Troublemaker My Ice Girl

Troublemaker My Ice Girl
EPISODE 20


__ADS_3

Zaline tersenyum kemenangan, selain mendapat perhatian lebih dari keluarganya, ia juga berhasil mempengaruhi pikiran keluarganya dengan membuat mereka semakin benci pada Zee.


Teringat kembali saat-saat terakhir Zee menampakkan terakhir di mansion ini.


Flashback on.


Zaline kecil memang jarang berkomunikasi kepada keluarganya, membuat semua anggota keluarganya kurang memberi perhatian padanya karena Zaline terlalu tertutup dan selalu menghilang tanpa sebab.


Hari itu, Zaline pergi kebelakang rumah dengan sebilah pisau kecil yang ia ambil dari dapur.


Zaline mencoba mencari objek yang menurutnya menyenangkan untuk menjadi mainannya hari ini.


Sampai akhirnya, mata Zaline menangkap seekor kucing liar yang lewat dekat kolam renang belakang mansion.


"Meon..meong, sini!" Zaline melambaikan tangannya, mencoba agar kucing Oren itu mendekatinya.


Merasa terabaikan, Zaline memutuskan untuk menghamoirinya, dan menggendongnya. Ia membawa kucing itu ke semak-semak yang sedikit jauh dari mansion.


Zaline menjatuhkan kucing itu dan menjalankan aktivitas rutinnya.


Ia merobek bagian perut kucing itu, membuat sang kucing meraung-raung kesakitan.


Zaline tak memperdulikannya, ia mengambil beberapa bagian tubuh dari kucing itu dan memasukkannya kedalam kresek hitam. Lalu menyimpannya.


Zaline tersenyum puas, tak ada hari tanpa membunuh. Apapun yang ada disekelilingnya, kadang katak, kucing, ataupun tikus. Menurutnya, itu sangat menyenangkan. Membuat hatinya senang, dan bahagia. Ini lebih baik dari pada tertawa tak jelas dengan keluarganya.


Zaline akhirnya masuk kedalam mansion dan menjumpai oma dan opa nya yang berada didapur.


"Oma, oma.. Tadi Zaline ketemu kucing lucu banget tau," lapor Zaline pada oma.


Oma yang tadinya sedang memotong bawang, kini menghentikan kegiatannya, dan menatap cucu nya itu, "Oh ya? Dimana?"


"Ada tadi, terus Zaline bawa nih," Zaline menunjukkan kresek hitam yang dijadikan tempat anggota dalam kucing yang tadi ia bunuh.


Oma mengerutkan kening, ia mengambil kantong kresek dari Zaline lalu membukanya.


Betapa terkejutnya ia, saat melihat banyak darah kental dan bau di dalam sana. Oma menjatuhkan kresek itu dan menutup hidungnya. Ia menatap Zaline tak percaya.


"Ap..apa itu?" tanya Oma gemetar. Membuat Opa menatapnya juga. Opa mengambil kresek hitam yang tergeletak di lantai.


Sama seperti reaksi Oma tadi, Opa sama terkejutnya, "kamu...kamu ngapain kucing itu?"


"Zaline bunuh," Ucap Zaline tak berdosa.


Oma menutup mulutnya kaget, cucu nya, cucu perempuannya membunuh seekor kucing tak berdosa?


"Ke...kenapa?"


"Nggak papa," jawab Zaline lagi, lalu mengeluarkan senyuman polosnya, "seru lho, Oma mau liat Zaline bunuhnya gimana? Gini nih," Zaline mengeluarkan pisau kecilnya yang masih bersimbah darah kucing, lalu menodongkannya kearah Oma nya.


"Nih, gini nih," Zaline mendekatkan pisau nya pada tubuh Oma. Membuat Oma memundurkan langkahnya takut.


"Zaline, apa yang ingin kamu lakukan, nak?" Opa takut, ia menahan lengan Zaline tapi masih belum bisa menguasainya. Hingga tanpa sengaja, kaki Zaline terpeleset kulit pisang yang tadi dimakan Opa dan dibuangnya sembarang, hingga pisau itu tertancap tepat di perut Oma.


"Zaline!" teriak Opa naik satu oktaf.


"Ya?"


Opa menghampiri Oma yang sudah menegang. Lalu menatap Zaline dengan penuh amarah, "Kau...!!"


"Zaline?" tanya Zaline pada dirinya sendiri.


"Dasar anak sialan!"


Opa melangkah menuju Zaline, namun naasnya lagi. Kulit pisang itu kembali membuat Opa tersandung, dan berhasil menancapkan dirinya sendiri ke dada kiri milik Opa.


Tepat disaat itu lah Zeline datang, dan kaget dengan apa yang dilihat.

__ADS_1


Zaline berpura-pura santai dengan memberikan pisaunya ke Zeline dan meringkuk di pojokkan.


Saat keluarga Smith berkumoul, mereka melihat semuanya. Hanya apa yang dilihat bukan apa yang sebenar.


Zeline dimaki dan diusir.


Hanya satu orang yang melihat kejadian yang sebenarnya, Pak Jono, ketua bodyguard keluarga Smith.


Zaline melihat pak Jono, lalu ia menyuruh Pak Jono untuk membungkam mulut dan mengedit CCTV di dapur. Perbedaan dari Zeline dan Zaline adalah, suara mereka. Zaline meiliki suara yang lebih melengking dibanding Zeline yang lebih ternge-bass, seperti suara laki.


Tak hanya itu, Zaline juga memecat Pak Jono dan memberikan uang saku, dengan alasan Pak Jono, ingin menikmati masa tua dikampung bersama keluarga. Tenti saja pak Jono tidak berani menolak, karena nyawa nya sudah diancam oleh Zaline. Gadis kecil berhati iblis. Sama seperti Zeline–Zee.


Flashback off.


"Sekarang yang gue fikirkan adalah memikirkan bagaimana lo mati. Baru gue tenang," Zaline menyeringai seram.


"Sampai jumpa di pertarungan GB'Gangster dan DBD, sayang."


****


Karan Lian Matana, bisa disingkat jadi KLMN. Cowok bermata empat dengan lesung pipi, membuan kesan culun di wajah tampannya.


Disekolah, ia menjadi bahan bulanan murid W'School. Karan juga tidak berani melawan, karena ia hanya seorang cowok yang berkecukupan. Tidak ada yang istimewa dari nya. Sifat karan yang juga tertutup membuat dirinya tak mempunyai teman.


Tak mempunyai teman, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ia tak mengenal orang disekelilingnya. Karan juga sama seperti pria lainnya, Ia mempunyai gadis pujaan yang selalu ia perhatikan setiap waktu.


Zee. Itulah nama yang selalu terlintas dipikirannya. Zee bahkan membuat Karan mengenyampingkan pelajaran.


Menurutnya, menatap Zee sama saja seperti menyolong berlian secara diam-diam. Dengan menatap saja bisa membuat hati Karan berbunga-bunga. Apalagi kalau bertegur sapa. Ahh, Ia tak bisa membayangkannya. Mungkin akan pingsan.


Secret Admirer, itulah julukan yang tepat untuk Karan. Tak henti-henti Karan mengirimi sebuah puisi singkat di sebuah kertas kosong dan menaruhnya di kolong meja Zee setiap pagi-pagi sekali. Meskipun ia tau, Zee tidak pernah membacanya.


Seperti saat ini, Karan menatap Zee dalam kejauhan, dilihat Zee nampak tertawa ria dengan teman-temannya. Melihat Zee tertawa seperti itu, ikut membuat Karan tersenyum-senyum sendiri. Benar kata orang, kalau cinta bisa membuat sesorang gila.


****


Ansell : Lo udah pulang dari Perancis kan?


Ansell : Temui gue di halaman belakang sekolah.


Zee berdecak kesal, entah harus bagimana caranya ia beritau Ansell kalau dirinya tidak ingin membantunya. Tapi Ansell tetap memaksa.


Zee bangkit dari duduknya, "gue pergi ke toilet dulu ya," pamit Zee pada teman-temannya.


"Mau gue anterin gak?" tawar Cleo dengan alis dinaik turunkan, gelagat mesum.


Zee bergidik ngeri, "enggak, makasih!"


Lalu Zee pergi kebelakang sekolah untuk menemui si cunguk Ansell.


Zee telah sampai dibelakang sekolah, ia menatap Ansell dengan tatapan dingin, "apaan?"


"Bantu gue, pliss!"


"Ck. Udah berapa kali gue bilang, Ansell!! Gue gak mau!"


"Ini juga menyangkut tentang lo, dan...gue juga."


Seketika kening Zee berkerut, "apa hubungannya sama gue?"


"Ada, justru ini 60% berhubungan sama lo. Dan 40% nya gue. Intinya, nyawa kita sedang diincer saat ini."


"Jangan ngada-ngada lo!"


"Gue serius," Ansell memasang tampang serius nya kali ini. Membuat Zee tiba-tiba gugup.


"O..oke, ada apa?"

__ADS_1


"Lo janji mau bantu gue?"


"Kalo ada hubungannya sama gue, gue bantu lo, kalo gak ada juga gue ogah!"


"Terserah lu dah. Intinya gini, ini berurusan dengan GB'Gangster yang waktu itu adu dombakan kita. Lo ingat?"


Zee mengangguk.


"Ternyata itu jebakan, dia udah tau kalo kita pasti bakal kerjasama, dan itu membuat dia gampang nyari identitas gue."


Zee mengerutkan keningnya bingung, "emang dulu dia gak tau dulu?"


Ansell menggeleng, "gak ada yang tau. Bahkan seluruh dunia pun gak tau, kecuali sepupu lo, Cala."


Zee tersentak kaget, ketika Ansell meyebutkan nama Cala, "lo tau sepupu gue Cala dari mana? Eh lo jangan macem-macem ya-"


"Dia temen gue!"


"Kapan kalian temenan?"


"Udah lama."


"Kenapa kalian bisa kenal?"


"Dia yang ngajak gue kenalan."


"Kenapa lo mau?"


"Karena dia maksa!!"


"Kenapa-"


"Dia suka sama gue! Puas?!" nada Ansell naik satu oktaf. Dan enatah kenapa, itu membuat hati Zee perih.


"Ooh."


"Kita fokus ke GB'Gangster, sampai saat ini kita gak tau identitas ketua nya, dan gue pengen, kita-"


"Cari tau siapa dia sebenarnya," potong Zee cepat.


Ansell menjentikkan jarinya, "pinter."


"Kenapa gak lo aja sendiri?"


"Gak bisa gitu."


"Lhoo kenapa?"


"Karena itu juga berurusan sama lo."


"Tau dari mana lo kalo itu berurusan sama gue?"


"Gue nyuruh anggota gue buat jadi anggota GB'Gangster. Dan hasilnya, mereka lebih memilih mencelakai lo."


Zee tersentak kaget beneran kali ini, "kenapa?"


"Itu yang harus kita cari tau."


Oh god. Kenapa rasanya kepala Zee ingin meledak saja. Baru dibereskan dengan tugas perusahaan, kini ada lagi yang ingin menbunuhnya? Balas dendam nya gimana?


"Oke kita kembali kerjasama, cari tau tentang mereka."


"Nah gituu. Tapi, kali ini dengan sistem yang berbeda."


"Maksud lo?"


"Kita nyerang dukuan markas GB'Gangster..." Ansell menyeringai, "Bersama."

__ADS_1


"Tapi sebelum itu, kita harus buat rencana!"


"Setuju!"


__ADS_2