Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 21


__ADS_3

...Line...


...Orang-orang ketjeh....


Davin : Cuyy ada berita heboh dan menggemparkann!!!


Davin : ***** gue dicuekin! Keluarlah wahaii penghuni grup!!


Davin : Ah ******** lo semua!


Gavin : Apaan? Ganggu gue lagi nge-push aja lo *****!


Prim : Jangan ganggu gue, gue lagi dapetin cewek cakep.


Satria : ...


Davin : laknat lah kalian!


Gavin : Ah setan, orang kayak lo harusnya di tenggelemin di rawa-rawa!


Prim : Nah setuju gue  ama lo, Vin.


Davin : Vin siapa yang lo maksud?!!


Prim : Ya Gavin lah, oon!


Gavin : Ya gue lah, dongo!


Davin : :')


Satria : Lo mau ngomong apa, Dav? Cepetan, gue mau ke kantor abis ini.


Davin : Jadi gini...


Gavin : Apaan?!


Davin : Seperti yang kita tau....


Prim : (gerogotin meja)


Davin : Kalau...


Gavin : (gerogotin *****)


Davin : *****. ***** siapa yang lo gerogotin?


Satria : -_-


Satria keluar dari grup.


Gavin : Yah, abang negara keluar guys!


Prim : Gara-Gara lo, Dav!!


Davin : Kok gara-gara gue nyet?


Gavin : Bodo amat. Gak peduli lo mau ngomong apa!1!1!


Davin : Yakin? Gue liat tadi di alfa lhoo, ada...


Prim : Ada kolor lucinta luna?


Davin : Bukan, ini lebih dari sempaknya!!


Gavin : Ada Silverqueen rasa sejuta kerinduan?


Davin : Bukan juga!


Prim : Terus apa dugong!


Davin : Ada kond*m bahan sutranya!


Gavin mengeluarkan Davin dari grup.


Gavin : Ngebatin gue!


Prim : Terus ngapain kalo di grup ini cuma kita berdua ****.


Gavin : Iya juga ya. Udah ah gue keluar. Mau nge push!


Prim : Noob!


Gavin mengeluarkan Prim dari grup.


Gavin : ****** gue sendirian, setan!


****


Satria membereskan berkas-berkasnya setelah seharian berkutat didepan layar LED ini, membuat matanya sedikit pening.


Tok...tok...tok


"Masuk!"


Seorang wanita bertubuh seksi masuk kedalam ruangan Satria, "Permisi tuan, Ada yang menunggu anda di lobi."


Satria mengernyitkan keningnya, "Siapa?"


"Katanya sih Prin-cess.." Sekretaris itu mengucapkan kata princess dengan enggan.


Satria langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan sekretari nya sendiri.


Satrai memasuki liftnya dan turun ke bawah. Pasti Zee.


Ting!

__ADS_1


Satria segera keluar dari lift dengan langkah panjangnya, karyawan yang lalu lalang menunduk hormat pada Satria yang lewat.


Satria melihat sekeliling lobi, hingga matanya mendapati seorang cewek yang sedang bermain handphone. Satria tersenyum senang, benar ternyata Zee mendatangi kantornya.


Grep.


Zee tersentak kaget, ketika ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Abang? Bikin kaget aja!" kesal Zee kaget.


Satria menghiraukannya, ia justru terus memeluk tubuh mungil Zee di tangan kekarnya.


"Ish, abang, malu ih!"


"Biarin aja. Kantor abang ini."


Zee menghela nafas kesal, "lepasin, kalo gak Zee pulang," ancaman Zee berhasil membuat Satria melepaskan pelukannya.


"Ck. Baru juga dateng!"


"Kata siapa baru dateng? Zee udah 3 jam nunggu disini!" Zee memanyunkan bibirnya.


Satria tersentak kaget, "kenapa gak masuk?"


"Gak dibolehin."


"Sama siapa?" nada Satria kini berubah menjadi dingin.


Zee menunjuk ke arah cewek seksi yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis.


Satria mengikuti arah pandang Zee. Lagi, ia terkejut, ketika tekunjuk Zee mengarah ke Sekretarisnya.


"Jessika maksud kamu?"


Zee mengangguk.


Satria mengepalkan tangannya. Kenapa ia baru diberitau sekarang dan membuat Zee menunggu lama.


Satria menahan amarahnya, mungkin ia akan berurusan dengan Jesika nanti.


"Yaudah nanti abang kasih hukuman dia. Sekarang, kita keluar yuk?" ajak Satria menggandeng tangan Zee.


"Kemana?"


"Gimana kalo makan?"


Zee mengangguk dengan senyum lebarnya.


****


Dito, Dika dan Zaline berencana untuk makan diluar malam ini, itu semua karena Zaline yang mengajaknya.


Dito melangkahkan kakinya malas, mengikuti langkah kaki Dika dan Zaline yang jauh di depannya.


Dito mendengus kesal, "Abang balik aja ya, lagian kan udah ada Dika."


"Enggak, pokoknya Bang Dito juga harus ikut, ayooo!" Zaline menarik paksa tangan kedua abangnya.


Zaline memasukkan paksa tubuh Dito, bak polisi yang sedang memasukkan tahanannya ke dalam mobil.


"Hari ini, biar Zaline  yang nyetir," ucap Zaline dengan wajah semangatnya.


Dika dan Dito sama-sama melebarkan matanya kaget.


"Aduh jangan, nanti kamu capek!" tolak Dika khawatir.


"Kalo gak bisa nyetir mending abang aja, dari pada kamu kenapa-kenapa," timpal Dito.


"Biar abang aja yang nyetir ya?" tawar Dika.


"No! No, Zaline ahli kok. Pgangan. Kita berangkat!" Zaline menancapkan gas mobil nya. Meninggalkan mansion kediaman Smith yang sepi penghuni. Hanya ada maid disana. Sedangkan Smith dan Friska pergi keluar negeri untuk mengurus perusahaan mereka.


Dika dan Dito menatap Zaline dengan raut wajah cemas. Takut jika Zaline kelelahan, mereka benar-benar cemas kali ini. Karena, untuk pertama kalinya, melihat Zaline menyetir mobil sendiri.


Zaline dengan santai nya membelokkan stir mobil, tak memperdulikan tatapan khawatir dari abang-abang tersayangannya.


"Zaline, kamu dibelakang aja ya, duduk manis, biar abang yang nyetir."


Zaline berdecak kesal. Lantas Zaline mengerem mendadak membuat mereka sama-sama terpental kedepan.


"Zaline!"


Zaline menatap kedua abangnya tak percaya. Apa benar itu abangnya? Membentak dirinya?


"Abang bentak Zaline?" Zaline menundukkan kepalanya bersedih.


Dito menghela nafasnya pelan, lalu memeluk tubuh adiknya dari samping dengan penuh kasih sayang, "maaf, abang gak bermaksud."


Dika juga ikut mengelus rambut Zaline. Membuat Zaline senang bukan main.


Tin..tin


Bunyi klakson kendaraan dibelakang mereka membuat tersadar.


"Biar abang aja yang nyetir, kamu duduk aja disini. Jangan bantah," tegas Dito dan Zaline mengangguk pelan.


Mobil pun kembali melaju, dengan Dito yang mengendarainya dan Zaline yang  duduk dibelakang bersama Dika.


"Abang, mau makan apa?" tanya Zaline manja pada Dika.


"Apapun, asalkan kamu juga makan," balas Dika membuat Zaline tersenyum.


"Kalo Bang Dito? Mau makan apa?"


"Apa aja," balas Dito singkat. Kembali irit bicara.

__ADS_1


Zaline tersenyum miris. Padahal tadi Dito baru saja memeluknya dengan hangat, kini kembali menjadi sosok dingin tak tersentuh.


"Yaudah kita ke Cafe Ceremony."


Dito mengangguk dan menjalankan mobilnya ke arah Cafe Ceremoney.


****


"Waiters!"


Seorang laki-laki berkacamata sebaya dengan umur mereka datang menghampiri meja. Dan menyerahkan buku menu


"Abang mau pesen apa?" tanya Zaline dengan sumringah.


"Gue mau, Chicken salad and Avocado sandwich, abang mau apa?" tanya Zaline.


"Samain aja," balas kedua nya singkat.


Zaline mengangguk, ia menyerahkan buku menu kepada waiters itu lagi.


"Gak pake lama 5menit, gue pengen! Cepet!" suruh Zaline padanya.


Waiters itu pergi dari meja mereka dan menyerahkan kertas pesanannya pada chef si dapur cafe.


Tring!


Bunyi bel cafe membuat semua pandang mata menuju kearahnya. Tak terkecuali meja Zaline, Dito dan Dika.


Mata Dito melebar kaget ketika melihat Zee masuk ke cafe bersama orang yang terkenal dengan kesangarannya. Siapa lagi kalau bukan Satria. Mereka terlihat akrab bahkan sesekali tertawa yang mereka anggap lucu.


Reaksi ketiganya sama, sama-sama terkejut bukan main.


Mata Zee tak sengaja menangkap mata Dito yang juga melihatnya, tapi sayang nya Zee duluan yang mengalihkan pandangannya dan kembali tertawa pada Satria.


Mata Dito tak sedetikpun lepas dari arah Zee, hal itu membuat Zalnie geram.


Pesanan mereka sampai, bahkan Dito masih tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia terus menatap Zee dengan tatapan kerinduan.


"Bang Dito, makan!" teriak Zaline sedikit keras.


Dito mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kembali menatap Zaline, ia mengambil sandwich dan memakannya.


Dika, ia juga menatap Zee. Tapi bukan tatapan kerinduan, melainkan tatapan lirih. Melihat Zee yang masih bisa tertawa membuat hati Dika teriris sakit. Bahkan setelah diusir dari keluarganya, Zee masih bisa tertawa. Walau bukan dengan dirinya.


Plak!


Suara tamparan itu...kembali terngiang, saat-saat dimana ia menampar pipi Zee.


"Udah jelas-jelas lo yang pegang pisau nya! Pake nuduh-nuduh Zaline! Pembunuh! Enyah lo dari dunia ini!"


Dika memejamkan matanya, kepalanya tiba-tiba sakit. Rasa penyesalan itu ada, tapi yang dirasakan olehnya kali ini adalah sebuah kebenaran. Kebenaran dengan menampar Zee. Benar kan?


"Bang? Bang Dika kenapa?" tanya Zaline cemas.


Dika mengangkat kepalanya, ia menatap Zaline dengan tatapan teduh, "gak papa. Sambung makannya," ucap Dika dengan senyum hangatnya. Zaline membalas senyuman itu, lalu melirik kearah Zee dengan senyum sinis nya.


Dimeja seberang Zee mengepalkan tangannya kuat-kuat. Melihat Dika yang nampak tersenyum tulus pada Zaline, membuat hatinya sakit. Seharusnya Zee lah yang mendapatkan senyuman itu, harusnya Zee lah yang berada ditengah-tengah abangnya, harusnya Zaline lah yang diusir, harusnya Zaline lah yang dibenci. Bukan dirinya.


"Princess? Kenapa?" tanya Satria heran.


Zee menoleh kearah Satria, lalu tersenyum simpul, "gak papa," jawaban yang sering dipakai cewek kalau ada apa-apa.


Sateia menghela nafas pelan, "kalo ada apa-apa jangan dipendam, abang tau kalau ada saudara kandung kamu. Iyakan?"


Zee menatap Satria bersalah, seharusnya hari ini ia bersenang-senang dengan abangnya, bukan malah mengungkit masalah masa lalu yang tidak pernah tercapai kebenarannya, "maaf..."


Satria tersenyum hangat, "ngapain kamu minta maaf, Princess gak pantes minta maaf, karena kamu gak salah, ngerti?" ucao Satria dengan nada suara yang sangat lembut.


Zee tersenyum bahagia, setidaknya, ia masih mempunyai orang yang sangat menyayanginya.


"Udah enakan?" Zee mengangguk sanbil tersenyum, "Sekarang pesen gih."


Satria memanggil waiters, datang waiters yang sama laki-laki yang seumuran dengannya. Laki-laki itu nampak terkejut saat melihat Zee. Tak ia sangka, akan bertemu Zee di tempat kerjanya.


"Spagetti dan airlemon nya saja," ucap Satrio dingin.


"Princess mau apa?"


"Spagetti sama milkshake," ucap Zee sambil tersenyum pada Satria. Waiters itu nampak tertegun dengan senyuman Zee. Ini pertama kalinya ia melihat Zee tersenyum, selain tertawa.


"Spagetti dua, milkshake satu, dan air lemon satu. Adalagi?" ulang Witers itu, dengan pandangan mata kearah Zee.


"Udah gak ada," balas Zee dengan nada dinginnya.


Witers itu pergi meninggalkan meja dengan jantung yang berdegup kencang.


Ia segera memberikan kartu pesanan nya ke chef didapur.


"Karan, mimpi apa lo bisa ketemu Zee disini?" Ia menepuk-nepuk pipinya. Perasaannya berbunga-bunga. Bibirnya membentuk lengkungan sempurna.


Impian yang ia tunggu-tunggu akhirnya terkabul, yaitu mengobrol dengan gadis pujaannya, Zee. Walaupun sebatas pelayan dan pembeli. Karan sangat bahagia.


.


.


.


.


.


.


Ada pesan untuk Zaline?

__ADS_1


__ADS_2