Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 44


__ADS_3

Zee menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan menjadi istri orang dalam beberapa jam lagi.


Zee menatap pantulan dirinya di cermin besar. Saat ini, ia tengah dirias oleh Luna, perias pengantin terkenal yang sekali make up nya menghabiskan berpuluh-puluh juta hanya untuknya.


"Ihhh, cantik banget deh. Sampai pangling saya, Sis," puji bencong yang biasa dipanggil Mbak Luna.


Zee menanggapinya hanya dengan senyum tipis. Ia bahkan tak menyadari betapa cantiknya ia hari ini.


"Kalau mas suami ngeliat udah pasti di Grepp, sis. Hihi."


Zee menggelengkan kepalanya pelan, tak mengerti jalan fikiran mbak Luna.


Ny. Williams dan Ny. Smith datang ke kamar Zee.


Ia menatap putri nya itu dengan senyum haru. Tak mereka sangka, putrinya itu sudah besar.


"Princess," panggil Ny. Williams. Ia tersenyum lembut pada Zee.


Zee menoleh lalu, menghembuskan nafas pelan, seberusaha mungkin ia tersenyum, walau sulit. Zee masih ingin bermanja-manjaan dengan keluarganya.


Ny. Smith dan Ny. Williams menghampiri Zee lalu memeluknya.


Zee menangis didalam pelukkan kedua orang yang paling ia sayangi.


"Hey, kenapa nangis?" tegur Ny. Smith, jari-jarinya yang lembut membelai pipi Zee yang kini di aliri airmata, "Masa udah cantik kayak gini nangis, make up nya luntur nanti."


Zee menghentikan tagisannya. Walau masih ada sesenggukan, "Zee gak mau nikah," rajuk Zee seperti anak kecil.


"Kenapa?" tanya Ny. Smith kaget.


"Zee gak mau pisah sama kalian," liruh Zee.


Ny. Smith dan Ny. Williams yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.


"Kita gak berpisah, Sayang," ucap Ny. Smith sambil membelai pipu Zee lembut.


"Mom, acaranya udah mau mulai," pekik Davin dari luar. Benar-benar meracau suasana.


"Princess siap?" tanya Ny. Williams sambil menatap Zee.


Zee menghela nafasnya pelan lalu mengangguk.


"Yuk kita keluar."


Zee berjalan duluan keluar kamarnya. Sedangkan Ny. Smith dan Ny. Williams sibuk mengusap airmatnya yang sedari tadi ingin tumpah.


****


Zee masul kedalam lift, diikuti para momy tersayangnya.


Dalam hati Zee, ia masih tetap bertanya-tanya. Siapa calon suaminya? Apa latar belakangnya? Seperti apa dia?


Ting!


Bel lift berbunyi, mengundang semua pandang mata kearahnya.


Ada beberapa awak media yang menyoroti kameranya demi mendapat foto Zee. Bahkan ada beberapa Chanel TV yang menyiarkan berita Live.


Seluruh pandang mata menatap Zee kagum, Bagaimana tidak? Gaun yang dikenakan Zee begitu memukau. Gaun yang menjulur panjang kebelakang berwarna putih, dengan desain bunga-bunga berwarna putih serasi dengan warna gaun, Sepatu hak putih polos dan rambut yang disanggul tak lupa make up yang dibuat oleh Mbak Luna tadi. Benar-benar indah.


"Wow, mempelai wanitanya sudah sampai, beri tepuk tamgannya. Cantik sekali," ucap MC berjenis kelamin laki-laki yang disambut dengan tepukan tangan semua orang.


"Mempelai pria tolong jemput pengantin istrinya dong," ucap MC itu lagi.


Cowok dengan kemeja putih dan sebuah penutup wajah? menghampiri Zee.


Wait.


Untuk apa penutup wajah?


Cowok itu menjulurkan tangannya dihadapan Zee. Sorot kamera langsung menyerbuinya. Teriakan-teriakan iri di layangkan untuk mereka.


Zee mengerutkan kening, walau terlihat samar. Ia meraih juluran tangan itu dan berjalan bersama si calon suami.


Dalam hati, Zee bertanya-tanya, mengapa calon suaminya mengenakan penutup wajah?


Pernikahan ini diselenggarakan di kediaman Williams, desain mansion ini dibuat secantik mungkin, seperti hal-halnya miliader. Banyak bunga-bunga yang tertata rapi dengan vas bunganya di setiap sudut ruangan. Kue pernikahan setinggi hampir 4 meter terpajang di pojok sebelah kanan. Dan tempat resepsi pernikahan berada di pojok sebelah kiri. Maid dengan seragam hitam putih juga nampak sibuk berkeliling menawarkan aneka kue dan minuman.


Zee dibawa calon suaminya ke depan penghulu dengan meja sebagai dinding pembatas.


Zee dan cowok disampingnya duduk dihadapan pak penghulu.


Cowok itu saling berjabatan dengan Pak penghulu dan mengucapkan ijab qabul.


Mata Zee terpejam erat, seluruh tubuhnya bergetar saat mendengar perkataan 'Sah' para saksi.


'Gue udah jadi istri orang?' batin Zee.


"Dipersilahkan untuk mempelai pria memasangkan cincin pernikahan untuk mempelai wanita, begitupun sebaliknya," ucap MC itu lagi.


Cowok yang sekarang sudah berstatus menjadi SUAMI Zee menarik tangan Zee lembut dan memasangkan cincin pernikahannya. Begitupun Zee, ia memasangkan cincin pernikahnnya ke jari manis suaminya.

__ADS_1


Setelahnya Zee mencium telapak tangan cowok itu, dan cowok itu mengecup kening Zee.


Terdengar suara gemuruh Ir tangan.


Hati Zee bergetar, entah apa yang ia rasakan saat ini. Bahagia, sedih, dan khawatir menjadi satu.


Semua teman-temannya tersenyum menatap Zee. Disana ada Kaila, Vania, Zalfa, Rangga, Cleo, Arsyaf, Karan, beberapa teman sekolahnya bahkan sampai guru, dan juga beberapa miliader ternama dari luar negeri yang diundang.


Zee melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang ia cari. Zee menghela nafas kecewa saat ia tidak mendapati sosok Ansell di sini.


"Ansell gak dateng," lirih Zee sedikit kecewa.


Padahal teman-teman Ansell ada disini semua, Sean, Rama Dandi dan Haikal.


Semua teman-temannya nampak menghampiri Zee dan suaminya yang berada sedikit keatas.


"Cie udah nikah," ledek Kaila.


"Cie ibu ketu, udeh jadi istri sekarang," celetuk Rama.


Dan banyak cie-cie dari teman-temannya. Zee menanggapinya hanya dengan senyuman tipis.


"Eh, tapi kalau lo nikah, yang urus DBD siapa?" tanya Vania.


"Ya tetap gue lah, Itu DBD harus tetap berjalan!" saut Zee tegas.


Mereka nampak asik sendiri, hingga mengabaikan Suami Zee yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan mereka.


"Eh, bikinin gue ponakan ya, yang unyu-unyu," Celetuk Zalfa dengan senyum menjengkelkan.


"Kakk..." geram Zee.


Zalfa hanya menunjukkan sederet giginya yang rapi.


"Tuh, Si Zee udah nikah, bang, lah elo kapan?" tanya Zalfa pada Cleo.


"Tunggu elo siap," jawab Cleo santai.


"Yeh, gue mah selalu siap setiap saat," kata Zalfa diakhiri gelak tawa.


Vania berdehem canggung, seberusaha mungkin ia mengabaikan perbincangan kedua sejoli yang meremukkan hatinya.


"Ada yang panas woy!" sindir Kaila ketus.


"Asik sendiri," timpal Rangga.


"Stt, udah-udah. Sonoh lo pada makan kek, apa ngapain kek. Diliatin orang tuh, gue malu!" usir Zee, memang sedari tadi, mereka menjadi objek perhatian.


"Bukan ngusir, ish, Ram, biasanya lo doyan makan. Tuh makan disana banyak," kata Zee mengabaikan Sean.


"Assiap, kuy gan, biarkan kedua pengantin ini berduaan."


"Ye, kutil, giliran makan gercep banget!" cibir Dandi.


Mereka pergi meninggalkan Zee dan suaminya berdua dengan keadaan canggung.


Karan datang, dengan senyum khasnya.


Ia menjukurkan tangannya, "Selamat ya."


Zee ikut menjabat, "Makasih."


Karan menanggapinya dengan senyum manisnya, "Oh ya, Aku titip salam buat Zaline. Bisa?"


Zee mengangguk menyetujui.


"Tapi, aku mau ketemu dia langsung."


Zee nampak menimang, sejurus kemudian ia mengangguk.


Zee memejamkan mata, mengosongkan pikirannya dan membiarkan Zaline yang mengambil alih tubuhnya.


Mata Zee kembali terbuka, ini Zaline. Tatapannya yang lembut menatap Karan dengan kening berkerut.


"Ada apa!" tanya Zaline.


"Ini Zaline?" tanya Karan memastikan.


Zaline dalam tubuh Zee mengangguk.


Tanpa aba-aba Karan memeluk Zee. Membuat mempelai Pria ikut berdiri karena terkejut.


Semua pengunjung juga ikut terkejut atas perlakuan Karan. Beberapa awak media tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka menyoroti kamera nya, dan memotret adegan tak biasa ini untuk menjadi bahan gosip.


"Karan..."


"Sebentar aja, Please."


Zaline melirik kearah suami Zee. Ia memberikan tatapan, seolah minta dimengerti. Sedangkan suami Zee hanya mengangguk pasrah. Mencoba mengikhlaskan hatinya yang terbakar api cemburu.


Dua satpam berdatangan untuk menarik Karan.

__ADS_1


Zaline terkejut, saat satpam-satpam itu menarik Kara secara paksa.


"Lepasin dia!" bentak Zaline marah.


"Kena-"


"Lepas!"


Kedua satpam itu melepaskan genggamannya. Lalu melirik Karan sinis.


Zaline menatap Karan, agar ia cepat keluar, agar tidak memperkeruh suasana. Karan mengangguk pasrah, ia keluar diikuti para satpam itu dalam keadaan kecewa.


Setelah Karan keluar, Arsyaf datang menghampiri Zaline.


"Selamat, Zeline!!" kata Arsyaf tanpa mengetahui siapa lawan bicaranya.


Zaline yang masih menguasai badan Zee hanya tersenyum kikuk. Sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan Arsyaf. Teman kecilnya.


Tangan Arsyaf terulur mengacak rambut Zaline, "Udah gede aja nih anak," kata Arsyaf sambil terkekeh kecil.


Lagi, Suami Zee hanya mampu menahan rasa cemburunya.


"Besok gue harus udah balik ke Brazil," ucap Arsyaf membuat Zaline tergelak.


"Kenapa?"


Arsyaf tersenyum kecil, ia mencubit pipi Zaline gemas, "Karena tugas gue udah selesai, Zelinee."


"Tugas lo?" tanya Zaline tak mengerti.


Arsyaf mengangguk pelan, "tugas gue membuat orang yang gue cintai bahagia," kata Arsyaf. Yeah, orang yang ia cintai adalah Zee. Zee adalah orang pertama yang berhasil menaklukan hatinya.


Zaline tertawa pelan, "Punya gebetan juga lo," kata Zaline masih tak peka. Lain halnya dengan suami Zee, ia mengerti arti lain dari kalimat Arsyaf.


"Jaga diri lo baik-baik, jangan sampai gegabah lagi. Awas sampai lo kenapa-kenapa. Gue nikahin juga lama-lama," kata Arsyaf setengah bercanda.


Zaline hanya tertawa menanggapi ucapan Arsyaf yang ia anggap hanya candaan semata.


"Gue balik dulu ya," pamit Arsyaf.


"Cepet banget."


"Pengen beres-beres, oon."


"Oh, yaudah sono."


Arsyaf tersenyum kecil, lalu mengusap puncuk kepala Zee sekali lagi, "jaga diri."


"Iya."


Arsyaf beralih pada suami Zee. Ia tau siapa dibaliknya, hanya saja, Arsyaf tidak ingin membongkarnya. Selama, 3 hari ini, setelah ia diberitahukan oleh Zee tempo lalu saat Zee dijodohkan, Arsyaf mencari tau siapa dibalik ini semua.


Namun saat Arsyaf mengetahuinya, Pupus sudah harapannya untuk merenggut hati Zee.


"Jaga Zeline, gue tau lo laki baik-baik," pesan Arsyaf sambil menepuk bahu laki-laki itu.


Orang itu menanggapinya hanya dengan anggukan sekali.


"Kalau ada airmata setetespun yang dia keluarin, lo harus siap kehilangan dia untuk gue."


Suami Zee tersenyum miring, "Gue jamin itu gak akan terjadi."


Arsyaf mengangguk-anggukan kepalanya, "Inget perkataan gue di otak lo."


"Hm."


Arsuaf beranjak pergi dari panggung pengantin, sebelumnya ia sempat melirik kearah Zee yang sedang menyapa para tamu undangan.


"Semoga saja itu terjadi..."


****


Zee berdehem canggung, "Gue ke kamar dulu ya," pamitnya pada suami yang masih misterius.


Cowok itu hanya mengangguk dan membiarkan Zee pergi dari sana dengan keadaan gaun yang menjuntai.


Zee masuk kedalam kamarnya. Ia mengelus dadanya, debaran jantungnya selalu berpacu dari tadi.


"Yaampun, gue udah jadi istri orang? Serius? Ini gak mimpi kan?" tanyanya pada diri sendiri.


Tok tok tok.


Zee menoleh kearah pintu, lantas mendesis.


"Siapa?" tanya Zee dari dalam, lebih tepatnya sedikit teriak.


"Gue," saut orang itu.


"Siapa?" tanya Zee lagi.


"Ansell."

__ADS_1


__ADS_2