
Suara bising sirine ambulan terdengar di sepanjang jalan menuju kerumah sakit.
Beberapa mobil ambulan memasuki wilayah rumahsakit W'Hospital. Zee, Kaila, Cleo, Gilang dan beberapa anggota DBD lainnya dibawa keruang operasi menggunakan brankar.
"Zee lo harus bangun Zee. Gue mohon!"
"Kai, lo kuat, lo kuat, masa lawan peluru kayak gini aja lo lemah, iya kan?" Rangga mengelus tangan Kaila yang dingin sambil membantu mendorong brankar menuju ruang operasi.
Beberap dokter mulai masuk ke ruang operasi beserta Zee, Kaila, Cleo dan yang lainnya.
Zalfa, Vania, dan Rangga mencoba masuk, tapi dihadang oleh suster.
"Maaf, silahkan tunggu diluar. Dokter memerlukan konsentrasi yang penuh untuk saat ini..."
"Buat temen gue bangun!" bentak Vania frustasi.
"Kami usahakan yang terbaik."
Pintu ruang operasi ditutup. Vania terduduk dilantai, Zalfa meredam tangisnya dengan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Sedangkan Rangga, ia sudah tak terkendalikan. Meninju tembok rumah sakit hingga dinding putih itu berwarna merah akibat darahnya.
Diruang kaca, Zee sedang dibantu tim medis mengeluarkan peluru dari jantungnya. Berharap ada yang bisa dilakukan.
Sedangkan Cleo dan Kaila, sudah dikeluarkan peluru dari tubuh mereka.
Vania menatap teman-temannya dengan mata sembab. Runtuh sudah harapan Zee membangun DBD menjadi nomor satu. Kini DBD hancur. Tidak ada lagi persahabatan, solidaritas. Bahkan mereka semua but akan hal itu.
"Lo kuat, Zee..."
****
Tuan Williams, Nona Williams, Gavin, Davin, Prim, Satria dan beberapa keluarga mereka berenam datang kerumah sakit setelah dikabarkan oleh Vania.
Terkejut? Sangat!
"Gimana? Gimana keadaan Zee?" tanya Kaila, Ny. Williams.
Vania menggeleng pelan air matanya terus mengalir, "dokter sedang mengambil pelurunya."
"Kaila? Cleo? Dimana mereka?" tanya kedua orang tua Kaila dan Cleo.
"Mereka masih diruang IGD, peluru udah dilepaskan. Kini hanya tinggal Zee..." ucap Zalfa lirih.
Ny. Williams terjatuh pingsan. Dengan sigap Williams segera menangkapnya. Dan membawa istri nya ke ruang rawat.
Gavin menghampiri Rangga dengan tangan terkepal.
Bugh!
"LO YANG BUAT ZEE KAYAK GINI KAN?!"
Bugh!
Rangga tersungkur kelantai. Bibirnya sedikit robek, membuat darah segar mengalir disudut bibirnya.
"Bang Gavin! Ini bukan salah Bang Rangga!" bentak Vania marah. Mencegat Gavin yang ingin kembali meninju Rangga.
"Terus siapa hah?!"
"Kami!"
Gavin mengepalkan tangannya.
"Kami semua yang bertanggung jawab! Jngan cuma Bang Rangga yang dipukul!" Vania mengambil tangan Gavin, lalu membiarkan tangannya menggerakkan tangan Gavin menepuk pipinya, "Pukul gue juga! PUKUL GUE!"
Gavin kehilangan kendali, ia menampar pipi Vania hingga memerah.
"GAVIN!" Davin, Satria, Prim, dan Zalfa menatap Gavin marah.
Zalfa menghampiri Gavin.
Bugh!
"Anjing lo! Adek lo lagi sekarat disana, dan lo main pukul-pukul mereka. Sadar! Dia perempuan-"
"LO GAK-"
"KAMI ANGGOTA DBD!" Gertak Zalfa marah. Sudah kehabisan akal untuk mencegat Gavin. Memberitahu yang sebenarnya adalah jalan yang terbaik.
Suasana hening.
__ADS_1
Mereka menatap Zalfa tak percaya.
"D..DBD?"
Davin menggeleng pelan, "gak mungkin!"
"Princess gak mungkin ikut kayak gituan!"
"Itulah kenyataannya!" Rangga menyela.
"Zee, dia ketua DBD!"
Bugh!
"Anjing!"
Gavin kembali meninju rahang Rangga, Rangga tak terima akan hal itu, ia memegang tangan Gavin dan menendang perutnya. Sudah cukup Gavin memukulnya terus-terusan.
"Lo kira kita bohong!"
Gavin mencoba bangkut, tapi tidak bisa, badannya terasa sakit.
"Lebih baik lo diem kalo gak tau apa yang sebenarnya terjadi! Yang kita pikirin sekarang keselamatan Zee!" Gertaj Zalfa.
Vania masih diam, tamparan yang diberikan Gavin sangat keras. Tulang pipinya terasa patah.
Pintu ruang operasi terbuka. Menampilkan wajah dokter yang terlihat lelah.
Mereka sama-sama mengerubungi dokter.
"Bagimana keadaan adik saya, Dok?"
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?"
"Zee baik-baik saja kan, Dok?
Dokter itu menghela nafasnya lelah, lalu menggeleng, " Kami sudah berusaha semaksimal mungkin..."
****
Zee membuka matanya, rasa pening yang teramat sangat ia rasakan saat ini.
Tunggu, dimana dirinya? Apa tadi?
Mimpi?
Zee menghela nafas kasar. Apa-apaan ini. Mengapa mimpi itu terasa nyata.
Zee mencoba bangun, tapi tidak bisa, tangan dan kaki nya terikat di sebuah tiang. Ikatannya sangat erat, membuat tangannya sedikit sakit akibat goresan dari tali itu saat ia mencoba melepaskan diri.
"Udah bangun?"
Suara yang sangat ia hafal menyambutnya di depan pintu usang.
"Gimana mimpi nya? Indah?"
Zaline memajukan langkahnya lebih dekat dengan Zee. Kedua oramg kembar ini saling bertatatapan sengit.
"Mau apa lo?"
"Lepasin gue!"
Zaline tak menjawab, ia semakin mendekati diri kedepan Zee.
Tiba-tiba Zaline tersenyum lembut, apa ini? Apa itu hanya sebuah fake?
"Gue cuma pengen ngelindungin lo, mimpi itu, emang nyata," jelas Zaline menatap Zee dengan tatapan sulit dibaca.
Zee tersenyum sinis, "ucapan lo gak ada yang bisa dipercaya!"
Zaline menghembuskan nafas kasar, sepeetinya ia harus menjelaskan perlahan.
"Gue serius. Gilang, dia ketua GB'Gangster. Dan mimpi lo tadi, adalah mimpi yang akan terjadi nyata besok. Gue yang meracik ramuan itu. Gue cuma pengen ngelindungin lo, serius."
Zee masih tak ingin menatap Zaline, walaupun ucapan Zaline memang terdengar serius, tapi Zee tidak ingin terjebak lagi olehnya.
"Lo kembaran gue...lo mati, maka jiwa gue juga mati. Memang, awalnya gue pengen bunuh lo," Zaline menceritakannya perlahan, "tapi bukan bunuh secara fisik, tapi secara batin..."
"Gue benci elo, yang udah ngerebut kebahagiaan gue. Dady, Momy, Bang Dika bahkan Bang Dito juga lebih sayang sama lo!" Zaline menitihkan airmatanya, Zee masih tak mengerti apa itu air mata buaya atau bukan.
__ADS_1
"Hiburan gue cuma ada di binatang-binatang yang gue bunuh! Oma, Opa, gue juga menyesali telah bunuh mereka. Tapi, mengusir lo dari rumah? Gue gak pernah menyesal."
Zee reflek menatap ke arah Zaline.
"Gue gak pernah menyesal telah membuat lo terusir dari mansion. Karena itu, gue bisa ngerasain kasih sayang mereka. Lo gak ngerti gimana batin gue terluka saat mereka lebih merhatiin lo dibanding gue. Gue udah mencoba cari perhatian mereka, tapi tetap elo yang mereka sayang. Tetap elo yang mereka perhatiin. Sedangkan gue?" Zaline menggeleng pelan sambil tersenyum miris, "Gue hanya menumpang nama di keluarga mereka..."
Zee merasakan dada nya sesak, mungkin ini ada ikatan batin dengan Zaline. Entah mengapa, ia menjadi tidak tegaan.
Zaline menghapus airmatanya dengan tangannya sendiri, "Sekarang, gue pengen menolong lo. Gue serius. Gak ada sedikit pun niat gue membuat lo mati. Apalagi ditangan gue sendiri," Zaline menangkup pipi Zee dengan raut wajah serius, "percaya sama gue. Please, Nyawa lo sedang terancam..."
Zee menarik nafasnya dalam-dalam, masih ada sedikit keraguan dihatinya, tapi setengah dirinya percaya bahwa Zaline memang benar-benar tulus, "Apa jaminan lo kalau lo berbohong lagi?"
Zaline tersenyum tulus, "lo bisa bilang ke dad, mom, bahkan bang Dika dan bang Dito, kalau gue pelaku pembunuhan Oma dan Opa."
Zee tersentak kaget, "tapi itu juga bisa membuat lo terusir!"
"Gue pantes dapetin itu. Lagipula, dalam waktu dekat ini mereka akan mengetahui yang sebenarnya."
Tangan Zaline merambat membuka ikatan pada tangan Zee.
"Gue yang akan gantiin lo di perang itu."
"Biar gue!" sela seorang cowok yang tiba-tiba berada di belakang pintu.
Kedua kembar itu menoleh bersamaan, "Ansell?" kaget mereka berdua.
"Lo kenal Ansell?"
"Lo kenal Ansell?"
Ansell terkikik, si kembar dihadapan ini begitu kompak.
"Biar gue yang jelasin," Ansell angkat suara, "Zee pacar gue, dan Zaline anggota DBM."
"Kenapa lo gak bilang!" teriak Zee dan Zaline berbarengan lagi.
Ansell meringis sambil menutupi telinganya.
"Pelan-pelan aja dong, kalian mau buat gendang telinga gue pecah?!"
"Lagian elo!" berbarengan lagi-_-
Ansell terkekeh lagi. Menatap si kembar yang akhirnya berbaikan, membuat dirinya juga ikut senang.
"Gue seneng ngeliat kalian baikan, adem ngekiatnya. Kalian benar-benar kembar identik, sama-sama psikopat, dan cerewet!"
"APA?!"
Zee memegang tangan Ansell den memelibtirnya kebelakang, sedangkan Zaline menarik kaki Ansell hingga membuat Ansell terjatuh ke lantai yang kotor itu.
"Aduh! Sakit woy!"
"Jangan bangunkan macan yang tertidur!"
Zaline dan Zee saling bertatapan, lalu tertawa bersama, menertawakan diri sendiri yang menurutnya lucu.
Ansell tersenyum dalam diam, kini giliran dirinya yang membalas.
"Haaa!"
Ansell bangkit dan menarik ZeZee dan Zaline kedalam dekapannya lalu mengelitik mereka berdua dengan tangan kekarnya.
"HAHA! Ansell gila geli ***** lepas! HAHA!"
"Bodo amat, ini gantian karena kalian udah buat gue nyium lantai. Mending gue nyium Zee!"
Zee reflek membesarkan matanya, lalu mendorong Ansell kasar.
"Kampret!"
Mereka bertiga tertawa bersama, kejadian yang sangat langka terjadi.
Bahkan kemungkinannya sangat tipis.
Disini, Zaline dan Zee bersatu.
Bersama, mereka bisa.
Bersama Ansell. Mereka akan melawan GB'Gangster.
__ADS_1
Tunggu saja!