Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EXTRAPART #2


__ADS_3

Zee membuka matanya yang terasa berat. Rasanya seperti ditempelkan lem kuat dikedua matanya.


Perlahan ia berhasil membuka kedua matanya sempurna. Hal yang pertama kali ia lihat adalah dinding putih yang polos. Ya, Zee sadar ini di Rumah Sakit.


Tangannya bergerak menuju kepala yang dilingkari perban putih menjengkelkan, ia merasakan kepalanya pusing.


Seketika ia teringat dengan kejadian dipesawat tempo lalu.


"MOM! DAD! ABANG! ANSELL!" teriak Zee panik.


Ia mencabut infus yang menancap ditangannya, Zee baru tersadar ada benda itu ditangannya.


Zee berlari kearah luar, mencoba mencari suster untuk ia tanyakan keberadaan keluarganya.


"DOKTER! DOKTER!" seorang dokter laki-laki berperawakan bule menoleh kearah Zee yang memanggilnya.


"Dimana keluarga gue?!" tanya Zee tanpa basa-basi. Ia merasakan panik yang berlebih dan itu tidak baik untuk kesehatannya.


Dokter itu nampak mengerutkan keningnya. Seperti ada yang tak ia mengerti.


Mungkin bahasa nya?


"DIMANA KELUARGA GUE?!" teriak Zee emosi setelah tak menemukan jawaban dari dokter dihadapannya.


"Sorry, I don't understand what you are talking about," (Maaf, saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.) ujar dokter itu sedikit meringis.


Zee mengedarkan pandangannya, Rumah Sakit ini cukup asing baginya, lantas Zee kembali bertanya kepada dokter dihadapannya, "Where is this?"


(Dimana ini?)


Dokter itu tersenyum maklum, "This in aLondon Hospital, and can we speak in English?" (Ini di Rumah Sakit London, dan bisakah kita berbicara menggunakan bahasa Inggris?)


"Where is my family?! We are victims of the plane crash yesterday." (Dimana keluarga saya? Kami adalah korban bencana pesawat jatuh kemarin.) tanya nya sedikit bergemetar. Mengingat kejadian di pesawat kemarin, membuat kepalanya berdenyut pusing.


Dokter itu seperti menerawang keatas. Mencoba mengingat korban pesawat yang di maksud Zee, "Ahh, the plane crashed three weeks ago. Yes, I remember, just calm down, your family has improved, some have been allowed to go hmoe but there are some who are still staying at this hospital. But..."


"Ahh, pesawat jatuh tiga minggu lalu. Ya, saya ibgat. Tenag saja, keluarga anda sudah membaik, ada beberapa yang masih dirawat untuk pemulihan. Tapi..."


"Then where are they now?" (lalu dimana mereka sekarang?) sela Zee cepat, bendungan air mata tak bisa ditahannya.


"In the VVIP room number one." jawab dokter bule itu sambil tersenyum sopan, setidaknya ia tau siapa yang berada dihadapnnya ini. Bukan orang sembarangan, "wait, there is one persob who suffered quite severe in juries and he is still in a coma at this time."


(Tunggu, ada satu orang yang mengalami luka yang para. Dia mssih dalam keadaab koma saat ini.)


Mendengar hal itu, hati Zee bagai teriris, "who is?" tanya nya lirih, hampir tak bersuara.


"Follow me."


***


Bagai disambar petir, Zee menatap seorang laki-laki yang tengah terbaring tak berdaya di atas brankar, diseluruh tubuhnya terdapat alat-alat yang membantunya untuk tetap bertahan hidup.


Matanya memanas, jantungnya bergemuruh, hidupnya seolah terhenti, mati rasa ia rasakan saat ini, bagai belati pisau yang menancap di sekujur organ dalamnya.


Zee menggeleng keras. Jelas terasa bahwa suaminya, Ansell, yang berada di brankar tersebut.


"ENGGAK! ANSELL!!"


****


"Zee? Zee! Lo kenapa?"


Zee terduduk, ia membuka matanya, nafasnya terdengar tidak teratur, keringat dingin membasahi peluhnya.


Disampingnya, ada Ansell yang menatapnya dengan pandangan khawatir.


"Lo kenapa?" tanya Ansell lagi.


Tanpa aba-aba, Zee memeluk Ansell erat. Menumpahkan segala isi hatinya yang berkecamuk. Mimpi itu terasa nyata. Tidak, ia tidak ingin ditinggal Ansell.


"Hey?" panggil Ansell lembut. Ia membalas peluk Zee, menenangkan gadisnya, mengusap rambut belakangnya dengan lembut.


"Jangan pergi," ucap Zee lirih. Seperti sebuah permohonan yang tak bisa Ansell bantah.


"Gue disini."


"Jangan tinggalin gue."


"Enggak akan."


Setelah beberapa menit mereka berpelukan, akhirnya Zee mampu menenangkan dirinya, airmatanya sudah kembali mengering.


"Sekarang cerita, lo mimpi apa tadi?" tanya Ansell perlahan. Ia tak ingin salah bicara dan membuat Zee kembali menangis.


"Gue mimpi lo pergi ninggalin gue."


"Kemana?"


"Mati," jawab Zee polos.


Ingin rasanya Ansell mengumpat, tapi ia pendam.


"Yaudah, biarin itu cuma mimpi."


"Tapi kerasa nyata!"


"Kata mama mertua, kalau seseorang mimpi orang meninggal, maka orang itu akan panjang umur," jelas Ansell memberi kalimat penenang.


"Kalau gue mimpiin lo hidup, berarti lo bakal cepet mati?" tanya Zee lagi.


Ansell mendesis kesal, "Gak gitu juga, ****!"


Pletak.


"Seenak jidat lo ngatain gue ****!" cerca Zee marah.


Ansell mengaduh, "sakit beb."


"Najis."


"Jalan aja yuk, gabut gue dirumah," pinta Zee.


"Gak sekolah?" tanya Ansell.


Zee menggeleng, "Gak ah. Males, udah gak guna juga gue sekolah. Tujuan gue sekolah lagi kan cuma buat balas dendam," jelas Zee, senyum pahit tercetak dibibirnya.


"Gak boleh ada dendam lagi," nasihat Ansell yang diangguki Zee. "Mau seberapa besar benci lo terhadap keluarga kandung lo, mereka tetap keluarga lo, gak akan pernah jadi mantan keluarga, paham?"


Zee tersenyum kecil, "paham, suami gue. Tumben amat ngomongnya bijak gini. Jadi makin sayang."


Tangan Ansell gatal mencubit pipi Zee, "siap-siap gih, nanti kita jalan."


"Males mandi," bibir Zee mengerucut lucu.


Lagi, Ansell mencubit kedua pipi Zee gemas menghadapi tingkah manja Zee, "mandi apa gue yang mandiin."


Reflek Zee menampis lengan Ansell, "mesum!"


Ansell tertawa geli, "mesum-mesum gini nanti juga bakal lo layanin."

__ADS_1


"Idih, najis. Gue gak mau ya, batang lo yang bekas itu, menyentuh keperawanan gue yang masih tersegel rapi," ucap Zee sarkastik.


Ansell mendengus sebal, itukan masa lalu, Zee."


"Masa lalu...biar lah masa laluuu."


Zee bangkit dari kasur dan berjalan menuju kekamar mandi sembari bersenandung ria.


Ansell mengusap dada nya sabar, "untung istri."


****


Zee memberenggut kesal. Ansell bilang mau jalan-jalan, tapi cowok itu justru membawanya menuju villa.


Jadi selama 2jam perjalanan mereka, Ansell hanya membawanya kesini?


"Ayo," ajak Ansell. Ia melepas sealtbetnya dan membuka pintu keluar.


Sadar akan Zee yang tak kunjung bergerak, Ansell menghentikan langkahnya yang akan keluar mobil.


"Ayo keluar."


"G."


"Zee.."


Zee menghembuskan nafasnya kesal, ia menolehkan kepalanya kearah Ansell, memberikan sorot mata tajam pada cowok itu, agar tau, seberapa marah dirinya.


"Lo bilang mau ajak gue jalan-jalan. Ini mah ke Villa. Bukan jalan-jalan namanya. Nginep!"


"Ya kan tadi jalan, mobilnya jalan kan?" tanya Ansell bodoh.


Zee menggeram kesal, "bukan begitu juga dugong. Gue kira lo mau ajak gue ke dufan. Biar refresing."


"Dufan murahan gue gak suka."


"Lo pikir ini kagak murahan?"


"Enggak, buktinya gue harus bayar 100jt buat sewa ini tempat."


Mulut Zee yang tadinya sudah terbuka ingin membalas kini kembali tertutup, Zee terdiam menatap Ansell, mengerjapkan matanya berulang kali.


Zee mengorek telinganya, berharap ia salah mendrngar perkataan Ansell, "Lo bilang apa tadi? 100jt? Sewa?"


Ansell mengangguk membenarkan.


Emosi Zee meletup, ini melampaui batas, "LO NYEWA VILLA INI CUMA BUAT BERDUA? B E R D U A? GAK ADA SIAPA-SIAPA LAGI?" Ansell menggeleng, "SEHARGA SERATUS JUTA?" Ansell mengangguk.


"HAH!" Zee mengumpat. Bodoh, sekali Ansell ini, bagaimana ia bisa menikah dengan cowok bodoh seperti Ansell? Jadi bodohan mana? Orang bodoh? Atau wanita yang menikah dengan orang bodoh.


Pecahkan pertanyaan ini!


Ansell menggaruk telinganya, bingung dengan tingkah Zee yang jauh dari ekspetasinya, "gue salah ya?"


Zee menarik senyum paksa, menatap Ansell yang juga menatapnya dengan kening berkerut. "Lo bener kok. Kan suami serba bener."


"Istri pinter," Ansell menepuk-nepuk puncak kepala Zee. Zee menghempasnya kasar.


"Turun yuk. Gue kan udah sewa mahal-mahal demi lo."


"Gue gak minta. Lo yang bikinin!" omel Zee tak mau disalahkan.


Zee keluar dari mobil disusul dengan Ansell. Udara segar langsung tercium di indra penciuman Zee.


Ansell berdiri disamping Zee, ia mengambil jari Zee dan mengaitkannya dengan jarinya.


Zee mendengus, "iya, lo setannya!"


Ansell tak lagi menanggapi, ia menggiring Zee menuju sebuah kamar penginapan untuk mereka menginap.


Tidak terlalu mewah memang, hanya terdapat satu buah kasur, dilengkapi dengan meja rias, satu bilik kamar mandi, dan ruang belakang yang luas dengan dinding sebagai batas antara bilik kamar dan kebun belakang.


"Nginep berapa malem kita disini?" tanya Zee sembari merebahkan dirinya dikasur yang hampir tigaperempat dari kasurnya.


Ansell mengangkat kepalanya, menatap Zee yang memejamkan mata, hingga jawaban Ansell membuat mata Zee terbuka sepenuhnya, "semalam."


Zee membuka mulutnya, bersiap mencemooh suami serba benarnya ini.


Ansell terkekeh kecil, ia mengacak puncuk kepala Zee, "bercanda. Tiga hari kok."


Zer menghela nafas lelah. "Terus sekarang ngapain?"


Ansell menatap Zee bingung, "emang mau ngapain kalo nginep?"


"Ya tidur."


"Yaudah."


"I..iya masa tidur doang?"


Ansell menatap mata Zee dengan tatapan tak terartikan, membuat Zee menundukan kepalanya. Mata teduh Ansell membuat Zee seketika gugup. Ada apa dengannya?


Tangan Ansell bergerak mengangkat dagu Zee, yang membuat mata Zee mau tak mau menatap kearah bola mafa Ansell.


"E..elo ngapain sih?"


Zee memejamkan matanya erat, merutuki dirinya sendiri, yang mau-maunya diajak Ansell kesini.


Ansell tersenyum menyeringai, "menurut lo, apa yang bakal suami lakukan kalau hasrat wajib yang harus dilakukan istri belum terpenuhi?"


Zee meneguk salivanya kasar. Jelas, kalimat Ansell menyinggungnya.


Zee melebarkan matanya, ketika bibir Ansell menyentuh lembut bibirnya.


Awalnya Zee tidak membalas, hanya membiarkan saja, seperti orang bodoh.


Sadar tak mendapat balasan, Ansell menggigit bibir bawah Zee, membuat Zee membuka mulutnya. Tak menyiakan itu, lidah Ansell menyelip masuk kedalam, menjelajah setiap inci sudut bibir wanitanya, mengabsen satu persatu gigi Zee.


Zee yang semula diam saja, kini mulai terbawa gairah. Tangannya bergerak mengalungi leher Ansell,, dan mulai membalas ciuman lembut yang diberikan Ansell.


Ansell tersenyum kecil, dan kembali ******* bibir Zee, kali ini lebih dalam.


******* demi *******, ciuman mereka tak kunjung terlepas, hingga Zee melepaskannya. Ia hanpir kehabisan oksigen karena Ansell.


Zee menatap Ansell, senyum tipis tercetak dibibir manisnya. Ansell memblas dengan kecupan singkat di kening.


"Siap?" tanya Ansell perlahan. Ia tak ingin salah kata. Ansell tak ingin terlalu memaksa Zee. Ia hanya ingin melakukannya jika Zee siap.


Zee menarik nafasnya sebentar. Sebelum akhirnya tersenyum manis, dan mengangguk.


Sepertinya ia terlalu lama membuat suaminya menunggu.


Tanpa menyiakan kesempatan, Ansell menggendong Zee keatas kasur, dan mereka sepakat mematikan lampu.


Malam ini, malam yang paling bersejarah bagi hidup mereka.


****


"Sst sst gimana?" bisik Kaila dengan nada yang diusahakannya sekecil mungkin.

__ADS_1


Cowok dihadapannya tersenyum lebar sambil menaik-turunkan alisnya keatas, jarinya membentuk OK, "beres."


Hampir dari mereka yang mengintip dari balik pintu itu berteriak mendengar ucapan Cleo, tapi berusaha mereka pendam, "Akhirnya Ansell gak perlu nyolo lagi sama sabun."


"Sst, jangan berisik, mending nunggu ditaman aja, daripada ganggu," ucap Rangga bijak, yang diangguki oleh semu teman-temannya.


Yaa, temen seperjuangan Zee, siapa lagi kalau bukan, Kaila, Vania, Zalfa, Cleo dan Rangga, mengintip aksi dimana Ansell dan Zee yang melakukan 'itu'. Emang dasar, temen-temen kepo!


Mereka beranjak meninggalkan kamar bernomor 21A itu. Dan singgah ketempat taman, ralat, lebih tepatnya lapangan yang memang dikhususkan oleh Villa itu sendiri.


Selama perjalanan menuju lapangan, Vania menekankan rasa sakit hatinya, melihat Cleo yang terus merangkul bahu Zalfa.


Vania sudah tidak tahan.


Cleo yang mengerti raut Vania, pun meraih jari wanitanya, mengaitkan jari-jarinya dengan Vania, membuat wanita itu menoleh dengan kening berkerut.


Cleo tersenyum kecil, perlahan ia mendekatkan bibirnya kearah telinga Vania, "jangan cemburu, Zalfa adik kandung aku."


Bohong kalau Vania tidak terkejut, ia terlihat syok kali ini. Vania menghentikan langkahnya, membuat Zalfa dan Cleo juga ikut berhenti. Kalau Kaila sama Rangga mah, udah lanjut pacaran.


"Kenapa?" tanya Cleo saat Vania menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Harusnya aku yang tanya, kenapa?"


Zalfa menatap Cleo dengan kening berkerut, pasalnya ia tak mengerti apa yang keduanya bicarakan.


"Nanti aku jelasin," ujar Cleo masih dengan nada lembut.


"Aku minta penjelasan sekarang."


Cleo menghela nafasnya lelah, sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang, setelah memantapkan hati, ia mulai bercerita tentang hubungannya dengan Zalfa.


Mata Vania memanas, ia menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca, "kenapa kalian gak bilang?"


Zalfa tersenyum lembut pada Vania, "kita nunggu waktu yang tepat, Van. Dan maaf kalo selama ini gue egois, Tapi, satu yang gue pingin, gue cuma pingin punya sosok laki-laki yang menjaga gue layaknya ayah, itu aja,


"Tapi keinginan gue, justru membuat diantara kalian sakit," tanoa sadar beberapa bulir airmata turun begitu lancang dari pelupuk mata Zalfa.


Vania memeluk perempuan yang lebih tua satu tahun darinya, "gue gak akan marah, kalau lo gak cerita, kak. Gue ngerasa gak berguna jadi sahabat lo, cerita, terbuka sama kita, Zee mungkin juga bakal marah kalau lo nyembunyiin hal besar kayak gini."


Zalfa mengulum bibirnya, bibirnya menyetak senyum hangat, "gue yakin, sebelum Zee gue kasih tau, dia pasti udah tau duluan. Kayak nggak tau Zee aja."


Vania ikut terkekeh saat Zalfa mengekuarkan suara kecil, "tapi tetap aja, gue jadi ketinggalan berita. Kudet nanti gue."


Cleo melepaskan pelukan mereka berdua dan berdiri diantara keduanya. Tangannya bergerak merangkul kedua bahu wanita kesayangannya, "jadi, nona-nona, udah selesai curhatnya? Sekarang kuta cuss susul couple bobrok satu itu."


"Cusss. HAHAHA."


Kini kisah diantara ketiga nya sudah selesai, tidaj ada kesalahpahaman diantaranya. Hanya suka duka bersama mereka jalani. Haruslah seperti ini, sampai akhirnya takdir memisahkan mereka.


***


3 TAHUN KEMUDIAN


"Zee, ini kenapa Zean nangis terus?"


"Liat pempers nya, ada pup nya gak!"


"Ini *** semua Zee!"


"Yaudah, cebokin, gitu aja ribet."


"Ih, jijik." ujar sang ayah yang nampak ogah-ogahan, "kamu aja nih."


"Ih, aku lagi netek-in Zena kok, kamu dulu sana."


"Popoknya kamu taro dimana?"


"Dilemari Zean bagian bawah."


"Pake yang mana? Ada M, L, XL, XXL?"


"Buat Zean pake yang L."


"Lagian kamu kenapa beli banyak banget sih?"


"Biar gak beli-beli lagi, gue beli buat satu tahun. Udah ribet lo ah."


Ansell hanya bisa mengusap dadanya, sabar, masih istri.


Ya, setelah insiden dimana mereka melakukan 'itu' Zee dapat hamil setelah satu bulan menunggu. Sekarang, mereka diakruniai dua anak kembar berjenis kelamin berbeda, yang saat ini berumur 2 tahun.


Sepertinya, gen kembar ini menurun kepada keluarganya.


"Ini udah diganti popoknya, terus diapain?"


"Ya pakein baju lah, Suamiiii. Kasian Zean nya, keburu kedinginan."


"Oh, iya iya."


Begitupun seterusnya, Zee yang harus belajar jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Dan Ansell yang harus rela begadang demi membuat kedua buah hatinya tenang. Ia juga tidak ingin mengganggu Zee yang bahkan lebih repot darinya.


Mengurus rumah, mengurus bayi, mengurus dirinya, bahkan sampai mengurus kantor.


Awalnya Ansell melarang Zee bekerja keras. Tapi justru, Zee yang keras kepala. Zee tidak ingin hanya berpangku tangan pada suaminya, terkadang permpuan harus punya pegangan juga. Iya kan?


Zee juga sengaja tidak terlalu memperbanyak maid dirumahnya, itu karena Zee lebih suka membereskan rumah sendiri. Kesibukan Zee dan Anse tak luput dari kasih sayang kedua anaknya. Setiap saat, setiap waktu kedua anaknya membutuhkan mereka, mereka selalu siap sedia.


Apalagi, semenjak trauma yang membuat Zee membalaskan dendam dulu, Zee tidak ingin itu terjadi pada anaknya kini.


Ia ingin menutupi semua masa lalu kelamnya dari si buah hati.


Walau kadang mengurus gangsternya kini sudah tidak terlalu aktif, tapi ada asisten kepercayaannya disana. Kali ini benar-benar tidak akan pernah berkhianat seperti yang gilang lakukan padanya. Zee menjamin itu.


Sekarang, sudah tidak ada lagi kata dendam.


Hanya ada kata kebebasan.


Orang-orang di masa lalu nya juga sudah pergi, berdamai.


Zee masih setia bersama Ansell, suaminya. Selama yang Zee mampu, ia akan selalu nersama Ansell.


Menemaninya hingga hari tua.


Lalu, apakah tidak ada konflik lagi?


Akan ada, tidak ada dikehidupan ini sekali pun mereka hidup dalam lingkaran bahagia.


Ini bukan ending sedih


Bukan juga ending yang bahagia


Ini ending sebuah cerita yang tak ada habisnya.


Lalu, apakah kamu ingin mencoba seperti mereka?


"I just want you to do whatever you like. But remember every action will have results. Be it sweet or bitter"


......SELESAI......

__ADS_1


__ADS_2