
...SPESIAL VANIA & CLEO!!!!...
...****...
Vania menatap getir tiket penerbangan di tangannya. Hari ini, adalah hari dimana ia harus pergi. Pergi dari semua yang memang harus ia tinggalkan.
Termasuk teman-temannya.
"Lo yakin?" tanya cewek dengan topi hitam diatas rambutnya yang diikat kuda, siapa lagi kalau bukan Kaila.
Vania hanya mananggapinya dengan senyuman tipis.
"Ini udah kita bahas, 'kan?" kata Vania dengan nada rendah.
Vania akan pergi ke Inggris. Tempat pertama kali dirinya bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Tempat pertama kalinya ia mengenal sosok sahabat. Dulu, Vania adalah warga negara Inggris yang memiliki pasukan gangster terkuat di negara itu sendiri. Ia bertemu dengan teman-temannya dalam pertarungan antar musuh, Zee yang saat itu sudah menguasai lebih dari 10 negara, ingin menguasai negara inggris juga dengan bertempur dengan pasukan Vania.
Vania yang merasa terancam, akhirnya menawarkan kerjasama yang juga akan menaikkan namanya. Tapi, itu berlaku jika hasil kerjasamanya berhasil dan menduduki 3 besar gangster terkuat sedunia. Setelahnya, ia akan pergi dan kembali memimpin pasukannya.
Zee menyetujuinya dan membawa Vania ke Indonesia. Tak ia sangka hubungan yang awalnya sekadar kerjasama antar musuh, kini menjadi keterkaitan persabatan yang dekat.
Menurutnya, tugas nya juga sudah selesai. Ia hanya menumpang nama di DBD, ia tidak ingin lagi merepotkan Zee, walaupun Zee bilang tidak merasa direpotkan. Namun, itu bukan salah satu alasannya untuk kembali, mungkin memang tugasnya disini sudah tidak ada, apalagi, ia harus mengurus gangster miliknya di Inggris yang sudah tak terurus.
Kaila mengeluarkan penjernih air mata, insto, dan meneteskannya ke arah matanya sendiri. Berlagak seperti ia sedang menangis.
Ia memeluk Vania dengan eratnya, "Gue bakal kangen sama lo..."
Vania tak segan-segan menoyor kening Kaila, "Alay lo, bocah. Pake insto segala lagi! Gak mempan tangisan lo, gue bakal tetep balik ke inggris!"
Kaila melepaskan pelukannya dengan bibir mengerucut sebal, "nanti siapa yang gue bully kalo lo gak ada?"
"Masih ada Zee. Lo boleh bully dia sesuka hati," jawab Vania seenak jidat, membuat Zee menatap Kaila tajam.
Kaila menggeleng tegas, "Ogah! Yang ada kepala gue di cincang sama dia!"
Kaila dan Zee tertawa geli melihat tingkah konyol Kaila.
Vania menatap jam tangan hitam ditangannya, menunjukkan keangka 09.15, sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
"Bentar lagi take off nih, gue masuk dulu," pamitnya pada kedua sahabat dihadapannya ini.
Zee mengangguk pasrah. Toh, ia juga tak punya hak untuk mengatur Vania agar tetap tinggal disini.
"Hati-hati," pesan Zee singkat pada Vania. Vania mengangguk.
Grep!
"Jangan pergi, pleasee!!" rengek Kaila, ia memeluk Vania dengan erat hingga membuat Vania hampir terjungkal kebelakang.
Vania menghela nafas jengah, "Kai, jangan drama deh."
Kaila menggeleng, "gue gak drama! Gue beneran gak mau kehilangan lo..."
Zee mendengus sebal. Kaila ini, seperti ditinggalkan kekasihnya pergi saja!
"Nanti kan lo bisa jenguk gue."
"Ongkosnya?"
Argghhh!!
Vania ingin sekali memukul kepala Kaila dengan balok saat ini. Mungkin otak nya sedikit lurus jika dipukul.
"Katanya holang kaya!"
Kaila menggeleng tegas. Ia enggan melepaskan pelukannya dari Vania.
Membuat Zee menghela nafas jengah.
Zee menarik ujung kaos belakang Kaila dengan sekali sentakan. Ingatkan, Zee itu kuat.
"Cepet, Van!!!"
Vania terkekeh kecil, ia mengangguk dan pergi mninggalkan kedua sahabt yang tidak akan pernah terlupakannya itu.
__ADS_1
Kaila merengek seperti bayi. Beberapa orang melirik mereka, membuat Zee malu bukan kepalang.
"Kai, udah!"
"Gak mau!! Huaaa Vaniaaaa, tungguin gue!! Gue mau ikutttt!! Zee lepasin!!! Gue mau ikut Vaniaaa!!"
Zee menggeleng tak peduli, ia menarik kaos belakang Kaila membuat gadis cerewaet itu terseret dengan raut masih merengek.
****
Cleo dan Zalfa duduk dibangku taman berdua. Menikmati indahnya sore hari dengan semilir angin yng menerpa kulit kedua remaja itu.
"Gimana dengan dia?" tanya Zalfa memulai pembicaraan.
Kening Cleo berkerut, "Siapa?"
"Vania."
"Kenapa sama dia?"
Zalfa mengehembuskan nafas pelan, "Jangan gitu, Bang. Lo kan tau perasaan cewek tuh gimana. Lo tau kan, kalau dia suka sama lo dari lama?"
Cleo mengangguk ringan, tanpa beban.
"Sampai kapan lo mau sembunyiin perasaan lo terus?"
"Perasaan apa?" tanya Cleo balik.
Zalfa memukul ringan lengan Cleo, sedikit kesal dengan ketidakpekaan Cleo.
Cleo meringis pelan, pukulan pelan bagi Zalfa adalah pukulan berat untuk Cleo.
Perempuan-perempuan perkasa.
Cleo mengangkat kedua bahunya acuh, "gue masih trauma."
Cleo menyandarkan tubuhnya kebangku taman, memejamkan matanya sebentar.
"Nanti gue yang kasih tau."
Zalfa mengangguk-anggukan kepalanya. Walaupun ia tak yakin dengan yang dikatakan Cleo.
"Kapan?"
"Secepatnya."
Zalfa terdiam. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Cleo, tapi, ia takut Cleo akan pergi meninggalkannya seperti yang lain.
"Yo..."
"Hm."
"Engh, masalah Vania..."
Cleo mengerutkan keningnya, ia menatap Zalfa penasaran, menunggu kelanjutan dari gadis itu.
"Vania..."
"Kenapa?"
"Vania pergi," akhirnya berhasil diucapkan walaupun dengan suara lirih.
Cleo menatap Zalfa semakin bingung, "pergi?"
"Iya..."
"Kemana?"
"Kerumahnya," jawab Zalfa dengan kepala tertunduk.
"Ooh..." tanggap Cleo, ia tak perlu risau, toh Vania hanya pulang kerumah, seharusnya Cleo tak perlu sekepo itu.
"Lo nggak tau rumahnya dimana?" tanya Zalfa menatap Cleo yang menatap kedepan dengan santai.
__ADS_1
"Tau."
"Di inggris," kata Zalfa dengan lirih
"Di in? In apa?" tanya Cleo, menatap Zalfa, suaranya tadi tidak terlalu jelas ditelinganya.
"Di inggris."
"Apa?!"
Zalfa menunduk takut saat Cleo tiba-tiba berdiri dan menatapnya tajam.
"Zal, jawab!"
Zalfa semakin menundukkan kepalanya, ia takut disaat Cleo marah seperti ini, "Vania pergi, dia pergi ke Inggris dengan alasan mau mengatur gangster nya yang disana, lo tau kan alasan sebenernya dia kenapa?"
Cleo menghembuskan nafasnya kencang, ia mengusap wajahnya kasar. Bodoh!
"Kapan dia berangkat?"
"Saat ini."
****
Cleo menatap sendu layar penerbangan pesawat yang membawa Vania menuju Indonesia-Inggris.
Ia menghela nafas pasrah. Kaila nya telah pergi.
Cleo menoleh pada gadis disampingnya yang masih senantiasa menunduk.
"Kenapa lo gak bilang ke gue?" lirih Cleo menatap gadis itu dengan tatapan lesu nya.
"Gue takut..." jawab gadis itu hamir tak bersuara.
Cleo menghela nafas keras. Ia menarik gadis itu kedalam dekapannya. Membelai rambutnya dengan penuh penyesalan. Sesal karena membuat gadis yang disayanginya menangis.
"Gue takut lo akan ikut pergi bersama dia, dan ninggaoin gue, lagi..."
"Sorry gue gak bermaksud," lirih Cleo, ia sungguh menyesal. Yah, sepertinya memang ini takdirnya. Kehilang orang yang dicintainya, namun tidak dengan orang yang disayanginya.
"Jangan pergi lagi," rengek gadis itu, membenamkan wajahnya pada dada bidang Cleo.
"Enggak."
"Jangan tinggalin gue lagi."
"Enggak akan."
"Jangan pernah..."
"Hm."
Cukup lama mereka berpelukan, ditengah keramaian tempat umum, bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, Cleo merasakan tubuhnya semakin lama semakin berat.
"Zal?"
Tak ada sahutan.
Cleo melihat kearah wajah gadis didekapannya, yang ternyata sudah terlelap dengan air mata dan ingus yang meleber di kaos oblong hitamnya.
Melihat itu, Cleo terkekeh kecil.
"Dasar."
Cleo mengangkat tubuh gadis itu ala bridal-Style dan membawanya kedalam mobilnya.
Ditatapnya wajah polos dengan mata terlelap. Entah sudah berapa tahun mereka berpisah, dan kini kembali dipertemukan dengan status yang tak pernah mereka duga.
Clo meajukan wajahnya mendekati kearah kening gadisnya, dan mengecupnya singkat.
"Gue sayang lo, gue janji gak akan ninggalin lo lagi."
Setelah itu, Cleo menutup pintu mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju kerumah nya.
__ADS_1