Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 17


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zee sudah berada di kantor Dady nya, untuk mengecek keuangan pada manager, namun sepertinya beliau belum datang, jadi Zee memutuskan untuk menemui Sekretaris kantor.


"Ini, Nyonya," ucap Sekretaris itu sopan, menyerahkan beberapa berkas yang masuk-keluar.


Zee segera mengeceknya dengan teliti. Ia tak mau ada sedikitpun yang mengganjal disini.


Semua nya benar dan teratur. Ternyata benar dugaannya, tidak ada yang salah dengan karyawan disini, hanya saja sosok mahasiswa itu yang diam-diam mencuri.


"Minggu kemarin, perusahaan kehilangan seluruh modal untuk merenovasi perusahaan, kami sudah mencari kesalahan dibagian keuangan dan administrasi bahkan manager disini juga sudah kehabisan akal untuk menemukan modal perusahaan yang hilang. Jika sampai minggu depan masih belum ada modal yang datang, perusahaan ini bisa-bisa bangkrut, dan para karyawan akan kehilangan pekerjaannya, nyonya," jelas Sekretaris itu.


Zee mengangguk-anggukan kepalanya, ia teringat akan mahasiswa itu, "emm. Minggu kemarin, apa ada orang lain selain karyawan yang masuk disini?" tany Zee tanpa basa-basi. Ia benar-benar penasaran dengan orang itu.


Sekretaris itu nampak sedikit menerawang, lalu mengangguk pelan, "ya, ada, nyonya. Dia mahasiswa yang magang disini, tidak lama, hanya beberapa hari. Karena itu dari universitas terkenal di Perancis, jadi ia hanya 3 hari melakukan magang, lalu keluar."


Itu, dia. Zee semakin yakin, bahwa mahasiswa itu ada hubungannya dengan ini semua.


"Baiklah, terimakasih atas penjelasannya, silahkan kembali bekerja."


Sekretaris itu menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Zee.


Zee tersenyum miring. Lalu mengeluarkan iPhonenya untuk membaca email yang belum sempat ia baca kemarin.


****


"Bang jali, bang jali goyang nya bikin hepi!"


"Bikin lo ketagihan!"


"Semua jadi goyang!"


"Asoyy!"


"Tarik, mang!"


"Asek asek, jos!"


Kelas XI IPA 2 dipenuhi dengan nyanyian dari Rangga, Cleo, Vania, Kaila dan Zalfa.


Jam pelajaran sedang free, membuat mereka lebih leluasa untuk berjoget ala bang jali. Semua murid kelas XI IPA 2 yangawalnya menganga kaget melihat si anak baru yang tadinya sok dingin. Kini jadi bahan kesenangan bagi mereka semua. Semua murid ikut berjoget ria di depan kelas, bahkan menyatukan beberapa meja untuk dijadikan panggung joget.


"Haha. Mantap, bro!" teriak Gani.


"Yoai! Sering-sering kayak gini, bro. Biar idup lo gak datar-datar amat!" timpal Daris.


'Yah , lo pada gak tau siapa kita' saut Kaila dalam hati.


Semua cewek-cewek dikelas ikut berjoget ria sambil meliuk-liukan tubuhnya tanpa malu. Termasuk, Kaila, Vania, dan Zalfa. Mereka tampak senang hari ini. Kalau ada Zee, bisa-bisa mereka di hadiahi decakan malas oleh Zee.


"Lanjut gak nih?!" teriak Rangga.


"Lanjootttt!" balas seisi kelas lalu tertawa. Hari ini, merupakan hari bersejarah pada kelas XI IPA 2. Karena ini untuk pertama kalinya mereka melakukan hal bodoh dan membuat kelas ramai seperti ini. Tapi, ternyata menyenangkan.


"Lagu apa, guys?" saut Vania yang berada di atas meja dengan Rangga dan Cleo.


"Bang jono aja!" saut Gani dari depan papan tulis.


"Boleh tuh! Tu wa ga pat. E'E'E'E' bang jono. Kenapa kau tak pulang pulang!"


"Pamit nya tuk mencari uang..."

__ADS_1


"Tapi kini malah menghilang..."


"Tarik mang!"


"Hoa hoe.."


"HAHAHA!"


Dan teruslah seperti itu, sampai guru piket datang karena kebisingan mereka yang menggangu kelas lain, dan menghukum satu kelas untuk lari dilapangan.


Tapi satu hal yang membuat mereka senang, kebersamaan ini. Bahkan tawa mereka masih terdengar saat berlari di lapangan karena kekonyolan Gani yang menggoda Adis terus-terusan.


****


Davin, Gavin dan Prim menatap seluruh kelas XI IPA 2 yang berlari di tepi lapangan. Ya, tempat kelas mereka tepat berada di depan lapangan sekolah, jadi nampak jelas jika mereka melihat kejadian dilapangan itu. Mereka mengernyitkan kening


"Eh, eh, itu bukannya temen-temennya Princess ya?" tanya Prim yang juga ikut memperhatikan.


Davin dan Gavin mengangguk tanla mengalihkn landangan dari lapangan.


"Mereka ngapain lari ya?" tanya Davin.


"Nggak tau," balas Gavin.


"Satu kelas kayaknya deh, kecuali Princess."


"Iya."


Tanpa mereka sadari, semua pasang mata dikelas mereka memperhatikan tingkah cowok bertiga itu. Tak terkecuali Pak Yudi yang tadinya asik mengajar, kini memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.


"Eh ada yang cakep, noh!" pekik Davin girang yang melihat kearah Zalfa.


"Yeeh si dobong!"


"Ooh itu yang cantik ya?" timpal Pak Yudi ikut menimbrung sengaja.


Seisi kelas mencoba menahan tawanya.


"Iya, cakep, cantik, putih. Behh idaman!" saut Davin lagi tanpa melihat lawan bicaranya.


Gavin yang sadar akan suara berat khas Pak Yudi kini menoleh kearah samping dengan kaku. Terlihat Pak Yudi yang tersenyum manis padanya.


"Eeh. Pak Yudi," Ucap Gavin cengengesan. Prim ikut tersadar dan menoleh ke arah Pak Yudi yang juga menatap kearahnya.


"Hehe. Ngopi pak," kata Prim cengengesan menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi.


Pak Yudi, tersenyum paksa padanya.


Kini tinggal Davin yang belum tersadar. Menyadari hal itu, Gavin sengaja menyenggol lengan Davin.


"Apasih, Vin. Ganggu aja lo!"


"Dav, liat dulu sekeliling lo!" bisik Gavin pelan.


"Ck, apasii- ee bapak."


Davin menatap pak Yudi dengan raut wajah tak enak. Semua murid tertawa geli melihat ketiganya salah tingkah bak tertangkap basah akibat mencuri dalaman wanita.


"Cantik ya," saut Pak Yudi dengan senyum manisnya yang mengerikan. Manis tapi ngeri, ini persis sama guru gue sumpah.

__ADS_1


"Hehe. Iya pak, cantik lhoo. bapak juga suka? Boleh tuh pak, bungkus buat seling- aw aw pak sakit pak!"


Pak Yudi menjewer kuping Davin membuat Davin meringis kesakitan sebelum merampungkan kalimatnya, "Enak aja kamu, nyuruh saya selingkuh. Saya tuh tipikal laki-laki yang anti selingkuh, ngerti?! Walaupun saya ganteng, tampan-"


"Engg, ganteng sama tampan apa bedanya pak?" Prim menyela.


"Diam kamu!"


Prim membungkam mulutnya.


"Kalian bertiga, cepat hormat didepan tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai."


"Yahh, tapi kan pak-"


"Berani ngelawan?!"


"Berani!" Gavin berdiri dari duduknya, menatap Pak Yudi menatap Gavin sedikit takut. Pasalnya, Gavin adalah anak sulung dari keluarga terpandang di dunia. Terlebih lagi, raut wajah Gavin lebih sangar dari Davin dan Prim.


"Nah. Nah tuh, Gavin berani pak," ejek Davin.


"Diam kamu!" Pak Yudi menatap Davin kesal.


"Kalian bertiga berdiri-"


"Kalo gue gak mau gimana?" tanya Gavin dingin, masih tetap menatap Pak Yudi yang enggan menatap matanya kembali.


"Ka...kalo kamu nggak mau, y..yaudah gak papa," ucap Pak Yudi takut-takut.


"Nah gitu kek!" Gavin duduk kembali dibangkunya.


Pak Yudi mencoba meredam emosinya. Daripada ia di pecat lebih baik ia mengalah. Ia kembali ke kursi guru dan mulai membuka kembali buku paket Bahasanya.


"PakYu!" Davin mengacungkan jari tengahnya kearah Pak Yudi.


Pak Yudi memelototkan matany, ia kembali bangkit dari duduknya. Dan menatap Davin marah, "Beraninya kamu!"


"Apa!" Gavin dan Prim serempak berdiri dari duduknya. Dan kembali membuat guru itu takut.


Pak Yudi kembali duduk dengan badan bergemetar, "Enggak, ini tadi ada nyamuk. Ish, beraninya nyamuk ini!" alibi Pak Yudi, menepuk nepuk sekitarnya seolah-olah ada nyamuk, padahal ini sekolah elite, kalau ada nyamuk juga kemungkinannya hanyanyalah 0.01%


Davin tersenyum kemenangan. Merasa puas dengan jailannya kali ini.


****


Mahasiswa itu bernama, Heri. Heri berumur 21 tahun. Dan memang masih menyandang sebagai mahasiswa. Kegiatan magangnya sudah menghasilkan keuntungan besar untuknya. Mendapat kan uang bermilyar-milyar adalah hal yang hampir tidak mungkin jika digapai dalam waktu yang sementara. Tapi, dirinya bisa. Bisa mendapat kebahagiaannya dngan uang. Membuat dirinya bebas melakukan apapun yang ia mau.


Heri adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Tapi semua keluarganya meninggal akibat kecelakaan, dan hanya dirinyalah yang selamat.


Semenjak kejadian itu, Heri frustasi, ia mulai bergaul liar. Memakai narkoba, minum-minuman, dan melakukan **** bebas. Walaupun statusnya adalah mahasiswa, tapi kelakuannya seperti orang dewasa yang memiliki otak superjenius. Tapi, sayanganya saat ia kehabisan uang untuk menggunakan Narkobanya, ia justru mengambil jalan salah dengan cara mencuri dari perusahaan yang ia jadikan tempat magang. Karena otak kejeniusannya, ia berhasil dengan mudah mengambil uang itu, dan menggunakannya untuk berfoya-foya.


Tentu saja ia tak sendiri melakukannya, ada temannya Resta yang membantunya meloloskan misinya, yang memang juga bekerja di perusahaan yang sama dan berprofesi sebagai satpam.


Tak ada yang mengetahui itu, kecuali Zee. Hanya Zee lah yang menyadari itu. Dan Zee akan menghabisinya saat ini juga. Zee sudah menemukan lokasi Heri. Tinggal tunggu tanggal mainnya.


"Apa perlu besok?"


"Ya ya, besok, gue akan kesana."


"Bersiaplah, sayang," Zee menyeringai kecil, menggoreskan sedikit ke lengannya hingga mebgeluarkan sedikit darah dari jari telunjuknya, Zee segera menjilatnya tanpa jijik.

__ADS_1


"Manis. Emang dasarnya gue manis luar dalam," Zee terkekeh sendiri. Lalu bersiap untuk tidur, mencoba untuk mengumpulkan tenaganya untuk esok hari.


__ADS_2