
Zee : Ketemu dibelakang sekolah, sebelum bel masuk. Gak pake lama!
Ansell membaca pesan Zee dengan kening berkerut. Tumben-tumbenan sekali Zee mengirim pesan duluan padanya, bahkan sampai mengajak ketemuan lagi.
Ansell menepuk keningnya, lupa akan pesan Sean tentang kedatangan Zee ke markas DBM kemarin.
"Harus banget sekarang apa ya?" tanya Ansell pada dirinya. Padahal, Ansell lagi mager-an di kasur empuknya. Sambil memikirkan bagaimana dirinya nanti akan menikmati tubuh ****** yang akan ia nikmati malam nanti.
Ansell mengambil hodie, kunci mobil, dompet dan iPhonenya. Lalu bersiap keluar mansion. Saat baru keluar kamarnya, ia dikejutkan dengan keadaan adik perempuannya, Kia, yang berdiri di depan kamarnya.
"Wuiiihh Abang, mau kemana pagi-pagi gini udah bangun, rapi lagi." Kia berdecak kagum. Mengingat tak biasanya abangnya ini bangun pagi, biasanya jam 12 siang baru bangun, itu juga hanya ke dapur, mencomot makanan, lalu pergi lagi.
Kia Ari Rendra. Gadis berparas cantik berumur 17 tahun, tingkahnya yang sangat kekanak-kanakan membuat Ansell terkadang ilfiel sendiri. Kia tinggal di Asrama, terkadang ia pulang hanya 2 minggu sekali. Umur mereka hanya berbeda 2 tahun, tak heran jika mereka berdua bertemu suasana Mansion menjadi riuh karenanya.
"Kepo lo, bocah! Minggir lo, gue sibuk!"
"Cuih, sok-sokan ngomong sibuk. Tidur aja masih suka dibangunin," cibir Kia.
Ansell menatap adiknya dengan mata memicing, membuat Kia sedikit ketakutan, "Denger ya, Gue lagi buru-buru sekarang. Jangan bikin gue buat makan bibir monyong lo sekarang!"
"Kyaaaaa. Abang mesum!!!" Kia berlari kearah lift dan segera menutupnya. Takut ancaman abangnya itu menjadi kenyataan.
Ansell tertawa keras melihat reaksi adiknya. Aneh, menurutnya, tidak mungkinkan ia merusak adik polosnya itu.
"Bocah!" Ansell menggelengkan kepalanya geli. Lalu memasuki lift yang satunya dan menuju ke bawah.
****
"Zee lo nungguin apaan sih? 10 menit lagi bel masuk!" geram Kaila. Sedari tadi mereka menunggu Zee yang hanya berdiri santai dibelakang sekolah. Padahal sebentar lagi bel masuk berbunyi.
"Tau nih, nanti kita telat. Manaan tugas dari Bu Rika belum gue kerjain lagi!" gerutu Cleo.
"Astaga Cleo, lo belum ngerjain? Bodoh banget lo. Bisa-bisa di jadiin kaleng sarden lo sama BuRik," kata Zalfa kaget.
"BuRik, *****!!" Zee ketawa.
"Parah lo, bang."
"Nih, liat aja punya gue. Daripada lo dijadiin lalapan pagi ama tuh guru gendut," Vania membuka tasnya dan mengeluarkan buku Matematikanya.
Dengan senang hati, Cleo menerimanya, "nah ini yang gue suka. Makin cintah udah sama ni anak," Cleo mengacak rambut Vania.
"Hajar!!" ledek Rangga disambut tawa meledak dari yang lain.
"Sorry gue telat."
Mereka serempak menoleh kebelakang, ada Ansell disana yang sedang berdiri santai dengan kedua tangannya yang dimasukkan kesaku Hodie nya.
Zee bangkit dari duduknya, "cepet banget ya. Sampe jamuran gue disini," cibir Zee.
Ansell meringis tak bersalah.
Semua teman Zee masih sama-sama terbengong. Terutama Kaila, cewek itu menganga lebar. Membuat Rangga mendengus kesal. Liat cowok cakep dikit, langsung kayak singa laper! Dasar cewek! Batin Rangga kesal.
"Yawloo, ganteng banget!" Ucap Kaila tanpa sadar. Ansell mengangkat sebelah alisnya. Sudah biasa dipuji begini, tapi yang Ansell lebih suka jika bersikap sok ganteng dulu di hadapan mangsanya.
Zee memutar bola matanya malas, "lo berlima kekelas duluan aja deh. Gue mau ngomong dulu sama nih anak," usir Zee. Menunjuk Ansell dengan dagunya.
"Lo kenal dia Zee? Kok lo nggak ngenalin ke gue sih kalo lo punya cowok cakep!" protes Kaila.
"Dia Ansell, cowok yang gue ceritain tentang kerja sama waktu itu."
"WHAT!"
"Jadi cowok ganteng ini yang namanya Ansell? Seriously?" Kaila geged.
"Ketua DBM?" Rangga juga ikut tak percaya.
"Serius?"
Ancur image gue- batin Zee.
Zee mengangguk saja menanggapi pertanyaan teman-temannya.
"Udah kan? Yaudah sekarang lo pada balik kekelas. Gue jelasin nanti di kantin."
Kaila mendengus kecewa, "Yaudah, yuk kita tinggalkan sepasang kekasih ini. Gue jadi ragu, gak usah dibatalin aja kerja sama nya, lumayan cakep-cakep kayak gini. Sayang dianggurin."
Rangga menjitak kepala belakang milik Kaila, "dasar cewek genit!"
"Ciyee yang cemburu," ledek Vania.
"Udah ah, yuk balik," Rangga menarik pergelangan tangan Kaila paksa. Membuat Kaila menyeret langkahnya. Disusuli oleh Zalfa, Vania dan Cleo.
Tersisalah Zee dan Ansell. Ansell mengangkat sebelah alisnya.
"Batalin kerjasama?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Ansell. Mengingat kata-kata yang di lontarkan Kaila tadi.
Zee mengangguk santai, "iya, gue mau kerjasama ini berhenti. Gue ngerasa, kalau gue cuma sebagai pihak yang dirugikan!"
Ansell memiringkan kepalanya, menatap Zee dengan kedua alis terangkat, "lo ngerasa dirugikan? Atas dasar apa?"
Zee gelagapan. Ia juga tidak tau atas dasar apa, yang Zee tau, dirinya hanya sebatas dimanfaatkan saja.
"Ya..ya intinya gue pengen kerjasama ini berhenti. Buat masalah GB'Gangster, gue dan anggota gue udah ngatasin. Jadi lo nggak perlu khawatir. Dan ya, buat gue yang minta tolong waktu itu..." Zee menggeleng pelan, "Gue bisa ngelakuin nya sendiri."
Zee mulai melangkah menjauhi Ansell yang masih mencoba menfrangkai satu persatu kalimat yang dilontarkan oleh Zee. Kalau seperti ini, nanti teman-temannya pasti akan mengejeknya lagi, dan mencibirnya dengan kata-kata pedas mereka. Apa iya tujuan nya sepele itu?
Gue nggak bakal biarin dia lepas! Gue belum nemu jawaban!
"Tunggu!"
Zee menoleh kebelakang, Ansell berlari kearah Zee, "gue masih butuh bantuan lo!"
Zee mengangkat alisnya, "terus gue peduli?"
Ansell mendesis, "plis. Kali ini bantuin gue, ada hal yang gue mau minta tolong sama lo! Lo boleh minta apapun setelah misi gue selesai. Tapi, tolong bantu gue!"
Zee mengangkat bahu nya acuh.
__ADS_1
"Plis!"
Zee menatap kearah mata Ansell, melihat Ansell yang memohon seperti itu, membuat Zee tersenyum miring, "ternyata, harga diri ketua DBM lebib rendah dari yang gue kira ya." cibir Zee.
"Oke, gue benci ngakuin ini, tapi gue bener-bener butuh orang hebat kayak lo, buat nyelasain masalah gue, yang juga gak bisa gue selesaikan sendiri.
Tunggu? Apa tadi? Hebat? Ansell memujinya hebat? Wow! Seperti ada rasa kesenangan tersendiri bagi Zee ketika Ansell memujinya. Walaupun sudah beribu-ribu orang memuji Zee, tapi ini beda!
"Gue fikirin nanti!" putus Zee akhirnya. Membuat Anselll tersenyum lega.
"Gue tunggu jawaban baik dari lo, semoga bukan kalimat penolakan," Ansell menepuk pundak Zee dua kali, "Thanks!" lalu beranjak dari sana, meninggalkan Zee yang tercenung.
Zee memegang dadanya yang berdetak cepat, "astaga! Kayaknya gue punya riwayat jantung deh!" Zee menggeleng keras, "gue harus periksa kedokter nanti!"
****
Brak!
Zee menendang pintu kelas didepannya, membuat semua orang yang tadi mendengar penjelasan dari Bu Rika, kini mengaluhkan pandangannya ke arah Zee.
"Kalo masuk tuh-"
"Apa! Lo mau marahin gue!" tantang Zee.
Bu Rika yang tadinya mau menegur Zee, kini menunduk takut. Tak berani melawan putri sematawayangnya tuan Williams.
Perlahan Bu Rika menggeleng, "mm...maaf, silahkan duduk."
Zee segera duduk di tempat duduknya. Pojok kanan belakang. Lalu menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang dilipat.
Semua teman-temannya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Zee.
"Jadi, besok saya tidak akan mengajar disini. Saya akan mengajar di kelas 12. Dan guru ini yang akan mengajar kalian. Pak silahkan masuk," sambut Bu Rika.
Seorang guru laki-laki tampan, memasuki ruangan kelas XI IPA 2. Tubuhnya tegap, langkahnya panjang, wajahnya terlihat muda dengan kumis tipis, alisnya tebal, bibirnya tipis merah ranum.
"Perkenalkan nama saya Arsyaf Maulana. Saya yang akan mengajar kalian sebagai guru matematika menggantikan Bu Rika."
Zee yang tadinya baru terpulas. Kini mendongakkan kepalanya. Mendengar kata 'Arsyaf' membuatnya mngedarkan pandangan ke depan. Disitu ada Arsyaf! Tunggu, tadi ia tak salah dengar? Mengajar disini?
Seluruh kelas heboh dengan kedatangan Arsyaf. Ternyata guru tampan itu sudah memikat para murid perempuan disini.
Arsyaf menoleh kearah Zee yang juga menatapnya, ia tersenyum tipis pada Zee. Membuat Zee reflek ikut tersenyum juga padanya.
"Pak Arsyaf, bisa mulai mengajar sekarang. Saya harus kekantor, karena ada rapat guru senior," jelas Bu Rika dengan senyum ramah, dibalas anggukan singkat dari Arsyaf.
"Ibu tinggal anak-anak, selamat pagi!"
"Pagi!"
Arsyaf duduk di meja guru. Suasana kelas masih sama, riuh dengan suara murid perempuan. Arsyaf sedikit geli mendengar perkataan mereka yang tak ada malunya.
'Yaallah ganteng bangettt!'
'Kalo begini sih gue mau setiap hari dateng kesekolah!'
'Kelas is my surga!'
'Yeu. Huuuuuu!'
"Buka buku Matematika paket 5, kerjakan dari 1-50. Kalau sudah kumoulkan di meja saya. Tidak ada suara. Yang bekerja tangan, bukan mulut!" tegas Arsyaf. Membuat semua prang tercengang. Termasuk Cleo.
'Gila! Baru juga masuk, udah disuruh kerjain tugas aja!'
'Mamous 1-50 lagi!'
'Aduhhh! Gak ganteng-genteng kejam!'
"Yang bekerja tangan! Bukan mulut!" ulang Arsyaf lagi. Semua murid terdiam dan mulai fokus mngerjakan.
Zee menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Setidaknya kelas ini tidak begitu membosankan dengan kedatangan Arsyaf. Ia bisa bermain-main dengannya.
"Kalo saya gak mau ngerjain gimana pak?" tantang Zee, semua murid menoleh kearah Zee dengan tatapan tak percaya. Ini pertama kalinya Zee berbicara pada guru dengan nada yang bisa terbilang halus, walaupun ada sedikit tantangan disana.
Arsyaf menoleh kearah Zee. Lalu tersenyum miring, "Kerjakan saja , tidak perlu menantang!"
"Kalau saya bisa kerjakan ini dalam waktu 30 menit, gimana?" Zee semakin memancing.
"Saya loloskan semua murid dari tugasnya," Perkataan Arsyaf membuat semua murid kembali riuh.
'Terima Zee.'
'Wahh, surga ini!'
'Tapi kalau dia nggak bisa gimana? Ini kan susah banget!'
'Belagu amat tuh anak!'
"Tapi, kalau kamu gak bisa menjawab semua soal selama 30 menit dengan benar. Saya tambahkan tugas lagi kepada kalian semua, menjadi 100!"
'Wohoooo!'
'Big no!'
'Gue gak mau!'
"Oke!" Zee menyetujui tanpa fikir panjang. Semua murid menganga kaget.
"Heh! Gue gak mau ya ngerjain sampe 100 soal! Gak usah sok jadi pahlawan deh, kalo ujung-ujungnya malah jadi bencana buat kita semua!" cibir Dea. Cewek itu memang seperti itu, bermulut pedas, entah pada siapapun. Ia tak peduli. Dea juga termasuk primadona di sekolah W'School. Tentu saja, dengan kehadiran Zee membuatnya kalah saing. Dan itu membuat Dea benci pada Zee.
Zee tersenyum miring mendengar perkataan Dea, "liat aja nanti."
"Kalau sudah siap, kita mulai sekarang. Saya pasang timer dulu," Arsyaf mengeluarkan handphone nya dan menyetel stopwatch. Sementara Zee menyiapkan buku dan alat tulinya.
"Siap?"
"Ya!"
"Mulai!"
__ADS_1
Keadaan hening, tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata lagi. Masing-masing murid berdoa, agar Zee dapat menyelesaikan tugasnya. Dan mereka tak kens baku hantam dari guru baru brengsek ini.
"15 menit lagi!"
Suara jam seakan menggema. Semua murid sudah mengeluarkan keringat dinginnya. Sementara Zee, masih santai saja mengerjakan soalnya.
"Sepul-"
"Selesai!"
Semua murid hampir menjatuhkan rahangnya. Tak mungkin seorang siswi mengerjakan seluruh soal 50 banyaknya dalam waktu 25 menit! Mustahil.
Zee berdiri dari bangkunya. Dan menghampiri Arsyaf dengan senyum miringnya. Zee menyerahkan buku matematikanya. Bersiap Arsyaf periksa.
Arsyaf mulai memeriksanya dengan detail sedetail-detailnya. Semua murid sudah menggigit kukunya. Mereka yakin pasti yang benar hanya 20% saja. Dan sudah pasti Zee akan kalah.
"Benar semua!"
Lagi dan lagi semua murid menganga terkejut!
"Serius pak?" tanya Dea tak percaya.
Arsyaf mengangguk. "Bisa dilihat. Kalau tidak percaya suruh guru lain untuk memeriksanya."
"Bagus, gak usah diperiksa semua guru. Yang penting kita selamat dari tugas!"
"Thanks Zee. Your is the best!"
Zee tersenyum miring, "itu semua gak gratis lhoo!"
"Lah? Lah?"
"Bayar maksud lo?"
"Ck. Mata duitan. Udah kaya juga masih morotin duit orang lain."
"Gue bukan mau duit lo pada. Gak butuh. Gue cuma pengen, kalian bantuin ob yang disana, buat bersih-bersih!"
"What!"
"Lo nyuruh kita semua buat bantu ob itu?"
"Idih gak mau gue!"
"Iuuhh!"
"Gak mau ya? Yaudah deh, pak kasih aja mereka soal seratus!" Zee menyela.
"Eh!"
Arsyaf mengangguk setuju. Mereka seperti sekongkol macan, yang menahan mangsanya, sehingga dengan mudah mereka memakannya.
"Kerjakan bab 1-3!"
"Yahh pak, masa gitu sih!"
"Tau nih!"
"Yaudah kita bantuin itu...o-b deh!" kata salah satu murid cowok dengan ogah-ogahan.
"Nah gitu!" Zee menunjuk pintu dengan dagunya, "silahkan."
Semua murid mulai keluar dari kelas, Dea menatap Zee sinis saat melewati Zee.
Kelas sudah kosong, hanya tinggal ada Zee, Arsyaf, Vania, Kaila, Zalfa, Cleo dan Rangga.
"Hebat lo, Zee!" Kaila menggeleng takjub.
"Good girl!" Arsyaf menepuk kepala Zee. Lalu mengacaknya pelan.
Zee tersenyum puas.
T
iba-tiba handphone milik Zee berbunyi. Menandakan ada yang menelponnya.
"Eh bentar ya, Dady nelpon."
Semua mengangguk, Zee sedikit menjauh dari mereka.
"Halo, Dad?"
"Halo princess. Kamu bisa ke Perancis sekarang? Perusahaan Dady sudah hampir bangkrut yang disana."
Zee menghela nafasnya pasrah, "iya, Dad. Zee langsung kebandara sekarang."
"Lhoo? Nggak pulang dulu?"
"Enggak usah, Dad. Biar langsung aja."
"Ooh. Yaudah, kamu hati-hati ya princess. Maaf kalo sering nyusahin kamu. Padahal ada Davin dan Gavin. Tapi mereka belum bisa berbisnis!" terdengar nada sinis dari Dadynya disana. Membuat Zee terkekeh.
"Yaudah Dady tenang aja. Langsung Zee tanganin kok. Yaudah Zee bereberes-beres dulu disekolah."
"Bye princess, hati-hati!"
"Bye, Dad!"
Tut!
Panggilan diakhiri. Zee menghela nafas lelah. Ia harus ke Perancis sekarang juga.
Zee masuk kekelas lagi, lalu mengambil tasnya. Membuat kening teman-temannya berkerut.
"Mau kemana, Zee?". Tanya Rangga.
"Ke Perancis bang. Tadi Dady nelpon katanya perusahaan disana udah hampir bangkrut. Sekarang gue harus kesana buat nanganinnya."
"Oh yaudah, mau kuta temenin gak?"
__ADS_1
Zee menggeleng, "gak usah. Yaudah gue duluan. Pak guru, gue pamit ya!"
Arsyaf terkekeh, "yoi anak murid, hati-hati!"