
Pagi ini, seperti biasa, Keluarga Smith berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi.
Sebenarnya hanya ada roti dengan selai, tapi semuanya terasa hangat jika bersama keluarga.
"Bagaimana sekolah kalian? Zaline? Apa nilaimu semakin meningkat?" Tanya Mr. Smith.
Zaline menoleh ke Dadynya, lalu mengangguk semangat, "iya Dad, sampai sekarang belum ada yang bisa bandingin nilai sama Zaline. Bahkan guru-guru sampai mengajukan Zaline ke olimpiade Matematika Minggu depan," ucap Zaline dengan bangganya
"Oh ya! Bagus dong. Hebat kamu," puji Mrs. Smith, Friska. Zaline tersenyum senang mendengar pujian Momy nya. Sebelumnya tak pernah ia mendapat pujian seperti ini sebelum Zeline pergi. Seberapa keras ia berusaha, pasti yang dipuji hanyalah Zeline. Dan itu membuat ia lebih marah pada Zeline.
"Kamu, Dika?"
"Baik aja, Mom. Gak ada yang spesial," ucap Dika singkat.
"Ooh..." respon Friska.
"Kalau kamu, Dito?"
Dito mengangkat wajahnya, ia menoleh datar pada Friska. Ia tak begitu tertarik dengan percakapan ini, terutama saat Momy nya memuji Zaline. Ada perasaan tidak rela rasanya, ini benar-benar tidak adil, disaat Zeline membutuhkan kasih sayang mereka, mereka justru terlihat biasa saja seolah kejadian lalu hanyalah sebatas angin lewat. Dito adalah orang yang paling dekat dengan Zeline, kemana pun Zeline pergi pasti selalu ada Dito. Dito sangat menyayangi Zeline. Oleh karena itu, ia sangat menyesal ketika kejadian lalu, ia tak ikut membela Zeline. Karena dulu Dito hanyalah anak kecil yang labil dalam urusan pembunuhan seperti itu.
Dito merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih tertutup. Memang, dulu Dito sempat bersikap dingin. Tapi sekarang ia jauh lebih dingin saat Zeline keluar dari Mansion ini. Dito membenci dirinya sendiri, ia merasa seperti Abang yang tidak berguna.
Dito bangkit dari duduknya, lalu menggapai tasnya, dan menyelepangkannya ke bahu kiri, dan berlalu begitu saja. Selalu seperti itu.
Friska dan Smith saling berpandangan, lalu menghela nafas kecewa. Mereka memaklumi sifat Dito yang semakin lama semakin tak tersentuh.
"Bang Dito jadi tambah dingin. Ini semua juga karena Zeline!" Tuding Zaline, membuat semua keluarganya menatap kearahnya.
"Anak itu benar-benar..." Smith terpancing emosi. Membuat Zaline tersenyum miring. Beginilah yang ia suka, Smith selalu menyalahkan Zeline karena telah merubah Dito. Siapa lagi kalau bukan kompornya? Tentu saja hanya dirinya!
"Bahkan setelah Zeline pergi, ia masih menjejakkan masalah di keluarga ini," Friska ikut terbawa suasana.
Dika hanya diam, ia tak berniat menyahuti. Ia hanya merenungkan perbuatan yang ia lakukan terhadap Zeline yang dulu. Saat untuk pertama kalinya ia menampar adiknya, pertama kalinya menampar seorang perempuan. Dika tidak tau apa yang dilakukannya ini benar atau salah. Disatu sisi, ia merasa sangat jahat pada Zeline. Tapi disisi lainnya, ia juga merasa bahwa dirinya benar melakukan itu. Perbuatan jahat harus dilakukan dengan yang jahat pula! Benarkan?
Zaline semakin terasa menang, ia berhasil meracuni pikiran orang tuanya. Yang sekarang ia harus lakukan adalah merebut perhatian Dika dan Dito terhadapnya.
****
Dito mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Dijalan, melihat kejadian lalu mulai menghantuinya lagi.
Plak!
Itu...itu suara tamparan Dika...
"PERGI KAU DARI SINI!"
Dan itu suara Friska...
"MULAI SEKARANG KAU BUKAN KELUARGA KAMI LAGI. PERGI! DAN JANGAN PERNAH MEMAKAI MARGA SMITH LAGI!"
Ciiitttttt...
Dito mengerem motornya mendadak. Kepalanya mendadak pusing. Kendaraan-kendaraan dibelakangnya mulai mengklakson dirinya karena menghalangi jalan. Tapi Dito tak bergerak sedikitpun. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Dari balik helm, matanya berkunang-kunang, kesadarannya menurun. Dito pingsan! Suara disekitarnya mulai terasa gaduh, tapi tak bisa ia dengar, suara terakhir yang ia dengar hanyalah seseorang yang memanggilnya dengan sebutan 'bang Dito'.
****
Zee mengendarai mobilnya dengan santai, hari ini ia tak menjemput teman-temannya karena mereka bilang , mereka akan membawa kendaraan sendiri-sendiri agar Zee tidak kerepotan menjemput mereka. Padahal Zee sama sekali tak keberatan. Sesekali ia meniup permen karet yang ia kunyah sehingga menimbulkan balon yang ditiupnya.
Zee menghentikan mobilnya ketika jalanan berubah menjadi macet. Ia mengerutkan dahinya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ada apa disana?
2 menit tak bergerak dari posisinya, Zee mengklakson mobilnya, membuat kendaraan lain ikut mengklakson bising.
Zee menghela nafas jengah, ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan mengecek sebenarnya apa yang membuat jalanan menjadi macet seperti ini.
Namun baru 2 langkah Zee keluar dari mobilnya, ia melihat Dito–abangnya–yang memegang helmnya sambil menjerit seperti orang kesakitan. Zee diam ditempat. Ia tak berani memajukan langkahnya. Perlahan Zee memundurkan langkahnya, namun baru satu langkah, Zee melihat Dito terjatuh dari motornya. Zee kaget setengah mati.
Zee melangkah mendekati motor Dito lalu menyingkap helm yang dikenakan Dito. Dito tampak memejamkan mata, itu artinya Dito pingsan. Zee segera berteriak minta tolong sambil menepuk-nepuk pipi Dito, berharap Dito sadar.
Tak lama, Zee sudah dikerumuni oleh warga yang kebetulan lewat jalan raya ini.
"Pak tolong bawa dia kerumah sakit, bantu saya gotong dia ke mobil saya ya pak," ucap Zee cemas. Ia benar-benar khawatir jika abangnya ini kenapa-napa.
"Iya neng, ayo pak mari bantu," ucap bapak-bapak berkumis tipis, lalu para warga lain ikut membantunya menggotong Dito ke bangku belakang mobil Zee.
Zee mengucapkan terimakasih pada warga, lalu segera melesat membawa Dito kerumah sakit.
****
"Lo ngeliatin Zee nggak, Bang?" Tanya Kaila pada Rangga yang sedang menangkring di depan pintu kelas.
Rangga menggeleng pelan, "Enggak," jwab Rangga jujur.
"Ck, terus kemana ini Zee?" Tanya Vania cemas.
Rangga mengerutkan keningnya, "emang Zee gak bareng lo pada?"
__ADS_1
"Enggak," ucap mereka serempak.
"Coba tanya Zalfa, siapa tau Zee bareng dia, soalnya Zalfa juga belum masuk sekarang," saran Rangga.
Kaia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu mencari kontak Zalfa. Setelah ketemu, ia langsung menekan tombol telepon.
"Halo?"
"Halo kak, lo sama Zee gak?" Tanya Kaila to the point.
"Enggak, gue lagi nganterin nyokap ke salon, jadi gue nggak sekolah dulu hehe, izinin gue ya."
"Terus Zee kemana?"
"Bukannya Zee bereng elo sama Vania ya? Biasanya kalian nempel terus."
"Gue sama Vania naik mobil sendiri-sendiri. Tapi sejak tadi pagi, Zee belum juga sampai! Gimana dong?" Kaila menggigit jarinya cemas, kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika sedang takut atau khawatir berlebih.
"Coba lo telepon dia."
"Gak diangkat!"
"SMS?"
"Gak dibales!"
"Aku telepon gak diangkat-angkat...aku SMS gak dibalas-balas...sudah sebulan, enggak pulang-pulang, aku dirumah-"
"Kakakkk!!!!" Kesal Kaila dan Vania bersamaan. Mereka kesal saat mendengar nyanyian Zalfa disaat mereka sedang dalam keadaan panik setengah hidup.
Terdengar suara gelak tawa dari Zalfa, "aduh lo berdua lucu tau gak, Hahaha! Heh, lo lupa siapa Zee? Dia gak bakal kenapa-kenapa, jadi lo berdua tenang aja, gak perlu ada yang dikhawatirkan."
"Ish tapi kan-"
"Udah ah, gue mau maskeran dulu nih, kalian tenang aja, gue yakin Zee gak apa-apa. Udah ya gue pamit dulu, jangan lupa permusikan gue! Bilang aja gue sakit kalo gak ada urusan keluarga kek. Sepinter-pinter lo, oke. Babay sayang kuuu!"
Tut!
Panggilan diakhiri sepihak oleh Zalfa, membuat Kaila dan Vania menghentakkan kakinya kesal. Rangga yang melihatnya mengulum tawa. Tak dapat ia pungkiri bahwa Kaila sangat lucu ketika sedang kesal seperti ini.
Rangga mengacak pucuk rambut Kaila gemas, "udah, gak usah kesel gitu, jelek tau. Mending kita bolos kekantin," ajak Rangga.
"Tapi Zee-"
"Lo lupa siapa Zee?"
Kalimat Kaila terpotong karena telunjuk Rangga sudah menempel dengan bibirnya.
"Sejak kapan kamu cerewet?" Rangga menaikkan alisnya. Membuat Kaila gugup setengah mati. Ada kata 'kamu' dikalimat Rangga. Ah rasanya Kaila ingin terbang saja.
"Ehem...ehem!"
Vania sengaja berpura-pura batuk untuk mencairkan suasana, tapi nyatanya, ia malah membuat suasana menjadi lebih canggung, "kayaknya disini banyak nyamuk, gue masuk kekelas dulu ya. Byeee!!"
Vania berlari dengan terpingkal-pingkal. Sebenarnya ia ingin ngakak setelah melihat wajah gugup dari Kaila yang menurutnya menjadi ****. Tapi gelak tawanya ia tahan karena kata Zee ia harus menjaga image.
"Kenapa, Van? Kok kayaknya lo seneng banget?" Tanya Cleo heran. Ia dapat melihat gelagat dari Vania yang memang terlihat menahan tawa.
"Bang, tau gak. Tadi bang Rangga megang bibir Kaila pake tangannya," Kaila terkikis geli.
"Terus terus?"
"Terus, si Kaila bengong kayak bocah ****. Padahal cuma ditempelin pake telunjuk doang, belum pake bibir orang, udah kayak gitu," Vania cekikikan tak jelas. Ia masih membayangkan bagaimana raut wajah Kaila tadi.
"Oohh. Kayak gini," Cleo meletakkan telunjuknya tepat dibibir Vania, persis seperti yang dilakukan Rangga tadi pada Kaila. Kelakuan Cleo membuat Vania memberhentikan tawanya, dan tercekat. Melihat itu, Cleo langsung mengulum tawa.
"Makanya introspeksi diri dulu. Biar gak kayak sekarang, kata lo apa? Kayak orang ****? Hahaha! Sama kayak lo!" Ucapan pedas itu meluncur begitu saja di bibir cowok itu.
Vania mengerjapkan matanya berulang kali. Ia mencoba menetralisir ekspresinya sebiasa mungkin.
"Siapa yang kayak orang ****?" Vania menatap garang Cleo seperti biasanya.
"Elo! Hahaha!"
Vania mencubit lengan kekar Cleo, "ish Bang Cleo mah!!! Gak bisa banget diajak bercanda."
"Makanya! Jangan menilai orang kalo gak tau apa yang dia rasakan. Dengan seenak jidat lo ngatain Kaila kayak orang ****. Lo sendiri, cuma gue gituin, sama ekspresinya," Cleo menggeleng tak mengerti.
"Ish tau ah!" Vania keluar dari kelas. Ia mengabaikan panggilan Cleo yang memanggil-manggil namanya sambil tertawa terpingkal-pingkal, dan itu membuat Vania mendadak malu.
****
"Zel? Zeline?" Samar-samar Dito melihat wajah Zee yang terduduk di samping ranjangnya. Ia berfikir bahwa ini adalah mimpi, walaupun kenyataannya ini adalah nyata.
Zee tak menjawab, ia sibuk meremas-remas rok yang ia kenakan. Ia tak berani menatap wajah Dito, ia tak ingin melihat wajah abangnya saat ini. Tapi mengapa ia menolong Dito kalau begitu?
__ADS_1
"Zel?" Racau Dito lagi.
Matanya masih terpejam erat, rasanya ingin sekali ia membuka mata. Namun sangat berat, seperti ada beribu-ribu ton yang mengganjal matanya.
"Zeline? Ini kamu, princess?"
Zee masih tak menjawab, ia semakin mengeratkan tangannya ke roknya hingga membuat rok itu terlihat lusuh karena kusut.
"Jangan tatap dia plis jangan."
"Mereka udah buang lo, mereka udah gak peduli sama lo!"
"Tapi gue gak tega ngeliat bang Dito kayak gini."
Zee menggigit bibir bawahnya, ia bergelut sendiri dengan pikirannya.
Setelah berjuang cukup lama, akhirnya Dito bisa membuka matanya sempurna. Pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah ruangan putih rumah sakit dengan dirinya yang berada di ranjang. Dito menoleh kearah samping. Lalu menghela nafas kecewa. Ternyata Zeline–Zee– tidak ada. Ia hanya bermimpi.
Dengan susah payah, Dito memencet tombol yang memang dikhususkan untuk memanggil perawat atau dokter. Tak butuh waktu lama, seorang perawat memasuki ruangan Dito yang berada di ruangan VVIP.
"Ada masalah apa, tuan?"
"Siapa yang membawa saya kemari? Apa yang terjadi dengan saya?"
"Tuan mengalami kecelakaan dijalan, untungnya ada seorang gadi-" perawat itu memejamkan mata. Ia hampir keceplosan.
"Seorang? Gadis maksud kamu?"
"Em... anu, i...iya beberapa gadis yang adalah warga. Iya, warga. Dia yang menolong tuan dan membawanya ke mari."
"Siapa namanya?"
"Maaf tuan, kami disuruh merahasiakannya."
Dito mengernyitkan dahi, "kenapa dirahasiakan? Saya hanya ingin berterima kasih padanya karena telah menolong saya."
"Em...anu tuan, kalau tidak ada yang dikeluhkan saya harus bekerja kembali."
Perawat itu pergi dari ruangan Dito dengan sedikit gugup. Ia merutuki dirinya sendiri. Hampir saja ia kehilangan pekerjaannya karena keteledorannya yang hampir saja keceplosan.
Dito masih bingung dengan semua ini, rahasia? Apa yang perlu dirahasiakan? Dia hanya ingin tau siapa yang menolongnya. Sudah itu saja.
Dito menghela nafas beratnya. Mengingat bahwa tadi ia bermimpi bahwa Zee–Zeline ada disini, diruangannya. Menunggu dirinya. Ternyata, semua nya hanya mimpi.
Dito tersenyum miris. Ia meraih handphonenya yang tergeletak di nakas rumah sakit itu. Lalu menghubungi Momynya. Ia tau bahwa Momynya itu pasti akan mengkhawatirkannya
"Halo? Ditooo, kamu kemana aja?? Ini sudah jam 7 malam, dan kamu belum pulang? Momy khawatir tau gak?!"
Dito meringis, baru saja Momynya mengangkat teleponnya, tapi Friska sudah menyemprot duluan, "Dito dirumah sakit, tadi kata perawatnya, Dito kecelakaan, dan sekarang Dito ada di W'hospital."
"Kecelakaan?! Kok bisa? Kamu ngebut-ngebut ya? Kan udah momy bilang kalau naik motor tuh nyantai aja, jangan ngebut-ngebut-"
Dito mematikan panggilannya. Lebih baik ia SMS momynya tentang keberadaan dirinya dirumah sakit ini. Agar tidak mendengar ocehan Momynya yang menurut Dito seperti kereta, tak ada habisnya.
Setelah mengirim nama ruangan dirinya dirawat, Dito menyandarkan tubuhnya di brankar rumah sakit yang memang di desain bisa di maju mundurkan sesuai kenyamanan pasien.
Brakk!
Dito terperanjat kaget, ia menoleh kearah pintu yang menampilkan Friska, Smith, Dika dan juga Zaline. Mereka menghampiri Dito dengan raut wajah cemas. Cepat sekali mereka sampai!
"Kamu kenapa? Kok bisa kayak gini? Kamu gak papa kan? Ada masalah apa? Gagar otak? Struke? Patah tulang? Kehabisan darah? Atau-"
"Mom, Dito gak papa. Jadi tolong diem. Mulut Momy tuh berisik kayak kaleng rombeng," desis Dito kasar. Tapi Momynya tidak tersindir sama sekali.
"Makanya lain kali hati-hati. Awas aja kalau terjadi kayak gini lagi, Momy sita kendaraan kamu!"
"Lah terus Dito naik apaan dong kesekolah?"
"Kan ada ojol!" Saut Zaline.
"Ish!"
Semua tertawa melihat raut wajah kesal Dito yang biasanya datar tanpa ekspresi.
Diluar ruangan, Zee tersenyum miris melihat kebahagian keluarga kandungnya. Tak rela rasanya melihat mereka bahagia, sedangkan dirinya juga membutuhkan mereka.
Zee tersenyum kecut, ia melirik ke arah Zaline yang juga nampak tertawa. Hatinya bagai tercabik-cabik. Seharusnya dirinya lah yang berada diposisi itu. Bukan Zaline! Zaline memfitnahnya! Zaline menuduhnya! Dan Zaline merebut kebahagiannya! Zaline harus mendapat balasan yang setimpal! Ia harus membalaskan dendamnya, secepat mungkin!
Tiba-tiba ponsel milik Zee berbunyi. Zee segera menjauh dari ruangan Dito dan mengangkatnya. Ternyata dari Irfan.
"Halo?"
"Zee gue udah taruh mayatnya di depan rumah Clara."
"Bagus. Kirim nomor rekening lo, biar gue kirim 10 juta buat lo. Gue tau nyokap lo lagi sakit."
__ADS_1
"Serius? Tau darimana lo kalo nyokap gue sakit? Gue kirimin rekeningnya sekarang juga!"
Zee mematikan panggilannya. Zee memang kejam, tapi ia tak pernah lupa untuk selalu membantu teman-temannya.