Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 9


__ADS_3

Ansell : Gue jemput jam 7, di deket kantor pemasaran deket komplek rumah lo.


Zee mengerutkan dahi nya, sejak kapan ia menyimpan no Ansell? Meminta nomor handphone Ansell saja dia tidak pernah. Ah, ia hampir lupa siapa Ansell. Sang ketua gangster terbesar. Tentu saja sangat mudah baginya untuk melakukan hal kecil seperti ini.


Zee : Y.


Ansell : Dandan yang cantik. Biar gak malu-maluin didepan temen-temen gue!


Zee hanya membaca pesan itu, tidak berniat untuk membalasnya. Memang siapa Ansell? Pengatur!


"Princess, turun dulu, kita makan malam," teriak Kaila dari bawah.


"Iya, Mom!"


Zee masuk kedalam lift lalu menekan tombol 1, menuju lantai paling bawah.


Ting!


Zee keluar dari lift, dan langsung menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul. Zee tersenyum lebar pada semua keluarganya, lalu mengecup pipi mereka satu persatu.


Zee duduk di salah satu bangku, samping Davin.


"Princess, besok temenin Dady ke Perancis ya? Kebetulan perusahaan Dady disana ada masalah keuangan, dan Dady pengen kamu yang mengurusnya. Karena Dady tau, kamu yang paling bisa Dady andalkan," Williams tersenyum lembut pada Zee.


Zee mengerutkan keningnya, "apa ada hubungannya dengan pembayaran pembangunan perusahaan Dady yang di Canada?" Tanya Zee.


Williams tersedak air yang ia minum, lalu menatap Zee dengan tatapan bingung, "kok kamu tau?"


Zee cengengesan, menampilkan sederet gignya yang rapi sempurna, lalu menggeleng, "tau aja."


Prok prok prok!


Davin bertepuk tangan tiba-tiba, "wih keren princess, macam cenayang..."


Pletak!


Kepalan tangan Gavin mendarat sempurna di kening kembarannya. Membuat sang empu meringis kesakitan, "seenak-enaknya lo ngatain princess cenayang."


"Sutt, udah-udah kalian malah berantem gini sih, sekarang makan, terus tidur, entar biar princess sama Dady bahas di ruang kerja Dady aja," ucap Kaila menengahi.


"Iya, mom."


Zee menghembuskan nafasnya lelah. Sepertinya sebulan ini ia harus bekerja keras. Perencanaan perang saja belum siap, balas dendam? Meeting di Singapur? Kerja sama bodohnya dengan Ansell? Dan lagi masalah perusahaan Williams di Perancis.


Mungkin Zee harus mengundurkan satu aktivitasnya. Balas dendam, maybe? Ya, itu bisa kapan saja ia lakukan.


****


Zee : Gue udah ditempat yang lo suruh. Cepet kesini, 5 menit belum nyampe? Gue cabut!


Ansell : Dibelakang lo.


Zee menoleh kebelakang, ada Ansell disana. Ansell memakai kaos hitam pendek dibalut dengan jaket kulit hitam, serta celana robek-robek berwarna hitam. Benar-benar terlihat gangsternya menurut Zee.


"Lo mau dateng ke acara ulang tahun apa mau tawuran?!" Zee menatap Ansell tak percaya. Sedangkan yang ditatap hanya tetap bertengger di motor ninja hitam nya.


"Bacot ah. Udah ayo, nanti kita telat."


Zee berdecak kesal. Mau tak mau ia harus menuruti perintah Ansell.


Ansell menstater motornya lalu menancap gas menuju lokasi yang Zee tidak tau tempatnya. Dan tidak mau tau.


Tak butuh waktu lama, motor Ansell berhenti disebuah tempat club malam. Ansell mematikan mesin motornya lalu turun, diikuti oleh Zee. Zee menatap gedung didepannya dengan bingung.


"Disini?" Tanya Zee, Ansell mengangguk.


Wajah Zee yang tadinya kebingungan, kini berganti dengan raut wajah sumringah, "wah udah lama nih gue gak kesini."


Ansell mengerutkan keningnya, menatap Zee dengan wajah cool nya. Atau menurut Zee itu tengil.


"Cewek kayak lo juga suka kesini? Gue kira tau nya cuma mall, shoping, ngabisin duit," cibir Ansell.


"Siapa bilang?"


"Gue."


Zee memutar bola matanya malas. Menurutnya hanya membuang waktu meladeni cowok seperti Ansell. Tak lama ada seorang cowok yang menghampiri mereka.


"Woy, Sel!"


"Eh, Sean! What's up bro," mereka bertos ala pria. "Udah lama gue gak liat lo."


"Yoi. Baru balik dari Amrik kemaren," cowok yang dipanggil Ansell dengan sebutan 'Sean' itu melirik kearah Zee. "Cewek lo?"


Ansell mengikuti pandangan Sean, "Yoi!"


"Akhirnya sekian lama menjomblo. Ada juga yang mau sama lo, haha! Cakep lagi."


"Bacot lo. Gak dibolehin masuk nih gue?"


"Ya masuk aja sih. Biasanya juga nggak disuruh juga masuk. Bawa juga cewek lo, jangan ditinggal. Nanti kepake sama cowok lain kan bahaya. Haha!"


Ansell ikut tertawa. "yaudah gue masuk duluan."


Ansell masuk kedalam diikuti oleh Zee. Zee mengedarkan pandangannya. Banyak orang yang menurut Zee adalah teman-teman Ansell. Pakaian yang dikenakan juga tak jauh dari pakaian yang dipakai Ansell. Semuanya sama. Satu yang membuat Zee terpaku adalah jaket yang digunakan adalah jaket berlogo DBM dengan gambar tengkorak yang menjadi ciri khas DBM. Dari sini Zee tau, hanya anggota DBM saja yang datang dan diundang. Kecuali dirinya.


Tiba-tiba sebuah tangan hangat menyambut tangan Zee. Membuat Zee menoleh kearahnya. Ternyata Ansell.


"Biar gak ilang."

__ADS_1


Zee memutar bola matanya malas. Ansell membawanya kearah kerumunan teman-teman Ansell.


"Woy, Sel!"


"Cewek lo?"


Pertanyaan itu lagi, sepertinya Zee dan Ansell akan diserbu dengan pertanyaan yang sama, 'Cewek lo?'


"Yoi."


"Siapa nama lo?" Tanya cowok didepan Ansell.


Zee hanya menatap datar cowok itu. Lalu memutar bola matanya malas. Sepertinya pertanyaan itu tidak penting dibahas. Apa untungnya untuk Zee kalau memperkenalkan nama?


Merasa tak dijawab, Ansell berinisiatif untuk angkat bicara, "Zeline Zakeisha Jovanka Williams, ketua dari DBD."


Lenyap.


Sepi.


Suara dentuman musik pun tiba-tiba berhenti, suara Ansell seakan menggema diruangan itu.


"SERIUS?!"


"ssh, ***** kaget gue!" Pekik Ansell dan Zee bersamaan.


"Lo ketua DBD?"


"Pacarnya Ansell?"


"Yang kerja sama itu kan?"


"Wah Cinlok nih ceritanya?"


"Nama lo Zee?"


"Anaknya Williams?"


"JAWAB JANCOK!"


"SANTAI DONG!" teriak Zee. Membuat suasana kembali hening.


Zee memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.


"Sorry. Gue kebawa emosi," ucap Zee tak enak.


Sean tiba-tiba datang, "selow aja. Jadi, lo serius pacarnya Ansell?"


Zee tidak menjawab, ia malah menatap Ansell. Membiarkan cowok itu saja yang menjawabnya.


Mengerti tatapan Zee. Ansell menarik Zee, merangkul cewek itu dengan entengnya, "Iya, dia cewek gue. Kalo ada yang berani deketin dia, berurusan sama gue!"


"Yaelah, selow kali."


"YOI!"


"HAHAHAHA!"


Zee menatap mereka dengan tatapan malas. Ia melangkah mendekati bartender. Memesan tequila segelas dan segera meminumnya hingga tandas tanpa mabuk sedikit pun.


"Wohoo. Cewek nya Ansell kuat juga ya."


Zee menoleh ke belakangnya. Ada Sean disana yang tengah menatapnya. Zee hanya menatap Sean dengan tatapan datar. Ia tak terlalu suka berbicara dengan orang asing. Apalagi orang sok asik seperti Sean ini.


"Jangan datar-datar di pesta gue. Gue pengen semua orang senyum. Bukan datar kayak lo. Itu muka apa tembok Hahaha."


Zee menatap Sean dengan kening berkerut, "Pesta lo?"


Sean mengangguk, "iya, emang Ansell gak cerita?"


"Enggak. Dia cuma minta gue dateng kesini."


"Ooh." Sean mengangguk angguk saja. "Eh, katanya lo anak Williams? Setau gue, tuan Williams nggak punya anak cewek."


Zee mengalihkan pandangannya ke yang lain. Ia merasa pertanyaan ini sedikit melenceng, "privasi."


"Haha iya iya sorry."


Ansell datang sambil menepuk pundak Sean, "woy Sean, gue balik ya. Kasian cewek gue. Udah malem juga nih. Sorry gue gak bisa lama-lama," pamit Ansell.


"Iya tenang aja. Thanks udah dateng."


"Eh cewek bawel ayo cabut. Mentang-mentang dapet minum gratis, sampe betah," celetuk Ansell.


Zee memutar bola matanya malas, "suka-suka gue lah. Bukan lo ini yang bayar!"


"Ck. Yaudah ayo balik," Ansell menatap Sean, "gue cabut."


Ansell menarik pergelangan tangan Zee begitu saja. Membuat Zee melangkah dengan langkah sedikit terseret.


Sean menatap keduanya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Entahlah, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.


****


Zee duduk di balkon kamarnya, dipergelangan tangannya sudah ada gitar berwarna coklat. Setelah pulang dari pesta ulang tahun temannya Ansell, ia langsung segera berganti baju dengan baju tidurnya.


Perlahan ia emtik gitar nya, sehingga menghasilkan nada merdu yang keluar setiap senar-senar yang dipetik nya.


I wait for the postman to bring me a letter

__ADS_1


And I wait for the good


Lord to make me feel better


And I carry the weight of the world on my shoulders


A family in crisis that only grows older


Why'd you have to go?Why'd you have to go?


Why'd you have to go?


Daughter to father, daughter to fatherI am broken but I am hoping


Daughter to father, daughter to fatherI am crying, a part of me is dying


And these are,


These are the confessions of a broken heart


And I wear all your old clothes, your polo sweaterI dream of another you


One who would never


Never leave me alone to pick up the pieces


A daddy to hold me, that's what I needed


So why'd you have to go?


Why'd you have to go?


Why'd you have to go?!


Daughter to father,


Daughter to fatherI don't know you,


But I still want to


Daughter to father,


Daughter to father,


Tell me the truth,


did you ever love me?'


Cause these are these are the confessions of a broken heart


Of a broken heartI love youI love youI love youI love you!!


Did you ever love me?


Did you ever love me?!


(Yg gatau lagu nya liat aja di youtube, judulnya Confessions of a Broken Heart)


Suara indah Zee seakan bagai magnet yang menarik besi mendekat. Semua keluarga nya tengah berada dibalik pintu kamar Zee, mereka tersenyum lembut ketika Zee mengakhiri lagu indahnya.


Kaila membuka pintu kamar Zee yang ternyata tidak dikunci. Diikuti Williams, Gavin dan Davin.


"Belum tidur, Princess?" tanya Ny. Williams lembut, membuat Zee menoleh ke arahnya.


"Mom, Dad, bang Gavin, bang Davin?" kaget Zee, "kok kalian dikamar Zee?"


Williams tersenyum hangat kearah putrinya, lalu duduk santai di kasur queen size milik Zee, "suara kamu itu bagus banget. Sampe-sampe kita dateng kesini," ucap Williams sambil terkekeh.


Zee tersenyum senang mendengarnya, ternyata suaranya cukup bagus di dengar.


"Princess, kenapa belum tidur?" ulang Ny. Williams.


Zee menoleh kearah momy nya yang kini sudah berada disampingnya sembari mengelus rambut nya lembut, "belum ngantuk, Mom." Zee terdiam sebentar, ia menggigit bawah bibirnya kuat.


Menyadari tingkah aneh Zee, Gavin bertanya, "kenapa Princess?"


Zee menghela nafasnya berat, "Zee boleh minta sesuatu nggak?"


Davin tersemyum sumringah, "apapun untuk kamu." diangguki oleh semuanya.


"Zee kangen sama keluarga kandung Zee. Dulu, dimalam kayak gini biasanya, mereka tidur bareng sama Zee. Tapi sekarang gak bisa. Tapi Zee pengen kalian yang temani Zee tidur. Aneh banget ya? Zee kan udah gede, hehe," ucap Zee dengan cegirannya.


Semua keluarganya terkekeh geli. Williams bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Zee, dan mengacak puncuk rambut Zee gemas, "Apapun untuk kamu. Yuk, kita tidur. Cukup kok tempatnya disini."


"Nah, gud nih, Dad!" pekik Davin, membuat semua tertawa.


"Jadi mau nih?" tanya Zee lagi, kini dengan senyum lebarnya.


"Iya princess..."


"Yey! Makasih untuk semuanya. Makasih, Zee bener-bener berterima kasih sama kalian, Zee gak tau mau gimana lagi buat bales kebaikan kalian. Bahkan kata terimakasih aja nggak cukup untuk menebus semua kebaikan kalian," ucap Zee tulus.


"Tidak perlu berterimakasih, princess. Justru kami yang harusnya bersyukur. Tuhan telah menitipkan kamu untuk kami rawat dan menjadi pelengkap keluarga. Tanpa kamu, kita hanya sebuah jasad tanpa nyawa. Dulu mah mana ada ketawa-ketawa sesumringah ini sebelum ada kamu," kata Gavin.


"Yaudah udah malem ini, sekarang kita tidur. Turuti keinginan princess malam ini. Kita tidur sama sama di kamar princess," ujar Ny. Williasm hangat, membuat Zee tersenyum.


Zee memeluk keluarganya dengan kasih sayang, lalu mengecup pipi mereka satu persatu. Zee benar-benar sangat menyangi keluarganya ini.


"Good night, mom, dad, bang Gavin, bang Davin, love you!!!"

__ADS_1


"Good night too princess. We are love you so much..."


Hilang satu tumbuh seribu, Zee rasa lebih baik ia kehilangan keluarga kandungnya daripada harus dipisahkan dengan keluarganya yang ini. Walaupun bukan berasal dari keluarga kandung, tapi Zee benar-benar mencintai nya. Ia akan selalu menjaga keluarganya ini. Tanpa bekas lecet sedikitpun.


__ADS_2