
"Ya Zee?"
"Lo kemana aja, Lang? Gue nyariin lo dari kemarin!"
Gilang meringis bersalah, "Gue balik ke rumah. Bokap nyokap baru pulang dari Amrik."
Zee memijat pelipisnya, "lo udah tau berita tentang GB'Gangsterkan?"
Gilang mengangguk, "rencana lo kali ini apa?"
"Tanyain sama Bang Rangga aja sana. Gue males jelasin dua kali. Nanti kita sama-sama diskusi."
Gilang hanya bisa mengangguk. Memang benar, kemarin ia tidak menjaga markas karena orang tuanya baru pulang dari luar negeri. Peluang itu hanya didapatkan 1 tahun 3 kali. Dan Gilang tak akan menyia-nyiakan ini.
"Yaudah gue duluan. Mau nyiapin anggota," pamit Gilang, yang diangguki Zee.
Zee menempelkan dahinya ke meja. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak kegiatan. Dan itu sedikit membuatnya down.
Zee mengeluarkan sebotol obat, dan meminumnya. ia hanya meminum obat itu ketika ia sedang stres berlebih.
"Hah! Kapan ini selesai sihh!" teriaknya geram.
****
Malam ini, Karan kembali lagi ke rumah pohon dengan satu buah buku dan bolpoin biru nya.
Hal rutin yang selalu ia lakukan setiap malam, adalah menulis sebuah puisi untuk Zee. Sayang, Zee tidak pernah memedulikannya. Jangankan dibaca, dilirik saja tidak pernah. Harusnya Karan sadar, dirinya itu siapa? Berharap lebih agar Zee mengingatnya? Konyol!
Flashback on.
Karan menangis didepan makam keluarganya. Seluruh keluarganya meninggal karena kecelakaan. Untungnya Karan tidak ikut saat pergi berlibur waktu itu, kalau tidak mungkin ia juga ikut celaka bersama keluarganya.
Karan menangis sesenggukan menuju jalan pulang. Tunggu, bukannya rumahnya disita oleh bank untuk membayar hutang keluarganya, lalu ia akan tinggal dimana.
Karan meringkuk sendirian di belakang pohon yang berada di taman. Taman itu sedikit ramai banyak anak-anak bersama orang tuanya yang berlari-lari. Sedangkan dirinya? Sendirian menangis.
"Hiks..."
"Kamu siapa?" tanya anak perempuan berkuncir dua. Suaranya melengking lembut. Sedikit berbeda dengan kebanyakan anak-anak perempuan.
Karan menoleh kearahnya, anak perempuan itu mengulurkan tangannya pada Karan, "Aku Zaline. Kamu siapa?"
Karan menjabat tangannya, "Karan."
"Kamu kenapa nangis?"
"Orang tua aku meninggal. Aku sendirian gak ada tempat tinggal, hiks..." Karan kembali menangis, ia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah penuh dengan air mata.
Anak perempuan itu melepaskan tangkupannya, sambil tersenyum, "Kata momy aku, anak laki-laki gak boleh nangis, abang aku aja gak pernah nangis," ucap Zaline kecil.
Sedikit demi sedikit Karan berhenti menangis, hanya sesenggukan yang masih terdengar, "kamu siapa? Kok kamu baik sama aku?"
"Baik sama orang, emang salah?"
Karan menggeleng kecil.
Tiba-tiba Zaline kecil menarik pergelangan tangan Karan ke arah kedua laki-laki yang sedang duduk di bangku taman. Umurnya seperti lebih tua dari mereka.
"Bang Dika, Bang Dito. Zaline tadi ketemu dia, namanya Karan. Tadi dia nangis-nangis disana," Zaline menunjuk sebuah pohon yang berdiri tegap ditengah taman, "Zaline bawa kesini gak papa kan?"
Dika tersenyum lembut pada Zaline, lalu menatap ke arah Karan, "nanti kalo mama nya nyariin gimana?"
"Mamanya udah meninggal," ceplos Zaline, membuat mereka berdua kaget, "Katanya, dia juga udah gak punya tempat tinggal. Dis nginep dirumah kita aja ya bang," Zaline memasang pupy eyes nya.
"Kamu sendirian, dek?" tanya Dito lembut. Perlahan Karan megangguk dengan pandangan yang turun.
Dito menatap kearah Dika, mereka saling pandang sebentar lalu menatap kearah adik tersayangnya, "yaudah, kita bawa Karan ke mansion. Tapi kalo momy sama dady gak ngebolehin, Karan harus pergi ya?"
__ADS_1
Zaline tersenyum senang, ia mengangguk antusias, "ayo Karan. Kita ke mansion aku!" Zaline menarik-narik pergelangan tangan Karan menuju ke mobil Ferarri yang sudah ada sopirnya didalam.
Zaline mengajak Karan masuk dan melesat ke mansion keluarga Smith.
****
"Momy, Dady! Zaline pulang!" teriak Zaline kecil dengan senyum yang tak henti-henti terpancar dari wajah mungilnya.
"Hey kesayangan dady, tadi main apa aja?" Smith datang dan meminta Zaline kecil menaiki pangkuannya. Dengan senang hati Zaline memindah duduknya kepangkuan Smith.
"Banyak, tadi Zaline juga ketemu temen baru, Dad."
"Oh ya?"
Zaline mengangguk semangat.
"Mana orangnya?" tanya Friska penasaran.
"Itu!" Zaline menunjuk kearah pintu, dimana ada Karan, Dika dan Dito disana yang juga menatap kearah mereka.
"Hey, nak sini..." Smith melambai-lambaikan tangan pada Karan. Karan menoleh kearah Dito dan Dika. Sesangkan yang ditatap hanya mengangguk sambil tersenyum, meminta Karan untuk menghampiri mereka.
Karan berjalan mendekat.
"Siapa nama kamu?"
"Karan."
"Mama kamu mana?" tanya Friska sambil mengusapkan rambut Karan lembut.
"Mama udah meninggal."
Friska dan Smith terkejut. Merasa iba, anak sekecil ini sudah ditinggalkan kedua orang tuanya?
"Lalu kamu tinggal sama siapa?"
Merasa tak ada jawaban dari Karan, Smith mengangguk mengerti. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi bodyguard-bodyguardnya.
"Siapkan satu rumah kecil, beserta peralatan rumah lainnya. Besok harus sudah siap."
Tut!
Smith mematikan ponsel nya secara sepihak.
"Nanti kamu akan tinggal dirumah yang diberikan om ya? Disana ada Bi Via. Kamu bisa anggap dia sebagai mama kamu," ucap Smith menatap Karan lembut.
Mata Zaline berbinar senang, lantas ia memeluk Smith kuat, "makasih dady," Zaline mengecup singkat pipi dady nya. Membuat semua keluarga terkekeh meilhat kelakuan Zaline.
"Sama-sama, sayang."
Zaline turun dari pangkuan Smith, ia mengenggam erat tangan Karan, "sekarang kamu temen aku. Aku akan kunjungin kamu setiap hari."
Karan menanggapinya dengan senyum kecilnya. Sangat menawan.
"Makasih om, tante," kata Karan tersenyum pada mereka berdua.
"Sama-sama, Sayang."
"Ayo Karan, kita main."
Karan hanya menuruti kemana Zaline membawanya. Langkahnya terseret-seret dibawa oleh Zaline ke belakang rumah, tempat biasa Zaline membunuh hewan-hewan tak berdosa. Tapi sepertinya Zaline tidak menunjukkan itu pada Karan. Zaline membawa Karan kedepan pohon besar dekat rumah tetangga.
"Kita ngapain kesini?"
"Kamu liat? Pohonnya gede banget kan? Aku pengen deh di taro rumah pohon disitu." Ucao Zaline menujuk dahan atas pohon yang kokoh.
"Kenapa kamu gak bilang ke orang tua kamu aja?"
__ADS_1
Seketika raut wajah Zaline berubah menjadi murung, "mereka gak ngebolehin. Katanya takut aku jatoh. Padahal aku jago manjat kok."
Karan sedikit gemas pada Zaline, ia mencubit pipi Zaline yang bisa dibilang sedikit chubby, "kamu itu. Mereka gak bolehin kamu, karena mereka khawatir. Walaupun kamu jago manjat, kalo jatoh, siapa yang sedih? Mereka juga kan?"
Zaline terdiam meresapi omongan bijak dari mulut Karan.
"Kamu itu beruntung masih punya Ayah ibu. Sedangkan aku? Aku gak punya siapa-siapa. Gak ada yang ngehawatirin aku. Aku aja iri sama kamu."
Zaline menggeleng keras, menolak ucapan Karan, "sekarang mom aku, mom kamu juga. Dad aku, dad kamu juga. Kamu masih punya Ayah ibu. Kamu bisa panggil mereka mom dan dad aku akan bilang mereka," Zaline bersiap melangkah pergi, namun Karan mencekalnya.
"Itu beda. Itu artinya aku udah ngambil hak milik kamu. Mereka orang tua kamu, bukan orang tua aku."
"Kita bagi dua!" kekeh Zaline.
Karan mengangguk menentang, "gak bisa Zaline."
Walaupun masih kecil, otak Karan bisa dibilang sedikit dewasa. Gaya bahasanya seperti orang dewasa saja, mengambil apa yang harus ia ambil, dan tidak mengambil apapun yang tidak berhak ia ambil.
"Yaudah deh terserah kamu."
Karan tersenyum kecil, Zaline pasti merajuk.
"Kita jalan-jalan aja yuk," ajak Karan membuat mata Zaline berbinar.
"Ayo. Kemana?" Zaline terlihat antusias. Begitu mudahnya membuat Zaline tersenyum. Ah, sepertinya Karan kecil sudah jatuh hati dengannya.
Mereka selalu bersama-sama. Setiap ada Karan pasti ada Zaline.
Tapi, semenjak Bi Via meninggal tepat pada Karan menginjak kelas 8 SMP. Karan dipindahkan ke kampung Bi Via untuk dirawat dengan neneknya.
Semenjak saat itu, Karan lost kontak dengan Zaline. Hingga akhirnya Karan memutuskan untuk mencari Zaline, sudah beberapa kali Karan berpindah sekolah.
Sampai akhirnya, Karan bertemu dengan Zee. Orang yang disangka Karan sebagai Zaline. Karan tidak pernah melihat Zaline yang sebenarnya. Karena ia juga kurang bersosialisasi pada teman sekitarnya.
Karan bisa masuk kesekolah W'school dengan jalur beasiswa. Untungnya ia termasuk murid yang pintar, jadinya ia tak perku repot untuk membayar SPP sekolah yang bahkan melebih gaji seminggu nya.
Flashback off.
"Dan entah kenapa kamu ganti nama jadi Zee. Nama Zaline juga cakep kok," gumam Karan sambil memandang foto Zee.
"Suara kamu juga udah gak melengking cerewet lagi. Mungkin faktor dewasa kamu kali ya," Karan terkekeh sendiri.
"Kok bisa ya aku jatuh cinta sama kamu. Padahal kamu cuma anggap aku sahabat..."
"Zaline, aku merindukan nama itu."
****
H-4 menuju perang GB'Gangster.
"Empat hari lagi, empat hari lagi..."
"Santai aja kali Zee," saut Gilang santai. Ia menyesap rokok yang sudah terbakar setengahnya, lalu mengepulkan asap nya keudara.
"Ngomong lo enak banget ya!" Zee menjitak kepala Gilang, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Lagian, lo perang kayak gini doang dibawa serius. Bukannya lo udah biasa menang di perang-perang sebelumnya? Mana Zee yang dulu sombong!"
"Emosi. Gue udah gak bisa ngendaliin emosi gue lagi. Terkadang gue bisa jadi lebih stres kalau gak bisa ngendaliinnya," ucao Zee lirih.
"Itu artinya kelemahan lo ada dalam Emosi lo!"
Zee mengangguki.
"Rileksin aja, santai jangan dijadiin beban nanti lo sakit kan gak seru buat perang."
****
__ADS_1