
Semua teman Zee menatap Zee sambil bergidik ngeri.
Zee bilang ia hanya meminum satu botol Wine saja. Tapi ini sudah kelima kalinya ia memesan minuman beralkohol itu.
"Zee, udah! Bahaya buat kesehatan lo kalau banyak-banyak!" omel Kaila kesal.
"Bacot."
Hanya itu sedari tadi jawaban Zee. Membuat teman-temannya sedikit segan untuk menghentikannya.
Zee merasakan pusing dibagian kepala belakangnya, kepalanya terasa berputar-putar. Ia tersenyum-senyum sendiri seperti orang linglung. Sepertinya, efek minuman itu sudah beraksi.
"Mereka jahat ya," racau Zee sambil tersenyum bodoh.
"Zee..." lirih Kaila.
"Nasib...nasib, ck ck!" Zee berdecak, ia menggeleng sambil tersenyum konyol.
Semua temannya menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gimana nih?" tanya Zalfa hampir tak bersuara.
"Bawa aja ke markas kali," usul Cleo. Mereka juga bingung ingin bertindak seperti apa.
Tanpa sepengetahuan mereka, Zee pergi berjalan entah kemana. Ia ikut berjoget dengan orang yang tak ia kenal.
Meliuk-liukkan badannya dengan keadaan setengah sadar.
"Hai, cantik," sapa laki-laki, tampangnya seperti om-om mesum.
Zee mengabaikan sapaannya, dan ters berjoget asal.
"Ikut saya yuk," ajak cowok itu. Hingga membuat Zee menatap cowok itu dengan tatapan kesal.
Lantas Zee berdecak sambil berkacak pinggang, "Gue gak suka sama om-om kayak lo! Gue sukanya sama Ansell! Syuh...syuh!!"
Cowok itu tetap bersikeras mengajak Zee mengikuti nafsu bejatnya. Namun lagi, Zee dengan tegas menolak. Hingga dirinya berada di ambang batas.
Cowok itu menarik paksa lengan Zee, hingga membuat Zee mengikuti langkahnya.
Cowok itu membawa Zee ke salah satu bilik yang memang disiapkan untuk para pengunjung yang menikmati malamnya.
Zee yang memang dalam keadaan tidak sadar hanya ikut saja dibawanya.
Cowok itu membanting Zee ke kamar, membuat tubuh Zee terbaring tak berdaya di kasur empuk bersprai putih.
Zee lengah, ia merasakan material lembut yang membungkam bibir secara brutal.
__ADS_1
Ya, cowok itu telah merenggut first kiss Zee!
Brakk!
Suara dobrakan pintu membuat cowok itu menghentikan aksinya. Ia menoleh kearah pintu dan...
Bugh!
"ANJING!"
Cowok itu tersungkur kelantai, saat mendapati tinjuan dari orang yang tak ia kenal.
Bugh!
"BERANINYA LO NYENTUH CEWEK GUE, *******!"
****
Zee membuka matanya yang terasa berat, seperti enggan untuk dibuka.
Zee mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan yang familliar. Ya, Zee tengah berada dikamarnya, di mansion keluarga Smith.
Ia bangkit dari tidurnya. Zee memegang kepalanya yang terasa pusing. Satu pertanyaan terlintas diotaknya, apa yang terjadi semalam?
"Mom, Dad, Bang Dika, Bang Dito!" teriak Zee dalam kamar.
"Dek?"
"Princess?"
"Princess?"
Semua anggota keluarga Smith dan Williams datang ke kamra Zee dengan nafas ngos-ngosan. Mendengar teriakan Zee membuat acara runding keluarga mereka buyar.
"Buset!" kaget Zee. Ia tak menyangka Davin dan Gavin juga berada disini.
"Princess, kenapa teriak? Ada yang sakit? Pusing? Kenapa? Bilang sama Abang," cerocis Davin, tangannya bergerak menelusuri muka Zee, dari mulai jidat, pipi semuanya. Hanya memastikan jika Zee panas. Bisa saja kan?
"Davin," tegur Ny. Williams.
"Zee gak papa kok, tapi kenapa Dad, Mom, bang Gavin sama Bang Davin ada disini juga?" tanya Zee pada keluarga Williams.
"Ooh, jadi kita gak boleh kesini toh, oke, kita pulang yuk, Dad," rajuk Davin, membuat semua nya terkekeh.
Zee mengerucutkan bibirnya, "Bukan gitu, ish, Bang Davin mah baperan!"
Lagi, mereka semua terkekeh atas tingkah Zee.
__ADS_1
"Kita disini buat bahas pernikahan kamu, Princess," kata Gavin mewakili mereka.
Perkataan Gavin membuat Zee lemas seketika. Ia tak menyangka, jika diumurnya yang ke 17 ini, ia akan menikah muda.
Tak pernah Zee bayangkan sebelumnya.
"Iya, kita juga pengen agar acaranya dimajukan, tiga hari lagi pernikahan akan berlangsung," ucap Ny. Williams dengan santainya.
Zee tersentak, 3 hari lagi?
"Kamu siap, Princess?" tanya Smith meyakinkan Zee.
Zee terdiam.
"Kalau kamu pengen ketemu sama calon-"
"Gak usah," potong Zee cepat, membuat semunya menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Kalau Zee melakukan pendekatan, Zee takut ada masalah. Lebih baik, Zee gak tau siapa orangnya," pinta Zee.
"Tapi-"
"Zee mohon... Untuk kali ini aja..."
Semua nampak menghela nafasnya pasrah.
"Baiklah."
****
Cala tersenyum senang, setidaknya usahanya mendekati Ansell tidak sia-sia.
Cala mendapatkan hasilnya.
Di sini, di markas kedua DBM, dimana kejadian Ansell yang menembak Cala atas dasar suatu hal yang hanya Ansell biaa mengerti.
Cala menatap seorang cowok yang menjadi pemilik hatinya saat ini.
"Gimana kalau kita nge-date malam ini?" tawar cowok itu, Cala tersenyum manis sambil mengangguk.
"Kemana aja asal sama kamu," ucap Cala, ia merangkul lengan kekar milik cowok itu, tak ia sangka, seseorang yang dulunya tak pernah ia fikirkan menjadi pemilik hatinya kini malah berstatus sebagai kekasihnya.
Cowok itu mengecup kening Cala singkat, "I Love You."
"I Love You, Too."
__ADS_1