Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 7


__ADS_3

Zee melihat figuranya di depan cermin full body. Ia melusuri setiap inci tubuhnya. Heran, mengapa ia bisa se-cantik ini. Dasar narsis.


Zee masih berada di markas DBD. Ia dan teman-temannya menginap disana. Dan sekarang, waktunya mereka berangkat sekolah. Walaupun, tak jarang Vania dan Kaila menguap karena mengantuk. Mengingat mereka tidak biasa bangun pagi.


Aneh padahal udah jam 06.45 sedangkan masuk pukul 07.00, sudah dipastikan mereka akan terlambat. Belum lagi terkena macet.


Namun hari ini, Zee sangat senang, ia terus tersenyum disepanjang perjalanan. Mengingat bahwa dirinya akan kedatangan tamu spesial, yang akan membantunya untuk melancarkan misi nya kali ini.


Zalfa yang menatap Zee dari tadi, hanya berdecak kesal, "lo kenapa sih, Zee? Daritadi senyam-senyum senyam-senyum. Kesambet lo?"


Zee mengabaikan ocehan Zalfa. Ia masih tetap tersenyum sembari menatap jalan kota Jakarta yang penuh dengan kendaraan. Yah, posisinya sekarang adalah Rangga yang menyetir dan Zee disampingnya Rangga. Sedangkan Vania dan Zalfa berada ditengah. Dan Cleo dan Kaila berada di paling belakang.


"Jangan bikin mood gue ilang, kak! Pokoknya hari ini gue lagi seneng. Lo pada jangan ganggu gue, inget!"


"Iya, nyonya Zee!"


****


07.15


Tin...tin...tin


Rangga membunyikan klakson mobil Zee. Terlambat! Yaa, mereka sudah terlambat 15 menit. Tapi siapa yang akan memarahi Zee? Anak perempuan pemilik yayasan, Tuan Williams!


Pak satpam yang sedang berjaga di pos satpam, segera berlari dan membukakan gerbang pada mobil Zee. Memberikan jalan selebar-lebarnya untuk mobil mengkilat tersebut.


Rangga memarkirkan mobil Zee di parkiran khusus pemilik. Seperti biasa.


"Van, Kai, bangun dong. Kita udah sampe nih," ujar Zalfa mencoba membangunkan kedua insan disamping dan di belakangnya tiu.


Vania dan Kaila mengerang sembari mengucek matanya. Mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih terasa di alam mimpi.


"Usah sampe?" Tanya Kaila polos.


"Belum. Masih di kasur. Yaudah sampe lah," celetuk Cleo kesal.


Kaila dan Vania mengangguk-angguk seperti orang bodoh.


"Yaudah ayo. Turun. Lo berdua rapiin duku rambut lo, berantakan begitu. Kita mau kedatangan tamu," ucap Zee dengan senyum miringnya.

__ADS_1


Rangga mengerutkan keningnya. "Siapa, Zee?"


Zee menoleh kearah Rangga, "ada. Udah ayo makanya kita turun. Entar jam istirahat gue kasih tau."


Mereka semua berdecak kesal. Zee selalu merahasiakan sesuatu. Dari hal kecil sampai hal besar. Dan mengambil tindakan tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu.


Setelah membereskan diri. Mereka turun dari mobil berbarengan.


Sepi. Karena semua murid sudah masuk kedalam kelasnya masing-masing. Tapi baguslah. Zee tidak perlu mendengar bisik-bisik yang membicarakan tentang dirinya ataupun teman-temannya. Walaupun pujian sekali pun.


Mereka berjalan beriringan menuju jelas melewati koridor kelas 12. Karena memang kelas 12 tempatnya ada di paling bawah. Sedangkan dilantai tengah ada ruang guru, kepsek dan ruang kelas 11. Dan di lantai paling atas, ruang jelas 10.


Seseorang laki-laki berjalan menunduk dengan setumpuk buku ditangannya,–tanpa memperhatikan jalan, membuat dirinya menabrak Zee.


Bruk.


"Bisa jalan gak sih lo!" Zee memejamkan matanya, ia mencoba meredamkan emosinya. Ia sadar, bukan saatnya untuk mencari keributan.


Lelaki itu tersentak, ia mendongak sembari membenarkan kacamatanya yang merosot ke hidung.


"M-maaf."


"Pergi lo!"


Lelaki itu segera pergi, mungkin lebih tepatnya setengah berlari–mungkin takut dengan sosok Zee. Mungkin...


"Lo gak kenapa-kenapa, Zee?" Tanya Kaila Cemas. Zee menggeleng pelan, menandakan ia tidak apa-apa. Namun soal yang menabraknya tadi, sepertinya, ia mengenalnya. Tapi dimana?


"Yaudah, sekarang kita lanjut aja. Udah telat kita ini," ucap Rangga sembari melirik ke arah jam tangannya.


Zee mengangguk, lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Diikuti yang lainnya. Dan satu orang.


Tok...tok...tok


Zee mengetuk pintu ruang kelas yang sudah tertutup, karena memang sudah jam pelajaran, mereka sudah sangat telat.


Pintu terbuka, menampilkan sosok paruh baya berjenis kelamin laki-laki yang tengah menggoyangkan kumisnya. Raut wajahnya nampak keras dan terdapat kerutan di keningnya, menambah kesan galak yang dimilikinya.


"Sudah jam berapa ini?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Pak Reski.

__ADS_1


Zee melirik sebentar kearah Cleo. "Bang, jam berapa?" Tanya nya santai pada Cleo.


Cleo mengangkat tangan sebelah kirinya yang memperlihatkan jam hitam bertengger di pergelangan tangannya. "Jam delapan lewat dua puluh delapan menit."


Zee menatap Pak Reski dengan alis terangkat. "Terjawab pertanyaan bapak, 'kan? Sekarang minggir, gue mau masuk." Ucap Zee dingin.


Pak Reski tidak membiarkan Zee masuk begitu saja, ia mengeluarkan penggaris kayu panjang miliknya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik badannya.


Pak Reski menunjuk lapangan yang berada dibawahnya dengan penggaris. "kalian lari 10 keliling. Itu karena kalian sudah terlambat masuk sekolah."


Zee menatap Pak Reski tajam. Sorot kemarahan terpancar jelas di matanya, membuat Pak Reski sedikit ketakutan. Teman-teman Zee hanya diam menonton tanpa berniat memberhentikan ataupun menolong.


"Lo nyuruh gue?" Pertanyaan Zee langsung membuat seluruh bulu kuduk Pak Reski merinding hebat. Tapi Pak Reski berusaha menyembunyikannya. Karena ia melakukan hal benar. Itu demi kedisiplinan Zee dan teman-temannya. Itu memang benar, tapi Zee tidak ingin diperintah!


"Itu semua demi kedisiplinan kamu, Zee." Ucap Pak Reski dengan suara bergetar tertahan.


"Lo gak tau siapa gue?"


"Ya, saya tau kalau kamu adalah anak dari tuan Williams. Pemilik yayasan ini. Tapi kamu juga tidak boleh menyalahgunakan waktu. Waktu sangat berharga. Jika kamu tidak menggunakannya sebaik mungkin, itu akan merusak semuanya. Kamu mungkin memang anak orang penting. Tapi bukan dengan begitu, kamu bisa berbuat seenaknya. Berbuat lah disiplin, terutama pada Waktu."


Zee yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan tidak ada yang menyadarinya. Hanya Zee yang taumakna dari senyuman tersebut.


Zee mendekatkan mulutnya ke telinga Pak Reski. Lalu membisikkan sesuatu, "gue rasa, Pak Ahmad gak salah memilih guru," Zee menjauhkan mulutnya dari telinga Pak Reski, "terus menjadi guru seperti ini." Ucap Zee datar lalu masuk kedalam kelas diikuti dengan Kaila, Vania, Zalfa, Rangga dan juga Cleo. Membuat tatapan bingung dari semua murid kelas XI IPA 2.


Zee mendaratkan bokongnya di kursi miliknya.


"Lo bisikin apaan tadi sama Pak Kumis?" Tanya Zalfa yang sengaja menggantikan nama 'Pak Reski' menjadi 'Pak Kumis'.


Zee mengangkat sebelah bahu nya acuh, "gue lupa, kak."


Membuat Zalfa mendengus geram.


****


"Setidaknya, dia gak tau penyamaran gue." Ucap Lelaki berkacamata, saat ini ia tengah berada di belakang sekolah. Dimana tempatnya sangat Sepi oleh keramaian.


Ia melepaskan kacamata yang masih bertengger di hidungnya dengan kasar. Lalu membenarkan rambutnya yang sedari tadi terbelah dua, menjadi acak-acakan. Baju yang tadi dimasukkan kedalam celana dengan rapi, kini ia keluarkan. Dasinya ia tarik kasar, sampai membuat dasi itu robek tak berbentuk.


Lelaki itu tersenyum miring, membuat dirinya jauh lebih tampan dibanding dengan gaya yang tadinya culun. "Gue akan mulai dari sini," ia melirik sengit kacamata yang tergeltak tak berdaya di rerumputan. Lalu menginjaknya tanpa beban.

__ADS_1


"Gue rasa gue harus beli yang biasa aja. Perih juga pake yang min.”


__ADS_2