubantu"
Lock lalu berdiri kembali dan berniat duduk di kursi yang berads tak jauh dari mereka,
namun saat ia mau berjalan kakinya secara kuat ditahan oleh Toaru"aku tidak akan membiarkanmu"batinya karena ia teringat akan penglihata sebelumnya bersama Warn,
Lock lalu menarik kakinya yang ditahan oleh Toaru sambil berkata"tubuhmu ini akan mati jika tak kubantu, jangan terlalu gengsi"Lock lalu berjalan kearah kursi sedangkan Toaru hanya bisa terkulai lemah,
"saatnya beraksi" ucap Lock sambil duduk di kursi itu, ia lalu tersenyum dan memejamkan matanya,
peron stasiun
"apa dia mati? " tanya sang bos sambil mencolek tubuh Toaru menggunakan kakinya,
"dia pasti mati, lihat itu"ucap George sambil menunjuk kearah panah yang tertancap tepat dimata kiri Toaru
" pisahkan dia.... aku ingin bagian jeroanya"
"baik boss"
tak berselang lama terdengar suara Bima memanggil Toaru dari walkie talkie di atas lantai, namun walkie talkie itu diinjak hingga hancur oleh George,
namun secara tiba tiba saat seorang pria mau memotong Toaru, ia terbangun sambil mencekik leher pria itu hingga hancur,
"BOSS BOSS!!!!!!!!!! "
mereka yang mendengar itu langsung berbalik dan melihat salah satu anggota mereka yang berlari kearah mereka dengan tepat dibelakangnya berdirilah Toaru dengan kepalanya yang masih berlubang akibat terkena anak panah tadi,
"tembak dia! " perintah sang boss,
mereka lalu menembaki Toaru dengan membabi buta, sang boss lalu meninggalkan mereka untuk membantu mengalahkan Bima, ratusan peluru mengenai Toaru namun tidak ada satupun yang melukainya,
Toaru lalu memakan tangan dari jasad pria yang ia bunuh tadi dan seketika lubang di kepalanya tertutup kembali dengan sempurna,
"rayakanlah! karena aku Lock penghuni neraka terdalam.... akan menghibur kalian" ucap Toaru dengan riang gembira,
"tembak dia! " semua orang lalu kembali menembakinya,
Toaru yang menyadari hal itu dengan cepat langsung mengambil Katananya dan menusukanya ketanah membuat sebuah pelindung bernama Tholos menghadang terjangan peluru yang melesat kearahnya,
"jangan buru buru" ucap Toaru, nampak jari tanganya yang secara perlahan ditutupi oleh tulang yang runcing disusul oleh kakinya,
"lari! " ucap mereka semua yang sudah ketakutan,
"ayolah kita baru bermain" ucap Toaru ia lalu melompat tinggu dan mencegat orang orang itu,
"tidak baik kita bertarung disini" Toaru lalu mengibas tanga kirinya kearah belakang dan membuat lingkungan disekitar berubah menjadi dataran putih dengan langit merah dan pohon pohon pinus terjejer disekitar dataran itu
"menghukum kalian bukanlah tugasku, tapi..... mengirimkan kalian adalah tugasku" Toaru lalu berlari dan menghabisi semua orang yang berada di dimensi itu, suara teriakan terdengar... puluhan orang dibantai tanpa ampun dan tak lupa juga ia memakan mereka agar tubuhnya yang luka beregenerasi kembali,
__ADS_1
"sepertinya sudah selesai" ucap Toaru sambil mengelap bibirnya yang berlumuran darah, ia lalu mengibaskan tanganya sekali lagi dan dengan cepat mengubah dimensi yang ia pijak menjadi stasiun yang masih dipenuhi kepulan asap,
ia lalu melepas seluruh tulang yang melindubgi tubuhnya dan matanya kembali seperti semula,
tak berselang lama terdengar suara tepuk tangan dari luar stasiun dan datanglah Jay dengan Lobo
"tak kusangka kau berhasil! " ucap Jay"bravo! "
"terima kasih" jawab Toaru
sontak suara Jay membangunkan Toaru yang asli di alam bawah sadarnya atau Undervoid,
"jadi kita mulai darimana? " tanya Lobo
"aku akan menghancurkan mereka terlebih dahulu"jawab Toaru sambil melihat kearah kereta,
" wow.... tenang kawan, kita harus menemui Madame terlabih dahulu"jawab Lobo
mereka lalu berbalik badan namun disaat Toaru mau melompat tubuhnya secara tiba tiba terbujur kaku, dan hal itu membuat Jay dan Lobo kebingungan,
UNDERVOID
BRUGHH! sebuah pukulan dilayangkan oleh Toaru kearah wajah Lock hingga terjatuh dari kursi yang ia duduki,
"aku sudah tahu maksudmu" ucap Toaru
"seharusnya kau berterima kasih" jawab Lock sambil mengelap darah dimulutnya,"maju kau! "
Toaru yang terprovokasi lalu berlari kearah Lock dab adu pukul tak terelakab, tubuh mereka terkena pukulan satu sama lain,
"tidak usah naif! kau dan aku itu sama,hehehe" ia lalu menatap Toaru"aku ini tercipta akibat pikiranmu! ketakutanmu! apa kau lupa tentang Lab ini? "
"Lab apa maksudmu? berisik kau! " Toaru lalu berlari kearah Lock namun saat sudah dekat Lock menjentikan jarinya
"bangun" ucap Lock sambil menjentikan jarinya.
GEDUNG STASIUN
terdengar suara sekelompok orang sedang berjalan membawa senjata ditangan mereka,
"sebelah sini" ucap salah seorang pria, namun langkah mereka berhenti ketika melihat Hannah berdiri di depan mereka sambil memegang pistol dikedua tanganya,
"siapa kau? minggir! atau kami tem-" belom selesai pria itu berbicara sebuah peluru melesat menembus otaknya dan membuatnya tergeletak tak bernyawa,
"serang dia! " teriak seorang pria sambil menembakan senapanya disusul oleh 4 orang lainya,
untungnya Hannah dengan cepat berlindung di balik sebuah reruntuhan tembok, dan bersiap untuk memulai aksi Akimbonya, tepat disaat mereka mengisi peluru, Hannah dengan gagah berlari keluar kearah mereka sambil menembakan kedua pistolnya kearah mereka,
"rasakan ini! " ucap Hannah lalu ia membuang satu pistolnya dan meluncur diatas lantai yang lembab sambil mengeluarkan pisau disakunya dan menyayat kaki orang yang hanya terluka,
"siapa kalian!? " tanya pria yang kakinya terluka akibat sayatan tadi,
"kami hanya ingin membantu saudara kami yang berada jauh disana, dan kalian datang hendak membunuh kami? manusia macam apa kalian"jawab Hannah,
" kalian meninggalkan kami...... saat Dome hancur..... itu sebabnya kami.............. "orang itu lalu menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka tembak di dada dan juga luka sayatan dikaki membuat ia kehabisan darah,
__ADS_1
" oke semuanya sudah selesa-"Hannah lali terdiam ketika melihat Eri dengan tatapan kosong berdiri di ujung lorong,
"wow......... kakak hebat" ucap Eri
Hannah lalu menghampirinya
"semua barangnya sudah siap? "
"sudah" jawab Eri sambil menganggukan kepalanya
Hannah lalu membalasnya dengan senyuman manis ia lalu membantu Eri membawa tas ransel usang milik Eri dan membawanya kearah Bima,
PERON
"Toaru!? " panggil Yuko sambil berjalan menembus kabut yang dipenuhi dengan suara tembakan dan peluru peluru yang berterbangan,
"kemana perginya orang orang itu???? " ucap Yuko"kepalaku masih sakit sekali!? "
ia lalu menerobos asap sambil sesekali menebas beberapa orang yang menghalanginya, sampai saat dia diujung peron hal tidak terduga terjadi dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Jay dan Lobo yang sedang berdiri menatap tubuh Toaru yang tergeletak,
"Hide!? " panggil Yuko"kukira kau"
"apa yang kau maksud Hide hah!? namaku Lobo Volko" jawab Lobo
"haruskah kita membunuhnya? " tanya Jay
"kita tinggalkan saja...... kita akan kembali lagi nanti" jawab Lobo"ayo Jay"
lalu kabut misterius keluar dari badan Jay dan menlenyapkan mereka berdua dengan sekejap,
"tunggu Hide! "panggil Yuko namun mereka berdua sudah keburu pergi
Yuko lalu menghampiri tubuh Toaru yang tergeletak diatas lantai peron dan disaat dia mendekat tiba tiba saja Toaru terbangun dengan perasaan kaget,
" apa yang terjadi? " tanya Toaru sambil memegangi wajahnya,
"aku melihat Hide"
"hah!? Hidenori? bukankah dia sudah mati"
"aku tidak tahu tapi aku yakin bahwa aku melihatnya"
suara tembakan lalu terdengar dari dalam kabut,
"well kita tidak punya banyak waktu" ucap Toaru sambil mendirikan tubuhnya,
"kau yakin kau tidak apa apa? " tanya Yuko
"sepertinya kau yang harus khawatir terhadap kepalamu sendiri" jawab Toaru ia lalu berlari kedalam kabut meninggalkan Yuko,
sedangkan Yuko mengelap luka darah di dahinya,
"sial dia mengejeku! " batin Yuko, ia lalu mengeluarkan Katananya dan berlari menyusul Toaru kedalam kabut, disana mereka berdua saling bertanding satu sama lain, terkadang Toaru yang diselamatkan dan sebaliknya hingga tak terasa matahari sudah terbit dari tempatnya membuat beberapa sinar menyinari stasiun,
"MUNDUR! JANGAN CARI MATI, MUNDUR!" ucap seorang anggota dari kelompok itu yang ketakutan
__ADS_1
para anggota kelompok itu juga mulai pergi secara perlahan seakan akan ada sesuatu yang menakutkan dan mematikan saat matahari terbit dan menyinari dunia.