
Sepulang sekolah, kelima sejoli ini datang ke kediaman Williams untuk latihan Basket. Siapa lagi kalau bukan, Davin and the geng.
Mansion keluarga Williams begitu luas, bahkan hanya untuk lapangannya saja mencapai beratus-ratus hektar.
"Minum dulu, baru latihan ," kata Gavin memberi saran.
Semua mengangguk, dan memasuki istana milik Williams.
Ting tung!
Gavin memencet bel. Karena Mansion keluarga Williams sangat amat dijaga ketat. Tidak bisa sembarang orang bisa masuk disana.
Seseorang berpakaian daster kebesaran membukakakn pintu untuk kelima cogan diluar.
Dengan senyum sumringahnya, ia menatap kelima orang dihadapannya ini. Membuat mereka semua membelalakan mata karena terkejut.
"Hey, abang-abangku."
Detik itu juga, Davin kejang-kejang.
****
Semua menatap Zee dengan tatapan tak percaya nya. Apa ini? Apa mereka sedang tertidur dan memimpikan Zee?
Atau apa?!!!
Sedangkan yang ditatap hanya cekikikan tak jelas. Melihat semua tatapan mereka yang menurutnya lucu.
Setelah kejadian di depan pintu, melihat Zee yang membukanya, dan kejadian dimana Davin kejang-kejang.
Prin menghubungi semua teman-teman Zee untuk menyaksikan kejadian live yang sunggu langka!
"S...siapa lo?" tanya Davin takut-takut. Ia masih syok ternyata.
Bukannya menjawab, Zeejustru tertawa kencang. Membuat semuanya merinding ketakutan.
Mereka yakin, ini adalah arwah Zee!
"Z...Zee? Gue yakin lo masih dendam sama keluarga kandung lo, tapi gue mohon bahagia disana, pliss, jangan dateng dan buat kita takut..." kata Kaila memohon. Mereka benar-benar takut kali ini.
Seketika Zee menatap teman-temannya tajam.
Zee sudah repot-repot datang kesini, dan disuruh mati, lagi??? What the hell???
"Yaudah gue gantung diri aja," ucap Zee sambil bangkit. Mulut nya mengerucut kesal.
Mereka menatap Zee heran. Lalu pandangan mereka turun kebawah, kearah kaki Zee yang menempel pada lantai.
Cleo menyikut lengan Rangga, "Coyy, tanya mbah gugel. Ciri-ciri hantu itu gimana? Emang kakinya napak ya?"
Rangga mengangguk, dengan segera ia mengeluarkan iPhonenya dan menanyakan mbah gugel. Bodohnya, ia memakai Google Voice.
Membuat Zee semakin mengerucutkan bibirnya.
"Oke gugel, bagaimana ciri-ciri hantu?"
"GUE BUKAN HANTU!!!" Teriak Zee, mempu memecahkan figura dinding seharga 40 juta.
"Lailahailallah!"
"Allaahumma baarik lana fiima razaqtana..."
"Astagfirullah!"
"Ini Zee Ori? Bukan KW?" tanya Kaila masih tak percaya.
"Iya. Ini Zeline, Princess kalian," kata Friska yang muncul entah darimana. Disusuli dengan Mr. Williams dan istrinya, lalu Smith.
Mereka sedari menahan tawa ketika melihat anak-anaknya seperti orang linglung.
"Mom?" dahi Dito berkernyit.
"Ini ada apa sih?" tanya Prim yang sedari tadi diam.
Friska menghampiri Zee dan merangkulnya erat, "lihat? Dia bukan hantu, dia Zeline. Zeline kita!"
Mereka menggaruk tengkuknya berbarengan.
"Maksudnya?" tanya Davin masih gak konek.
Kaila dan teman-temannya segera menghampiri Zee dan memeluknya erat. Mereka menangis terharu, entahlah mereka juga tak tau ini nyata atau mimpi, setidaknya mereka bisa bertemu Zee. Itu sudah lebih dari cukup.
"Zee...hiks. Lo tega tinggalin kita...hiks," kata Vania yang masih setia memeluk Zee.
Ingus meleler kemana-mana, ia mengusapnya dengan tangan, maklumlah gak bawa tisu.
Zee tersenyum kecil menatap mereka. Ia berujar dalam hati.
__ADS_1
'Terimakasih'
Batinnya pada Zaline didalam tubuhnya. Berharap Zaline bisa mendengarnya.
"Ini beneran nyata kan....hiks..."
"Iya. Ini gue. Si Zee yang kejam!" ucapnya sambil terkekeh menertawakan ucapannya sendiri.
"Jangan pergi lagi!" kata Kaila tegas.
"Gak akan..."
"Jangan mati lagi!"
"Semua orang pasti akan mati..."
"Jangan nipu kita lagi!"
"Tergantungg..."
"Ish!"
Zee menatap kelima abangnya dengan raut cemberut.
"Kalian gak ada yang mau peluk Zee?" rajuknya.
"Emang boleh?" tanya Dika sambil meringis pelan.
"Gak boleh!" kata Zee yang membuat Davin tergelak.
"Tapi kan-"
"Gak boleh nolak maksudnya," potong Zee lalu melebarkan tangannya memberikan ruang untuk kelima abangnya itu untuk memeluknya.
Dengan kecepatan cahaya dan kilat, mereka tergopoh-gopoh memeluk Zee.
"Abang sayang kamu," ucap Dito sambil mengusap rambut Zee lembut. Ia tak kebagian ruang untuk memeluk Zee. Jadilah ia hanya mengusap rambut Zee saja.
Zee tersenyum lebar, "Zee lebih sayang abang."
"Abang lebih?"
"Tapi Zee lebih lebih!"
"Abang lebih lebih lebih lebih!"
"Ish, Zee pokonya lebih lebih lebih-"
"Gak boleh ngeyel!" sela Dito, ia mencium pipi Zee cepat. Membuat Zee memanyunkan bibirnya.
Abangnya curang!
"Udah sesi peluk-peluknya. Sekarang kita makan. Mom udah nyiapin makanan terlezat untuk kalian semua," ucap Ny. Williams.
"Yeayyyy!" pekik mereka semua girang. Bak, anak kecil yang akn diberikan segudang permen.
Dalam seumur Zee ini lah hari yang ia tunggu-tunggu.
Hari palong membahagiakan untuknya.
Benar kata orang.
Bahwa, "semua akan indah pada waktunya"
****
Kehidupan Zee mulai saat ini jauh lebih baik. Ia mendapat kasih sayang dari kedua keluarganya. Keluarga Smith maupun keluarga Williams.
Zee sudah tinggal bersama keluarga Smith, tak jarang ia berkunjung ke mansion Williams. Seperti pagi ini.
Mereka sama-sama pergi kesekolah, untuk yang ke sekian kalinya.
"Besok udah mulai UN lho. Abang harus belajar! Jangan main hp mulu!" ucap Zee garang. Ia bagai guru yang memarahi muridnya ketika berbuat kesalahan.
"Iya, Princess..."
"Baguss. Sekarang kita berangkat!"
"Lets go!!!"
Mobil Sport merah milik Zee melesat menuju kesekolah.
Di pertengahan jalan, mereka terhimpit dua mobil Sport dengan warna yang sama.
Zee tau, itu mobil Kaila dan Vania. Mereka baru beli di Brazil kemarin. Katanya sih biar couple.
Jadi ceritanya mau balepan nih? Oke Zee jabanin!
__ADS_1
Zee melajukan laju mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli dengan keadaan sekitar yang memang sedang ramai-ramainya, karena jam masuk kerja.
Banyak cacian untuk ketiga mobil keren mereka. Tapi mereka tulikan.
Abang-abang Zee saling berpelukan erat. Serius! Ini kenceng banget woyy!
Dito hanya berdoa, semoga Zee selamat.
Sedangkan yang lainnya, saling memikirkan untuk mereka bisa hidup. Kasian jodoh mereka nanti, jika cogan-cogan ini mati. Nanti jadi single selamanya deh. Kan gak enak diliatin tetangga.
"Astagfirullah-astagfirullah."
Sumpah Zee pengen ngakak. Tapi takut dosa. Manaan pada masih mudaaa.
Mobil Zee samapai duluan di area sekolah, disusuli oleh Kaila dan Vania.
Membuat semua makhluk bumi menatap mereka kagum.
Udah kaya
Cantik
Ganteng
Badannya aduhay.
Behh, idaman!!
"Gue sampai duluan!" ucap Zee sombong. Ia memutar mutar kunci mobilnya di jari telunjuknya.
Tak menghiraukan abang-abangnya yang sudah muntah sana-sini karena mabok jalan.
Ampun Zee.
"Sombonggg...." saut Vania.
"Ke kelas yuk," ajak Kaila.
"Kuy!"
Sepanjang perjalanan, tak henti-henti nya tatapan kagum dilayangkan untuk mereka.
Benar-benar seperti bad girl.
Tiba-tiba Zee teringat akan Arsyaf. Ya, Arsyaf. Ingat kan? Si pak guru bule.
Arsyaf sudah pergi lagi ke Brazil untuk meneruskan bisnis Ayahnya setelah tahu dikabarkan Zee meninggal.
Arsyaf mungkin tidak mengetahui bahwa Zee masih hidup. Mungkin sebaiknya Zee menghubunginya.
Mereka bertiga sampai diruang kelas.
Kelas yang awalnya bising, kini hening saat mendapati mereka bertiga masuk.
Disana juga sudah ada Cleo, Zalfa dan Rangga yang sedang tertawa bersama.
"HELLO GUYSS!!" teriak Kaila dengan mulut cemprengnya.
Zee menoyor kening Kaila pelan, "kebiasaan."
Yaa, Zee sudah tidak perlu menjaga image nya lagi di depan anak-anak sekelasnya. Hanya mereka yang sekelas dengan Zee lah yang mengetahui sifat Zee yang kadang blak-blak kan.
"Ish."
Zee menduduki mejanya. Dan mengeluarkan handphone miliknya.
Zee memencet ikon Whatsapp dan mendapati ada satu pesan dari Ansell.
Ansell : Gue tunggu didepan rumah lo nanti malem. Dandan yang cantik, gue mau ngajak lo kesuatu tempat....
Zee mengernyitkan keningnya. Lalu menggeleng tak peduli.
Tapi jarinya bergerak lancang menari di atas keyboard.
Zee : Iya.
Zee menggeleng kaget. Astaga. Tidak, tidak jangan seperti ini.
Dengan segera Zee menghapus pesannya. Tak sadar bahwa centang dua abu-abu itu sudah berubah menjadi centang dua dengan warna biru.
Ansell sudah membacanya.
Diseberang sana, Ansell terkikik sendiri ketika Zee menghapus pesannya.
Zee itu tipekal orang gengsian. Dia gak mau mulai duluan sebelum orang lain mengajaknya.
Zee masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalas pesan Ansell.
__ADS_1
Hingga akhirnya Zee mengetik.
Zee : Sok misterius lo!