Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 36


__ADS_3

"Ada?" tanya Vania menatap Rangga.


Perlahan Rangga menggeleng.


Gilang hilang tanpa jejak.


"Gak mungkin dia tiba-tiba hilang. GPS lo gak salah kan, kak?" tanya Kaila pada Zalfa.


"Gak mungkin salah, gue bener-bener langsung kehilangan. Kayak setan yang di culik setan tau gak!"


Semua berdecak kesal.


"Terus gimana dong? Kita gak bisa balesin dendam Zee?" Pandangan Kaila kebawah.


Rangga menghela nafasnya berat. Ia menarik tubuh mungil Kaila kedekapannya.


"Kita pasti bisa."


"Ekhem! Ekhem! Mumpung udah jadian, yang lain di lupain!" sindir Zalfa.


"Tau nih," timpal Vania, sesekali ia melirik kearah Cleo.


Cleo tertawa geli, "Bilang aja iri! Makanya cari pacar!" kata Cleo sambil menjitak pala Zalfa.


"Sakit ih!" kesal Zalfa mengerucutkan bibir.


Vania merasakan perasaan sakit yang menusuk hatinya. Zalfa dan Cleo terlihat dekat akhir-akhir ini. Dan itu membuat Vania sedikit iri.


Cleo terkekeh, ia mengacak-acak rambut Zalfa asal, "iya, iya, maaf."


"Ada yang panas nih!" Kekeh Kaila menatap Vania.


Cleo memberhentikan aksinya. Ia menatap Kaila heran, "Apaan? Panas?"


"Yah gak peka si doi!" sindir Rangga.


"Udah ah. Kenapa jadi bahas ini, kita ke markas lagi yuk, gue mau cari info lain dulu," kata Zalfa mengalihkan pembicaraan, yang dihadiahi anggukan dari semuanya.


Mereka semua menaiki mobil sport Kaila.


Didepan ada Cleo dan Vania. Sedangkan ditengah ada Rangga, Kaila, dan Zalfa.


Zalfa sibuk mengotak-atik ponselnya. Berniat kembali melacak lokasi Gilang yang tiba-tiba menghilang.


Mereka tidak tau kalau Gilang sudah tiada oleh Zee.


Kaila dan Rangga sibuk pacaran.


Sedangkan yang didepan, dalam situasi canggung. Entahlah Vania nampak segan berbicara, akhir-akhir ini ada yang berbeda dari Cleo.


Mereka sampai di markas DBD.


"Tunggu!" seru Zalfa tiba-tiba sebelum akhirnya mereka membuka pintu mobil.


"Kenapa, Kak?" tanya Vania.


Zalfa tak menyahut, ia mencoba kembali hanya untuk memastikan bahwa lacakannya tak salah.


"Kenapa, Zal?" tanya Cleo.


"Bentar, bentar..."


Sejurus kemudian Zalfa tersemyum, ia berhasil.


"Ketemu!"


****


"Jadi maksud lo ada yang nyulik Gilang gitu?" tanya Rangga pada Zalfa.

__ADS_1


"Kemungkinan seperti itu."


"Apa Gilang punya musuh lain selain kita?" tanya Vania.


"Mungkin seperti itu."


"Tapi siapa?"


"Yang itu gue gak tau!"


Semua berdecak kesal. Zalfa menyaut seenak jidatnya. Padahal ini benar-benar sedang dalam keadaan genting.


"Yang bener apa, Zal!" geram Cleo.


"Ini gue udah bener, Abanggg!"


"Yaudah, nanti kita cari lagi.  Gue udah capek hari ini. Mungkin besok ketemu," Ucap Rangga.


"Yaudah. Gue mau tidur di markas ajalah. Males balik," kata Vamia yang diangguki Kaila.


"Gue juga."


"Yaudah, good night!"


****


Hujan mengguyur kota jakarta malam ini.


Zee dan Ansell tergopoh-gopoh berlari kearah halte bis.


"Duh ujan lagi," keluh Zee. Ia mengusapkan telapak tangannya yang terasa dingin akibat tetesan hujan.


"Iya nih," saut Ansell, ia merapatkan jaket ketubuh kekarnya.


Zee menghembuskan nafas kesal, Ansell benar-benar tidak peka!


"Gue sering liat di sinetron-sinetron lho," Zee membuka pembiaraan, ia hanya ingin membuat Ansell peka.


"Kan ada dua pemeran yang keujanan kayak kita..." Zee sengaja menjeda kalimatnya.


"Terus?"


"Si cowok ngasih jaketnya ke cewek yang lagi kedinginan," Ucap Zee sambil tersenyum, ia yakin setelah di beri kode seperti ini, pasti Ansell akan peka!


"Hmm, alay."


Senyum Zee sirna seketika.


Ia pasrah membuat kode-kode alay seperti ini. Lantas Zee mengulurkan tangannya. Seperti menengadah sesuatu, membuat Ansell berkernyit.


"Kenapa?" tanya Ansell.


"Minta jaket lo!" palak Zee.


"Gue kan dingin!"


"Ya tapi gue lebih dingin!" kata Zee nadanya naik satu oktaf.


"Itu urusan lo."


"Ish."


Zee duduk di bangku halte dengan wajah cemberut. Apa-apaan ini, kenapa sekarang ia lebih sensian?


Zee mengusap tangannya yang dingin. Ia benar-benar kedinginan saat ini.


"Huftt..."


Tiba-tiba sebuah jaket kulit berwarna hitam telah menangkring di bahunya.

__ADS_1


Zee menoleh keatas. Ada Ansell yang tengah meletakkan jaket itu di bahunya. Menyisakan kaus oblong hitam polos dengan lengan pendek saja.


"Lain kali gak usah pake ngode. Bawa-bawa acara sinetron lagi," cibir Ansell saat sudah memasangkan jaketnya ke bahu Zee.


Zee mengerjap. Sungguh, tak ia sangka Ansell akan mengerti kode keras yang telah ia buat.


Pipi Zee menyirat merah, merasa malu akan dirinya.


Bodoh bodoh bodoh! Kenapa gue harus kayak tadi sihh?!!! Zee lo ****! ****!


"Apaansih. Gue gak ngode ya! Gue...gue...gue cuma nyeritain cerita sinetron yang gue tonton kemaren!" elak Zee.


Ansell menaikkan sebelah alisnya, "oh ya?"


Zee gugup setengah mati. Ia mengalihkan pandangnnya ke arah jalan yang tengah diguyur air hujan.


"I..iya kok!"


"Apa judulnya?" tanya Ansell.


"Anu.. Aaa..."


'Ayo berfikir' batin Zee.


"Anu apa?"


"Anu, ya Tukang cimol jatuh cinta! Haha iya itu!" ucap Zee terbata-bata dengan tawa renyah.


Tawa Ansell seketika membuncah.


Dahi Zee berkernyit, "ngapain lo ketawa?"


"Tukang Cimol jatuh cinta? Pffft HAHAHA!"


"I..iya, emang kenapa? Heh, semua orang berhak jatuh cinta ya! Lo jangan ngeremehin gitu lhoo! Gitu-gitu engkong gue pernah jualan the cimol cafe!" kata Zee sedikit kesal.


"Pfttt. Gue bukan ngeremehin maemunah! Gue cuma aneh aja, judulnya apa tadi? Tukang cimol? Gak ada yang lebih bagusan lagi? Tukang sendal jepit gitu. HAHA!"


"Ish!"


Zee mendesis kesal. Perkataan Ansell sudah jelas-jelas menyindirinya, pasti Ansell tau kalau ia tengah berbohong.


Ansell memberhentikan tawanya walau sulit. Ia menghargai judul karangan yang di buat Zee. Walau terkesan ngaur.


"Ngoming-ngomong gimana akhir endingnya?" tanya Ansell setelah berhasil menetralisir tawanya.


"I..iya gak tau!"


"Gak tau? Katanya lo nonton," pancing Ansell dengan senyum menjengkelkannya.


"I..iya gue kan gak nonton sampe abis!"


Ansell mencoba untuk tidak tertawa. Ekspresi Zee saat ini sangat lah lucu, menggemaskan, dan kata-kata imut lainnya. Ah, tidak bisa dijabarkan. Intinya, Ansell suka itu.


"Eh, itu hujannya udah lumayan reda tuh," pekik Zee menyairkan suasana, "balik yuk!"


"Ayuk, calon pembuat Film, HAHA!"


"Anselll!!!"


Zee mencubit pinggul Ansell keras, membuat AnseAnsell memekik kaget.


Jujur cubitan cewek itu emang sakit brohh!


"Aduh. Aduh. Sakit woyy."


"Makanya jangan ngeselin!"


Zee mengejar Ansell yang berlari menghindari serangan cubitannya. Dibawah rintikan hujan dengan awan gelap.

__ADS_1


Hanya ada mereka berdua dijalan tepat di waktu 00.00.


Selamat datang pagi yang indah.


__ADS_2