
...Bertahanlah, aku mohon...
...****...
Keluarga Williams sudah siap dengan koper-kopernya. Mereka bersiap untuk perjalanan menuju London.
Zee memutar bola matanya malas, diliriknya Ansell yang tampak ogah-ogahan berjalan. Seperti orang tak berniat! Padahal ini malam yang sangat dinantikannya!
"Sell,"
"Hm."
Zee mendesis mendengar sautan Ansell.
Mereka sampai di Bandara Soekarno-Hatta.
Tuan Williams sudah menyiapkan 2 pesawat pribadi untuk pemberangkatan mereka.
Jauh dari perkiraan Zee. Ternyata teman-temannya juga ikut serta dalam acara bulan madu mereka.
Oke, Zee enggan menyebutnya bulan madu. Ini lebih disebut, liburan bareng.
Pesawat pertama milik keluarga Rangga yang akan di Pakai untuk acara pacaran bagi mereka yang punya pacar. Isinya ada, Kaila dan Rangga tentunya, Cleo dan Vania, dan juga Zalfa dan Kevin. You know Kevin?
Ya Kevin teman Inggris Vania, dia ikut ke Indonesia setelah sehari Vania kembali ke Indonesia. Awalnya hanya sekadar iseng, tapi tak Kevin sangka akan bertemu gadis cantik yang mempu membuka hatinya. Siapa lagi kalau bukan Zalfa.
Di hari malam jadian Cleo dan Vania, disaat itu juga Kevin memulai PDKT nya dengan Zalfa.
Menurut Zalfa, Kevin adalah bule ganteng yang gampang akrab, jika berbicara dengannya ia tidak akan kehabisan topik pembicaraan. Dan bagi Kevin, Zalfa adalah gadis blasteran yang percicilan, cerewet tapi asik. Entahlah, kedua nya saling memiliki karakter yang sama.
Yang satu banyak topik, dan yang satu cerewet.
Sementara di pesawat 2. Itu khusus untuk keluarga Williams, Smith dan Rendra. Walaupun Zee merengek untuk ikut di pesawat 1 bersama teman-temannya. Tapi Williams melarang dan menyuruh Zee untuk stay ditempatnya.
"Dad, Zee mau bareng temen-temen Zee..." rengek Zee.
Williams berpegang teguh pada pendirinannya sekali berkata, tidak ya tetap, "disini, Princess..."
Zee berdecak kesal. Ia duduk di bangku pesawat dengan tangan dilipat dan bibir mengerucut sebal. Kalau begitu mendingan 1 pesawat saja! Boros!
Ansell menggeleng prihatin, ia duduk disebelah Zee dan menepuk-nepuk pundak istrinya, menguatkan, "Yang sabar, sayang."
Zee berbalik menatap Ansell dengan mata melotot, "Sayang sayang pala lo peang!"
Ansell menyeringai kecil, "Dari pada sayang mantan. Mending sayang istri, dapat pahala plus dapat jatah."
Zee mencubit pinggang Ansell reflek.
"Aw. Kenapa gue dicubit!" protes Ansell tak terima. Hey, dicubit Zee itu seperti di tampar oleh laki-laki berbadan besar 3 kali lipat dari Zee.
Ingat tenaga Zee itu lebih besar dari yang kalian bayangkan.
"Makanya, jangan asal ceplos disini ada Mom sama Dad!"
"Sama mertua dong, sayang. Masa lupa," tambah Ansell.
Zee memangut-mangutkan kepalanya saja.
Diliriknya Kia, adiknya Ansell yang sedang bermain handphone nya. Tepatnya diseberang tempat duduknya dengan Ansell.
"Adik kamu-"
"Adik ipar!" ralat Ansell. Zee mendengus kesal.
"Iya, Adik..ipar gue-"
"Adik ipar aku! Mulai sekarang harus terbiasa ngomong aku-kamu!" paksa Ansell tak tebantahkan.
"Gak mau!"
"Harus!"
"Gak!" kilah Zee semakin kesal.
"Harus!"
"Gak, Ansell!"
"Harus, Zee sayang..." bujuk Ansell melembut.
"Ish!"
"Kenapa adik aku?" tanya Ansell, mengulang pertanyaan Zee yang tertunda.
__ADS_1
"Gak jadi!"
Ansell tersenyum lembut. Melihat sikap Zee sudah Ansell tebak Zee itu orangnya manja. Dan sikapnya yang seperti ini terlihat jelas jika Zee ingin dimanaj. Oke, Ansell akan memanjakannya malam ini. Lihat saja nanti.
Pesawat lepas landas pukul 18.20 WIB. Zee menatap Ansell yang sudah kembali tertidur di pundaknya.
Zee mendengus, seharusnya cewek yang tertidur dibahu cowoknya. Bukan malah sebaliknya.
Tapi, jika dilihat-lihat. Ansell itu ganteng juga. Muka polosnya saat tertidur membuat tangan Zee gatal ingin memegang hidungnya yang mancung seperti perosotan. Saat Zee tersadar, tidak. Dirinya sedang merajuk saat ini. Zee tidak akan memberikan maaf untuk Ansell. Tidak akan!
Sementara di pesawat milik Rangga.
Suasana sedang begitu tenang. Terlihat mereka sibuk dengan pacarnya masing-masing.
Tak terkecuali pasangan fenomenal ini, siapa lagi jika bukan Rangga dan Kaila.
Mereka berdua seperti menganggap yang lainnya bangku-bangku yang tak bernyawa. Dan disini hanya ada mereka berdua.
Kaila dan Rangga mendengar lagu lewat earphone milik Kaila. Keduanya saling menikmati lagu yang didengarkan. Hingga tak tersadar terbawa mimpi dengan keadaan kepala Kaila yang bersandar di bahu Rangga dan Rangga yang bersandar di kepala Kaila.
Ahh, pengen jugaaa!!
Dikursi lain, tepatnya di kursi milik Cleo dan Vania. Vania masih belum terbiasa dengan situasi ini, jadi dia sedikit merasa...canggung.
Dan Cleo tidak suka itu.
Cleo selalu mengalihkan rasa canggung yang ada dalam diri Vania dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi.
Dan Vania membalasnya tidak lebih dari 1 sampai 2 kata.
Tiba-tiba, Zalfa menghampiri keduanya. Lagi, Vania merasa di cuekkan lagi.
"Bang, temenin gue tidur dong, gue gak bisa tidur kalo gak ada lo," pinta Zalfa pada Cleo.
Cleo dengan entengnya mengangguk, ia melirik pada Vania, memberi kode untuk dirinya menyingkir dan membiarkan Zalfa untuk duduk di tempatnya.
"Lo bisa pindah dulu kan?" pinta Zalfa dengan nada tak enak. Yaa, setelah mereka berdua tinggal satu rumah, Zalfa selalu menginginkan Cleo untuk tidur dengannya. Dan itu berterusan sampai sekarang. Zalfa jadi gak enak sama Vania.
Vania berdehem canggung. Ia mengeluarkan senyum paksa dan mengagguk.
Ia berdiri dari tempatnya dan duduk disebelah Kevin.
Menekankan kembali perasaannya yang terbakar api cemburu. Sebenarnya Cleo menganggapnya sebagai apa?
Ia melirik kesamping, dan terkejut ketika mendapati Vania yang sedang duduk di sebelahnya. Ia nampak mengusap pipinyayang basah. Tunggu, Vania menangis?
"Van, are you oke?"
****
Davin diam-diam memotret Zee dan Ansell yang sedang tertidur.
Keluarga Williams, Smith dan Remdra cekikikan melihatnya. Keduanya nampak serasi menurut mereka.
"Tadi aja berantem, sekarang tidur udah kayak kebo abis kawin," ujar Davin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah, biarin mereka tidur. Jangan ada yang ganggu malam ini, malam bersejarah untuk mereka," ucap Smith, ia menatap putrinya yang tertidur. Tak ia sangka putri yang dulu ia buang kini sudah dewasa dan mempunyai suami.
Semua mengangguk, dan kembali menjalankan aktivitas masing-masing.
Smith dan Ny. Smith yang tertidur.
Williams dan Ny. Williams bersuap foto.
Rendra dan Ny. Rendra mendengarkan musik lewat earphone nya.
Prim membaca novelnya.
Gavin membalas pesan dari cewek-cewek yang cantik bak model.
Dan Davin yang asik mengganggu aktivitas Kia membuat video tiktok.
"Bang Davin bisa diem gak?!" protes Kia kesal. Tiktok nya jadi gagal karena Davin yang terus-terusan mengusiknya!
"Yaelah, gue kan ikut bikin juga. Gue yakin, kalo ada gue pasti followers lo makin nambah," ujar Davin dengan pedenya.
Kia berdecih. "Yang ada followers Kia pada nge-unfol ngeliat muka alay bang Davin!"
Davin menarik topi gadis disampingnya dengan kesal.
"BANG DAVINNN!!!"
Tiba-tiba pesawat yang ditumpangi mereka sedikit oleng. Membuat semua tersadar dari aktivitas mereka.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Ny. Williams sedikit panik.
William, Smith, dan Rendra segera berlari menghampiri pilot yang mengendarai pesawat mahal ini.
"Ada apa ini?" tanya Rendra pada pilot itu.
Salah satu rekan pilot menjawab, "Maaf pak, cuaca tiba-tiba memburuk, kabut malam terluhat tebal, sehingga kami kurang melihat dengan jelas."
"Bagaimana mungkin? Kalian bilang cuaca hari ini baik-baik saja!" bentak Williams kalap.
"Maaf tuan, tiba-tiba cuaca berubah."
Mata Williams memerah, ia melihat keluarganya yang juga menatapnya menanti jawaban dengan raut panik.
Lalu Williams mengalihkan pandangannya kembali kearah pilot itu, "Saya tidak mau tau, Penerbangan ini harus lancar dan selamat sampai tujuan! Kalau tidak, kalian yang terkena akibatnya."
"B..baik, Tuan."
Tuan-tuan berjas mahal itu kembali keruang duduk mereka. Menenangkan anggota keluarganya.
"Tenang, semua akan baik-baik saja."
Zee menatap Ansell yang juga menenangkannya. Jujur, Ansell juga cemas, tapi yang ia cemaskan bukan dirinya melainkan istri dan keluarga-keluarganya.
"Cari bandara terdekat sekarang. Kita mendarat dulu," ucap Williams. Kedua pilot itu mengangguk dan segera mencari bandara terdekat.
****
Semua bisa bernafas lega, ketika mendengar seruan pilot yang mengatakan mereka menemukan bandara terdekat disini.
Brak!
"APA ITU?" teriak Kia kaget. Ia memeluk Momynya karena takut.
"Sst, gak papa," ujar Ny. Rendra menenangkan.
"Cuaca semakin memburuk, pakai alat bantu oksigen diatas!" pekik sang pramugari yang semakin membuat isi pesawat hebih.
Mereka berbondong-bondong menarik alat bantu nafas yang tersedia disetiap bangku masing-masing. Berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
"Jarak 20 km dari bandara,"
Zee memeluk Ansell takut. Ia cemas, sebelumnya tidak pernah seperti ini saat ia menaiki pesawat.
Tuhan, mengapa engkau memberikan bencana di saat-saat seperti ini?
Ansell kembali memeluk Zee erat, sebelah tangannya menggengam Zee erat, dan sebelah tangannya memegang alat bantu nafas yang menempel dihidungnya. Ia memeluk Zee seolah melindunginya.
Goncangan demi goncangan semakin terjadi diatas pesawat.
"Jarak 10 km dari bandara."
Zee membalas genggaman Ansell tak kalah erat. Ansell menatap Zee, yang juga menatapnya.
Mulut Ansell bergerak seperti berucap, namun tertahan, "Bertahanlah."
Jantung Zee berdegup kencang. Ini lebih parah dari pada ia memutilasi 1000 orang.
Zee menutup matanya. Mulutnya tak berhenti berdoa agar tuhan memberikan keselamatan untuk mereka semua.
"Jarak 5 km dari bandara."
Brugh!
Brakk!
"AAAAAHHHHH!!!"
Pesawat terjatuh. Sejak saat itu Zee merasakan kepalanya terhantam keras, membuat denyutan yang menyakitkan dikepalanya.
Disamping Zee, ada Ansell yang memeluknya, ia bahkan melepaskan alat bantu nafas demi melindungi Zee.
"Bertahanlah..." lagi, itu yang Ansell ucapkan. Sebelum akhirnya mata Zee tertutup dan semua gelap.
BOOMMMM!!!
...****...
...TEGANG!!...
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...#PRYTOOZEEDANANSELL...
__ADS_1