
“Jadi Dady ada renovasi perusahaan di Perancis. Tapi, katanya ada kendala dibagian keuangan. Sedangkan di Canada, Dady ada pertandingan tender bersama Astrim Corp, dan perusahaan dady sudah tertinggal dengannya. Perusaan Dady hanya mendapatkan 43% sedangkan Astrim Corp 50%. Princess bisakan bantu Dady?" ucap Williams pada Zee yang tengah duduk di ruang kerjanya. Williams menatap Zee penuh harap. Sedangkan Zee hanya menghela nafas pasrah.
"Yaudah biar Zee yang urus."
Williams tersenyum lega, ia mengelus puncuk kepala Zee dengan lembut, "nanti Dady akan belikan apapun yang princess mau."
"Princess doang nih? Kita enggak?" tanya Davin membuat Williams menatap kearah kedua putranya.
"Nanti kalau Dady menang tender!"
Davin mengacungkan dua jempolnya, "sip! Ini baru bokap kesayangan!" ucap Davin bangga, membuat Gavin memutar bbola matanya malas.
"Oh ya? Bagaimana perusahaan kamu, Princess? Apa ada kemajuan?" tanya Kaila pada Zee. Zee menoleh kearah Momy nya.
Zee mengangguk senang, "Zee dapet investor, bukan lagi jadi investor! Ya walaupun Zee masih banyak modal untuk ini, tapi apa salahnya menerima keuntungan? Masih ada juga ternyata yang peduli dengan ZEJ Corp," ucap Zee bangga.
Williams menatap putri nya itu bangga, "princess memang bisa kami banggakan. Untuk Gavin dan Davin, Dady mau setelah kalian lulus, kalian Dady kuliahkan dan harus jurusan managment. Gak ada bantahan. Kalian adalah pewaris dari Williams Company!"
Davin dan Gavin menatap Williams sambil mendengus pasrah, "iya, Dad."
"Kalau perusahaan kamu yang di Singapura bermasalah, lalu gimana kamu mau benahin masalah yang di Perancis princess?" tanya Kaila. Bagaimana pun, ia khawatir dengan kesehatan Zee jika terlalu sibuk mengurus perusahaan. Karena ia juga pernah merasakan betapa lelahnya mengurus satu perusahaan saja.
"Momy tenang aja, Zee bisa kok nyelesain nya," dengan kekerasan sekalipun.
"Yaudah, intinya jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk memikirkan ini dan itu, nanti kamu sakit," ucap Kaila.
"Yes, Mom."
****
...Line...
...Diamond Black Devil's Group...
Gilang : @Zee ada kiriman dari GB'Gangster. Lo bisa markas sebentar? Sekalian @Kaila @Vania lo pada juga.
Zee : Otw!
Kaila : Otw! (2)
Vania : Otw! (3)
Zee : Copas bae lo pada!!!
Zee mengambil powerbank, tas dan dompet, kunci motor ninja miliknya, dan tak lupa handphonenya. Setelahnya Zee segera memasuki lift dan turun kebawah.
"Princess? mau kemana? Tumben rapi," suara Gavin mengejutkan dirinya. Zee menoleh kebelakang dan benar ada Gavin disana yang tengah menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Iya, Bang. Mau jalan sama Kaila dan Vania," ucap Zee setengah bohong.
Gavin sedikit menangkap kecurigaan pada Zee, tapi ia tetap memgangguk, "yaudah hati-hati. Jangan ngebut-ngebut."
"Sip bang!"
Zee mengambil motor ninja merahnya di garasi motor. Ada beberapa motor berbagai merk disana. Ia menstater motornya sebentar, dan memakai helm, lalu pergi dari halaman mansion.
Sedangkan Gavin, ia sepertinya penasaran dengan gelagat Zee. Jadi Gavin memutuskan untuk mengikuti Zee dari belakang, dengan motor ninja hitamnya.
Zee mengendarai kendaraannya dengan kecepatan standar. Walaupun ia bisa disebut sebagai the queen of racing, tapi Zee sangat memperhatikan keselamatan. Ia tak ingin ceroboh seperti teman-temannya. Ya memang, waktu itu Zalfa pernah mengikuti balapan di Brazil. Disaat itu Zalfa tidak memeriksa kembali kendaraan motor ninjanya yang ia pakai, sehingga bukannya menang justru Zalfa terjatuh dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Menabrak pohon dan terdapat bekas luka di siku kirinya.
Tanpa sengaja mata Zee menangkap motor milik Gavin dibelakangnya. Kenapa ia tahu itu Gavin? Karena plat nomor motor Gavin yang Zee hafal.
Sepertinya Gavin mengikutinya diam-diam. Zee berfikir sebentar. Sepintas ide terbesit di pikirannya.
Sampai di perempatan, Zee membelokkan stirnya kearah Kiri, padahal seharusnya lurus. Gavin masih tetap setia mengekorinya dari belakang.
'Maaf bang' Zee membatin. Saat ditikungan belokan, ia mempercepat kecepatannya, sangat cepat, seperti ia sedang berada di balapan.
Gavin juga segera menyusul Zee dari belakang, dengan kecepatan yang sama. Gini-gini juga Gavin ahli balapan motor.
Jarak mereka terbilang dekat, mungkin sekitar 10 meter.
Tiba-tiba motor yang dipakai Gavin berhenti. Membuat Zee tersenyum miring melihat dari kaca spionnya.
Gavin melihat pengatur bensinnya, dan jarum panjangnya menunjuk kearah huruf E.
Sial!
"Yaelah. Pake abis bensinnya. Princess udah jauh lagi. Ada pom bensin deket gak ya?"
Gavin berdecak kesal, ia menendang ban motornya dengan kesal.
"Gue jual juga lo! Nyusahin!"
****
Zee sampai dimarkasnya. Ia segera turun dari motornya dan berjalan kearah pintu utama.
"Zee! Sini!" Kaila berteriak memanggil Zee di sebuah meja besar. Semua anggota sudah berkumpul disana–di meja bessr khusus rapat–. Kecuali penjaga gerbang.
Zee segera menghampiri teman-temannya dan duduk di kursi khusus dirinya, khusus ketua.
"Lama banget lo," cibir Zalfa.
"Bang Gavin ngikutin gur tadi, gue ngambil jalan muter dulu biar gak ketauan," saut Zee, ada nada kesal didalamnya.
"Terus?"
"Ya motor bang Gavin mogok, gak tau karena apa. Udahlah, sekarang, ada berita apa nih?"
Gilang meletakkan laptopnya di tengah-tengah meja, sehingga semua teman-temannya dapat melihatnya.
Ada satu berkas foto disana, Gilang segera menekannya.
Divideo itu terdapat anak buah Zee yang sedang disekap, dengan tangan dan kaki terikat disebuah tiang. Kira-kira ada 10 anggota.
"Anggota DBD disekap dimarkas GB'Gangster. Ini yang ngirim Marchel, tangan kanan GB'Gangster. Mereka sengaja mengirimkan ini sebagai tanda permusuhan. Gue gak tau alasan mereka nyerang kita kayak gini. Yang gue tau, mereka itu emang pengen banget buat kita hancur," jelas Gilang.
Zee mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam, menunjukkan dirinya sedang marah. Anggota DBD menunduk takut melihat ketuanya marah seperti itu.
"Jadi gimana Zee?" Rangga memecah keheningan.
"Biar gue yang urus," putus Zee masih dengan pandangan lurus ke laptop milik Gilang.
"Lo yakin? Mereka itu lumayan berbahaya buat lo hadapin sendiri. Kita bisa bantu lo buat-"
"Biar gue yang urus!" gertak Zee marah. Membuat Zalfa tersentak, dan tertunduk.
Zee memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Selalu seperti ini ketika ia lepas kendali. Emosi nya suka naik turun. Zee bisa menjadi monster ketika dirinya sedang marah.
"Maaf," Zee menatap Zalfa bersalah.
Zalfa mengangkat kepalanya, ia menatap Zee dengan senyum mengerti.
Vania menepuk pundak Zee, "kalo lo butuh bantuan, kita bisa bantu. Jangan merasa kalo lo sendirian. Kita semua selalu ada buat lo."
Zee tersenyum kecil pada Vania, "thanks."
Dor!
Dor!
Dor!
"KELUAR LO SEMUA!" suara tembakkan disusuli dengan teriakkan itu, membuat Zee dan anggotanya mengalihkan pandangan ke keluar gerbang. Setengah dari mereka keluar, dan setnegahnya lagi berpencar di dalam ruangan, sampai belakang markas. Takut musuh menyelinap.
Zee dan teman-temannya disusuli dengan anggota DBD keluar markas. Mereka mengedarkan pandangannya, melihat ada beberap anggota penjaga gerbang mati dengan darah disekitarnya.
Melihat itu membuat Zee mengepalkan tangan, hingga buku-buku jarinya memutih.
"SIAPA YANG NGELAKUIN INI?! KELUAR LO ANJING!" teriak Zee marah.
__ADS_1
Kaila, Zalfa dan Vania mencoba menenangkan Zee, namun Zee malah menghentakkan mereka.
"KELUAR LO *******!"
Dor!
Suara tembakkan keudara terdengar, membuat Zee dan lainnya mengaluhkan pandangan ke sumber suara.
"Gue disini!" tekannya. Ada 3 orang laki-laki berpakaian jaket dengan tulisan GB'Gangster didada kiri. Mereka berada dibelakang gerbang markas DBD.
Zee megepalkan tangannya, ia melangkah maju, Cleo menahan tangan Zee saat melihat Zee melangkah maju. Namun Zee menghentakkan tangannya. Membuat Cleo tak busa berbuat apa-apa lagi.
"Mau apa lo?" gertak Zee berusaha santai. Walaupun dddidalam hatinya ia ingin sekali menghabisi ketiga cowok dihadapannya ini.
"Mau gue, lo mati!"
Zee tersenyum miring, seolah perkataannya itu adalah sebuah kekonyolan yang tidak mungkin. Bukannya tidak mungkin ia akan mati, tapi tidak mungin Zee mati dalam tangan mereka. Itu sangat mustahil!
"Mimpi!"
Mata Zee menangkap seseorang dibalik pohon dekat markasnya yang tengah menodongkan pistol kearahnya. Zee segera mengambil pistol di dalam saku celana nya.
Dor!
Tembakkan Zee berhasil mengenai dada kiri nya. Membuat seseorang yang Zee tidak tau siapa itu mati.
"*******!" desis salah satu dari cowok bertiga itu.
Zee menarik sebelah bibirnya. Ia menatap ketiga cowok itu dengan alis terangkat. Seolah meremehkan kekuatan mereka bertiga.
"Gue kasih pilihan, Kasih tau alasan lo kesini, atau mati seolah pahlawan dalam GB'Gangster."
"Mati? In your dreams!" ucap cowok pertama.
Dor!
Zee melepaskan pelatuknya tepat pada jantung cowok itu. Kedua temannya menatap Zee dengan penuh amarah.
"Dia ngeselin sih," ucap Zee polos.
"*******!/ Anjing!"
Dor!
Lagi, pelatuk pistol milik Zee lepas landas dari tempatnya. Tepat dijantung!
Tinggal satu cowok. Ia menatap Zee sedikit gentar. Takut jika dirinya menjadi korban lagi.
Zee melangkah satu langkah lebih dekat, membuat cowok itu bergerak mundur. "Sstt, gak usah takut."
Cowok berambut gondrong itu berdecih, "gue gak takut siapapun!"
Zee berekspresi seolah takjub, "oh ya? Wow!" Zee melangkah lebih dekat lagi, cowok itu juga memundurkan langkahnya, membuat Zee kesal, "ishh. Katanya gak takut. Gimana sih!"
Teman-teman dan anggota Zee tertawa geli. Cowok itu menatap sekelilingnya, ia merasa di rendahkan.
Zee mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk semua nya berhenti tertawa, dan benar, mereka langsung berhenti.
Zee melipat kedua tangannya didepan dada, "Mati? Atau kasih tau alasan lo kesini."
Cowok itu masih diam, Zee semakin geram dibuatnya.
"Gilang!"
Gilang datang mengahampiri mereka berdua, "Ya Zee?"
"Bawa dia kebawah tanah. Gue mau bermain-main dulu dengannya. Kayaknya dia pilih opsi yang pertama."
Gilang mengangguk menuruti. Ia mendekati cowok berambut gondrong itu tanpa takut sedikit pun. Cowok itu menodongkan pistolnya, Gilang mengangkat sebelah alisnya. "Jangan buat masalah sama gue. Gak mempan pistol lo!" remeh Gilang.
Cowok itu seakan bisu dan tuli, ia tak peduli dengan ucapan Gilang, ia tetap menodongkan pistolnya kearah Gilang, berharap Gilang takut padanya. Walaupun tidak sama sekali.
Gilang menghembuskan nafas kesal, ia mengambil tangan Cowom itu dan segera memelintirna kebelakang, mengunci pergerakan badannya. Dan mengambil pistol itu, lalu menyerahkannya ke Zee. Zee menerimanya dengan senang hati. Sayang kalau dibuang. Mending di simpan buat tambah-tambahan senjata.
Gilang menatap cowok itu sambil berdecak prihatin, "kasian lo, Hahaha!"
"Bawa dia ke bawah tanah, " suruh Zee.
"Siap cantik!" goda Gilang. Membuat Zee memutar bola matanya malas.
****
"Jawab!"
Bugh!
"Argghhhh!"
"Ck. Lo tuh ya, susah banget dibilangin. Gue bilang jawab ya jawab. Itu mulut lo gak guna sumpah. Apa perlu gue robek?" ucap Zee kesal.
"Ss...stop!"
"Makanya kalo gue tanya tuh jawab!"
'Gimana gue mau jawab, kalo setiap gue pengen ngomong di tonjok lagi di tonjok lagi!' batin cowok itu kesal.
"O...oke!"
Zee tersenyum senang, "nah gitu kek daritadi!"
"G...gue disuruh buat bu..bunuh lo. Argggghh..." ucapannya terheti ketika Zee memukul bagian perutnya lagi.
Zee meringis tak bersalah, "sorry, gue kebawa kesel sih."
'Sst nih cewek, psychopath emang, manaan ikatannya erat banget lagi.'- batin cowok itu.
"K...kata ketua GB'Gangster, e...elo harus mat..i, kalo gak, g...gue yang bakal mati di tangannya,"
"Siapa dia?"
"Gu...gue gak tau, Argggghhh!"
Zee memukul kembali perutnya, "Lo kan anggota GB'Gangster, masa gak tau nama ketua lo!
" Gu..gue serius, di...dia gak pernah, nun...nunjukin identitasnya," cowok itu bercerita sembari meringis kesakitan, gimana tidak? Sedari tadi perutnya di tonjok terus-terusan oleh Zee.
Zee mengangguk-anggukan kepalanya, "dimana markas lo?"
"Gak bakal gu...gue kasih tau!"
"Ooh, lo masih setia sama dia? Hebat ya lo."
Zee mengeluarkan pisau kecilnya, membuat cowok itu membulatkan matanya kaget, "stop jangan, gu..gue udah kasih tau lo semua, jangan bunuh gue!"
"Semua? Sayangnya, soal terakhir gak lo jawab."
"Gu...gue bakal jawab."
Zee mengangkat sebelah alisnya, ia menurunkan pisau kecilnya kembali, "oke! Dimana?"
"Di...di...di..."
"Jawab!"
"Dibagian utara dari markas ini." jawab cowok itu cepat.
Zee mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia kembali mengeluarkan pisau kecilnya. Membuat cowok tadi memelototkan kedua matanya kembali.
"Kat...kata lo gak bakal bunuh gue! Gu..gue udah kasih tau semua yang lo minta."
Zee mengangkat sebelah alisnya, sambil tersenyum miring, "kata siapa?"
__ADS_1
Sial! Dirinya dijebak.
"Stop, to...tolong jangan bunuh gue. Minggu depan gue bakal nikah. Tolong..."
Zee menatap Cowok itu dengan tatapan sok iba. "Ck Ck, terus gue peduli?"
Zee mengambil satu bilah pisau kecil yang berkarat. Zee menggoreskan kebagian pipi cowok itu, membuat nya meringis kesakitan.
"Ck, gak enak yang berkarat. Fan, ambilin yang itu dong," Zee menyuruh Irfan yang memang menyaksikan mereka berdua dengan khitmat.
Irfan mengangguk, ia berjalan menuju meja yang diatasnya berisikan beracam-macam pisau, mulai yang kecil sampai yang besar, dan yang pendek sampai yang panjang. Irfan mengambilkan pisau sedang yang masih sangat tajam. Lalu menyerahkannya ke Zee.
"T..tolong ja..jangan," cowok itu menangis ketakutan. Zee menatap cowok itu dengan kening berkerut.
"Cowok bisa nangis, toh?"
"Plis jangan, gue mau nikah minggu depan, gue gak mau ngecewain calon istri gue," Cowok itu menangis menatap Zee.
Zee mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menoleh kearah Irfan, "Fan, tolong cari tau informasi tentang calon istrinya dia."
Irfan mengangguk, "siap Zee." setelahnya Irfan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lo bela-belain jatuhin harga diri lo demi calon istri lo dengan menangis seperti ini," Zee memiringkan kepalanya, mmenatap intens cowok dihadapannya ini, "kita lihat, seberapa hebatnya Cewek yang lo perjuangin ini."
15 menit kemudian..
Irfan datang dengan sebuah laptop ditangannya, "nih Zee."
"Tolong bacain, yang keras!"
Irfan mengangguk, "kekasih Deo selama 2 tahun ini, namanya Clara. Anak dari keluarga sederhana, yang kurang dari kecukupan. Bekerja sebagai ****** di salah satu club ternama, menjual tubuh dirinya sendiri demi membayar hutang kedua orangtuanya yang mencapai 2.790.000 pada bank."
Terakhir, Irfan mengambil 2 lembar foto dari saku celananya. Ia menjukkannya kepada Deo dan Zee. Di foto itu, nampak jelas bahwa gadis yang bernama Clara itu tengah menjalankan tugasnya sebagai wanita ******.
"Wow!"
"Enggak mungkin!"
"Ini bukti, cuyy..." balas Irfan.
Deo menggeleng keras, "ini pasti lo yang edit, Clara gak mungkin kayak gini!"
Irfan mengangkat bahunya acuh, "gak peduli gue, lo percaya apa enggak!"
Tubuh Deo melemas seketika, Zee menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Udah di manfaatin sama ketua gangster, di khianatin sama calon istri, eh berakhir dengan siksaan maut tangan gue. Kayaknya takdir lo tuh menyedihkan ya," Zee tersenyum miris. Seolah perkataan dirinya sendiri lah yang menyinggung dirinya.
"Gue penasaran, gimana reaksi Clara kalo ngeliat kepala pacarnya sendiri digantung didepan rumahnya. Reaksinya gimana ya, kaget? Udah pasti sih kalo itu, Sedih? Emm kayaknya enggak, mungkin seneng kali ya. Secara dia ngerasa kalo lo itu gak ada disaat dia ngebutuhin sampai-sampai di rela mengorbankan keperawanannya demi membayar hutangnya. Itu terbukti jelas bahwa uang lebih penting!"
"Stop! B...bunuh gue. Jangan siksa gue dengan kata-kata lo!"
Zee mengangkat kedua alisnya, "tadi lo mohon-mohon ke gue buat gak gue bunuh. Sekarang? Wow amazing! Gue juga udah lama nih gak bunuh orang. Irfan, ambilin pisau gue lagi. Kali ini yang berkualitas, dari Brazil boleh tuh."
Cowok yang bernama lengkap Aldeo Raswara, itu hanya menunduk, ia tak berminat lagi melawan, satu-satunya orang yang ia cintai yang ia jaga selama ini, sudah mengkhianatinya.
"Nih Zee," Irfan menyerahkan sebilah pisau yang kali ini lebih besar dari sebelumnya.
Zee menatap Deo sambil memegang dagunya, berekspresi seolah memikirkan sesuatu, "mulai dari mana ya?"
Deo pasrah, ia juga tak mungkin melawan, mungkin setelah ini nyawanya memang akan direnggut oleh Zee.
"Arrggghh.."
Zee menancapkan pisau nya ke tangan kanan Deo yang diikat keatas, membuat darah mengalir deras dari tangannya. Mendengar jeritan Deo, Zee semakin bersemangat. Ia lebih menyukai jeritan dari pada tangisan.
"Teruslah menjerit!"
"Arrrgghh."
Zee kembali menancapkan pisaunya ke tangan sebelah kiri Deo. Deo merasakan satu hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini...ini sangat menyakitkan.
Zee mengambil pisau kecil di meja belakangnya. Ia mengarahkannya ke telinga milik Deo. Mengirisnya sampai putus, sehingga darah terus mengalir dari telinganya.
Darah mulai bercucuran, padahal Ze baru saja memulainya.
'Psikopat. Cantik-cantik nyeremin'-batin Deo.
"Kuping lo banyak kotorannya, jarang lo bersihin ya?" Sungut Zee. Deo diam saja, ia sibuk meredam rasa sakit disekujur tubuhnya. Darah mengalir deras dari telinga kiri dan kedua tangannya.
Plak!
"Jangan diem aja kalo lagi di ajak ngobrol tuh!"
"G...gue harus ngomong apa, sshh..."
Zee tampak berfikir, "iya juga ya," kali ini ia terlihat seperti orang bodoh.
'****** setan, anjing sakit banget, malaikat, tolong cabut aja nyawa gue sekarang!'-Deo.
"Oke kita mulai lagi!"
Kali ini Zee bermain di daerah kaki, ia menguliti seluruh kaki milik Deo. Sampai terlihat jelas bagian intim cowok itu.
De pasrah, ia serasa mati rasa. Mati, mati dan mati. Kalimat itu yang sedari tadi ia ucapkan dalam hati, berharap tuhan mengabulkan permintaannya agar cepat-cepat mencabut nyawanya.
"Bagus banget maha karya gue!" pekik Zee senang.
Tanoa rasa iba, Zee memotong bagian intim Deo, saat itulaj Deo menjerit lagi dan lagi.
Kaki Deo yang semula tidak apa-apa, kini sudah tinggal terlihat darah yang mengakir, tak ada kulit, daging pun tenggelam dalam darah yang sedari tadi tak henti-henti nya mengalir.
Kesadaran Deo mulai menurun, namun cepat-cepat Zee menampar wajahnya.
Plak!
"Jangan mati sebelum gue selesai."
Ya, Zee ingin menikmati hanrinya ini. Sudah lama ia tak melakukan kegiatan ini.
Zee kembali fokus pada badan Deo. Ia membelah dada Deo dengan sekali goresan pisau, dan robekan tangan.
Deg..deg...deg
Pemandangan yang pertama menyambut Zee adalah jantung milik Deo yang berdegup lemah.
Sssrrttt...
Tiba saja Zee mencolok mata Deo dengan pisau, Deo menjerit tak tertahan. Sekuat tenaga ia menjerit, merasakan sakit yang tak tertolong, kenapa tuhan masih belum mencabut nyawanya?
"Mata lo bagus sih, gue kan iri!"
Zee mengoyakkan isi perut Deo. Detik itu juga Deo kehilangan nafasnya. Nafas terakhirnya yang sedari tadi ia tunggu.
Zee menatap Deo dengan decakan prihatin.
"Selamt tinggal, neraka menunggumu."
Blash!
Zee menebas kepala Deo, hingga tubh yang sudah tidak tau bentuknya apa itu teroisah dengan kepalanya.
Zee memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Hal yang biasa ia lakukan ketika sedang memetralkan emosinya.
"Urus mayatnya. Kepalanya lo gantung di rumah nya Cla-Cla-Cla siapa?"
"Clara!" koreksi Irfan malas.
"Nah itu! Oke gue mau ganti baju dulu!"
Irfan menatap kepergian Zee, lalu menoleh ke mayat Deo. Yang argh sudah lah pasti sangat menjijiman untuk dibayangkan.
__ADS_1
"Padahal kerjaan kayak gini yang paling gue hindarin!" desisnya.
"Bau banget lagi!"