Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 31


__ADS_3

"Zeline meninggal!" ungkap Dito dihadapan Smith dan Friska.


Smith dan Friska menatap Dito dengan kedua mata melebar kaget.


"Apa?!"


"Zeline meninggal!" ulang Dito menatap datar kedua orang tuanya.


Smith dan Friska saling berpandangan.


"Ke-kenapa?"


Salah satu sudut bibir Dito terangkat, "ku rasa kalian tidak perlu mananyakannya." setelah mengucapkannya Dito pergi dari hadapan mereka dan pergi kekamar.


Tubuh Friska melemas. Ia tak menyangka anaknya sudah meninggal.


Tunggu?


Anaknya? Masih pantaskah ia dipanggil ibu?


"Mas?" lirih Friska.


Pandangan Smith lurus, ia bingung harua bertindak apa. Disatu sisi ia masih menyayangi Zeline, tapi disisi lainnya ia juga benci pada pada Zeline.


Apa yang harus mereka lakukan?


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga kali terdengar suara tembakkan terdengar. Smith dan Friska mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Ada apa itu, Mas?"


Smith tidak menyahut, ia melangkah menuju keluar mansion.


Mata Smith melebar kaget saat melihat depan mansionnya telah berbanjir manusia yang ia tak tahu itu siapa. Karena semuanya mengenakan topeng.


"Mau apa kalian?" teriak Smith marah. Ketenangannya terganggu oleh mereka semua.


Seseorang bertopeng dan berjaket hitam berbentuk tengkorak maju lebih dekat. Membuat Smith memundurkan langkahnya dan menabrak Friska.


"Nyawa mu!" tusuk seseorang itu.


Dito yang juga kebetulan mendengar suara tembakkan turun kebawah untuk melihat. Betapa terkejutnya ia saat melihat banyaknya manusia berpakaian dan berlogo gangster terkenal. DBD!


Tubuh Dito sedikit gentar. Tapi, ia harus menyelamatkan keluarganya.


"Pergi!" teriak Dito yang diacuhkan mereka semua.


Lima orang maju, tiga diantaranya berambut panjang yang Dito dan keluarganya duga itu seorang perempuan.


Mereka sama-sama melepaskan topengnya.


Dito terkejut untuk yang kedua kalinya. Mereka...bukannya mereka yang di pemakaman Zeline tadi?


"Selamat siang tuan Smith terhormat!"


Rangga melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan anggotanya.


"Ikat mereka!" seru Rangga. 5 anggota DBD maju kearah Smith dan dengan mudah mengunci pergerakkan mereka.


"Eh. Eh apa-apaan ini. Lepaskan kami!" bentak Smith marah.

__ADS_1


Salah satu anggotanya memukul bagian kepala belakang Smith. Membuat Smith tak sadarkan diri.


Rangga tersenyum miring, "bawa mereka ke gudang."


****


Smith membuka matanya yang terasa sakit.


Pemandangan tak menyenangkan langsung menyerbunya. Istrinya, Friska, sedang dijambak paksa oleh Rangga dan anaknya Dito sedang di iikat di kursi usang gudang rumahnya, seperti dirinya.


"Lepaskan tangan mu dari istri ku!"


Alis Rangga terangkat, "Kenapa? Bukankah kau sudah melakukan lebih dari ini?"


Mata Smith merah menyalang, "Lepaskan dia!"


Rangga melepaskannya kasar. Hingga Friska terjatuh dengan keadaan mengenaskan.


"Sial!"


Rangga menoleh kearah teman-temannya yang sedari tadi hanya diam seperti tak berminat menatap Smith apalagi menyentuhnya. Tangan mereka lebih berharga daripada menyiksanya, "kalian keluar aja. Biar gue yang tanganin!"


Kaila dan yang lainnya mengangguk, lalu keluar dari gudang.


Rangga kembali menatap Smith, "Dimana anak perempuan mu?"


"Apa urusan mu?!"


"Tentu saja urusan gue!" ucap Rangga sambil melipat tangannya, "karena dia, temen gue jadi celaka!"


"Apa maksudmu?!"


Rangga mencoba menahan emosinya. Ia berubah pikiran, ia rasa tidak guna menyiksa secara fisik. Lebih menyakitkan jika di siksa secara batin, "Zeline..." kata pembuka sudah membuat tubuh mereka lemas.


"Kalian kenal bukan?"


"Bodoh!" caci Rangga.


Tubuh Smith bergetar, sedangkan Friska sudah menangis. Menangis setelah mengetahui anaknya Zeline sudah tiada.


"Bahkan elo belum memastikannya, Tuan Smith yang terhormat. Terlalu bodoh hingga tak lagi memeriksanya ulang!"


Mata Smith memerah, "KAU TIDAK TAU APA-APA!"


"ELO YANG GAK TAU APA-APA!" Teriak Rangga memutar balik.


"Bahkan rasa benci nya sampai membuat dirinya dendam pada kalian! Tak tau kah kalian betapa tersiksa nya batin anak usia 7 tahun? Dan lucu nya, kalian mengusir untuk apa yang belum tentu kebenarannya."


Rangga menghembuskan nafasnya berat, ini saatnya memberi tau mereka, "Kami anggota DBD!"


Dan pernyataan itu berhasil membuat mereka terkejut sekaligus takut.


"Lo tau siapa yang membuatnya?" Rangga mengangkat dagu Smith kasar, "Anak lo, Zeline!"


Lagi, semua kembali terkejut.


"Lo tau apa tujuannya?"


Mereka terdiam, menunggu kelanjutan Rangga berbicara.


"Membalaskan dendam pada kalian!" Rangga menghempaskan dagu Smith kasar.


"Fan, Ambilin laptop nya!"


Irfan mengambil laptop yang menyala di meja dan menyerahkannya ke Rangga.

__ADS_1


Rangga menerimanya dan membuka satu berkas video.


Rangga tersenyum miring, "kita akan buktikan!"


Klik.


Video dimulai, disana ada Pak Jono, mantan ketua bodyguard keluarga Smith yang menyaksikan semua.


Pak Jono seperti sedang diancam dengan seseorang.


"Beritahu yang sebenarnya!" ancam orang itu.


Pak jono nampak ketakutan, ia menelan ludahnya kasar, "me..mang b...benar, bukan nona Z.Zeline yang membunuh t...tapi nona Z..Zaline..."


Mereka membulatkan matanya tak percaya. Jadi selama ini mereka telah salah.


"N..nona Zaline me..menyuruh saya un..untuk tutup mulut, kalau tidak, sa..saya yang akan d...dibunuh."


Smith menatap Rangga marah. Ia menggelemg keras, "ini pasti editan! Ga..gak mungkin anakku Zaline yang melakukannya!" bantah Smith.


Rangga menaikkan kedua alisnya. Ia menjentikkan jari sebagai intrupsi.


Dua orang masuk lewat pintu. Itu? Itu Pak Jono!


"Jono?" Smith tak percaya.


"Beritahu yang sebenarnya!" perintah Rangga.


"Memang benar pak, nona Zaline yang melakukannya. Bukan nona Zeline," Aku Pak Jono jujur.


Seperti jarum yang bertubi-tubi menusuk hatinya. Seolah tak percaya. Jadi selama ini mereka dikelabuhi anak mereka sendiri. Dan bodohnya mereka percaya begitu saja.


"Zeline..." lirih Dito.


"Zeline! Zeline anak ku sayang!" gumam Friska lirih. Air matanya menetes deras dari pelupuk matanya.


Rangga tersenyum miris. Sekuat mungkin ia menahan air matanya yang ingin ikut terjatuh, mengingat Zee yang sudah pergi ketika semua keluarganya sadar akan kebodohan mereka.


"Zee, lihat mereka sudah sadar... Apa yang harus gue lakuin?" batin Rangga.


"Tolong, siapapun dirimu, tolong bawa kami kemakam Zeline. Kami ingin bertemu dengannya," lirih Friska.


"Dito tau!" jawab Dito cepat.


Friska menoleh kearah Dito, "bawa mom kesana. Tolong..." lirih Friska.


Dito menatap Rangga yang juga tengah menatap kearahnya. Tatapan Dito seperti benar-benar mengiba. Rangga menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalian bisa pergi. Fan, lepasin ikatan mereka. Kita pergi dari sini," suruh Rangga dan berlalu.


*****


Friska menutup mulutnya kaget ketika berada di depan maka Zee.


"Zeline!!" teriak Friska histeris. Ia memeluk nissan Zee dengan kuat.


"Sayang, maafin Mom. Momy salah, sayang tolong bangun!"


Dito mencoba menenangkan momynya, terpukul atas kehilangan adiknya yang sudah melewati masa sakit hatinya. Karena mereka, hanya karena mereka.


"Dito, adik kamu... Hiks...adik mu!" lirih Friska.


"Iya, mom. Ikhlasin, Zeline udah tenang."


Smith menatap makam Zee dengan tatapan lirih. Lalu beralih menatap tangannya, tangan ini...tangan yang juga pernah memukul Zee.

__ADS_1


Smith tidak menangis, tidak. Ia hanya menyesali perbuatannya. Terpukul anaknya pergi? Tentu saja. Anak yang dulu sangat ja sayangi, justru sudah pergi meninggalkan semuanya dengan penyesalan yang teramat sangat.


"Maaf..." lirih Smith.


__ADS_2