Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 22


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Williams penuh harap.


Zee tersenyum kecil sambil mengangguk, "udah beres. Ternyata ada kasus pencurian. Udah Zee tanganin kok."


Williams tersenyum senang, ia mengelus rambut Zee dengan penuh kasih sayang, tak terhitung bagaimana rasa kasih sayangnya pada putri satunya ini.


"Makasih princess. Kamu memang selalu bisa dady andalkan."


Zee menanggapinya dengan senyuman.


"Terus, gimana perusahaan dady di Canada?" tanya Zee penasaran.


Williams tersenyum bangga, "tentu saja dady yang memenangkannya."


"Asikk! Yess, yuhuu gue kebagian jatah hadiahh!" teriak Davin yang entah darimana bocah itu muncul bersama Gavin yang menutup telinganya.


"Berisik abang!" tegur Kaila. Davin hanya nyekir tak bersalah.


"Kita hang out?"


"Mau kemana tapi?"


"Raja ampat?" tawar Davin.


"Udah basi," tukas Gavin cepat.


"Pantai Kuta?"


"Gak!" timpal Zee cepat.


"Gimana kalo kita ke london?"


"Ke london ngapain, dad?" tanya Davin dengan lugu nya.


Pletak!


Gavin menjitak kening Davin dengan penuh emoai. Entah dosa apa ia sampai dikaruniai kembaran sengklek seperti Davin.


"Mending lo diem!"


"Gimana princess?" tanya Kaila menatap Zee dengan senyuman hangat.


Zee membalas senyuman itu, "Zee ikut aja."


"Oke! Kita ke London! Tapi selesai Gavin dan Davin UN," putus Williams akhirnya.


"Yahh, lama dong?" protes Davin sedih.


"Gak pake bantah, udah, dad mau istirahat dulu. Ayo sayang," Williams merangkul Kaila yang pipinya sudah memerah.


"Yahh, main kuda-kudaan lagi pasti mah!" celetuk Davin kesal. Mom dan Dad nya itu memang tidak mengerti situasi. Dimana pun kapan pun mereka berada, tidak akan lepas dengan aktivitas mereka membuat anak.


"Biarin aja apa, Dad mah ada temen nya, lah elo? Main solo sama sabun!" saut Gavin pedas.


"Lo ngintip gue lagi mandi ya?" tuding Davin menunjuk-nunjuk Gavin.


"Enak aja lo! Kayak kurang kerjaan aja gue ngintipin lo mandi!"


"Udah ah! Berisik tau, Zee mau istirahat dulu. Bye!" Zee memasuki lift dan pergi kelantai 3 tempat kamarnya berada.


Davin menatap Gavin sengit. Begitupun sebaliknya.


"Gue juga pernah liat sabun dikamar mandi lo bolong ya," bisik Davin tajam.


Mata Gavin melebar kaget, "siapa yang nyuruh lo masuk ke kamar gue!"


"Gak ada. Udah ah, gue pengen lanjutin aktivitas lagi! Byee tukang bolongin sabun," saut Davin santai sambil memasuki lift.


"Kayak kagak aja tuh anak," geram Gavin kesal menatap pintu lift yang tertutup.


"Setan lo!" teriak Gavin kesal pada lift yang tertutup.


****


Malam ini Karan pergi ke rumah pohon yang tak jauh dari rumah kecilnya. Rumah pohon yang ia bangun sendiri, dan kini masih berdiri kokoh selama 3 tahun.


Karan memanjat tangga yang menyatu dengan batang pohon tempat rumah pohon itu hinggap.

__ADS_1


Sampai nya di puncak, Karan bersandar di papan-papannya sambil menatapi sebuah foto bergambar wajah Zee.


"3 tahun, 3 tahun gue nyari lo... Gue seneng bisa ngekiat lo lagi."


Karan mengambil foto, memandanginya dan mengusap wajah Zee yang tersenyum menatap kamera.


"Kalo diinget-inget, lo juga pernah minta bikinin gue rumah pohon, 'kan? Dan gue berhasil Zee."


Karan terus memandangi foto indah Zee. Memandangnya saja sudah membuatnya lupa dengan sekitar yang sudah turun hujan.


"Apa lo masih inget sama gue?"


Karan tersenyim miris, sudah jelas-jelas ia tau jawabannya, Zee tidak mengingat dirinya. Bagaimana mungkin Zee mengingat Karan, cowok sederhana yang beruntung pernah mengenal Zee.


Karan mengeluarkan buku dan pulpen biru dari saku nya. Lalu menuliskan sesuatu disana, seperti sebuah puisi.


Rasa ini kian membuncak,


Rasa yang sebelum nya pernah menghilang,


Kini, kembali mengisi dengan sendirinya,


Jantung ini selalu berdebar setiap kali memandangmu,


Sesak didada saat kau tidak mengingatku,


Tapi...


Kenyamanan dan rindu setiap waktu,


Memandangi mu setiap detik,


Tanpa pernah bertutur kata,


Terlalu malu mengungkapkan,


Bahwa aku jatuh cinta,


-KLMN-


Karan tertawa geli, setiap puisi yang ia letakkan di kolong meja Zee, selalu ia letakkan namanya yang disingkat menjadi KLMN.


"Gue akan buat lo ingat, tentang kita..."


****


Ansell menatap Cala malas. Gadis ini, selalu saja menganggu nya. Tak bisa kah ia hidup dengan tenang.


"Terus gue ketemu mickey mouse deh, lucu-lucu banget. Ayo sekarang lo harus temenin gue kesana lagi!" seru Cala.


Ansell menghela nafas lelah. Tangannya sedari tadi di gelayut manja oleh tangan mungil Cala. Ingin lepas tapi tidak enak. Bagaimana pun sifat Cala, cewek itu juga temannya.


Teman-temannya hanya memandangi sesekali tertawa melihat wajah Ansell yang nampak risih dengan cerita liburan Cala ke disney.


"Cal, udahlah, lo gak liat muka Ansell udah melas gitu lo gelayutin," tegur Sean sambil terkikik.


Cala memanyunkan bibirnya, "lo risih ya?" tanya Cala sambil menatap Ansell.


"Iya," jawab Ansell jujur.


"Yaudah deh gue lepas," Cala melepaskan rangkulannya dengan wajah cemberut. Haikal terkikik geli melihat tingkah manja Cala. Sangat menggemaskan.


"Udah gak usah gitu, tangan gue kosong nih. Udah berjamur," canda Haikal yang langsung dihadiahi gelak tawa dari temannya.


"Gak mau! Gue cuma mau tangan Ansell doang! Tangan lo mah gak gede, kayak Ansell!" tolak Cala ketus.


"Tuh tangan Rama gede tuh. Gelayutin gih," ledek Dandi mengundang tawa lagi.


Rama yang tadinya tengah memakan rendang bawaan Cala langsung memberhentikan kegiatannya, "nah tangan gue kosong!"


"Ishh!" Geram Cala kesal.


Ansell menggelengkan-gelengkan kepalanya, "gue balik dulu deh."


"Yaelah. Baru jam 10 udah balik bae. Biasanya juga jam 3 pagi lo baru balik!" cibir Sean.


"Nyokap gue nelpon dari tadi."

__ADS_1


"Wuiss macan bro. Yaudah balik aja sono."


Ansell tidak menyauti nya, ia langsung pergi keluar markas dan mengambil mobilnya, lalu pergi.


Sesampainya di mansion Rendra. Ansell langsung dihadiahi pemandangan yang ia tunggu-tunggu.


Ayahnya, Rendra pulang ke rumah. Akhirnya, setelah 2 bulan di kota barcelona karena mengurus perusahaan.


"Anak ayah baru pulang?" tanya Rendra terdengar seperti sindiran halus.


Ansell meringis malu, lalu menghampiri Ayah nya yang sudah ada Momy nya dan Kia.


Ansell segera menyalami Rendra dan memeluknya. Jika diluar Ansell terlihat menyeramkan dan sangar, tapi tidak jika dengan keluarganya, Ansell akan berubah menjadi sosok yang paling lembut dan tegas dalam melindungi keluarganya.


Ketahuilah, Ansell sangat menyayangi keluarga nya ini.


Rendra hanya terkekeh melihat anak laki-lakinya memeluk dirinya denganpelukan kerinduan. Rendra membalas pelukan Ansell.


"Masuk yuk, udah malem, gak enak diliatin tetangga." ucao Viola, momy Ansell dan Kia. Mereka semua mengangguk menyetujui lalu masuk kedalam mansion.


"Oleh-oleh mana, Yah?" palak Kia, tangannya menjukur kedepan seperti sedang memalak adik kelas.


Rendra tersenyum kecil memandang putrinya, "Ada dong. Besok Ayah perlihatkan. Buat Ansell juga ada. Sekarang, kalian tidur dan tunggu sampai hadiahnya siap," perintah Rendra. Keduanya mengangguki saja. Lalu Kia masuk ke lift karena kamarnya berada diatas, sedangkan Ansell pergi ke kamarnya yang memang berada di bawah.


Ansell membaringkan tubuhnya ke kasur king size nya. Entah setan apa yang dirasukinya, rasanya Ansell ingin mendengar suara Zee.


Ansell mengambil handphone diatas nakas, lalu mulai menghubungi Zee.


'Nomor yang anda tuju sedang berada dipanggilan lain'


Tut!


Ansell mendesis kesal, ia lantas mematikan panggilannya. Pikiran-pikirannya mulai menerawang, sedang menelpon siapa Zee? Apa Zee sudah makan? Kenapa Zee-


Drrrtt..drrrtt..


Fikirannya langsung pecah ketika ponselnya bergetar. Tertera tulisan Ketua DBD disana.


Tanpa pikir panjang Ansell segera mengangkatnya.


"Halo?"


"Halo?"


"Ish! Lo ngapain nelpon gue tadi. Sorry tadi gue lagi telponan sama orang."


"Sama siapa?" tanya Ansell penasaran.


"Apa peduli lo?"


Ansell mendesis, "tinggal bilang aja sih telponan sama siapa!"


"Kepo!"


Ansell tersenyum kecil, mendengar suara Zee saja bisa membuatnya tersenyum sendiri. Ada apa dengannya?


"Lo udah tidur?" tanya Ansell. Sungguh pertanyaan konyol.


"Gue lagi ngapain?"


"Telponan."


"Ama siapa?"


"Ya ama gue!"


"Berarti gue?"


"Beluk tidur, hehe... Bar bar banget ya?" Ansell tertawa hambar, menyadari pertanyaan yang tadi sangat receh.


"Udah cepetan lo ngapain nelpon gue tadi?"


"Engg..enggak, tadi kepencet doang. Iya kepencet!" Alibinya.


Zee tak menyahutinya, justru ia malah mematikan telpinnya. Tapi tak apa, mendengar suara Zee saja membuat Ansell lega.


Ansell kemali berbaring, sambil memejamkan mata. Diam-diam ia tersenyum.

__ADS_1


"Selamat tidur ketua DBD.."


__ADS_2