Trains:Bashina Resurrection

Trains:Bashina Resurrection
Weapons


__ADS_3

Kolibry distric


"kau merasakanya? " tanya Matarel kepada Aiga


"ya.... nampaknya Lock sudah mendapatkan senjatanya"jawab Aiga" kau siap melawanya hah? Lobo-san? "


"aku selalu siap"ucap Lobo


mereka bertiga lalu berjalan keluar dari pabrik terbengkalai itu, Kolibry distric sebuah tempat bekas pabrik tank yang sudah terbengkalai, tempat ini sekarang menjadi sarang bagi Alpha dan Abydos dikarenakan lingkungan yang lembab dan berair,


" aku yang akan menusuknya terlebih dahulu"ucap Aiga


"yayaya sabarlah Aiga-chan" Veela lalu datang dari kegelapan hutan dengan kasur awan terbangnya, disusul oleh Ryot dibelakangnya yang menyeret sebuah kotak berisikan senjata senjata kuno,


"kurang siapa? " tanya Lobo


"Astaroth tidak datang" ucap Jay yang berjalan dari sisi lain hutan bersama dengan Roug"jadi itu semua adalah senjata kita? "


Ryot lalu membuka kotak itu dan mulailah nampak banyak senjata dan perlengkapan perang lainya,


Aiga lalu maju dan tersenyum ketika melihat sebuah tombak panjang dengan berbagai ukiran di gagangnya,


"senjata mu? " tanya Roug


"ya kau tahu aku berhasil merampasnya dari michael" ucap Aiga"ketika perang saat itu"


"itu spear of dawn? "


"ya benar.... tombak yang digunakan oleh malaikat yang paling kubenci" ucap Aiga


Jay lalu mengambil sebuah helm dan sebuah cincin dengan mantra ditengahnya"mata gab.... aku sudah lama menantikan ini"


Roug mengambil sebuah katana berwarna hitam pekat dan saat ia menggenggamnya sebuah tulisan muncul disekujur bilah katana,


Lobo mengambil cakar andalanya yang terbuat dari berlian dan batu surga"aku mulai menyukai ini"


Veela mengambil harpa miliknya yang terdapat sebuah patung wanita bersayap digagang harpanya


dan Ryot mengambil sebuah sabit besar berbilah tajam dengan bunga mawar merah menyelimuti gagangnya


sedangkan Matarel dia mengambil sebuah busur dan buah apel yang lalu ia simpan dikantongnya


"darimana kau dapatkan buah itu? " tanya Roug ketika melihat Matarel menaruh apel yang ia ambil


"ayolah Roug dulu aku sempat tinggal disurga, jadi aku bisa mengambilnya" ucap Matarel sambil menepuk pundak Roug,


"sisa satu senjata" ucap Ryot


dan benar dikotak itu tersisa 1 senjata berupa prisai bertanduk yang mengeluarkan asap hitam samar,


"tidak salah lagi ini milik Astaroth" ucap Aiga


"aku akan membawakanya ke dia" jawab Roug sambil menutup peti itu rapat rapat dan menyegelnya kembali dengan seal of underworld miliknya,


"misi kita sekarang... adalah memburu Lock atau Toaru dan membawanya kehadapan Madame" ucap Roug


"lakukan apa saja bolehkan? " tanya Veela


"terserah kalian tetapi jangan melakukan hal yang memalukan"Roug lalu menatap Jay" semoga rencanamu berhasil"


Jay lalu mengangguk dan mengenakan helmnya sementara cincinya ia pakai di jari tangan,


"serahkan padaku"


"usahakan tangkap dia sebelum dia memasuki bentuk tanduk ke 9" ucap Roug


"aku merasakanya! " ucap Veela


"hah? apa maksudmu? " tanya Lobo yang tidak mengerti ucapan Veela


"aku merasakan Toaru"

__ADS_1


seketika semuanya terdiam mendengar perkataan Veela barusan,"dia berada di dekat bukit Inaso"


semuanya lalu menatap Roug menunggu aba-aba darinya,"lakukan sekarang juga! jangan beri ampun! "bentak Roug


mereka semua lalu mengangguk dan segera pergi sambil dipandu oleh Veela


" maafkan aku Toaru-san, semoga kau bisa bertahan"batin Lobo sambil berlari


"ada masalah kawan? " tanya Ryot yang ikut berlari disamping Lobo


"aku hanya takut bahwa dia akan lebih kuat daripada kita" ucap Lobo berbohong,


"tenang saja kita pasti bisa menyelesaikan ini dengan cepat" jawab Ryot,


HUTAN


30 menit berlalu namun Toaru masih bingung tentang hal yang baru saja terjadi kepadanya, tubuhnya tak kunjung berubah menjadi semula separuh wajahnya masih tertutupi dengan tulang yang menerupai topeng dan terdapat ukiran ukiran aneh disekujur topengnya,


"semua ini..... apa? " batin Toaru sambil melihat keatas setiap menara, ia lalu memegang kepalanya dan menyadari bahwa ada sebuah tanduk mencuat di keningnya namun tanduk itu berbentuk aura hitam pekat yang bisa dirasakan namun bisa ditembus oleh apapun


"Eh tanduk apa ini!? " kaget Toaru sambil mengeleng gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan,


Sakuya yang sudah menunggu lama mulai jenuh tapi tak mengurangi rasa penasaranya


"Toaru-kun apa aku sudah boleh mendekat!? " panggil Sakuya


"ya boleh saja"


Sakuya lalu menghampiri Toaru"kau ini sebenarnya apa? "tanya Sakuya namun ditengah langkah kakinya Toaru meminta Sakuya diam secara mendadak


"tunggu sebentar!! aku seperti merasakan sesuatu" dan benar saja tiba tiba dari atas Aiga dengan tombaknya mencoba menghujam Toaru namun Toaru berhasil menghindar dan mundur beberapa langkah,


"Sakuya! lari sejauh mungkin" pinta Toaru sambil memberikan jaketnya


"lalu kau? "


"pergi sejauh mungkin dan kenakan jaketku agar kau aman.... SEKARANG! "


"siapa kau? "


"namaku Aiga Spirot dan aku kemari untuk menjemputmu" ucap Aiga


"hah? apa maks-" sebuah tombak lalu meluncur kearahnya dan menusuk dadanya hingga membuat ia ikut terbawa tombak itu dan menancap di sebuah batu,


"kau harusnya menurut" ucap Aiga sambil mengeluarkan tombak keduanya,


Toaru lalu mencabut tombak milik Aiga yang menancap di dirinya,


"oke Toaru fokus"


DOME KOLIGSEN


"jadi itu situsnya? " ucap Veela yang berada diatas dinding Dome yang kokoh,


"ah ini menyebalkan, kenapa Madame malah menyuruh kita mengambil bagian surga, padahal aku ingin bertarung dengan Toaru" ucap Matarel yang kesal


Veela lalu menghampiri Matarel dan mencium pipinya"tidak ada waktu untuk mengeluh.... siapa tau misi ini lebih seru,"Veela lalu menarik mulut Matarel seakan akan sedang tersenyum,


"apa yang kau lakukan? "


"membuatmu tersenyum"


"hah?? hahahahahahaha kau bisa saja" ucap Matarel sambil tertawa


Veela lalu ikut tersenyum"oh itu barangnya"ucap Veela sambil menunjuk kearah rombongan truk yang masuk kedalam gedung penyimpanan arsip Kolisgen,


"kau mau mencoba busurmu? " tanya Veela


"tidak mau, busur akan kugunakan untuk momen yang special" ucap Matarel,


mereka berdua lalu turun dari atas dinding dan berjalan sambil menggendong Veela sekaligus membaur dengan masyarakat,

__ADS_1


Veela ada Bashina kuat yang memiliki sifat malas, sifat malasnya lah alasan mengapa ia membuat kasur awan yang selalu ia tiduri karena hal itu dia selalu dipasangkan dengan Matarel jika ia akan menyamar,


"manusia menjijikan" ucap Veela sambil melihat sekitaran jalan yang dipenuhi dengan kubangan dan sampah kecil,


"hahaha memang seperti itu dari dulu" ucap Matarel


mereka lalu berjalan kearah gorong gorong yang lembab untuk meledakan lantai bawah gedung arsip,


"hadeuh enaknya.... " ucap Veela yang bisa kembali berbaring diatas kasur awanya,


Matarel lalu menyayat tanganya dan melukis simbol simbol aneh di langit langit goronh gorong,"oke ini titik pindah kita"ucap Matarel,


Veela lalu mengangkat tanganya keatas lalu muncula sebuah bola berwarna ungu gelap dari tanganya itu,bola itu ia lontarkan keatas langit langit dan anehnya bola itu malah menembus tembok langit langit,


"3, 2,1" hitung Veela dan tiba tiba sebuah black hole besar muncul melenyapkan setiap materi dan masa yang berada disana,


Matarel lalu melempar sebuah granat rakitanya keatas lubang itu,


BOOM!!!!!


"oke saatnya beraksi sayang? " ucap Matarel kepada Veela


Matarel lalu melompat keatas sementara Veela dengan kasurnya,sesampainya diatas mereka mulai menyeranh dengan membabi buta,


"tembak!!! " teriak seorang kapten


tubuh Matarel dibrondong banyak timah panas namun itu tidak berdampak apa apa, Matarel masih bisa berjalan sambil menembak menggunakan senapanya,


"maju kalian semua! " ucap Matarel


dan tiba tiba sebuah roket launcher menembakan beberapa misile kearahnya dan membuat Matarel terpental,


"Sayang! " teriak Veela


"aku tidak apa apa" ucap Matarel sambil memutar tanganya yang patah dan kepalanya yang terputar,


3 buah crystal lalu muncul dari pemukaan tanah, Veela lalu merubahnya menjadi butiran jarum dan mengarahkanya ke pemegang rocket launcher tadi dan menusuk mereka bertubi tubi, hingga tewas dengan mengenaskan,


Matarel lalu mengamati peta gedung tersebut,


"PENYUSUP MENYERAHLAH GEDUNG TELAH DIKEPUNG, MENYERAHLAH SEKARANG!! "bunyi suara dari speaker didalam gedung itu


Matarel lalu tersenyum girang" harusnya kalian yang menyerah, hahahaha"Matarel lalu berjalan kearah Veela"benda itu berada di ruangan penyimpanan besar, ada dilantai 3,"


"kau mau bersenang senang tidak? " tanya Veela


"oh tentu eh bolehkah? "


"tentu saja.... kau bersenang senang lah aku yang akan mengambil benda itu"


Matarel lalu memeluk Veela dengan erat dan membuat kasur awanya hampir terjatuh,"terima kasih sayang"


mereka lalu berpisah dengan Veela menaiki elevator ke lantai 3 sementara Matarel menunggu tim bantuan yang akan datang,


Luar gedung,


"semua tim sudah bersiap pak! " ucap seorang petugas


"baik langsung ikuti rencananya" ucap sang kapten,


pintu lalu didobrak dan masuklah pasukan bersenjata dengan garda depan yang dilengkapi dengan prisai padat dan armor tebal,


"hahahaha saatnya bermain" ucap Matarel ia lalu menekan pelatuk senapanya,


"TAHAN! " teriak tim pelindung


namun naas prisai mereka tidak cukup kuat, peluru Matarel berhasil menembus prisai itu bahkan menembus hingga ke tentara yang berada tepat dibelakang korban,


"hah! easy" ucap Matarel ia lalu menembaki pasukan itu disusul oleh tembakan balasan dari tim penyerbu,


"jangan bilang yang kita lawan itu Bashina" ucap sang kapten ketika melihat anak buahnya terbantai satu persatu

__ADS_1


"LAPOR KODE BAHAYA BASHINA" ucap sang kapten yang sudah ketakutan melalui walkie talkienya,


__ADS_2