
Ansell melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 20.00. Ia mendengus kesal, karena sedari tadi orang yang ia tunggu tak kunjung sampai.
Tring!
Suara bel cafe berbunyi, menampilkan kelima orang yang berjalan dengan angkuhya.
Ansell menoleh kearahnya, ia melambaikan tangan memberi kode, "Woy!"
Kelima orang itu menoleh, lantas berjalan menghampiri Ansell yang duduk dimeja nomor 22 dekat jendela.
"Lama banget," cibir Ansell setelah kelima tamunya sudah duduk dibangku masing-masing.
"Masih untung kita dateng. Lagian tumben banget lo manggil kita, ada apa?" tanya cewek bertubuh ramping dengan rambut cepol kuda.
"Iya nih, ganggu orang pacaran aja," timpal laki-laki sembari merangkul perempuan berambut panjang yang disampingnya.
"Sebentar doang kok, gue cuma mau minta tolong," kata Ansell.
"Minta tolong apa?" tanya Zalfa mulai serius.
Ya kelima orang itu adalah teman-teman dekat Zee. Siapa lagi kalau bukan, Kaila, Vania, Zalfa, Rangga, Cleo.
"Minta tolong-"
"Setidaknya pesenin minum dulu kek," cibir Cleo yang dibalas anggukan oleh keempat nya.
Ansell mendrngus kesal, ia memanggil pelayan dan memesan minuman untuk kelima orang didepannya.
"Jus jeruknya 5-" pesan Ansell yang dipotong oleh Kaila
"Tanyain dulu orang nya mau minum apa," sela Kaila.
"Iya iya."
"Jus jeruknya 5 ya mbak," ucap Vania.
"Tadi kan gue ngomong gitu!" ucap Ansell kesal.
"Tamu adalah raja!"
Ansell menggeram tepaksa ia harus mengalah demi kelancaran pernikahannya dengan Zee.
Pelayan itu terkekeh kecil melihat perdebatan mereka, "Ada lagi?"
"Udah," kata Ansell. Lalu menatap kelima orang sialan didepannya, "Kan?"
Kaila dan yang lainnya tertawa melihat raut wajah Ansell, "Iya. Iya."
Ansell menghela nafas lega, "Yaudah, itu aja."
Pelayan itu mengangguk, "Harap ditunggu," setelahnya pergi kedapur cafe untuk membuatkan minuman mereka.
"Jadi, ada apa gerangan mengudang kami kemari?" tanya Cleo dengan laga songongnya.
"Stop bercanda, kali ini gue serius," pinta Ansell dengan raut wajah yang benar-benar serius.
Kelimanya mengangguk, walaupun dalam hatinya mereka ingin sekali tertawa melihat komuk Ansell seperti itu.
"Jadi?" tanya Vania.
"Gue mau-"
"Ini minumannya," potong pelayan yang baru saja menghantarkan minumannya.
Ansell menggeram kesal, "Pergi lo. Ganggu aja!" usir Ansell pada pelayan itu.
__ADS_1
Pelayan itu sedikit meringis, lalu pamit, 'kelakuannya gak seperti wajahnya.'
Rangga terkekeh kecil, "Santai aja kali, Sell. Gak usah tegang gitu."
Mereka berlima serempak mengambil minum nya. Perjalanan dari mansion ke cafe ini cukup memakanwaktu yang lama. Membuat mereka dilanda haus.
"Oke kali ini gue serius. Tolong janga sela omongan gue lagi," kata Ansell memohon. Semua nya mengangguk, Ansell mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum berkata, "Gue mau nikahin Zee!"
Byurssssss!!!
Byurssssss!!!
Byurssssss!!!
Byurssssss!!!
Byurssssss!!!
"Sial!"
Ansell mengusap wajah tampannya yang tersembur oleh kelima orang dihadapannya ini.
Sekali disembur langsung lima orang! Bahkan mbah dukun aja kalah.
"Lo serius?!" tanya mereka serempak. Menatap Ansell dengan tatapan tidak percaya.
Ansell mendelik kesal. Mood nya jadi hancur ketika berhadapan mereka, "Iya. Gue serius."
Prok...prok...prok.
"Akhirnya cinta terbalaskan," ucap Cleo kagum.
"Akhirnya saling sadar," decak Vania senang.
Ansell mengerutkan keningnya, "Cinta terbalaskan?" tanya Ansell tak mengerti.
"Lo masih gak ngerti?"
Ansell menggeleng.
"Yeh, nih anak, ****-**** amat," cibir Rangga pedas.
"Jadi lo gak tau, kalau Zee juga cinta sama lo?" tanya Zalfa tak percaya.
Ansell membelalakan matnya senang, "Zee cinta sama gue juga?"
"TELAT ANJING!"
"BASI!"
"GAK PEKA, LO!"
Kaila dan Vania tertawa bersama. Melihat ketiga teman-temannya yang nampak gregetan dengan ke lolaan Ansell.
Ansell meringis senang, tak ia sangka ternyata Zee juga memiliki rasa padanya. Berarti selama ini, mereka sama-sama cinta namun terlalu gengsi untuk menyatakannya.
"Jadi lo mau minta bantuan apa sama kita? Mau minta gue buat jadi penghulu dipernikan lo berdua?" tanya Cleo seenak jidat.
Ansell menggeleng tegas, "Enggak, Enggak. Yang ada pernikahan gue sama Zee kagak Sah karena lo. Gue pengen nyewa Penghulu yang berkualitas dan tentu nya paling mahal!" ujar Ansell dengan nada sombongnya.
"Holang kayaaa."
"Cih!"
"Belagu lo, Monyet!"
__ADS_1
"Tapi, kenapa gak lo rundingin sama Zee aja soal pernikahanya?" tanya Zalfa heran.
"Gue pengen pernikahan ini menjadi pernikahan secret. Bahkan tanpa Zee tau calon suaminya. Jadi, gue minta tolong lo-lo pada untuk membantu acara pernikahan supaya lancar sampai malam pertama."
"Soswittt..."
"Dengan cara?" tanya Cleo masih tak mengerti.
Ansell tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya, "Acara perjodohan."
****
"Saya mohon, izinkan saya menafkahi anak kalian. Saya janji akan selalu ada disisinya selama jantung saya masih berdetak," kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Ansell ketika sedang berhadapan dengan keluarga Williams dan keluarga Smith. Saat ini, mereka tengah berada di mansion keluarga Williams. Ansell tidak sendiri, ia ditemani dengan keluarga dan keempat temannya.
Tn. Williams dan Tn. Smith menatap Ansell dengan raut wajah penuh ketegasan.
"Apa kamu serius?" tanya Ny. Smith mewakili yang lain.
Ansell mengangguk dengan tegas, "Saya serius seratus persen!"
"Bagaimana jika Zee mengalami keterpurukan dan hanya kamu yang dia punya?" tanya Tn. Williams.
"Saya akan terus berada disampingnya. Berjalan melewati rintangan apapun sekuat kami berlabuh. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melampaui batas hamba-Nya. Dan saya yakin, Kami pasti bisa melewatinya bersama," jawab Ansell yang mampu meyakinkan mereka.
Tn. Smith dan Tn. Williams saling berpandangan. Dan saling melemparkan senyum tipis.
Ny. Rendra dan Tn. Rendra sangat bangga dengan apa yang diucapkan oleh anak Laki-laki mereka. Semoga Ansell bisa mewujudkannya dan tidak hanya pandai berkata.
"Baiklah, lamaran kamu kami terima..."
Dan kalimat itu membuat Ansell tersenyum lega.
Flashback off.
"Jadi kalian bohongin gue?!"
"Sst, bukan gitu, Princess. Ansell cuma mau kamu diperlakukan berbeda dari pengantin yang lain. Seharusnya kamu bersyukur," ucapan Ny. Williams membuat Zee tercenung.
Zee menatap Ansell yang kini juga tengah menatapnya dengan seulas senyum tipis.
Lalu, pandangannya beralih pada Ny. Rendra dan Tn. Rendra yang kini telah menjadi mertua-Nya.
Mata Zee berair terharu. Ia bahkan sama sekali tak menerka ini akan terjadi.
Ansell menghampiri Zee lalu memeluknya erat. Kedua ketua mafia itu sama-sama menjalin kisah cinta yang terbilang polos. Sepolos kertas hvs.
Ansell melepaskan pelukannya, ia menangkup pipi Zee lalu menghapus air matanya yang mengalir, "Gak usah nangis, ah."
"Drama siaga pertama." celetuk Rama heboh.
"Nanti muka lo jadi jelek," ucap Ansell yang mendapat cubitan kesal dari Zee.
"Drama siaga kedua!" ucap Davin ikut nyambung.
Ansell tersenyum tipis, Zee membalasnya senyum itu. Ketika Ansell mendekatkan bibirnya ke kening Zee. Zee menutup matanya.
Cup!
"Drama siaga anak kecil!" ucap mereka semua ramai-ramai. Lalu tertawa bersama.
Ansell dan Zee ikut tertawa. Rama dan Kaila memang biang nya toa. Pikir mereka semua.
Ansell memeluk erat pinggul Zee dari samping, "I Love You."
"I Love You too."
__ADS_1