
Bukan tanpa alasan seseorang berubah, mulai dari tingkah laku, sifat, kedaan maupun mental.
Membunuh, menikam, menguliti, mutilasi, dan kegiatan berbahaya lainnya seolah tidak sebanding dengan rasa sakitnya diusir dari keluarga kandung sendiri.
Rasa dendam perlahan muncul, jiwa Psychopatnya mulai bangun, cahaya dalam dirinya kini sirna, berganti dengan kegelapan. Senyumnya yang tulus kini hanyalah sebuah kepalsuan.
Jeritan dan pisau.
Kedua benda yang selalu mengiring setiap langkahnya, setiap perbuatannya, aktivitasnya, dan pekerjaannya.
Jeritan bagai melodi yang selalu mengiringi desisan pisau yang menelusuri setiap inci tubuh manusia. Membunuh. Satu kegiatan yang kini menjadi hobi dari seorang Zee.
****
"Lama banget lo," cibir Zee pada Vania, mereka akan berangkat sekolah, walaupun jam sudah menunjukkan 07.10, mereka tetap bersekolah. Yaa, sudah telat, tapi mereka tak peduli.
"Ya sabar sih, gue disuruh nungguin bokap gue berangkat kerja dulu tadi," saut Vania sambil memasuki mobil Zee.
"Hm."
Zee mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Membuat situasi dalam mobil ramai kerena teriakkan teman-teman nya.
"YAALLAH ZEE! GUE BELOM DAPET JODOHHH! JANGAN BIKIN GUE MATI DALAM KEADAAN PERAWAN SELAMANYA!"
"ZEE! GUE MASIH MAU IDUP!"
"GUE MASIH MAU NGERASAIN MALAM PERTAMA!"
"KURANGIN KECEPATAN NYA ANJIRR!"
"ZEEEE ****** GUE MAU MUNTAH, SETAN!"
"Udah, tenang, gak bakal mati kok," ucap Zee santai. Bukannya mengurangi kecepatannya, ia justru semakin menancapkan gas nya lebih cepat lagi. Membuat teman-temannya semakin berteriak histeris. Zee? Ah dia santai, mengunyah dan membuat balon dari permen karetnya yang berada di mulutnya.
Tak butuh waktu lama, mobil Zee sudah sampai didepan gerbang sekolah yang tertutup.
Tin tin!
Zee mengklakson mobilnya, tapi tak kunjung dibukakan oleh satpamnya.
Zee membuka sabuk pengamannya kasar lalu turun dari mobil, "pak, bukain dong gerbangnya, mobil gue mau masuk!" Omel Zee pada satpam yang sedari tadi hanya diam di belakang gerbang dengan kepala yang tertunduk.
"Maaf neng, tadi pak Arsyaf menyuruh saya untuk tidak membukakan gerbang neng Zee kalau telat," kata Satpam itu takut-takut.
"Arsyaf? Mana orangnya? Apa dia gak tau gue siapa? Mana sini mau gue congkel matanya, gue cincang cincang bad-"
"Yakin mau congkel mata gue?" Tanya seseorang dibelakang Zee. Zee menoleh kebelakang lalu memelototkan matanya kaget.
"Arsyaf?!" Pekik Zee kaget.
Seseorang berpakaian seragam guru dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana nya, dan pandangan mata lurus kearah Zee. Ia tersenyum lebar, "hai?"
Teman-teman Zee ikut keluar dengan keadaan setengah mual. Memandang kedua sejoli yang tengah berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Zee melangkah lebih dekat kearahnya, lalu menampar pipi yang ia sebut dengan 'Arsyaf', hingga Arsyaf reflek memegang pipinya yang ditampar Zee sambil meringis.
"Astagaaa! Serius ini elo? Ini beneran buntelan kecil gue? Eh, kemana aja lo? Kemana perut lo yang udah kayak bedug masjid itu? Kok muka lo jadi cakep gini? Jadi ganteng gini?" Zee menatap Arsyaf tak percaya. Membuat Arsyaf terkekeh geli.
"Iya, ini buntelan bedug lo yang biasa lo pukul-pukul waktu kecil," Arsyaf terkekeh.
Zee memeluk Arsyaf yang lebih tinggi darinya. Dengan senang hati, Arsyaf membalas pelukannya, membuat tatapan bingung dari Kaila dan teman-temannya, dan juga pak satpam.
"Hiks hiks, lo gak ada kabarin gue! Gue tuh kangen tau sama lo! Gue gak ada temen sejak lo pergi, lo jahat...hiks lo jahat," Zee memukul dada bidang milik Arsyaf. Arsyaf hanya terkekeh lalu menahan tangan Zee dengan kedua tangannya.
Arsyaf menatap dalam bola mata Zee, senyum kecil masih tercetak di bibirnya, "maaf."
Zee reflek memukul kembali dada Arsyaf, "lo pergi bertahun-tahun dan cuma bilang maaf! Jahat lo!"
"Maaf, gue gak ada disaat lo butuh, gue tau, gue tau semuanya, tentang Dito, Dika, tentang Oma dan Opa. Maaf disaat itu gue bener-bener gak bisa balik ke Indonesia. Gue gak dibolehin sama ayah. Lo tau sendiri kan gimana ayah, gak suka ditentang. Gue juga gak tenang di Brazil, gue pengen banget balik ke lo dan meluk lo, tapi gak bisa. Gue bener-bener minta maaf, Zeline. Dan gue yakin kalo bukan lo yang bunuh Oma Opa."
Tangis Zee pecah seketika, pertahanannya roboh, tubuhnya melemah seketika. Kalau bukan Arsyaf yang menahannya sudah dipastikan Zee akan jatuh.
"Gue buntu, dan disaat gue udah balik ke indo, gue nyari-nyari lo selama 2 tahun ini, tapi gak ada. Lo bagai hilang ditelan bumi. Gue frustasi. Gue...gue kira lo udah gak ada..."
__ADS_1
"Dan akhirnya gue ketemu Dito. Gue hajar dia. Niat gue pengen beri dia pelajaran, gue pengen bales dendam ke dia. Karena gak becus jagain adeknya, dia gak pantes buat dipanggil seorang Abang. Dan gue mendaftar sebagai guru ditempat dia sekolah, disini. Baru 3 minggu gue disini. Dan gue dapet kabar kalo lo juga ada disini, disekolah ini, sumpah gue seneng banget. Balas dendam yang tadinya gue balaskan buat Abang gak becus itu, hilang begitu aja setelah gue ketemu lo. Gue selalu memperhatikan lo, saat belajar, kebelakang sekolah, setiap menit gue perhatikan. Dan saat ini, gue baru munculin diri didepan lo. Sebagai Arsyaf yang bukan jadi buntelan bedug lagi," Arsyaf terkekeh kecil.
Tangis Zee pecah. Ia memeluk Arsyaf erat. Teman-teman Zee menghampiri mereka berdua.
"Hiks lo jahat!"
"Maaf."
Zee dan Arsyaf adalah teman sejak mereka kecil. Keduanya Seperi nadi dan pemiliknya, tak terpisah. Tapi saat Ayah Arsyaf memutuskan pindah ke kampung halamannya, Brazil, mereka berpisah. Umur mereka berdua memang terpaut jauh, sekitar 5 tahun. Tapi tak ada diantara mereka yang memanggil 'kak' atau 'dek'. Karena memang itu yang Arsyaf inginkan.
Arsyaf adalah mahasiswa lulusan S1 di Brazil, tapi disini ia juga sebagai guru termuda disini. Karena biasanya guru-guru disini diambil dari lulusan S3.
Zee melepaskan pelukannya dengan air mata yang sudah tak mengalir lagi di pipinya, "kenapa harus berubah sih penampilannya? Gue kan lebih suka lo yang gendut!" Protes Zee kesal, sambil mengelap ingusnya yang tadi turun kemana-mana.
"Ya bagus dong, kan jadi gampang gue nyari jodoh. Hahaha."
"Yeuu, mana ada yang mau sama guru sableng kayak lo gini!"
"Gue mau kok," Kaila menyela. Sejurus kemudian ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "ups!"
Zee dan teman-temannya tertawa, Arsyaf pun sama.
"Dasar, ngeliatin bule dikit langsung Pepet," cibir Rangga.
"Alah cemburu bilang aja lo!" Celetuk Cleo sambil tertawa diikuti yang lain. Sementara Rangga hanya mendengus kesal.
"Makanya, Bang! Anak orang jangan digantungkan doang, dikasih harapan, tapi tanpa status. Hahaha. Hati-hati ketikung sama yang lain," ucap Vania.
"Ini kayaknya kode sama tetangga sebelah ya," cibir Rangga sambil melirik kearah Cleo.
"Apasih!"
Tawa kembali terdengar.
"Eh, ini udah telat lo pada! Gue sebagai guru harus beri kalian hukuman! Lari 10 keliling di lapangan!" Tegas Arsyaf.
Semua teman-teman Zee, termasuk Zee, melirik sinis kearah Arsyaf.
"Lo nyuruh gue?" Sinis Zee.
Arsyaf menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ck. Salah lagi gue."
"Hahaha. Iya iya, pak Guru. Kita lari," ucap Zee dengan kekehannya.
Teman-teman Zee menatap Zee tak percaya, pasalnya ini pertama kalinya Zee menerima perintah dari sekian ribu orang yang memerintahnya. Disuruh ambil sisir didepan mejanya saja ia tak ingin, lah ini? Lari 10 kali di lapangan yang lebarnya sebesar jidat Zaskia gotik! Suatu kejadian yang langka.
"Lo serius Zee?"
Zee mengangguk santai, "kali-kali kan kita dihukum. Itung-itung olahraga lah."
Zee melangkah kedalam mobilnya, mengambil kunci mobilnya, lalu menyerahkan kepada Pak Satpam yang sedari tadi masih diam tak berkutik di depan Gerbang utama, "pak, tolong parkiran mobilnya di parkiran khusus pemilik ya," suruh Zee.
"I-iya neng."
Zee menoleh kebelakang, kearah teman-temannya yang masih diam ditempat, "woy ayo!"
Mereka tersadar lalu segera menyusul Zee yang sudah berjalan lumayan jauh didepan mereka.
****
Pria itu nerjalan dengan kepala yang tertunduk, sesekali ia membenarkan letak kacamatanya yang merosot dari hidungnya. Ditangannya banyak buku-buku tentang pelajaran Biologi.
Banyak yang menatapnya dengan pandangan jijik, tapi ia berusaha tak peduli dan terus berjalan.
Hingga akhirnya ada sebuah kaki yang sepertinya sengaja dijulurkan oleh nya. Pria itu memberhentikan langkahnya, lalu msedikit melirik, untuk mengetahui, kaki siapa itu?
Ternyata segerombolan cowok yang sepertinya memang terkenal nakal. Terlihat jelas dari wajah dan bu asap rokok dari seragam yang mereka kenakan.
Cowok itu sengaja menginjak kaki cowok itu, hingga membuat sang empu meringis kesakitan. Lalu ia berjalan begitu saja.
"Anjing! Heh nerd, berani banget lo nginjek kaki gue! Sini lo *******!" teriak cowok tadi. Tapi ia abaikan.
Merasa diabaikan, cowok itu menggeram marah, lalu menarik kerah belakangnya, hingga ia hampir terjungkal kebelakng.
__ADS_1
"Gak punya kuping lo, Hah?! Budek lo!"
"M-maaf," katanya bergemetar takut.
"Maaf maaf! Heh liat, nih kaki gue biru! Pijitin sekarang!"
"T-tapi saya harus ke kelas sekarang,"
"Lo berani sama gue hah!"
Cowok itu menunduk ketakutan. Ia tak menjawab, melainkan hanya bersumpah serapah dalam hati.
"Ngerti tata krama dalam aturan sekolah nggak?" suara khas perempuan dibelakang mereka membuat mereka semua serempak menoleh kearah sumber suara.
Ada Zee disana yang tengah bersedekap dada dengan wajah datar.
"Gak usah ikut campur lo! Jangan mentang-mentang lo kaya, lo pikir gue takut?!" tegas cowkk urak-urakan itu. Ia melepaskan kerah bajunya hingga ia bisa membebaskan diri dari cowok itu.
"Dilarang membully."
"Gue gak bully!" elak Cowok itu.
Zee mendecih, "lo pikir kayak gitu bukan membully? Punya otak?" tanya Zee dingin.
"Tau apa lo? Dia udah nginjek kaki gue! Dan gue minta tanggung jawab dia buat mijitin kaki gue!"
"Lo pikir gue gak liat? Kaki lo sengaja hadang jalan dia!"
Cowok itu menggeram marah, ia melangkah mendekati Zee, tangannya bergerak mengangkat, bersiap menampar pipi mulus Zee.
Tapi justru Zee menangkap tangan kekar cowok itu, membuat semua teman-temannya menganga tak percaya.
Zee tersenyum miring, kini dirinya lah yang mengambil alih tangan sialan ini, Zee memutartangannya kebelakang lalu memelintirnya dengan ringan. Membuatnya menjerit kesakitan. Bukannya iba, Zee justru makin menjadi, apalagi ketika mendengar suara jeritan.
Krek!
"Arrrgghh anjing!"
Zree mematahkan tangannya dalam satu kali potekkan. Seperti mematahkan ranting kayu yang tipis nan rapuh.
Semua teman-teman cowkknya menelan salivanya kasar. Tak ada yang berniat membantunya. Takut menjadi korban sadis Zee juga.
"Minta maaf," suruh Zee, dengan tangan yang belum lepas dari pelintirannya.
"Gak!"
Krek!
"Arrgggh!"
"Minta.maaf."
"I-iya."
Zee melepaskan tangannya dengan kasar. Ia mendelik kearah cowok berkacamata yang diam tak berkutik saat menyaksikan kejadian sadis tadi di depan matanya sendiri.
Cowok itu menghampirinya, "gu-gue minta ma-maaf," ucap cowok itu enggan.
"I-iya aku maafkan."
Cowok itu mengajak temannya pergi, dan segera pergi dari sana.
Zee menghampiri cowok berpakaian nerd, "lo gak papa kan?" tanya Zee datar.
"I-iya."
"Bagus deh," setelahnya Zee segera pergi dari hadapan nerd itu dengan meniup permen karet rasa stroberinya hingga menghasilkan balon dan meletus.
Pertemuan yang tidak pernah ia bayangkan. 2 kali dipertemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Pertama karena tertabrak, dan kedua karena korban pembullyan.
Pertamuan yang tidak terlalu berkesan bagi Zee, tapi justru sangat berkesan untuknya.
Mungkin ia jatuh cinta. Pada Zee...
__ADS_1