
Zee berjalan santai menuju belakang sekolah. Ia berniat bolos untuk pelajaran ketiga ini. Walaupun teman-temannya ingin ikut, tapi Zee melarangnya. Dengan ancaman, kalau kalian tetep kekeh ikut, gue vakum ngomong sama kalian 1 bulan. Itulah Zee. Tidak disuka dikekang.
Zee mendudukkan dirinya di bangku taman belakang sekolah. Sepi memang, selain karena jam pelajaran berlangsung, alasan lainnya adalah, karena area taman belakang ini memang jarang dikunjungi banyak siswa.
Zee memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan nya perlahan.
"Akhirnya ketemu."
Zee membuka matanya, menoleh ke sumber suara yang membuatnya sedikit terkejut. Niatnya ingin memarahi pelaku, tapi saat melihat siapa yang mengejutkannya, ia mengurungkan niatnya.
Zee menatap sinis cowok dihadapannya ini, "mau apa lo disini?" Sengit Zee.
Cowok itu mendudukkan dirinya di samping Zee dengan santai, lalu menoleh Zee dengan kedua Alis terangkat, "salah ya gue disini?"
"Jangan ganggu gue dulu, Sel. Gue lagi pengen sendiri."
"Gue gak ganggu lo. Gue cuma numpang duduk disini. Apa itu ganggu?"
"Gue butuh sendiri." Zee menatap Ansell datar.
"Dasar cewek." Sudut bibirnya terangkat sebelah.
"Apa?"
"Jangan memendam sendirian. Kadang seseorang yang sangat kuat sekalipun, butuh teman untuk tempat curhatnya,"
"Tau apa lo tentang hidup gue?" Sengit Zee. Ia mengalihkan pandangannya ke yang lain. Tak ingin menatap cowok yang sedang menatap nya.
"Gue tau," Ansell menatap dalam mata coklat pekat milik Zee. Membuat Zee menatap kearahnya juga. "bahkan tentang keluarga lo."
Mata Zee melebar kaget. "Lo cenayang?"
Ansell menyeringai, "menurut lo?"
Zee diam tak berkutik. Ia jadi ragu dengan keputusan kerja sama dengan cowok ini.
Ansell menepuk pundak Zee, sambil bangkit dari duduknya, "nanti malem ada acara ulang tahun temen gue. Jam 7 gue jemput. Harus udah siap. Gak pake penolakan. Lo harus berpura-pura jadi pacar gue!" Setelahnya Ansell pergi dengan kedua tangan yang ditenggelamkan di saku celana jeans-nya, ia melompati dinding pembatas belakang dengan mudahnya.
Zee menatap kepergian Ansell dengan tatapan dingin. Ia merasa sepeti pihak yang dirugikan saat ini. Kalau saja GB'Gangster tidak mengganggu nya. Ia tak akan pernah mau berurusan dengan cowok tengil seperti Ansell.
****
Pernah mendengar pepatah 'akan ada badai setelah hujan'.
Itulah yang dirasakan oleh kedua kembar ini.
Kardito Zaidan Jovanka Smith, atau yang sering disapa Dito, cowok berkulit putih, hidung mancung, mata coklat, rambut hitam, tapi berdarah dingin. Bersikap dingin pada semua orang, tapi tidak dengan keluarganya. Kakak dari Zeline dan Zaline. Satu-satunya keluarga yang sangat dekat dengan Zee. Tak heran jika hanya dia yang begitu terpukul ketika Zee pergi meninggalkan rumah. Dan yang membuatnya menyesal adalah ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kakak macam apa dirinya ini?
Beralih ke kembaran Dito, Kardika Zaidan Jovanka Smith, atau sering disapa Dika, tau kenapa nama nya hampir sama dengan Dito?, bukan, memang sama, hanya nama depan yang membedakan mereka. Itu untuk menyandang gelar keluarga. 'Zaidan' diambil dari nama ayah dari Smith. Sedangkan 'Jovanka' diambil dari nama ayah dari Fiska.
__ADS_1
Sifat Dika berkebalikan dengan Dito yang sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Dika lebih memperhatikan sekitar. Sifatnya arogan dan tempramental membuatnya tak jarang selalu memukuli teman sekolahnya yang mencari masalah Padanya. Dika memiliki tanda lahir kecil di pelipis kanannya. Sehingga bisa sedikit membedakan mana Dito dan mana Dika. Walupun sedikit sulit.
Zaline Zakeisha Jovanka Smith, cewek yang sangat membenci kembarannya sendiri. Zee–Zeline– Zaline rela merelakan apapun demi mendapat apa yang ia inginkan.
*Kediaman Smith.
"Bang Dito, liat deh, Zaline udah buatin jus Apel kesukaan Bang Dito," pekik Zaline senang. Ia menunjukkan jus kesukaan Dito yang ia but demi menarik perhatian Dito padanya.
Dito menoleh sebentar, lalu bangkit dari duduknya, "Abang lagi gak haus. Mau ke kamar dulu. Kamu minum aja," ucap Dito dingin. Lalu pergi meninggalkan Zaline yang menatapnya dengan tatapan lirih.
"Tetep gak berubah..." Zaline menyeringai kecil, "liat aja. Seberapa pengaruhnya kembaran laknat gue ini."
****
"Bang!" Panggil Zee pada Davin dan Gavin yang sedang menonton kartun Spongebob kesukaan mereka berdua. Ia duduk diantara kedua abangnya.
Davin menoleh kearah Zee dengan tatapan lembut, "kenapa princess?"
"Bang Satria sama bang Prim udah pulang ya?" Tanya Zee polos.
"Udah."
Zee menghembuskan nafas berat, membuat Gavin mengerutkan dahinya, "kenapa?"
"Zee mau minta anterin bang Prim ke kantor Zee."
"Sama Abang aja kalo gitu!" Pekik Davin dan Gavin bersamaan.
"Iya udah, ayo, Abang juga mau ketemu sama sekretaris kamu," kata Davin.
Zee mengerutkan kening, "Kak Gia?"
Davin mengangguk dengan senyum lebarnya.
Gavin tertawa kencang, "Hahaha! Lo suka sama kak Gia? Yaelah, Vin Vin, inget! Umur lo sama dia itu terpaut jauh!"
"Biarin! Cinta gak Mandang umur! Yuk princess, kita let's go! Eh eh tapi dandan dulu biar ganteng!" Davin Menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Gavin memutar bola matanya malas.
"Yaudah Yuk!"
Mereka bersiap untuk pergi ke kantor Zee, Zee memakai pakaian yang Formal, kemeja putih panjang dan rok pendek hitam 5 cm di atas lutut, rambut panjangnya di biarkan terurai bebas. Walau dikata Zee ini anak gangster. Ia diajarkan oleh Williams untuk tata berpakaian yang rapi dan cassual, apalagi Zee ini adalah seorang perempuan. Walaupun sedikit risih, tapi Zee berusaha menuruti perkataan Dady kesayangannya itu, Zee tidak akan pernah membangkang omongan Williams, selagi itu benar.
Ingin tau penampilan Abang kembar sengklek ini? Davin memakai celana jeans hitam dipadukan dengan kemeja putih panjang yang di lapisi jas hitam polos, sama halnya dengan Gavin. Mereka seperti kembarannya benar-benar identik. Justru dengan penampilannya seperti itu membuat mereka terlihat elegan. Dan percaya diri.
Zee masuk kedalam mobil Lamborgini biru laut milik Gavin dan duduk di bangku belakang, sedangkan Gavin yang menyetir dan Davin disampingnya.
Gavin menjalankan mobilnya dengan cepat, menyalip setiap kendaraan yang menurutnya lamban, dan menjalankan kecepatan mobilnya 80km/jam. Tak heran jika hanya membutuhkan waktu 20 menit, mereka telah sampai. Karena jalanan juga sedang tidak macet.
Zee keluar terlebih dahulu dengan anggunnya. Diikuti Davin dan Gavin yang mengekor Zee dari belakang. Mereka berjalan dengan tatapan lurus, datar, dan dingin. Tidak ada ekspresi, membuat semua karyawan menunduk takut.
__ADS_1
Zee, Gavin dan Davin masuk kedalam lift khusus petinggi, dan menekan tombol 12 dimana tempat kantor Zee berada.
Ting!
Pintu lift terbuka, Zee segera masuk kedalam kantornya, Gavin dan Davin masih setia mengekorinya.
"Kak Gia?" Panggil Zee pada seorang cewek yang sedang duduk di depan kantornya. Mejanya penuh dengan berkas-berkas jadwal Zee yang harus dijalani besok pagi, karena ada clien dari Singapura yang menjalankan kerja sama antar perusahaan.
Gia mendongak, terkejut melihat Zee yang tiba-tiba muncul dihadapannya. "Kamu ini Zee, selalu buat kakak kaget. Kalo mau dateng tuh kabarin kek."
"Gak ada waktu buat pegang hp, kak. Jadi, mana yang harus aku tanda tanganin?" Tanya Zee.
Gia menyerahkan berkas nya ke Zee. Zee membacanya sebentar, lalu menandatanganinya.
Davin berdehem, membuat Gia menoleh kearah belakang Zee.
"Lho? Ada Gavin dan Davin juga? Apa kabar kalian?" Gia tersenyum manis sambil menatap Gavin dan Davin bergantian.
"Baik, kak."
"Udah aku bilang, jangan panggil kakak, aku ngerasa tua, ish! Panggil aku Gia aja."
Davin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "iya, Gi."
"Nah udah kak, gak ada yang mau di tanda tangani lagi kan? Kalo gitu gue pulang."
"Besok kamu dateng jam 8 ya? Ada meeting sama ketua investor di Singapur," ucap Gia, Zee mengangguki.
"Gak main-main dulu, princess? Mumpung masih disini," ucap Davin.
"Bilang aja mau deket-deket sama kak Gia." Celetuk Gavin.
Gia yang tadi diam, kini menundukkan kepalanya, pipinya berdesir malu. Memang, mereka sudah lama dekat dengan Gia. Davin juga menaruh hati pada Gia, tak disangka Gia pun sama. Tapi mereka tak menyadari perasaan satu sama lain.
"Yoi, jalan yuk, Gi?" Tawar Davin sambil menarik Gia kedalam rangkulannya.
"Sikat, bang!" Kekeh Zee.
"Siap, princess!"
"Yaudah yuk, Bang Gavin. Kita pulang aja duluan, ada yang mau nge-date," ledek Zee.
Gavin merangkul Zee dengan senyuman ledeknya ke Davin, "gue duluan, Bro! Kak Gia, hati-hati ya sama Davin, kalo Davin nya nakal, telepon gue aja!"
Gia semakin malu, ia menutupi kedua pipinya yang semakin memerah. Hal itu membuat Zee dan Davin semakin tertawa keras.
"Udah ah, lo berdua Sono pergi!" Usir Davin.
Zee menatap tajam Davin, "kantor siapa ini?" Tanya Zee dingin.
__ADS_1
Davin nyengir tak jelas, "iya-iya, maaf ini kantor kamu. Yaudah, ayo princess Gia, kita pergi!" Ledek Davin dengan rangkulan yang belum dilepas.
Gia mencubit pelan lengan kekar Davin, bukannya kesakitan justru Davin semakin tertawa keras. Seolah berhasil membuat Gia blushing.