
Sebulan sepeninggal Zee.
"Genap sebulan Zee meninggal. Gue ngerasa hampa," ucap Kaila sambil mengaduk-aduk minumannya asal.
"Iya," kata Vania dan Zalfa membenarkan.
Cleo menatap sahabatnya dengan tatapan sendu, tak tega rasanya melihat mereka seperti ini, "Zee pengen kita bahagia."
"Kebahagiaan gue hanya ada di Zee!"
"Gak boleh gitu," tegur Rangga.
Kaila menghela nafasnya, Rangga tersenyum kecil menatapnya, "Entar sore ikut gue ya?"
"Kemana?" tanya Kaila dengan kening berkerut.
"Ada deh, lo tinggal dandan aja yang rapi."
Kaila mendengus kesal.
"Eh, btw satu minggu lagi ulangan kenaikan kelas. Kita belum belajar lagi," ucap Cleo sedikit gelisah.
"Kita? Elo aja kali, gue enggak!" kata Kaila, Vania, Zalfa serempak.
Cleo mendengus. Memang hanya dia yang terlalu bodoh. Semua teman-temannya sudah pernah kuliah, sedangkan dirinya baru lulus SMA. Dan sekarang ia harus mengulangi masa-masa yang seharusnya tidak diulangi. Benar-benar menjengkelkan.
Rangga tertawa kecil melihat muka murung Cleo, "entar gue contekin bro. Tenang aja," Kata Rangga.
Cleo menatap Rangga dengan wajah berbinarnya, "kayak gini gue demen! Gak kayak lo bertiga, Wlee!" ia menjulurkan lidahnya pada ketiga cewek didepannya.
"Ish!"
"Masuk yuk, 2 menit lagi bel masuk," Ajak Zalfa.
"Yuk!"
****
Seorang perempuan memukul brutal guling tinju dihadapannya. Semua masalah yang menipanya selalu berakibat padanya.
"Semua salah gue!" katanya dengan terus memukul guling tinju itu dengan brutal.
"Arrgghhh!!!"
Ia menghentikan kegiatannya. Beralih memeluk guling tinju itu dengan sedikit pukulan.
"Harusnya gue yang mati!"
"Gak guna!"
"Aaarrgghh!!"
Cowok dihadapannya menatap cewek itu dengan senyuman kecil, "gak berguna menyesal. Semua udah terjadi."
"Diem lo!"
Ansell terdiam, membiarkan cewek didepannya ini mengamuk-ngamuk tak jelas yang membuatnya jengah.
"Gue harus cari orang itu!" desis perempuan itu.
"Siapa?" tanya Ansell.
"Itu lho, siapa sih namanya Lang Lang..."
"Gilang!" koreksi Ansell.
"Jangan sebut nama dia!" kata cewek itu kesal.
"Terserah elo dah. Sekarang makan yuk, mau makan apaan?" tanya Ansell mencoba mengalah.
"Terserah!" sautnya singkat.
"Emm, nasi goreng?"
"Enggak!"
"Nasi padang?" tamya Ansell lagi.
__ADS_1
"Gak suka!"
"Pizza?"
"Bosen!"
"Terus mau lo apaaa?" kata Ansell mencoba bersabar.
"Terserah!"
Kali ini Ansell yang memukul brutal guling tinju!
****
Disinilah Gilang, di markas GB'Gangster yang tak semua anggotanya tau.
Gilang mencoba bersembunyi? Tentu saja. Sudah pasti teman-teman Zee dan Anggota DBD lainnya sedang mencarinya.
Katakanlah Gilang pengecut. Memang! Tapi memang yang Gilang butuhkan saat ini adalah tempat berlindung.
"Gue harus cepet-cepet pergi dari sini!"
"Tapi kemana?" Gilang menggigit kecil kuku-kukunya.
"Amrik! Ya gue harus bilang bokap dulu."
Gilang cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ayahnya untuk meminta uang penerbangan.
Lantas Gilang berdecak kesal, saat mengetahui ponsel ayahnya tidak aktif, "Gak aktif lagi!"
"Gue harus pergi dulu dari sini."
Gilang mengeluarkan dompetnya dan mencari ATM-nya, "Semoga masih ada!"
Gilang menemukan ATM nya. Dan tersenyum senang.
"Ada!"
"Besok gue harus pergi dari sini!" ucap Gilang dengan smirknya.
****
Kaila berdiri di depan cermin, menatap figura nya yang entah mengapa terlihat cantik. Dengan rambut lurus panjangnya terurai indah, sepatu kets putih yang melekat di kakinya. Dan sedikit lip balm yang menjaga bibirnya agar tetap lembab.
Mata Kaila menangkap sebuah botol parfum, yang sudah lama tidak dipakainya, Kaila mengambilnya lalu memakainya, "Sayang kalau gak dipake. Terakhir kali gue pakai pas perpisahan kuliah," Kaila terkikik sendiri.
"Kaila, ada teman kamu di luar," teriak Mama Kaila dari bawah.
"Pasti bang Rangga." gumam Kaila, cepat-cepat ia mengambil handphone, powerbank, dompet dan tasnya. Lalu bergegas turun.
Ting!
Pintu lift terbuka, Kaila dengan cepat keluar dari mansion. Termyata sudah ada Mama nya, dan Rangga yang nampak berbincang-bincang. Mau tau pakaian Rangga?
Seperti biasa, Rangga mengenakan pakaian lengan pendek warna putih yang terkesan santai, dan jeans hitam yang melekat dikakinya. Sedangkan untuk alas kaki, ia hanya mengenakan sendal jepit.
Ckck:v
Mama menoleh kearah anaknya, "tumben kamu rapi? Biasanya juga pakai celana robek-robek. Mau kencan ya?" ledek Mama.
"Mamaa. Udah deh, Kaila cuma mau jalan-jalan sama bang Rangga kok," kilah Kaila.
"Sama aja! Yaudah sono pergi, nak Rangga, Mama nitip Kaila ya. Kalau minta macem-macem ikat aja dia," ledek Mama.
"Maaaaa," rengek Kaila. Membuat Rangga dan Mama terkekeh kecil.
"Iyaudah, tante, saya sama Kaila pergi dulu," pamit Rangga. Tak lupa mencium punggung tangan Mama. Kaila pun melakukan hal yang sama, lalu menaiki motor ninja biru malam Rangga.
"Hati-hati," teriak Mama saat motornya sudah melaju.
"Mau kemana, Bang?" tanya Kaila prnasaran.
"Ada deh."
Kaila mendengus kesal.
Sudah hampir satu jam mereka bertengger dimotor, tapi masih belum sampai juga, "Lam banget, mau kemana sih?" tanya Kaila sedikit kesal, pasalnya ia sudah pegal duduk terus-terusan.
__ADS_1
"Bentar lagi sampe kok," ucap Rangga, dari balik helm, ia tersenyum kecil, tak sabar rasanya ingin mengungkapkan isi hatinya pada cewek dibelakangnya ini.
Motor Rangga berhenti di sebuah kafe yang nampak sepi. Sudah jelas bahwa kafe ini di sewa khusus untuk Rangga.
"Disini? Kok sepi?" tanya Kaila ia turun dari motornya.
Rangga melepaskan helmnya, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, "gue sewa tempatnya," ucap Rangga santai.
"Hah?"
Rangga menghampiri Kaila, sambil mengenggam tangan Kaila lembut, "yuk!"
Kaila merasakan debaran jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Astaga, apakah ia punya riwayat jantung?
Rangga melangkah menuju satu meja yang hanya dilengkapi 2 kursi. Ia menarik salah satu kursi nya untuk Kaila. Kaila duduk di bangku itu dengan gugup.
Rangga ikut duduk setelah menarik kursi satunya yang membuatnya berhadapan dengan Kaila.
"Ini maksudnya apa ya, Bang?" tanya Kaila sedikit gugup. Ia hanya mencoba menetralisir degupan jantungnya.
Rangga terkekeh kecil melihat ekspresi Kaila, ia tau betul apa yang dirasakan Kaila pasti sama dengan apa yang dirasakan.
Gugup.
Walaupun terlihat santai, Rangga sebenarnya juga deg-deg an, hanya saja ia pandai menyembunyikannya dengan bersikap sok biasa saja.
"Gue mau nembak lo," ucap Rangga to the point.
"Hah?"
"Lo mau kan jadi pacar gue?"
"Hah?"
Rangga mendesis kesal. Respon yang di berikan Kaila ternyata tidak sesuai ekspetasi nya.
Rangga membaca di google kalau seseorang menyatakan cinta, maka reaksi sang cewek adalah menatapnya dengan tatapan berbinar.
Sedangkan Kaila hanya menjawabnya dengan kata 'hah'. Apa Kaila budek?
Rangga menghela nafasnya gusar. Ia menggaruk belakang telingnya yang tak gatal. Rangga belum pernah menembak cewek sebelumnya. Ia hanya pernah menggoda adik-adik kelas di sekolah itu pun hanya karena iseng semata.
"Gue suka sama lo. Oke gini aja, lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Rangga hati-hati. Ia bingung mau mulai dari mana.
Kaila merasakan degup jantung yang cepat. Bukannya menatap Rangga balik, ia malah membuang pandangan ke yang lain.
"Apa-apaan, nembaknya gak romantis banget!" gumam Kaila sedikit kesal.
"Apa lo bilang?"
"Hah, eng...enggak. Gue bilang mau, iya mau jadi pacar bang Rangga," ceplos Kaila asal.
"Berarti kita pacaran sekarang?" tamya Rangga antusias.
"Hah?" Kaila memejamkan matanya erat. Bodoh, ia baru saja mengatakan iya.
Seharusnya Kaila bilang 'gue butuh waktu' kenapa yang keluar malah kata-kata itu. Ahh, padahal Kaila ingin membuat Rangga menunggu.
Bodoh!
Kalau seperti ini kan nanti Kaila dianggap cewek mau-an.
"Kita pacaran kan?" tamya Rangga lagi. Hanya sekadar memastikan, ia tak mau berharap duluan.
"I-ya," Kaila berucap pelan.
Rangga menatap Kaila dengan senyum lebar, "berarti boleh ciuman dong?"
Seketika mata Kaila melebar kaget, "Apa-apaan. Belum muhrim!"
Raut wajah Rangga berubah murung, "belum ya...KUA ada yang masih buka jam segini gak ya?" gumam Rangga.
"Ngapain nyari KUA?"
Rangga tersenyum jahil, "Mau cepet-cepet halalin cewek depan gue."
Reflek Kaila memukul lengan Rangga, "Ish, mesum!"
__ADS_1